Guyonan “Banyumas Ditinggal Ngangenin, Ditunggoni Ra Sugih-sugih” Adalah Fakta Buruk yang Dipaksa Lucu

Banyumas yang Semakin Maju Bikin Warga Cilacap Iri

Banyumas yang Semakin Maju Bikin Warga Cilacap Iri (Pemkab Banyumas via Wikimedia Commons)

Setiap ada postingan tentang keindahan Banyumas, Saya selalu menyempatkan untuk membaca komentar. Isi kolom komentar hampir sama, tidak jauh-jauh dari perasaan bangga dan rasa kangen pada kampung halaman. Komentar yang paling menyita perhatian adalah, “Banyumas ditinggal ngangenin, ditunggoni ra sugih-sugih.”

Sekilas komentar tersebut seperti celotehan biasa. Tapi, jika diamati lebih jauh, kalimat tersebut lebih cocok dijadikan pernyataan yang miris. Mengandung makna tersirat jika tidak pergi meninggalkan Banyumas untuk merantau, maka nggak bisa jadi orang kaya di kota ini. 

Hal ini memang benar adanya. Banyumas bukan pilihan yang apik bagi orang yang ingin cepat kaya. Jangankan kaya, buat dapetin kerja yang mapan dan menatap saja sulit. 

Alasannya bukan karena UMK yang cuma 2,4 jutaan saja. Tapi, karena memang lowongan kerja di sini susah. Nggak berdiri banyak pabrik seperti di kawasan Industri Cikarang dan Karawang yang menampung banyak tenaga kerja.

Jangan jauh-jauh membandingkan dengan Jawa Barat. Geser saja sedikit, ada Purbalingga, Brebes dan Tegal yang sudah berdiri banyak pabrik. UMK nggak jauh beda, di kisaran 2 juta.

Saya nggak terlalu heran kenapa sulit ditemukan pabrik di Banyumas. Saya mencoba menerka, barangkali karena tidak ada jalan tol dan jauh dari pelabuhan. Sulit ditemukan bahan baku. Baik yang berasal dari alam, maupun supplier pabrik.

Dan Kebumen, ironisnya, kalah di bahan baku, menang di persediaan tenaga kerja yang dapat dibayar murah. Tetap saja ini bukanlah kabar baik. Investor tetap tidak tertarik menanamkan modal di sini. Jika pun tertarik, belum tentu para karyawan digaji UMK.

Sedikitnya pabrik dan upah yang murah tentu saja nggak menarik bagi anak muda. Cuma habis-habisin tenaga dan waktu dibalas dengan upah yang nggak seberapa. Sulit buat nabung untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak.

Mendirikan usaha di Kebumen lebih susah

Banyak orang bilang kalau susah cari kerja, maka bukalah usaha. Di Banyumas, ucapan seperti ini harus melewati pertimbangan yang cukup panjang sebelum direalisasikan. Buka usaha memang mudah, tapi mencari pelanggan sangat sulit karena daya beli masyarakat rendah.

Orang Banyumas menganut prinsip, “Bikin sendiri lebih murah.” Dengan adanya prinsip kayak gini, sangat sulit mencari konsumen saat membuka usaha. Terlebih kebanyakan setiap keluarga memiliki ibu rumah tangga yang jago masak dan memiliki banyak keterampilan. Membuat jiwa mendang-mending mereka sangat tinggi.

Mau meniru usaha yang terkenal seperti di kota-kota besar juga sulit. Hal ini disebabkan adanya banyak pilihan produk substitusi yang sebenarnya agak beda jauh. Misal, ramen dibandingkan dengan mie instan, orang-orang akan lebih milih mie instan karena murah. 

Bikin cafe estetik buat menarik minat anak muda juga susah. Karena, ya, anak mudanya pada pergi merantau. Siapa yang mau nongkrong membeli secangkir kopi setara dengan harga 2 kilo beras.

BACA JUGA: Banyumas From Zero to Hero: Dulu Kota yang Kotor, Kini Kota Terbersih se-Jawa Tengah dan Diakui di Asia Tenggara!

Memanfaatkan kekayaan alam juga mustahil 

Banyumas memang masih asri, banyak daerah pedesaan dan pegunungan. Cocok untuk mencari cuan dari hasil berkebun, bertani, dan menggembala ternak. Tapi, kabar baik ini tentu memiliki kendala. 

Faktanya, nggak banyak orang yang mempunyai ladang luas. Diolah untuk bertani dan menghasilkan laba untuk menghidupi sampai panen selanjutnya. Jangankan ladang yang luas, tanah secuil saja kadang nggak punya.

Menggembala ternak tidak perlu memerlukan banyak tanah. Tapi, berapa banyak ternak yang harus dimiliki untuk bisa membiayai hidup sehari-hari? Selain itu juga harus ada modal awal untuk membeli ternak. Intinya, semua akan membutuhkan uang.

Betapa sulitnya mencari uang di Banyumas

Bagaimana tentang kerja lain, macam, jadi buruh gitu? Atau petani, atau peternak gitu?

Nah ini, mau jadi buruh pabrik, jarang ada pabrik. Mau jadi petani nggak punya lahan. Jadi peternak nggak punya modal. Mau bikin usaha, tapi takut nggak laku. Menjadi buruh harian lepas juga belum tentu menguntungkan. Intinya, di Banyumas, apa-apa serba salah.

Masyarakat kelas bawah percaya pada kalimat, “Nek tetep nang umah, ra bakal ketuku apa-apa.” (Kalau tetap di rumah nggak bakal bisa beli apa-apa). Kalimat ini memang sangatlah valid. Hanya orang-orang gigih dan pandai mengamati peluang yang bisa sukses tanpa meninggalkan Banyumas. Orang yang tetap tinggal, kemajuannya akan lambat.

Meskipun sangat sulit mencari uang di Banyumas, tidak menutup kemungkinan bisa berjaya di kabupaten ini. Sudah banyak orang yang hidup berkecukupan dan mampu memenuhi kebutuhan tersier. Tapi ya dikit, banget, dan sulit.

“Banyumas ditinggal ngangenin, ditunggoni ra sugih-sugih” sudah cukup untuk menjelaskan betapa sulitnya bersaing di kabupaten ini. Hanya keberanian merantau di tempat jauh yang bisa mengubah nasib menjadi lebih baik.

Penulis: Ratih Yuningsih
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Banyumas Makin Sesak dan Mahal, Berhenti Mendambakan Slow Living di Sini!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version