Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Guyonan “Banyumas Ditinggal Ngangenin, Ditunggoni Ra Sugih-sugih” Adalah Fakta Buruk yang Dipaksa Lucu

Ratih Yuningsih oleh Ratih Yuningsih
27 April 2026
A A
Banyumas yang Semakin Maju Bikin Warga Cilacap Iri

Banyumas yang Semakin Maju Bikin Warga Cilacap Iri (Pemkab Banyumas via Wikimedia Commons)

Share on FacebookShare on Twitter

Setiap ada postingan tentang keindahan Banyumas, Saya selalu menyempatkan untuk membaca komentar. Isi kolom komentar hampir sama, tidak jauh-jauh dari perasaan bangga dan rasa kangen pada kampung halaman. Komentar yang paling menyita perhatian adalah, “Banyumas ditinggal ngangenin, ditunggoni ra sugih-sugih.”

Sekilas komentar tersebut seperti celotehan biasa. Tapi, jika diamati lebih jauh, kalimat tersebut lebih cocok dijadikan pernyataan yang miris. Mengandung makna tersirat jika tidak pergi meninggalkan Banyumas untuk merantau, maka nggak bisa jadi orang kaya di kota ini. 

Hal ini memang benar adanya. Banyumas bukan pilihan yang apik bagi orang yang ingin cepat kaya. Jangankan kaya, buat dapetin kerja yang mapan dan menatap saja sulit. 

Alasannya bukan karena UMK yang cuma 2,4 jutaan saja. Tapi, karena memang lowongan kerja di sini susah. Nggak berdiri banyak pabrik seperti di kawasan Industri Cikarang dan Karawang yang menampung banyak tenaga kerja.

Jangan jauh-jauh membandingkan dengan Jawa Barat. Geser saja sedikit, ada Purbalingga, Brebes dan Tegal yang sudah berdiri banyak pabrik. UMK nggak jauh beda, di kisaran 2 juta.

Saya nggak terlalu heran kenapa sulit ditemukan pabrik di Banyumas. Saya mencoba menerka, barangkali karena tidak ada jalan tol dan jauh dari pelabuhan. Sulit ditemukan bahan baku. Baik yang berasal dari alam, maupun supplier pabrik.

Dan Kebumen, ironisnya, kalah di bahan baku, menang di persediaan tenaga kerja yang dapat dibayar murah. Tetap saja ini bukanlah kabar baik. Investor tetap tidak tertarik menanamkan modal di sini. Jika pun tertarik, belum tentu para karyawan digaji UMK.

Sedikitnya pabrik dan upah yang murah tentu saja nggak menarik bagi anak muda. Cuma habis-habisin tenaga dan waktu dibalas dengan upah yang nggak seberapa. Sulit buat nabung untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak.

Baca Juga:

Purwokerto Jadi Tempat Slow Living Orang Kota, Warlok: Bisa Jadi Masalah Baru

Purwokerto Memang Penuh Cerita dan Keresahan, Makanya Dibicarakan Berulang-ulang dan Hampir Tanpa Jeda

Mendirikan usaha di Kebumen lebih susah

Banyak orang bilang kalau susah cari kerja, maka bukalah usaha. Di Banyumas, ucapan seperti ini harus melewati pertimbangan yang cukup panjang sebelum direalisasikan. Buka usaha memang mudah, tapi mencari pelanggan sangat sulit karena daya beli masyarakat rendah.

Orang Banyumas menganut prinsip, “Bikin sendiri lebih murah.” Dengan adanya prinsip kayak gini, sangat sulit mencari konsumen saat membuka usaha. Terlebih kebanyakan setiap keluarga memiliki ibu rumah tangga yang jago masak dan memiliki banyak keterampilan. Membuat jiwa mendang-mending mereka sangat tinggi.

Mau meniru usaha yang terkenal seperti di kota-kota besar juga sulit. Hal ini disebabkan adanya banyak pilihan produk substitusi yang sebenarnya agak beda jauh. Misal, ramen dibandingkan dengan mie instan, orang-orang akan lebih milih mie instan karena murah. 

Bikin cafe estetik buat menarik minat anak muda juga susah. Karena, ya, anak mudanya pada pergi merantau. Siapa yang mau nongkrong membeli secangkir kopi setara dengan harga 2 kilo beras.

BACA JUGA: Banyumas From Zero to Hero: Dulu Kota yang Kotor, Kini Kota Terbersih se-Jawa Tengah dan Diakui di Asia Tenggara!

Memanfaatkan kekayaan alam juga mustahil 

Banyumas memang masih asri, banyak daerah pedesaan dan pegunungan. Cocok untuk mencari cuan dari hasil berkebun, bertani, dan menggembala ternak. Tapi, kabar baik ini tentu memiliki kendala. 

Faktanya, nggak banyak orang yang mempunyai ladang luas. Diolah untuk bertani dan menghasilkan laba untuk menghidupi sampai panen selanjutnya. Jangankan ladang yang luas, tanah secuil saja kadang nggak punya.

Menggembala ternak tidak perlu memerlukan banyak tanah. Tapi, berapa banyak ternak yang harus dimiliki untuk bisa membiayai hidup sehari-hari? Selain itu juga harus ada modal awal untuk membeli ternak. Intinya, semua akan membutuhkan uang.

Betapa sulitnya mencari uang di Banyumas

Bagaimana tentang kerja lain, macam, jadi buruh gitu? Atau petani, atau peternak gitu?

Nah ini, mau jadi buruh pabrik, jarang ada pabrik. Mau jadi petani nggak punya lahan. Jadi peternak nggak punya modal. Mau bikin usaha, tapi takut nggak laku. Menjadi buruh harian lepas juga belum tentu menguntungkan. Intinya, di Banyumas, apa-apa serba salah.

Masyarakat kelas bawah percaya pada kalimat, “Nek tetep nang umah, ra bakal ketuku apa-apa.” (Kalau tetap di rumah nggak bakal bisa beli apa-apa). Kalimat ini memang sangatlah valid. Hanya orang-orang gigih dan pandai mengamati peluang yang bisa sukses tanpa meninggalkan Banyumas. Orang yang tetap tinggal, kemajuannya akan lambat.

Meskipun sangat sulit mencari uang di Banyumas, tidak menutup kemungkinan bisa berjaya di kabupaten ini. Sudah banyak orang yang hidup berkecukupan dan mampu memenuhi kebutuhan tersier. Tapi ya dikit, banget, dan sulit.

“Banyumas ditinggal ngangenin, ditunggoni ra sugih-sugih” sudah cukup untuk menjelaskan betapa sulitnya bersaing di kabupaten ini. Hanya keberanian merantau di tempat jauh yang bisa mengubah nasib menjadi lebih baik.

Penulis: Ratih Yuningsih
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Banyumas Makin Sesak dan Mahal, Berhenti Mendambakan Slow Living di Sini!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 27 April 2026 oleh

Tags: banyumaspabrik di banyumaspurwokertoumk banyumas
Ratih Yuningsih

Ratih Yuningsih

Seorang perempuan petualang yang menjadikan dunia sebagai buku bacaannya. Memiliki mimpi besar untuk menjejaki setiap sudut bumi, demi mengumpulkan fragmen kehidupan dan membagikan cerita yang mampu menyatukan hati setiap penghuninya

ArtikelTerkait

Purwokerto Semakin Maju dan Kekinian tapi Tak Semua Orang Bisa Menikmatinya, apalagi Jika Hanya Bergaji UMR

Purwokerto Semakin Maju dan Kekinian tapi Tak Semua Orang Bisa Menikmatinya, apalagi Jika Hanya Bergaji UMR

5 September 2025
Tempat Fotokopi di Dekat UIN SAIZU Purwokerto

Tempat Fotokopi di Dekat UIN SAIZU Purwokerto yang Membantu Keuangan Mahasiswa Tua

15 November 2022
4 Keunikan UIN SAIZU Purwokerto yang Nggak Ada di Kampus Lain purwasera uin saizu

Purwasera UIN Saizu: Surga Mahasiswa UIN Saizu Purwokerto yang Tak Pernah Sepi di Jam Istirahat

12 November 2025
Purwokerto Adalah Daerah yang Paling Susah Didefinisikan (Pexels)

Purwokerto Adalah Daerah Paling Aneh karena Bukan Kota, Kurang Pas Disebut Kabupaten, Apalagi Menjadi Kecamatan. Maunya Apa, sih?

15 Januari 2025
Sosiologi, Jurusan yang Bikin 72% Lulusannya Menyesal (Unsplash)

Fakta Kuliah di Jurusan Sosiologi, Sebuah Jurusan yang 72% Lulusannya Menyesal Mengambil Jurusan Tersebut

3 September 2024
Kenangan Saya akan Moro Mall, Pusat Perbelanjaan Kebanggaan Purwokerto yang Kini Gulung Tikar

Kenangan Saya akan Moro Mall, Pusat Perbelanjaan Kebanggaan Purwokerto yang Kini Gulung Tikar

19 November 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Satria FU Sudah Tak Pantas Disebut Motor Jamet, Yamaha Aerox lah Motor Jamet yang Sebenarnya

Alasan Mengapa Satria FU Masih Digandrungi ABG di Madura, Membuat Pria Lebih Tampan dan Bikin Langgeng dalam Pacaran

23 April 2026
Tulungagung Perlu Banyak Belajar dari Pacitan agar Wisata Pantainya Tidak Makin Tertinggal Mojok.co

Tulungagung Perlu Banyak Belajar dari Pacitan agar Wisata Pantainya Tidak Makin Tertinggal

22 April 2026
Mengenal Nasi Bu’uk, Menu Tradisional Bondowoso yang Penuh Kisah, tapi Kini Dilupakan

Mengenal Nasi Bu’uk, Menu Tradisional Bondowoso yang Penuh Kisah, tapi Kini Dilupakan

25 April 2026
Kalau Mau Ketemu Orang Baik, Coba Naik Trans Jogja (Unsplash)

Kalau Mau Ketemu Orang Baik, Coba Naik Trans Jogja

27 April 2026
Dear Pemerintah Banyuwangi, Membatasi Jam Operasional Ritel Modern Itu Justru Mematikan Wisata Banyuwangi

Dear Pemerintah Banyuwangi, Membatasi Jam Operasional Ritel Modern Itu Justru Mematikan Wisata Banyuwangi

22 April 2026
Yamaha Aerox 155 Connected Nggak Cocok Dijadikan Motor Ojol, Bikin Resah Penumpang Mojok.co honda air blade

Honda Air Blade, Produk yang Bakal Gagal Total Menantang Dominasi Yamaha Aerox

22 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman
  • Alifa Moslem Babypreneur Daycare Jadi Penyelamat Orang Tua yang Harus Kerja dan Jogja yang Minim Ruang Bermain Anak
  • Bagi Pelari Kalcer, Kesehatan Tak Penting: Gengsi dan Diterima Sirkel Elite Jadi Prioritas Mereka
  • 4 Jurusan Kuliah yang Kerap Disepelekan tapi Jangan Dihapus, Masih Relevan dan Dibutuhkan di Bisnis Rezim Manapun
  • UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang
  • Anak Usia 30-an Tak Ingin FOMO Pakai FreshCare, Setia Pakai Minyak Angin Cap Lang meski Diejek “Bau Lansia”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.