Bicara soal Kota Bandung, di benak banyak orang pasti tertuju pada tempat-tempat hits seperti Dago, Braga, atau kawasan Cihampelas. Titik-titik itu memang punya tempat wisata yang melimpah.
Akan tetapi, kalau kalian mau menengok sedikit ke arah pinggiran kota, ada satu wilayah yang sering terlewat, padahal menyimpan sejarah dan keunikan yang luar biasa.
Daerah tersebut bernama Kecamatan Bandung Kulon, sebuah kecamatan yang bertindak sebagai gerbang utama Kota Bandung dari sebelah barat dengan berdiri dengan gagah sebuah tugu “welcome to Bandung” .
Kecamatan ini memang tidak kaya akan tempat wisata, pemandangan Instagram-able, maupun deret kafe kekinian seperti daerah Bandung lainnya. Namun, jangan salah, di daerah ini tenyata menyimpan cerita yang tak bisa dipandang sebelah mata.
Asal tahu saja, Kecamatan Bandung Kulon ini terletak di sebelah barat Kota Bandung. Bertetangga langsung sama Kecamatan Cimahi Selatan (Kota Cimahi) di barat, Kecamatan Andir di utara, Kecamatan Babakan Ciparay di timur, dan Kecamatan Margaasih (Kabupaten Bandung) di selatan.
#1 Di Bandung Kulon ada pusat tekstil Cigondewah yang legendaris
Salah satu alasan kenapa Bandung Kulon begitu diperhitungkan adalah keberadaan kawasan tekstil Cigondewah. Bagi para pencinta kriya, desainer, pelaku usaha fashion, atau siapa saja yang butuh bahan pakaian, nama Cigondewah sudah seperti surga tekstil.
Sejak 1982, kawasan ini makin melesat sebagai sentra industri dan perdagangan kain terbesar di Bandung. Mau cari kain apa saja ada, mulai dari katun, sifon, satin, sampai bermacam bahan tekstil lainnya. Saking komplitnya, pembeli yang datang bukan cuma warga lokal atau pedagang dari luar kota saja, tapi sampai menggaet konsumen internasional dari berbagai negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei, hingga jauh ke Yaman, bahkan Mesir.
Gara-gara geliat ekonomi yang makin rame ini, jumlah toko kain di Cigondewah melonjak tajam dari yang tadinya cuma puluhan, sekarang sudah tembus ratusan toko.
Nggak cuma toko kainnya saja yang menjamur, usaha konveksi rumahan di sekitarnya juga ikut tumbuh subur memutarkan roda ekonomi warga. Melihat potensi yang begitu besar, bahkan Pemerintah Kota Bandung pun akhirnya menetapkan Cigondewah sebagai Kampung Kreatif Wisata.
Langkah ini jadi upaya untuk mempromosikan pariwisata sekaligus memberdayakan ekonomi warga berbasis kekayaan lokal dan jaringan industri kreatif setempat.
#2 Sentra tahu Cibuntu dan warisan budaya tak benda
Bukan cuma soal kain, Kecamatan Bandung Kulon juga menyimpan sejarah kuliner yang legendaris, yaitu tahu Cibuntu. Keberadaan tahu Cibuntu yang kini diakui sebagai warisan budaya tak benda ini punya riwayat panjang lho.
Kemunculan tahu Cibuntu di Bandung berawal dari kedatangan seorang imigran asal Tiongkok pada 1937. Sosok yang dikenal dengan nama Babah Mpe ini berperan penting dalam memperkenalkan teknik pembuatan tahu di kawasan Cibuntu kepada warga sekitar. Ia memulai usahanya dengan mendirikan sebuah pabrik rumahan sederhana, yang kemudian menjadi cikal bakal berkembangnya Cibuntu sebagai sentra produksi tahu di Kota Bandung.
Selama sekitar satu dekade itu, pabrik tahu milik Babah Mpe beroperasi tanpa pesaing. Pada 1947, ia memutuskan untuk kembali ke tanah kelahirannya di Tiongkok dan menyerahkan pengelolaan pabrik kepada salah satu pegawai lokalnya.
Peristiwa ini menjadi awal dari berkembangnya industri tahu lokal yang selanjutnya diwarisi dan diteruskan oleh masyarakat setempat hingga bergenerasi-generasi. Sampai hari ini, tekstur lembut dan rasa khas tahu Cibuntu tetap menjadi salah satu ikon kuliner kebanggaan Kota Bandung. Tahu yang sering warga Bandung raya konsumsi, kebanyakan berasal dari Cibuntu, Kecamatan Bandung Kulon ini.
#3 Bandung Kulon sebuah kecamatan biasa dengan cerita yang luar biasa
Kecamatan Bandung Kulon membuktikan bahwa sebuah wilayah tidak perlu gemerlap tempat wisata modern untuk punya daya tarik. Dari bisingnya mesin jahit, riuh transaksi kain di Kampung Kreatif Wisata Cigondewah, hingga wangi gurih kriuk tahu yang baru matang dari kuali-kuali di Cibuntu, kawasan gerbang barat ini terus hidup menyumbang warna penting bagi identitas Kota Bandung.
Jadi, kalau sesekali melintas di barat Bandung, jangan cuma lewat begitu saja. Coba mampir, kemudian resapi riuh dan cerita hangat dari kecamatan yang underrated ini.
Penulis: Acep Saepulloh
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Presiden benar, pendapatan ojol naik hingga 3 kali lipat, tapi syarat dan ketentuan berlaku.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.














