Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

Banalitas Pedagang Makanan yang Tak Memakai Daun Pisang

Abul Muamar oleh Abul Muamar
9 Agustus 2019
A A
daun pisang

daun pisang

Share on FacebookShare on Twitter

Sejak merantau ke kota, saya selalu uring-uringan setiap kali membeli makanan dibungkus. Entah itu nasi biasa, nasi uduk, nasi goreng, lotek atau pecel, bakmi, dan lain-lain. Penyebabnya bukan lantaran makanannya tak sesuai epistemologi rasa enak di lidah saya, melainkan karena bungkusannya tidak memakai daun pisang.

Jika perkara rasa, saya masih bisa maklum.  Apalagi saya tahu bahwa rasa itu relatif. Gudeg yang bagi saya tak enak karena terlalu manis, bagi kebanyakan orang Jawa menjadi salah satu makanan favorit. Bakmi Jawa yang bagi banyak orang Jawa sudah termasuk enak, bagi saya tak ada enaknya sama sekali dibanding mi Aceh atau mi gomak ala Sumatera yang kaya akan rempah.

Dalam tiga tahun terakhir, saya jadi makin sering uring-uringan perkara bungkusan makanan ini. Sebabnya karena saya merantau ke Jogja, kota yang tadinya saya kira masih menjaga tradisi-tradisi luhur. Saya pikir tadinya, pedagang-pedagang makanan di Jogja lebih luhur dan pasti akan memakai daun, entah itu daun pisang atau daun jati, untuk membungkus makanan dagangannya. Ternyata saya keliru besar. Ya, keliru besar. Naif sekali saya ternyata.

Sebelum merantau ke Jogja, saya juga pernah merantau ke Medan dan Jakarta selama delapan tahun. Di dua kota metropolitan ini saya bisa maklum kalau pedagang makanannya tidak pakai daun pisang. Sebab, di mana lagi bisa menanam pohon pisang sementara lahan yang ada sudah dikuasai gedung-gedung? Lagipula, mental orang-orang kota sudah terbiasa dengan segala bentuk pragmatisme dan orientasi mengejar keuntungan. Klop sudah landasan untuk maklum.

Tetapi mirisnya, pedagang-pedagang makanan di Jogja pun ternyata setali tiga uang mentalnya dengan yang ada di Medan dan Jakarta. Sama-sama mengejar kepraktisan dan memburu keuntungan. Malah lebih banal, saya kira, sebab mereka sebenarnya bisa saja memakai daun pisang, karena di Joga, sepengamatan saya, masih banyak tumbuh pohon pisang. 

Parahnya lagi, sekadar memakai daun pisang buat lapisan bagian dalamnya pun tidak. Luar-dalam mereka pakai kertas, atau terkadang sterofoam. Dan mereka semua sama saja, baik angkringan, warung burjo atau warmindo, warung pinggiran jalan, maupun warung besar atau rumah makan.

Memang tetap ada beberapa pedagang makanan di Jogja yang memakai daun pisang untuk lapisan bagian dalamnya. Tapi itu sangat jarang. Kalau saya hitung-hitung secara kasar, perbandingannya 1:10. Dan yang satu pedagang itu pun, daun pisang yang ia gunakan cuma sa’iprit (cuma secuil) sehingga makanannya meleber ke kertas bungkusan bagian luar.

Langkanya pedagang makanan yang pakai daun pisang membuat saya merasa seperti tinggal di Amerika saja. Kalau di Amerika sana saya nggak akan mungkin mempersoalkan ini. Kalaupun di sana ada pohon pisang, mereka tetap tak akan menggunakannya karena itu bukan tradisi mereka. 

Baca Juga:

Gudeg Adalah Makanan Khas Jogja Paling Mengecewakan, Mending Makan Mangut Lele atau Bakmi Jawa kalau Pertama Kali Kulineran di Jogja

Dosa Penjual Oseng Mercon Menghilangkan Statusnya Sebagai Kuliner Unik, padahal Ia Adalah Makanan Khas Jogja Paling Seksi

Memakai daun pisang sebagai alas atau pembungkus makanan itu tradisi kita—tradisi leluhur kita. Kenapa, sih, kita tidak melestarikannya? Apa harus nunggu ada artis atau selebgram atau Youtuber dulu yang mengampanyekan baru kita tergerak? 

Yang lebih utama, memakai daun pisang ini bukan cuma perkara tradisi-tradisian. Bagi saya pribadi—dan saya kira juga bagi banyak orang lain, sekalipun dia orang kota—daun pisang dapat lebih membangkitkan selera makan ketimbang kertas atau sterofoam. Makanan yang dibungkus daun pisang, akan memberikan sensasi dan aroma yang berbeda, apalagi ketika ia dibungkus saat masih dalam keadaan panas.

Makanya, saya selalu bilang ke orang-orang, bahwa makanan akan lebih bermartabat bila dibungkus dengan daun pisang.

Bukannya saya tak tahu kalau harga daun pisang jauh lebih mahal dibanding kertas. Saya sangat tahu itu karena orang tua saya di kampung pun juga berjualan makanan. Selain lebih mahal, daun pisang juga harus dibersihkan dulu sebelum dipakai. Saya pun paham itu. Tetapi, di sinilah akar masalahnya. Di sinilah kita mendapati kenyataan bahwa penyakit pragmatis dan laba-oriented sudah sedemikian parah menjangkiti pedagang-pedagang kita. Bagi mereka, modal (pengeluaran) harus ditekan sekecil-kecilnya untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.

Mahal dan ribet saya kira bukan alasan bagi orang-orang yang tidak terjangkit penyakit ini, orang-orang yang masih menjaga tradisi leluhurnya. Mereka percaya bahwa rezeki itu datangnya dari Tuhan. Untung kecil pun, kalau didasari niat yang baik, pastilah akan berkah. Dan berkah akan mendatangkan rezeki yang berlimpah. Tidak harus berupa uang, tapi berupa kesehatan dan kebahagiaan—bahagia karena sudah menyajikan makanan yang dibungkus dengan daun pisang, yang lebih melezatkan dan menyehatkan.

Sebagai tambahan, tanpa bermaksud menakut-nakuti, kertas berwarna cokelat yang biasa dipakai oleh banyak pedagang untuk membungkus makanan itu, ternyata tidak baik untuk kesehatan.

Dilansir Kompas, sejumlah penelitian menemukan bahwa kertas cokelat pembungkus makanan itu mengandung BPA. BPA (bisphenol A) merupakan sejenis bahan kimia yang sering digunakan untuk bahan pembuat wadah makanan, bukan hanya plastik, tetapi juga kertas. Padahal awalnya BPA digunakan untuk melapisi kaleng makanan kemasan, agar kaleng tidak mudah berkarat.

Penelitian yang dilakukan oleh Kurunthachalam Kannan, Ph.D, seorang peneliti dari New York State Department of Health pada tahun 2011 menemukan bahwa BPA yang digunakan dalam berbagai bentuk produk, termasuk beberapa produk kertas terutama kertas thermal, biasanya digunakan sebagai kertas untuk mesin faksimili atau kertas bukti pembayaran, untuk meningkatkan warna tintanya.

Merujuk informasi dari situs LIPI, kertas coklat itu mengandung bakteri sekitar 1,5 juta koloni per gram. Dengan berat rata-rata 70-100 gram, itu berarti kertas-kertas itu mengandung 150 juta bakteri. Beberapa penyakit yang bisa ditimbulkannya adalah kanker, kerusakan hati dan kelenjar getah bening, mengganggu sistem endokrin, mutasi gen, hingga kerusakan reproduksi.

Semoga tulisan ini dibaca oleh para pedagang makanan, tidak hanya yang ada di Jogja, tapi juga di seluruh Indonesia. Semoga mereka sadar, bahwa kerakusan mereka mengejar untung telah membuat makanan tidak hanya menjadi tidak bermartabat, tetapi juga meracuni para pembelinya. (*)

Terakhir diperbarui pada 9 Februari 2022 oleh

Tags: daun pisanggudeglotekmakanan tradisionalWisata Kuliner
Abul Muamar

Abul Muamar

Seorang wartawan. Memiliki pengalaman lebih dari 12 tahun di bidang jurnalisme sebagai reporter dan editor di beberapa media nasional. Alumnus Ilmu Filsafat dari Universitas Gadjah Mada dan Ilmu Komunikasi dari Universitas Sumatera Utara. Memiliki minat kuat pada isu-isu ketimpangan struktural dan ketidakadilan sistemik.

ArtikelTerkait

5 Tips Jajan Gudeg Jogja yang Asli Enak, Nggak Cuma Modal Viral Mojok.co

5 Tips Jajan Gudeg Jogja yang Asli Enak, Nggak Cuma Modal Viral

2 September 2025
3 Makanan Khas Jogja yang Menyimpan Bahaya apalagi jika Kamu Punya Riwayat Penyakit Tertentu

3 Makanan Khas Jogja yang Menyimpan Bahaya apalagi jika Kamu Punya Riwayat Penyakit Tertentu

24 November 2023
SKE, Taman Rekreasi yang Kalah Menarik ketimbang Wisata Kuliner Sekitar Taman dan Banjirnya

SKE, Taman Rekreasi yang Kalah Menarik ketimbang Wisata Kuliner Sekitar Taman dan Banjirnya

24 Juli 2023
Nggak Semua Perantau di Jogja Doyan Gudeg hingga Sering ke Sarkem! Mojok.co

Nggak Semua Perantau di Jogja Doyan Gudeg dan Sering ke Sarkem!

9 November 2023
Tegal Tempat Merantau Paling Cocok untuk Orang Jogja, Banyak Kemiripannya! Mojok.co

Tegal Tempat Merantau Paling Cocok untuk Orang Jogja, Banyak Kemiripannya!

2 Agustus 2024
Rekomendasi Kuliner di Pasar Lempuyangan Jogja yang Sayang untuk Dilewatkan

Rekomendasi Kuliner di Pasar Lempuyangan Jogja yang Sayang untuk Dilewatkan

19 September 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Liburan ke Luar Negeri Bukan Soal Gengsi, tapi Pilihan Masuk Akal karena Tiket Pesawat Domestik Sudah Kelewat Mahal Mojok.co

Liburan ke Luar Negeri Bukan Soal Gengsi, tapi Pilihan Masuk Akal karena Tiket Pesawat Domestik Sudah Kelewat Mahal

8 Maret 2026
KA Sri Tanjung, Kereta Ekonomi Tempatnya Penumpang-penumpang “Aneh” Mojok.co ka kahuripan

KA Sri Tanjung dan KA Kahuripan, Kereta Api Paling Nanggung dan Melelahkan bagi Penumpang

10 Maret 2026
Ironi Mahasiswa Madura di UNESA: Kena Roastingan Rasis Dosen Soal Suku, Malah Ditertawakan Mahasiswa Penjilat yang Cari Muka

Ironi Mahasiswa Madura di UNESA: Kena Roastingan Rasis Dosen Soal Suku, Malah Ditertawakan Mahasiswa Penjilat yang Cari Muka

6 Maret 2026
Yamaha Lexi Tercipta Untuk Orang Malang, Santai tapi Tegas (Wikimedia Commons)

Yamaha Lexi Adalah Motor yang Terlalu Santai tapi Sebenarnya Tegas, Paling Cocok Dipakai oleh Orang Kota Malang

8 Maret 2026
Vespa Matic Dibenci Banyak Orang, Hanya Orang Bodoh yang Beli (Unsplash)

Vespa Matic Adalah Motor yang Paling Tidak Layak untuk Dibeli karena Overpriced, Boros, dan Paling Dibenci Tukang Servis Motor (Bagian 2)

11 Maret 2026
Motor Bebek Kendaraan Terbaik untuk Latihan Naik Motor, Matic Hanya Ciptakan Pengendara Manja Mojok.co

Motor Bebek Kendaraan Terbaik untuk Latihan Naik Motor, Matic Hanya Ciptakan Pengendara Manja

7 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Sisi Lain Penerima KIP Kuliah yang Tak Dipahami Para Mahasiswa “Polisi Moral”, Dituntut Untuk Selalu Terlihat Miskin dan Menderita
  • Honda Brio Mobil Aneh, tapi Memberi Kebanggan ketika Menjadi Mobil Pertama bagi Anak Muda yang Tidak Takut Cicilan
  • Enaknya Lebaran di Perumahan Kota yang Tak Dirasakan Pemudik di Desa, Dianggap Kesepian padahal Lebih Tenang
  • Anak Perempuan Pertama Mengorbankan Masa Muda demi Hidupi Orang Tua Miskin dan Adik Tolol, Tapi Tetap Dihina Keluarga
  • Anak Kos Jogja Pilih Hidup Miskin demi Hidupi Kucing, Lebih dari Setengah Gaji Habis untuk Piaraan
  • Nasib WNI 10 Tahun Lagi: Terancam Tua Miskin karena Tak Punya Jaminan untuk Tabungan Pensiun dari Negara

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.