Bakso Raos, Kuliner Endemik yang Wajib Diketahui Maba Unesa Ketintang

Bakso Raos, Kuliner Endemik yang Wajib Diketahui Maba Unesa Ketintang Terminal Mojok

Bakso Raos, Kuliner Endemik yang Wajib Diketahui Maba Unesa Ketintang (Unsplash.com)

Maba Unesa Ketintang merapat! Udah pada cobain Bakso Raos belum?

Membicarakan kuliner seolah nggak ada habisnya, apalagi kalau sudah membahas kuliner yang ada di sekitar kampus-kampus di Indonesia. Beuh, saking banyaknya pilihan kuliner di sekitaran kampus, mahasiswa biasanya sampai bingung mau makan apa. Tak terkecuali dengan kampus saya, Universitas Negeri Surabaya atau yang biasa disebut Unesa, di sekitaran kampus juga banyak ditemukan beragam kuliner mulai dari pecel lele, mi ayam, tahu tek, hingga yang paling favorit, bakso.

Sebelumnya, kita perlu bersepakat bahwa bakso merupakan salah satu kuliner yang paling menonjol di antara kuliner lainnya. Pasalnya, kita bisa dengan mudah menemukan bakso di berbagai daerah. Di Unesa, ada satu bakso yang paling populer di kalangan mahasiswa, namanya Bakso Raos. Gerobak bakso satu ini biasa dijumpai di sekitaran kampus kedua Unesa, atau yang ada di Kelurahan Ketintang, Kecamatan Gayungan, Kota Surabaya.

Sebagai mahasiswa yang sudah cukup (((senior))), saya sangat merekomendasikan Bakso Raos kepada seluruh maba kampus Unesa Ketintang. Mungkin akan ada yang bertanya, kenapa mesti Bakso Raos, sih? Berikut beberapa alasannya.

Pertama, mudah ditemukan. Siapa sih mahasiswa kampus Unesa Ketintang yang nggak kenal sama Bakso Raos? Saya yakin hampir semua mahasiswa Unesa Ketintang tahu bakso yang satu ini. Pasalnya, Bakso Raos sudah ada sejak dulu dan kini nelecek di mana-mana. Bahkan menurut keterangan kakak tingkat saya yang angkatan 2012 dan 2015, gerobak Bakso Raos ini sudah menghiasi khazanah per-kuliner-an mahasiswa sejak mereka masih maba.

Gerobak Bakso Raos tersebar di beberapa area seperti di pertigaan Kampus Unesa Ketintang, di Jalan Karah, di Perumahan Kecamatan Jambangan, di depan Kantor Pengadilan Agama Surabaya, di depan SMAN 18 Surabaya, dan masih banyak lagi. Pokoknya kalau kalian main ke Kampus Unesa Ketintang, sepanjang perjalanan kalian bakal disambut gerobak-gerobak Bakso Raos lah. Sueeerrr!

Kedua, harganya murah. Awal masuk kuliah dulu, hari-hari saya dipenuhi dengan makanan umum khas Surabaya seperti penyetan, rujak cingur, tahu tek, dan sambelan. Namanya juga orang baru, waktu itu saya belum eksplor kuliner-kuliner yang murah. Harga sambelan paling murah biasanya sekitar Rp15 ribu hingga Rp18 ribu per sekali makan dengan porsi yang pas-pasan. Lha, kalau saya makan 3 kali sehari dengan harga segitu jelas lama-lama bikin bangkrut.

Hingga suatu ketika, salah seorang teman kampus saya yang asli Surabaya merekomendasikan Bakso Raos. Menurutnya, harga seporsi Bakso Raos lebih friendly di kantong mahasiswa dan kenyangnya lebih awet. Awalnya saya meragukan teman saya ini. Namun, setelah mencoba seporsi Bakso Raos, saya baru sadar kalau bakso satu ini rupanya punya porsi berbeda dari bakso pada umumnya. Porsinya buanyak, Rek, dan harganya pun Rp10 ribu saja. Saya yang kaget akhirnya malah jadi berlangganan Bakso Raos hingga kini.

Ketiga, porsinya banyak. Seperti yang sudah saya ceritakan pada poin kedua, meski harganya murah meriah, porsi yang diberikan oleh penjual Bakso Raos berlimpah. Para penjual Bakso Raos seolah punya slogan: mbayar biasa, njupuk sekarepe (bayar semestinya, ambil sepuasnya).

Saya nggak ngadi-ngadi soal ini, Rek. Misalnya ketika makan di Bakso Raos yang ada di depan kantor Pengadilan Agama Surabaya, penjualnya bilang gini sama saya, “Ini saya yang ambilin apa sampeyan ambil sendiri, Cak?” Bahkan di lain hari waktu saya membeli Bakso Raos di depan SMAN 18 Surabaya, penjualnya bilang begini, “Sampeyan njupuk dewe ae wes, Cak!”

Gimana nggak jadi idola mahasiswa coba?

Keempat, buka sampai dini hari. Mungkin ada banyak warung makan di Surabaya yang buka sampai dini hari. Tapi, khusus untuk warung makan yang buka dini hari di dekat kampus Unesa Ketintang, saya rasa jumlahnya masih nggak banyak. Kalaupun ada, biasanya nggak worth it buat kantong mahasiswa.

Saya pernah mengalami sendiri waktu pukul 02.00 WIB ketika perut saya keroncongan dan pengin cari makanan. Awalnya saya kebingungan lantaran tempat makan yang buka 24 jam di sekitaran Unesa rata-rata adalah warteg dan tempat makan elite seperti Ayam Nelongso yang harga keduanya juga bikin nelongso mahasiswa kere seperti saya. Setelah berkeliling Kecamatan Gayungan dan Kecamatan Jambangan, saya menemukan satu gerobak bakso yang masih terang dan dikelilingi kepulan asap kuah tanda eksistensi penjualnya. Setelah saya hampiri, ternyata gerobak tersebut adalah gerobak Bakso Raos.

Melihat 4 alasan di atas, patut disetujui kalau bakso yang punya rasa enak, porsi banyak, harga murah, dan bisa ditemukan di mana-mana seperti Bakso Raos memang sulit ditemukan di kampus-kampus besar di Surabaya, kan? Jadi, betapa beruntungnya kalian wahai maba Unesa Ketintang.

Penulis: Adhitiya Prasta Pratama
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA 5 Rekomendasi Mi Ayam Dekat Kampus UNESA Ketintang, Wajib Disikat!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.
Exit mobile version