Bajaj Bajuri Adalah The Simpsons ala Indonesia – Terminal Mojok

Bajaj Bajuri Adalah The Simpsons ala Indonesia

Artikel

Menonton sinetron Preman Pensiun tidak pernah membuat bosan diri saya ini. Pasalnya, sinetron tersebut nggak terlalu lebay jalan ceritanya dan cukup relate dengan kehidupan nyata. Saya tidak pernah kecewa dengan “polesan” Aris Nugraha sebagai sutradara. Aris Nugraha memang terkenal canggih dalam kancah sinetron, sih.

Terkadang, melihat Preman Pensiun membuat saya teringat akan sinetron Aris Nugraha yang dulu sekali, Bajaj Bajuri. Apakah ada dari kalian yang ingat sinetron itu? Kalau iya, tos dulu kita. Bajaj Bajuri yang dulu sering kali muncul di stasiun televisi Trans TV memang sangat menghibur, apalagi menonton bareng-bareng sama keluarga.

Sinetron yang bertemakan situasi komedi itu memang sangat populer pada masa dulu, apalagi dengan adanya sosok-sosok ikonik di dalamnya. Ada Oneng istrinya Bajuri yang dikenal lelet mikirnya, ada Emak yang dikenal egois sebagai mertua, ada Ucup yang cuman pakai jersey bola saja, dan tokoh-tokoh nyentrik lainnya. 

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Kepikiran Bajaj Bajuri terus, tiba-tiba di Twitter muncul akun yang isinya cuplikan-cuplikan sinetron ini. Nama akunnya adalah “Bajaj Bajuri Out of Context” yang sampai saat ini sudah 57 ribu lebih pengikutnya. Awalnya, saya pikir akun ini akan jadi akun nostalgia-nostalgiaan saja. Sebab, namanya juga sinetron jadul, isinya juga paling begitu-begitu saja.

Memang di bio akun Twitter tersebut ditulis, “Mengunggah konten dari Bajaj Bajuri universe tanpa konteks,” tapi masalahnya selalu relate dengan keadaan sekarang. Saat melihat unggahan terbaru, saya tonton dan ujung-ujungnya merasa, “Lho, iya juga ya.” Begitu terus pasti. Oleh sebab itu, saya katakan bahwa Bajaj Bajuri adalah The Simpsons ala Indonesia.

Cuplikan-cuplikan Bajaj Bajuri itu banyak yang relate dengan masa kini. Nih saya kasih satu-satu, kalau nggak percaya. 

Pertama, soal tren dan kesukaan orang-orang terhadap kultur populer dari Korea, dalam hal ini drama Korea. Sinetron ini sudah memprediksi dari jauh-jauh hari:

Kedua, beberapa bulan belakang santron terdengar masalah resesi, yang mana disebabkan oleh pandemi yang berkepanjangan. Selain itu, masalah pemakaman yang setiap hari kita temui kian ramai dan banyak. Bajaj Bajuri mengemas tiga topik itu dalam satu adegan.

Ketiga, masalah lobster yang kemarin-kemarin ramai sebab ditangkapnya Edhy Prabowo sebagai tersangka terkait kasus suap. Nyatanya, hal ini juga dibahas dalam Bajaj Bajuri!

Keempat, masih sangat hangat dan baru juga, yakni kasus korupsi dana bencana yang akan dikenakan hukuman mati bagi siapa pun yang menyalahgunakan.

Cerita di dalam Bajaj Bajuri yang sudah dari dulu dan sudah tidak tayang itu sungguh tak disangka-sangka malah terjadi belakangan ini. Maka, pantas kalau ia dijuluki sebagai The Simpsons ala Indonesia. Tidak hanya soal isu-isu besar, isu-isu ringan yang ada di sekitar kita nyatanya juga dibahas dalam sinetron tersebut.

Memang baru belakangan diketahui ternyata jokes yang dipakai dalam Bajaj Bajuri baru ketahuan banyak jokes dewasanya. Namun, ini tidak menghilangkan esensi sinetron tersebut.

Akan tetapi, yang pasti apresiasi sebenarnya jatuh kepada Aris Nugraha yang menjadi sutradara sekaligus produser. Pasalnya, Aris Nugraha memang dikenal sebagai salah satu sineas yang banyak menyentil kehidupan masyarakat kelas bawah dengan karya-karya miliknya. Lihat saja, hari ini yang masih ada di televisi seperti Preman Pensiun dan Tukang Ojek Pengkolan, ceritanya sangat dekat dengan kehidupan masyarakat kelas bawah, bukan?

Entah, apakah cerita di Bajaj Bajuri akan tetap relate sampai ke depannya atau tidak, yang pasti saya akan tetap melihat akun Twitter Bajaj Bajuri Out of Context. Paling tidak, kalau misalnya tidak relate, bisa buat nostalgia.

BACA JUGA Konsep 7 Dosa Besar pada Tokoh Emak Eti, Ibunya Oneng di Sitkom Bajaj Bajuri dan artikel Nasrulloh Alif Suherman lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform Use Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.