Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Musik

Bagaimana Orang Minang juga Bisa Mencintai Didi Kempot?

Ridho Gunawan oleh Ridho Gunawan
26 Juli 2019
A A
orang minang

orang minang

Share on FacebookShare on Twitter

Saya kagum sekaligus iri. Tentang seorang penyanyi—maaf ralat, beliau legenda—campursari yang namanya mulai naik kembali akhir-akhir ini berkat  menjamurnya penamaan sadboi dalam sebuah konser di daerah Solo, kemudian disusul viralnya mas baj*ngan boy yang dikemas dalam ngobam-nya mas Gofar. Yap, siapa lagi kalau bukan Lord Didi Prasetya alias Didi Kempot.

Kagumnya saya karena saya bukanlah penikmat musik campursari seperti teman-teman kampus saya di Jogja dulu yang mayoritas suku Jawa, yang kenal dengan musik ini sejak dari kecil. Hanya seorang mahasiswa baru dari ranah Minang di tanah Jogja. Mungkin dahulu hanya mengenal lagu “Stasiun Balapan” karena dulu Kang Sule suka memplesetkan lagu itu dalam acara Opera Van Java di Trans7. Iya, iya yang itu tuh, Aku Jadi Gukguk. Sebelum menginjakkan kaki di sini—dan prediksiku—hanya generasi X saja yang akan joged dan berdendang. Ternyata: saya salah besar.

Sekali waktu, di tahun 2017 itu—dengan rasa penasaran yang makin membesar bagai bola salju kalau kata Kang Sule—saya coba membuktikan sendiri tentang daya magis seorang Didi yang mampu mematahkan teori generasi dan anggapan bahwa campursari itu kuno. Di panggung nan sempit itu, Didi tampil bagai messiah yang menyihir setiap penikmat musik itu bahkan bisa hanya dengan melambungkan reff-nya saja tanpa hokyahokya-nya.

“Ramaaaidooooo…” kemudian dilanjutkan oleh penonton. Kompak.

Rata-rata penonton itu ternyata juga pemuda dan mahasiswa seperti saya meski ada sebotol ciu di tangannya juga orang paruh bayanya. Seluruh lagu dihafal habis hingga bagian cendol dawet.  Didi mampu membuat penonton jatuh cinta dan patah hati disaat yang bersamaan. Tapi, belum dengan saya.

Semua rasa penasaran itu lunas diganti dengan rasa salut yang amat tersulut. Sejenak saya mendongakkan kepala keatas. Mencoba terus menyatu dengan alunan musik. Betapa anehnya saat ketika sebuah lagu untuk diratapi justru dirayakan bak sebuah kemenangan nyata. Namun, akhirnya saya menangkap pulang dengan PR linguistik. Di sini letak iri nya: Bagaimana saya menikmati tiap baitnya jika saya tidak menghafal liriknya? Bagaimana saya menikmati lagu jika saya tidak tahu arti dari Bahasa Jawa-nya?

Saat itu, bibir ini hanya bisa mengikuti reff saja, tapi bagian awal dan akhir lirik hanya bisa komat-kamit. Harus bolak balik melihat Google Translate mencari arti “Cidro”, “Kelingan”, dan “Bojo”. Masih belum merasakan apa yang teman sejurusan rasakan saat bisa bernyanyi dengan bergelora sambil memegang ulu hati sedalam-dalamnya.

Ah, jika saya sudah hanyut dalam sikap Chauvinis—atau bahkan etnosentrik—saya bisa saja hanya mendengarkan lagu Pop Minang Populer seperti Ipank, yang terkenal dengan “Rantau den Pajauah” atau mungkin mundur lagi ke era Hetty Koes Endang dengan lagu “Pulanglah Uda” yang kembali dipopulerkan Ria Amelia. Atau bahkan “Bapisah Bukannyo Bacarai” oleh Pak Syahrul Yusuf. Tidak kalah ambyar, kok! Tetapi setelah dipikir-pikir, Pop Minang maupun campursari sejatinya bukanlah perbandingan yang sesuai. Hanyut dalam melodi pop di jalan berkelok menuju kampung di Padang Panjang tentu berbeda dengan sensasi hokya bersama Kempoters.

Baca Juga:

Keributan Saat Menonton Barongan di Kendal, Bonus yang Tidak Pernah Saya Pesan dan Inginkan

5 Hal Tidak Menyenangkan di Kota Padang yang Bikin Wisatawan Kapok Berkunjung

Berdendang di baralek gadang  rumah mantan pas kamu SMA di Padang dulu tentu tidak sama dengan lantunan musik koplo kondangan mantan gebetan kampusmu—saya paham, alasannya karena orang yang kamu bribik tidak jadi karena ibumu tidak merestui kamu nikah dengan orang luar Minang, kan? hehehehe. Sama.

Harakat dan cengkoknya saja sudah pasti pula berbeda. Belum lagi masalah bahasa ini. Tapi, kita sepakat: ini adalah tentang kasih tak sampai yang patut untuk disyukuri. Dengan lagu apapun, dengan aliran apapun, dengan bahasa apapun—dengan atau tanpa kamu sekalipun. :'(

Pun, kita sepakat bahwa bahasa patah hati adalah bahasa universal. Tanpa harus memandang ras. Poinnya, di mana bumi dipijak, di situ langik dijunjuang. Sementara ini bolehlah kita berdendang ria bersama sadboi dan sadgerl di tanah rantau. Buat mengobati rindu akan lagu patah hati. Oh iya, sekali lagi, Didi kempot bukan penyanyi. Didi Kempot adalah nyanyian itu sendiri. Didi adalah kita dalam bentuk yang paling rapuh dan enyuh.

—————————-

Malam ini, 2019, dua tahun kemudian sejak konser Didi yang pertama saya saksikan, saya berangkat menuju hari jadi sebuah partai politik di Jakarta Pusat. Tidak hanya lagu “Stasiun Balapan”, tapi beberapa lagu andalan lainnya sudah hafal di luar kepala—sebuah kemajuan. Hasil dari memutar selalu karya maestro ini tiap di kosan.

Dan, lagi-lagi anda membuktikan kalau anda adalah idola yang menembus batas suku, status sosial, ras, generasi dan golongan.

Ambo tresno kali kali kali kalo panjenengan, Uda Didi!

 

ps. jangan tanya saya sudah berapa kali patah hati dengan anda, ya, pemudi Jawa.

Terakhir diperbarui pada 19 Januari 2022 oleh

Tags: campursarididi kempotminangsumatra baratThe Godfather of Broken Heart
Ridho Gunawan

Ridho Gunawan

Belajar jadi pengarang tipis-tipis

ArtikelTerkait

Keributan Saat Menonton Barongan di Kendal, Bonus yang Tidak Pernah Saya Pesan dan Inginkan

Keributan Saat Menonton Barongan di Kendal, Bonus yang Tidak Pernah Saya Pesan dan Inginkan

5 Januari 2026
tenar

Jangan Pergi Ketika Didi Kempot Sudah Nggak Tenar Lagi

27 Agustus 2019
dark jokes mencandai kematian orang akun twitter meninggal dunia didi kmepot ashraf sinclair mojok

Pelajaran dari Kasus Akun Twitter yang Suka Menjadikan Artis Meninggal sebagai Becandaan

6 Mei 2020
Pengalaman Mencicipi Teh Talua Malimpah, Minuman Khas Bukittinggi yang Dituding Biang Keladi Diabetes

Pengalaman Mencicipi Teh Talua Malimpah, Minuman Khas Bukittinggi yang Dituding Biang Keladi Diabetes

15 Juli 2024
Kuah Kental Hangat, Rahasia Kenikmatan Sate Padang

Kuah Kental Hangat, Rahasia Kenikmatan Sate Padang

6 Oktober 2023
los dol denny caknan lirik arti video klip mojok.co

Menebak Maksud Lirik ‘Kangen Kringet Bareng Awakmu’ dalam Lagu ‘Los Dol’ Denny Caknan

26 Juli 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

Purwokerto Memang Kota Wisata, tapi Wisatawan Tak Diberi Petunjuk dan Dibiarkan Bingung Mau ke Mana

5 Februari 2026
7 Kebiasaan Orang Kebumen yang Terlihat Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warga Lokal Mojok.co

6 Mitos di Kebumen yang Nggak Bisa Dibilang Hoaks Begitu Saja

3 Februari 2026
Siasat “Membunuh” Waktu Saat Kereta Api Berhenti Lama di Stasiun Cirebon Mojok.co

Siasat “Membunuh” Waktu Saat Kereta Api Berhenti Lama di Stasiun Cirebon

8 Februari 2026
5 Menu Seasonal Indomaret Point Coffee yang Harusnya Jadi Menu Tetap, Bukan Cuma Datang dan Hilang seperti Mantan

Tips Hemat Ngopi di Point Coffee, biar Bisa Beli Rumah kayak Kata Netijen

3 Februari 2026
Jatiwaringin Bekasi, Daerah Seribu Galian yang Nggak Tahu Kapan Kelarnya. Warga di Sini Punya Kesabaran Tingkat Tinggi bekasi jogja

Setahun Hidup di Jogja Bikin Saya Rindu Jalan Berlubang di Bekasi

6 Februari 2026
Pemuda Pati Takut Menikah karena Standar Mahar Nggak Masuk Akal seperti Duit Ratusan Juta, Motor, bahkan Mobil Mojok.co

Pemuda Pati Takut Menikah karena Standar Mahar Nggak Masuk Akal seperti Duit Ratusan Juta, Motor, bahkan Mobil

7 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Lawson Slamet Riyadi Solo dan Sekutu Kopi: Jadi Tempat Ngopi, Jeda selepas Lari, dan Ruang Berbincang Hangat
  • Rayakan 20 Tahun Asmara, Ruzan & Vita Rilis Video Klip “Rayuanmu” yang Bernuansa Romansa SMA. Tayang di Hari Valentine!
  • Nasi Bekal Ibu untuk Saya yang Balik ke Perantauan adalah Makanan Paling Nikmat sekaligus Menguras Air Mata
  • Media Online Tak Seharusnya Anxiety pada AI dan Algoritma 
  • Pengangguran Mati-matian Cari Kerja, Selebritas Jadikan #OpenToWork Ajang Coba-coba
  • Orang Nggak Mau Dijuluki “Sinefil” karena Tahu Itu Ejekan, tapi Tetap Banyak yang Mengaku “Si Paling Film”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.