Ayah adalah Pria yang Pemarah: Bagaimana Jika Sebenarnya Kita yang Kurang Memahami Bahasa Kasih Sayangnya?

Ayah seringkali kesulitan mengungkapkan kasih sayang sehingga meninggalkan kesan pada anak-anaknya, ayah adalah sosok yang keras kepala dan tidak mau kalah.

Artikel

Avatar

Bagaimana pun ia memarahimu, seburuk apapun ia di matamu, ia adalah figur cinta pertamamu—ayah.

Saya berani jamin, di antara kita semua pasti pernah terlibat percekcokan dengan seorang pria terdekat kita. Ya, siapa lagi jika bukan ayah. Figur ayah yang jarang ditampilkan kemellowannya dalam quotes-quotes yang beredar jika dibanding sosok ibu, seringkali menambah kesan ‘keras’ pada sosok ayah. Jika ibu selalu digambarkan sebagai seorang wanita yang merawat kita dengan kelembutannya, maka ayah adalah sebaliknya.

Namun bukan berarti ayah mendidik kita dengan cara kekerasan. Hanya saja, cara ayah dalam menunjukkan kasih sayangnya seringkali membuat kita kurang memahami. Kita tentu tahu, banyak artikel yang memuat tentang bagaimana perbedaan sikap laki-laki dan perempuan. Salah satu ciri sifat yang banyak diulas adalah tentang perempuan yang lebih mengandalkan perasaan dan laki-laki lebih mengandalkan pikiran.

Pernyataan itu ternyata tidak hanya berlaku bagi kawula muda yang sedang kasmaran saja, melainkan figur ayah dan ibu kita. Kita terlebih dahulu perlu mengetahui jika dari cara menunjukkan kasih sayang keduanya memang sangat berbeda. Dari perbedaan tersebut, kita akan dapat menyimpulkan jika sebenarnya apa yang mereka lakukan adalah bentuk penjagaan terhadap kita—terutama ayah.

Jika ibu merawat kita dengan penuh kasih sayang, maka ayah bertugas mendidik kita dengan penuh tanggung jawab. Ibu bertugas membangun karakter pribadi anaknya, sedangkan ayah bertugas membangun karakter interpersonal sang anak untuk menjadi seseorang yang tangguh sepertinya kelak.

Sayangnya, ayah seringkali kesulitan mengungkapkan kasih sayangnya dengan ungkapan verbal. Sehingga meninggalkan kesan pada anak-anaknya, bahwa ayah adalah sosok yang keras kepala dan tidak mau kalah. Namun beberapa perlakuan seorang ayah berikut ini perlu kita ketahui bahwa seburuk apapun ayah di mata kita, ia adalah figur cinta pertama kita. Iya, sebelum kamu cinta gebetanmu!

Ayah memaksakan kehendaknya sendiri, ayah adalah sosok yang egois

Seribu kali yakin, sebagian besar anak pasti pernah meyakinkan diri bahwa ia mempunyai seorang ayah yang keras kepala. Salah satunya adalah saya. Bagi saya, ayah adalah pria yang keras kepala dan susah dibelokkan pendapatnya.

Dalam hal ini, mengertilah jika ayah sedang berusaha menjaga kita dengan caranya dan berbagai pengalaman yang pernah ia dapatkan. Masa remaja ayah berlangsung belasan tahun silam sebelum kita berusia remaja atau dewasa. Maka sebelum kita mengarungi kehidupan yang sesungguhnya, ayah lah yang bertanggung jawab atas keputusan kita. Meskipun seringkali ayah sangat kesulitan untuk menyampaikan maksud yang sebenarnya. Ayah ingin kita tetap terjaga.

Baca Juga:  Mawang dan Jawaban Atas Penyampaian Rasa Sayang Kepada Orang Tua yang Seringkali Sulit Diungkapkan

Jika begitu, maka sementara waktu penuhi keinginan ayah dan redakan sejenak emosi kita, karena meninggikan suara hanya akan memperunyam suasana. Setelah semuanya mereda, utarakan maksudmu secara baik-baik dan ajaklah ayah berdiskusi karena sebetulnya ayah sangat senang jika kita bersikap terbuka padanya. Dengan begitu ayah akan berpikir, ayah bisa jadi teman bagi anak-anaknya. Ini berlaku untuk anak perempuan dan laki-laki yhaaa~

Ayah terlalu ikut campur urusan kita

Setelah memaksakan egonya sosok ayah biasanya akan sangat penasaran dengan semua kegiatan kita. Bahkan tidak jarang, sosok ayah juga ikut mencampuri urusan kita. Biasanya yang sering jadi sasaran kekepoan ayah adalah kegiatan kita saat di kampus maupun sekolah (bagi yang masih bersekolah). Ayah akan menyelidik kita dengan beragam pertanyaan yang kadang membuat kita gondok juga jawabnya. Ya ayah kepo banget sih.

Meskipun memang tampak menyebalkan, hanya dengan cara itulah ayah dapat tetap mengawasimu. Waktunya sangat terbatas untuk mengawasimu, karena seharian ayah telah bekerja untuk menafkahimu. Namun dengan menginterogasimu dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kegiatan di sekolah, ayah akan memastikan bahwa anaknya tetap dalam pengawasannya. Maka, kamu perlu menjawab pertanyaan ayah dengan baik-baik dan seperlunya.

Menjawab seperlunya bukan berarti kamu pelit informasi alias jutek, tapi kamu hanya menceritakan kegiatanmu yang berhubungan dengan pertanyaan ayah. Hal itu dilakukan agar pembicaraan tidak melebar sehingga tidak menyebabkan adanya perdebatan yang berujung eyel-eyelan. Percayalah, ngeyel dengan ayah akan sangat buang-buang tenaga. Maka kamu harus pandai menyiasati hal ini. hehe

Ayah terlalu cerewet dan suka ngomel-ngomel

Ternyata tidak hanya ibu. Ayah pun juga terkadang mempunyai intensitas ngomel yang hampir sama dengan ibu. Saat kita melakukan beberapa kesalahan kecil biasanya ayah akan jadi lebih cerewet. Misalnya ketika kita lalai kewajiban karena sibuk bermain PUBG, Free Fire, Instagram, atau kita asik tidur-tiduran sedangkan rumah sedang berantakan. Bisa jadi ayah akan jadi lebih cerewet dari biasanya.

Jika sudah begitu, hentikan sejenak apapun kemalasan kita sejenak kemudian lakukan tugas seperti yang telah jadi kewajiban kita setiap harinya. Dengan cara ini ayah ingin kita menjadi sosok yang disiplin agar kelak di dunia kerja kita tidak terbiasa menunda pekerjaan dan bermalas-malasan. Meskipun, terkadang cara ayah untuk menunjukkan memang terasa menjengkelkan

Baca Juga:  Jika Pennywise, Si Badut Film It, Nyasar ke Bandung

Ayah kurang peduli atas masalah yang kita hadapi (terlebih jika penyebabnya adalah kita sendiri)

Jika kita pernah disikapi dengan cuek oleh ayah atas masalah yang kita hadapi, terlebih jika masalah itu muncul akibat ulah kita sendiri. Salah satu contohnya adalah ketika saya kehilangan dompet saya karena keteledoran saya. Ketika saya akhirnya bercerita kepada ayah, awalnya ayah pasti meledak-ledak. Selanjutnya apa yang terjadi? Jangan harap ayah rela mengurus ulang KTP, SIM, STNK, dan kartu ATM saya. Ayah membiarkan saya menyelesaikan masalah sendiri.

Maka saat itu juga ayah mengatakan bahwa seorang anak harus bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuat. Ayah pun mengembalikan masalah tersebut kepada saya. Dan ya, saya mengurus semuanya sendirian. Ayah hanya memberikan uang keperluan, selebihnya ya saya sendiri yang harus kesulitan. Tapi syukur, dompet saya ternyata tidak hilang. wqwq

Dengan cara begitu ayah menginginkan anaknya menjadi sosok yang mengakui kesalahannya serta dapat mempertanggungjawabkan. Ayah tidak ingin ketika putra atau putrinya menghadapi dunia luar, mereka kurang cekatan dalam menyelesaikan masalah. Kalau masalah pribadi saja tidak bisa memecahkan, terus waktu kerja bisa memecahkan masalah apa? Punya keterampilan problem solving apa kita? Begitu sobat…

Kata ayah, menjadi seorang ayah itu tidak mudah. Menjadi ayah harus sebisa mungkin melancarkan komunikasi secara utun kepada anak-anaknya. Bahkan ayah saya memahami benar jika kehidupannya dulu dengan kehidupan anaknya saat ini sangat berbeda. Oleh sebab itu, terkadang marah-marahnya hanyalah sebuah sikap untuk menunjukkan kekurang pahaman beliau terhadap cara dan kebiasaan anak masa kini seperti saya dan adik.

Jadi, ketika ayah kalian marah-marah, ngomel-ngomel, jangan lebih dulu menyimpulkan jika ayah sedang marah. Berhusnuzan, ayah sedang berusaha menunjukkan kasih sayangnya adalah cara yang lebih baik untuk meredam pertengkaran dengan ayah. (*)

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) yang dibikin untuk mewadahi sobat julid dan (((insan kreatif))) untuk menulis tentang apa pun. Jadi, kalau kamu punya ide yang mengendap di kepala, cerita unik yang ingin disampaikan kepada publik, nyinyiran yang menuntut untuk dighibahkan bersama khalayak, segera kirim naskah tulisanmu pakai cara ini.
---
369 kali dilihat

6

Komentar

Comments are closed.