Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Asal Mula Seblak, Makanan Alien yang Naik Kasta

Irwan Rosmawan oleh Irwan Rosmawan
20 Juni 2020
A A
seblak mojok.co

seblak mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Seorang teman waktu pertama kali ke Bandung pernah berkelakar, makanan di Bandung itu aneh-aneh. Pikiran seperti itu memang kerap hadir bagi mereka yang pertama kali mengenal kuliner Bandung. Saya tidak akan membahas kuliner Bandung dari A sampai Z, secara jari bakal encok kalau harus ngetik buat bahas semuanya.

Di sini saya akan membahas sejarah lahirnya makanan seblak yang sekarang lagi ngetren dan bisa dibilang sudah go international. Tulisan ini bukan berasal dari pakar sejarah ataupun kuliner, kebetulan saya salah satu saksi sejarah lahirnya seblak di Kota Kembang, Bandung. Ini kisah nyata catatan hidup saya yang mungkin bisa jadi asal mula makanan seblak.

Alkisah dimulai saat saya bekerja di bandung pada sekitar tahun 2008 silam. Saya tinggal di rumah teman yang letaknya tepat di depan pintu masuk Sekolah Dasar Bojong Koneng, Cikutra, Bandung. Setiap hari saya pastinya sering bercumbu kata dengan para pedagang makanan di sana, bahkan cukup hafal seluk beluk dan suka duka mereka.

Setiap pedagang punya menu makanan andalan masing-masing, biasanya hanya satu jenis menu makanan. Yang saya ingat ada yang jualan martabak mini, gorengan, nasi kuning, mi goreng, dan lainnya. Nah, setiap pedagang biasanya setiap dua bulan sekali harus ganti menu dagangannya, terutama ketika jualannya mulai sepi karena anak-anak SD sudah bosan.

Setiap pedagang biasanya punya dua sampai tiga menu makanan untuk diputar untuk mengakali dagangan sepi. Secara manusiawi, kalau dagangan itu-itu saja maka anak-anak SD pastinya bosan, harus ganti menu baru. Mungkin dalam setahun, pedagang punya 2-3 menu yang selalu diputar bergantian setiap 2 sampai 3 bulan sekali. Misalnya, sekarang jualan martabak mini, nanti beberapa bulan kemudian kalau jualan mulai sepi harus ganti menu biar rame lagi.

Tetapi jika sudah lebih dari setahun maka semua menunya akan jadi membosankan di lidah anak-anak. Para pedagang akhirnya harus memutar otak bikin menu baru, bahkan mereka harus berinovasi menciptakan jenis makanan baru yang tentunya harus cocok di lidah anak SD, dan harganya tidak boleh lebih dari Rp 2.000.

Kebiasaan saya setiap pagi nyari sarapan ya di mereka, secara harganya yang murah meriah. Dengan uang lima ribu rupiah bisa sarapan enak dan kenyang. Biasanya saya beli nasi kuning tiga ribu rupiah (isinya cuman nasi kuning, sambel dan kerupuk). Biar lebih nikmat, saya beli mi goreng atau gorengan bala-bala harga dua ribu rupiah buat melengkapinya.

Singkat cerita, saya lihat lapak seorang pedagang bejubel dikerumuni anak-anak SD. Tidak lama kemudian bel sekolah memanggil waktunya jam sekolah dimulai. Karena sudah sepi saya coba menghampiri pedagang itu pingin tahu dia jualan menu apa. Netra saya rasanya kok aneh lihat masakan yang seumur hidup belum saya lihat.

Baca Juga:

Seblak Bukan Sampah, tapi Sebuah Kuliner yang Berasal dari Perjuangan untuk Bertahan Hidup

5 Tips Makan Seblak biar Lambung Aman Nggak Jadi Korban

Si pedagang mulai menggoreng bawang putih yang sudah dicincang halus, lalu air satu liter dimasukkan dalam penggorengan. Setelah air mendidih, dengan gesitnya jemari si pedagang memasukkan menambahkan garam dan micin. Tapi saya mengerutkan dahi ketika si pedagang memasukan kerupuk mentah ke rebusan air tadi.

“Eta teu salah, teh? Panan kurupuk mah digoreng, lain direbus?” tanya saya karena seumur hidup tahunya kerupuk itu digoreng. Terjemahannya, “Itu nggak salah, teh? Biasanya kan kerupuk digoreng, bukan direbus?”. Si Teteh cuman nyengir sambil terus memasukan kerupuk mentah dan irisan sayur kol ke penggorengan. “Eta namina naon, teh?” tanya saya penasaran. Terjemahannya “Itu namanya apa, teh?”. “Ini seblak,” jawab si Teteh sambil merapihkah kerudungnya.

Pikiran yang sudah nggak karuan lihat kerupuk mentah direbus, daripada banyak tanya nanti disangka comel, mending focus lihatin masakannya nanti hasil akhirnya seperti apa. Sekitar dua puluh menit kemudian air rebusan mulai berkurang dan kompor pun dimatikan. “Wah, jadi penasaran pingin nyobain makanan alien nih”, suara hati bergumam.

Dengan uang dua ribu rupiah saya coba makanan aneh itu. Tapi kenapa pikiran saya masih nggak percaya lihat kerupuk mentah direbus, hasilnya malah mirip ager. Daripada bingung nggak jelas mending saya cobain bagaimana rasanya. Sesuap seblak masuk ke mulut mencumbu lidah, rasanya cukup aneh, seaneh tampilannya. Mungkin karena sedari awal pikiran sudah terhipnotis dengan keanehan kerupuk mentah yang direbus, saya memakannya hanya beberapa suap saja (tidak sampai habis).

Sekitar sebulan kemudian, saya sama teman main ke kampus Widyatama yang tidak jauh dari rumah. Karena kami bukan mahasiswa sana jadi kami masuknya lewat pintu kantin yang berada di depan kampus, eh samping kampus, entahlah di depan atau samping yang pasti posisi kampus di antara pertigaan jalan.

Kami pun berjalan menelusuri lorong kantin kampus yang kebetulan tidak terlalu ramai. Seketika pikiran saya melayang jauh saat hidung disergap aroma makanan yang tidak asing, wanginya mirip seblak. Bagi Anda yang pernah membeli seblak pastinya paham dengan aromanya yang sangat tajam dan menyengat ketika dimasak. Akhirnya kepala saya sibuk berputar mancari darimana aroma itu berasal. Setelah tahu sumbernya, saya ajak teman menghampirinya.

Mendadak saya tertawa geli ternyata benar itu seblak. Saya dan teman cekikikan nggak kuat menahan tawa, kami pun mendadak jadi pusat perhatian penduduk di kantin. Yang membuat kami tertawa geli karena seblak yang awalnya jajanan anak SD sekarang sudah masuk kampus, dengan tambahan telur menyesuaikan lidah anak kampus. “Hebat euy, seblak asup kampus, mun geus wisuda ngke asup ka mana deui yeuh?” celetuk saya kepada teman. Terjemahannya, “Hebat euy, seblak masuk kampus, nanti kalo sudah wisuda masuk ke mana lagi nih?”

Sekitar 2 tahun kemudian, saat saya pulang ke Bekasi mendengar seblak lagi booming. Saya pun kembali dibuat tertawa geli oleh seblak yang semakin hari naik kasta dan terkenal. Yang awalnya cuman jajanan di kantin SD, lalu naik kasta ke kampus, dan sekarang sudah menyebar luas dengan menu yang lebih mewah dan super pedas.

Saya pribadi seumur hidup nyoba seblak cuman dua kali, pertama kali ya waktu di Bandung di kantin SD, dan kedua kalinya nyoba di Bekasi karena penasaran pingin tahu rasanya dengan bahan yang lebih komplit. Tetapi entah mengapa sampai sekarang saya kurang menyukai seblak. Mungkin efek sejak awal otak yang sudah tersugesti dengan keanehan kerupuk mentah direbus itu makanan alien.

BACA JUGA Penggemar Seblak Tak Pedas Garis Keras, Memangnya Kenapa?.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

—

Terakhir diperbarui pada 21 Juni 2020 oleh

Tags: seblak
Irwan Rosmawan

Irwan Rosmawan

Penulis pengecekan fakta di Sekoci Hoaxes (hoaxes.id)

ArtikelTerkait

3 Kuliner Khas Sunda yang Nggak Cocok di Lidah Wisatawan

3 Kuliner Khas Sunda yang Nggak Cocok di Lidah Wisatawan

3 Desember 2024
5 Alasan Seblak Jawa Kurang Disukai di Pulau Sulawesi (Wikimedia Commons)

5 Alasan Seblak Kurang Disukai di Pulau Sulawesi

5 Maret 2023
Karedok, Makanan Khas Sunda yang Underrated padahal Lebih Nikmat Dibanding Seblak yang Overrated

Karedok, Makanan Khas Sunda yang Underrated padahal Lebih Nikmat Dibanding Seblak yang Overrated

25 Juli 2024
seblak tak pedas

Penggemar Seblak Tak Pedas Garis Keras, Memangnya Kenapa?

29 Juli 2019
gerjuk nangka seblak makanan aneh mojok

Gerjuk, Makanan yang Jauh Lebih Aneh daripada Seblak

24 Desember 2020
Warung Self Cooking Seblak: Pembeli Sengaja Beli Seblak karena Ribet Bikinnya, eh, Malah Disuruh Masak Sendiri

Warung Self Cooking Seblak: Pembeli Sengaja Beli Seblak karena Ribet Bikinnya, eh, Malah Disuruh Masak Sendiri

19 April 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sisi Gelap Budaya Rewang di Hajatan Desa yang Nggak Banyak Orang Tahu Mojok.co

Saya Tidak Antisosial, Saya Cuma Takut Ikut Rewang dan Pulang Dicap Nggak Bisa Apa-apa

29 Januari 2026
PTC Surabaya dan PCM Surabaya, 2 Mall di Surabaya yang Kompak Menganggap Pengguna Motor sebagai Anak Tiri

PTC dan PCM, Dua Mall di Surabaya yang Kompak Menganggap Pengguna Motor sebagai Anak Tiri

30 Januari 2026
Jalan Mayjen Jonosewojo Surabaya Kawasan Elite, Kualitas Jalan Sulit: Daerah Mahal kok Aspalnya Rusak!

Jalan Mayjen Jonosewojo Surabaya Kawasan Elite, Kualitas Jalan Sulit: Daerah Mahal kok Aspalnya Rusak!

29 Januari 2026
Membayangkan Jalur KA Kalisat Jember-Bondowoso Aktif Kembali, Pasti Banyak Manfaatnya Mojok.co

Membayangkan Jalur KA Kalisat Jember-Bondowoso Aktif Kembali, Pasti Banyak Manfaatnya

28 Januari 2026
Malang Hari Ini Adalah Definisi Cantik tapi Toxic (Unsplash)

Sisi Gelap Malang Hari ini: Masih Cantik, tapi Semakin Toxic

25 Januari 2026
Air Terjun Tretes Wonosalam, Bukti Jombang Nggak Miskin Wisata Alam Mojok.co

Jombang Lantai 2: Sebutan Baru Wonosalam buat Menantang Pacet di Wisata Pegunungan

27 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Misi Mulia Rumah Sakit Visindo di Jakarta: Tingkatkan Derajat Kesehatan Mata dengan Operasi Katarak Gratis
  • DLH Jakarta Khilaf usai Warga Rorotan Keluhkan Bau Sampah dan Bising Truk dari Proyek Strategis Sampah RDF
  • Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh”
  • Indonesia Hadapi Darurat Kualitas Guru dan “Krisis Talenta” STEM
  • Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi
  • Ironi Jogja yang “Katanya” Murah: Ekonomi Tumbuh, tapi Masyarakatnya Malah Makin Susah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.