Punya Daihatsu Ayla 2018 aja bangganya setengah mati sampe ngejek mobil orang. Bayangin punya Lambo, dah kek Firaun ente
Dalam dunia otomotif, setiap orang punya cerita sendiri tentang mobil kesayangan mereka. Ada yang bangga dengan mobil mewah berharga miliaran, ada pula yang puas dengan kendaraan sederhana yang bisa mengantar mereka ke mana-mana tanpa banyak drama. Saya termasuk yang menghargai itu semua. Tapi, ada batasnya. Ketika seseorang mulai merendahkan orang lain hanya karena mobil yang baru dibelinya, itu sudah masuk kategori sombong yang berlebihan.
Nah, saya mau membahas tentang kesombongan akan mobilnya. Pengalaman pribadi saya dengan seorang teman, yang saya sebut saja Mr. X, membuat saya mempertanyakan: apa sih yang bisa dibanggakan dari Daihatsu Ayla 2018? Mobil yang menurut saya seperti sebiji kaleng susu diberi roda empat biji, tapi kok bisa bikin orang jadi angkuh minta ampun?
Pengalaman pahit dengan Mr. X dan mobil “terbaiknya”
Semuanya bermula dari pertemuan rutin kami di tempat kerja saat itu, sekitar beberapa tahun lalu. Mr. X, teman saya, baru saja membeli Daihatsu Ayla 2018 bekas dengan harga yang katanya “murah meriah”. Dia cerita panjang lebar tentang bagaimana mobil ini adalah pilihan cerdas, irit bensin, dan mudah diparkir di jalanan sempit kota kami.
Saya sih setuju, karena saya sendiri pernah mengendarai mobil sejenis dan tahu betul kepraktisannya. Tapi, masalahnya bukan di situ.
Mr. X mulai membanding-bandingkan. “Lihat nih, mobilku ini lebih bagus dari punyanya yang tua itu,” katanya sambil menunjuk mobil rekan kami yang memang sudah uzur. Dia lanjut dengan menyindir halus, “Orang-orang yang nggak bisa beli Ayla kayak gini, pasti iri deh. Ini mobil modern ndes!” Saya cuma geleng-geleng kepala. Dari situ, setiap kali bertemu, dia selalu menyisipkan pujian berlebih untuk Ayla-nya, seolah-olah itu adalah Daihatsu Copen.
Bahkan, di grup WhatsApp kami, dia sering unggah foto mobilnya dengan caption seperti “My beast on the road!” Beast? Serius? Saya muak, tapi diam saja dulu. Sampai akhirnya, saya putuskan untuk menyelidiki lebih dalam: apa sih spesialnya Daihatsu Ayla 2018 ini hingga bikin orang seperti Mr. X jadi sombong?
Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa keberhasilan seseorang, termasuk membeli mobil pertama, memang layak dirayakan. Tapi, merayakannya dengan merendahkan orang lain? Itu salah besar. Saya tak masalah jika Mr. X bangga, tapi jangan sampai membuat orang lain merasa kecil. Ini bukan soal mobilnya, tapi soal sikapnya.
Spesifikasi dasar Daihatsu Ayla 2018: mobil murah untuk kebutuhan sehari-hari
Daihatsu Ayla 2018 adalah bagian dari segmen Low Cost Green Car (LCGC) di Indonesia, dirancang untuk menjadi kendaraan terjangkau bagi masyarakat menengah ke bawah. Mobil ini hadir dalam dua varian mesin utama: 1.0 liter dan 1.2 liter. Varian 1.0L menggunakan mesin 1KR-VE DOHC dengan teknologi VVT-i, berkapasitas 998 cc, menghasilkan tenaga maksimal 67 PS pada 6.000 rpm dan torsi 89 Nm pada 4.400 rpm.
Sementara varian 1.2L lebih bertenaga, dengan mesin 3NR-VE berkapasitas 1.197 cc, output 88 PS pada 6.000 rpm dan torsi 108 Nm pada 4.200 rpm. Dimensinya compact: panjang 3.760 mm, lebar 1.665 mm, dan tinggi 1.515 mm, dengan wheelbase 2.455 mm. Ini membuatnya ideal untuk kota seperti Semarang yang sering macet.
Tangki bensinnya 36 liter, dan transmisi tersedia manual 5-speed atau otomatis 4-speed. Dari segi akselerasi, jangan harap cepat seperti mobil sport. Estimasi 0-100 km/h sekitar 11-13 detik, tergantung varian. Kecepatan maksimal? Sekitar 150-160 km/jam, cukup untuk jalan tol tapi bukan untuk balapan.
Desain eksteriornya sederhana, dengan grille depan yang mirip saudaranya Toyota Agya. Lampu halogen standar, velg alloy pada varian atas. Untuk interior, plastik keras mendominasi, dengan dashboard minimalis. Varian entry-level ada radio, atau power window. Ini seperti mobil dari era 90-an yang dipoles sedikit untuk pasar modern.
Bekasnya sekarang mungkin Rp70-100-an juta. Murah? Ya. Tapi, apakah itu alasan untuk sombong? Menurut saya, tidak.
BACA JUGA: Berkah Mobil Ayla yang Dibeli dengan Kredit Murah
Kelebihan yang layak diapresiasi, tapi bukan untuk disombongkan
Jujur saja, Daihatsu Ayla 2018 punya beberapa poin plus yang membuatnya populer di Indonesia. Pertama, efisiensi bahan bakar. Varian 1.0L bisa mencapai 18-20 km/liter di jalan campuran, sementara 1.2L sekitar 14-16 km/liter. Di Semarang yang sering stop-go karena macet, ini hemat banget. Saya ingat pernah pinjam Ayla teman lain, dan satu tangki penuh bisa jalan jauh tanpa khawatir kehabisan bensin.
Kedua, mudah dikendarai dan parkir. Bobotnya ringan, sekitar 800-900 kg, membuatnya lincah di lalu lintas kota. Radius putarnya cocok untuk gang-gang sempit. Fitur seperti power steering (di varian atas) membuatnya ramah bagi pemula. Selain itu, biaya perawatan rendah. Suku cadang murah dan mudah didapat, karena Daihatsu punya jaringan luas.
Ketiga, dari segi keselamatan, meski basic, ada dual airbag pada varian tertinggi, ABS, dan EBD. Bukan yang terbaik, tapi cukup untuk mobil sekelasnya. Bukan hal yang salah memuji kenyamanan suspensinya yang empuk, meski bukan untuk jalan rusak parah. Desainnya juga modern untuk harganya, dengan sentuhan stylish seperti lampu LED daytime running lights di varian R.
Tapi, kembali lagi, ini kelebihan standar untuk mobil entry-level. Banyak mobil lain seperti Honda Brio atau Suzuki Ignis yang punya fitur lebih baik dengan harga tak jauh beda. Mr. X bilang mobilnya “terbaik di kelasnya”, tapi saya lihat, banyak yang bilang ini cuma “mobil harian biasa”. Bangga boleh, tapi jangan overclaim.
Kekurangan Daihatsu Ayla yang membuat sombong terasa lucu
Nah, ini bagian yang membuat saya geleng-geleng kepala setiap Mr. X pamer. Daihatsu Ayla 2018 punya banyak kekurangan yang membuatnya jauh dari kata “mewah” atau “dibanggakan”. Pertama, interiornya murahan. Plastik keras di mana-mana, kursi tipis, dan ruang kabin sempit untuk lima orang.
Kedua, performa mesin lemah. Akselerasi lambat, terutama di tanjakan. Saya pernah coba, dan saat naik ke Ungaran, mobil ini ngos-ngosan. Kebisingan kabin tinggi di kecepatan atas, karena isolasi suara minim. Fitur keselamatan juga terbatas; tidak ada stability control atau kamera mundur standar.
Ketiga, build quality. Banyak keluhan soal cat mudah pudar, pintu ringan seperti kaleng, dan getaran mesin yang terasa. Mirip dengan julukan saya tadi, kaleng susu diberi roda. Di negara lain, mobil sekelas ini disebut “bare-bones car”.
Mr. X sering bilang, “Mobil ini irit banget!” Tapi, saya jawab dalam hati: irit ya karena mesin kecil dan bobot ringan, bukan karena teknologi canggih. Banyak mobil hybrid sekarang yang lebih irit tanpa mengorbankan kenyamanan.
Sikap sombong dan nilai sebuah pencapaian
Pengalaman dengan Mr. X membuat saya berpikir lebih. Membeli mobil, apa pun mereknya, adalah pencapaian. Bagi banyak orang di Indonesia, Daihatsu Ayla adalah langkah pertama menuju mobilitas mandiri. Saya hormati itu. Tapi, sombong karena hal itu sama saja merendahkan perjuangan orang lain. Mungkin Mr. X lupa, ada yang masih naik angkot atau sepeda motor karena keterbatasan ekonomi.
Keberhasilan harus dirayakan dengan rendah hati. Mobil hanyalah alat, bukan identitas. Jika Mr. X baca ini, saya harap dia sadar: Ayla bagus untukmu, tapi jangan anggap itu membuatmu lebih baik dari orang lain. Dan apa artinya jika itu menyakiti pertemanan?
Mari kita hargai pencapaian tanpa menyakiti orang lain. Di akhir hari, yang penting bukan mobil apa yang kita kendarai, tapi bagaimana kita memperlakukan sesama di jalan raya kehidupan.
Penulis: Budi
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Daihatsu Ayla: Mobil Kecil dengan Manfaat Besar bagi Mereka yang Tak Kenal Gengsi
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













