Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Apa Salahnya Punya Cita-Cita Sebagai Peternak Ikan?

Reni Soengkunie oleh Reni Soengkunie
11 Oktober 2019
A A
peternak ikan

peternak ikan

Share on FacebookShare on Twitter

Saat saya kecil dulu, tiap kali ditanya tentang cita-cita, maka saya akan menjawab bahwa cita-cita saya kelak ingin menjadi seorang peternak ikan. Jujur saja, sejak  kecil tak pernah terbesit di pikiran saya memiliki impian menjadi seorang guru, dokter, polwan, insinyur, dan mimpi-mimpi seperti kebanyakan teman-teman lainnya. Menurut saya bekerja di dalam ruangan setiap hari, disuruh ini itu oleh atasan, dan harus mengenakan seragam setiap kali bekerja merupakan sesuatu yang bukan saya banget.

Kata orang, impian saya ini merupakan impian yang remeh dan tak berbobot. “Masa punya cita-cita kok jadi peternak ikan.” Kata mereka, tanpa saya sekolah tinggi pun, saya bisa dengan mudah menjadi seorang peternak ikan. Saya  masih ingat dengan jelas, bagaimana teman-teman sekelas menertawakan cita-cita saya itu. Bahkan beberapa guru saya pun ikut-ikutan tertawa dan menasihati saya untuk memilih cita-cita lain yang lebih berkualitas. Memangnya apa yang salah sih dengan seorang peternak ikan?

ADVERTISEMENT

Saya  sangat suka dengan ikan. Entah kenapa, melihat ikan yang berenang ke sana- kemari itu membuat saya merasa nyaman dan bahagia. Saya suka menangkap ikan, tapi saya tak suka memancing. Menurut saya, pancing itu dapat menyakiti ikan, Kalau mau bunuh ikan yah sekalian dibunuh, jadi si ikan gak merasakan sakit sebelum mati. Mungkin karena saya dulu suka mendengar dongeng Ikan Emas, jadi saya selalu merasa bahwa ika di kolam saya itu bisa berbicara dengan saya. Korban dongeng!

Waktu itu, bapak punya sebuah kolam ikan di belakang rumah. Hingga suatu hari, kolam itu dikuras dan ikannya dijual pada tengkulak untuk biaya sekolah kami. Saya sangat sedih saat itu, karena biasanya setelah bangun tidur, saya akan jongkok di tepi kolam untuk memberi makan ikan-ikan tersebut. tiap pulang sekolah, saya juga biasanya makan siang di tepi kolam sambil membaca buku.

Hampir setahun lamanya saya mengumpulkan uang untuk membeli bibit ikan. Kalau tidak salah, saya berhasil mengumpulkan uang 40 ribu rupiah selama setahun itu. Kala itu saya masih gadis cilik berusia 8 tahun yang uang sakunya tak lebih dari 200 rupiah setiap harinya. Jadi untuk mengumpulkan uang sebesar 40 ribu rupiah itu, bukan hal yang mudah.

Setelah uang terkumpul, saya dan bapak berjalan kaki menuju pasar ikan. Saya begitu bahagia sekali kala itu, bisa melihat begitu banyak ikan di kolam-kolam kecil. Akhirnya kami pulang membawa tiga kilo bibit ikan nila. Itulah, ikan pertama yang saya punya sendiri.

Setiap tahun, saya panen ikan. Ikan itu saya jual dan saya belikan bibit baru. Hasil dari jualan ikan, saya kembangkan lagi untuk menyewa sebuah kolam ikan dari Kas desa. Jadi saya punya dua kolam ikan. Saya sendirilah yang memberi makan setiap pagi dan sore hari. Biasanya saya mencarikan rumput di sawah untuk makan ikan-ikan saya. Hal ini saya lakukan hingga saya lulus SMA, jadi wajar ya, kalau saat SMA dulu kulit saya hitam merata.

Meski saya perempuan, tapi saya tak malu beternak ikan. Saat SMA dulu kebetulan, saya menjabat sebagai wakil ketua karang taruna. Saya mengajak teman-teman muda untuk ikut mengembangkan budidaya ikan di desa. Desa kami kaya dengan air bersih, sehingga sayang kalau tidak dimanfaatkan untuk membudidayakan ikan. Lumayankan kalau pemuda desa bisa mandiri, jadi kalau ada kegiatan, tak perlu ke sana-kemari membuat proposal untuk mencari dana.

Baca Juga:

Begini Jadinya Kalau Upin Ipin Dewasa Berubah Pikiran Tak Ingin Jadi Astronaut

Saat Belanja Bersama Anak Kecil, Orang Tua Perlu Perhatikan Aturan Tidak Tertulis Ini

Setelah lulus sekolah, saya terpaksa pergi merantau untuk bekerja. Sebenarnya saya kurang nyaman sih jadi pegawai, tapi yah mau bagaimana lagi. Untuk memulai atau mengembangkan sebuah usaha, saya harus mengumpulkan modal terlebih dahulu. Belum sempat saya mewujudkan mimpi saya itu, saya memutuskan untuk menikah dan tinggal di kota. Mustahil kalau saya mau beternak ikan di tempat panas dan minim lahan seperti ini.

Beruntung, saya memiliki pasangan yang tertarik dengan ikan Louhan. Alhasil, saya putuskan untuk serius dalam budidaya ikan Louhan. Kala itu kami tak punya modal banyak, semua dilakukan secara mandiri. Akuarium dan rak besi dikerjakan sendiri oleh suami, jadi tak mengeluarkan biaya yang terlalu banyak.

Awal-awal memelihara ikan Louhan itu merupakan perjuangan yang amat sangat pelik. Butuh waktu hampir dua tahun untuk saya dan suami untuk mendalami ikan louhan. Selama itu kami jatuh bangun dalam kerugian. Banyak orang yang nyinyir dan menertawakan kami. Namun tak apa, saya orang yang percaya bahwa hasil itu tak akan mengkhianati sebuah proses.

Kini di rumah sudah seperti Sea World yang penuh dengan akuarium. Kami sudah berhasil menernakan ikan berkualitas dan sudah kami kirim ke berbagai kota besar di Indonesia. Ikan-ikan Louhan kami juga hampir setiap bulannya sold out ke Malaysia atau Singapura. Sering juga ada pembeli dari India, Thailand, atau Amerika. Meski kelihatanya sepele, namun dengan budidaya ikan seperti ini, secara tidak langsung kami sudah berupaya membantu negara untuk menghasilkan devisa.

Siapa bilang untuk menjadi peternak ikan itu tak butuh pendidikan yang tinggi? Untuk mengatur kadar pH, tentu saya harus paham Ilmu Kimia dan Fisika. Untuk menghitung laba rugi, saya butuh Ilmu Akutansi. Untuk berinteraksi dengan orang asing, saya harus bisa berbahasa Inggris dan serta paham Ilmu Komunikasi. Untuk mempelajari penyakit pada ikan serta seluk beluk bagian ikan, saya juga harus mengerti Ilmu Biologi. Hanya orang konyol yang bisa bilang, menuntut ilmu itu merupakan sebuah pekerjaan yang sia-sia. Tak ada yang mubadzir dalam belajar suatu hal. Cita-cita itu ada banyak, tidak hanya guru, dokter, atau polisi. Kalau semua orang ingin menjadi guru dan dokter, lantas siapa yang akan menjadi petani, peternak, nelayan, dan sebagainya? (*)

BACA JUGA Ternak Lele adalah Kita yang Mulai Pragmatis atau tulisan Reni Soengkunie lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 11 Oktober 2019 oleh

Tags: anak kecilcita-citaKritik Sosialpeternak ikan
Reni Soengkunie

Reni Soengkunie

Bakul sembako yang hobi mendengar keluh kesah emak-emak di warung tentang tumbuh kembang dan pendidikan anak, kehidupan lansia setelah pensiun, serta kebijakan pemerintah yang mempengaruhi kenaikan harga sembako.

ArtikelTerkait

karya

Tidak Semua Celaan Perlu Dibalas dengan Karya, Kawan

10 Juli 2019
Saat Belanja Bersama Anak Kecil, Orang Tua Perlu Perhatikan Aturan Tidak Tertulis Ini Mojok.co

Saat Belanja Bersama Anak Kecil, Orang Tua Perlu Perhatikan Aturan Tidak Tertulis Ini

5 Januari 2024
rasis

Rasis: Akibat dari Sekolah yang Belum Tuntas

20 Agustus 2019
Balasan untuk Tulisan tentang Film The Social Dilemma yang Katanya Nihil Solusi terminal mojok.co

Balasan untuk Artikel Film ‘The Social Dilemma’ yang Katanya Nihil Solusi

22 September 2020
instagram stories

Instagram Stories itu Nyebelin

10 Juli 2019
tukang parkir

Beberapa Jenis Tukang Parkir yang Menyebalkan

19 Juni 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Orang dengan upah minimum seperti saya juga berhak self reward kecil-kecilan tanpa merasa bersalah, semua demi menjaga kewarasan Mojok.co

Pekerja dengan upah minimum seperti saya juga berhak self reward kecil-kecilan tanpa merasa bersalah, semua demi menjaga kewarasan 

10 Agustus 2026
Kopdes mending jualan jasa aja ketimbang kalah sama Indomaret (Wikimedia Commons)

Kopdes mending jualan jasa aja ketimbang jualan barang entar pasti kalah sama Indomaret

7 Agustus 2026
Harapan Jaya dan Pelita Indah, duo maut bus Tulungagung yang bikin banyak penumpang trauma Mojok.co

Harapan Jaya dan Pelita Indah, duo maut bus Tulungagung yang bikin banyak penumpang trauma

10 Agustus 2026
5 hal yang paling dirindukan orang Kebumen seperti saya saat merantau ke kota Mojok.co

5 hal yang paling dirindukan orang Kebumen saat merantau ke kota

7 Agustus 2026
Seni bertahan hidup di desa, wajib ikut mengantar jenazah ke kuburan dan takziah kalau nggak mau jadi musuh bersama Mojok.co

Seni bertahan hidup di desa, wajib ikut mengantar jenazah ke kuburan dan takziah kalau nggak mau jadi musuh bersama

6 Agustus 2026
Sebagai orang Sunda, jujur saya iri banget sama orang Jawa (Unsplash)

Sebagai orang Sunda, jujur saya iri banget sama orang Jawa

10 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.