Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Tarung Jalanan Dianggap Keren, Apa Benar Lebih Baik daripada Bela Diri?

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
1 Januari 2023
A A
Apa Benar Tarung Jalanan Lebih Baik daripada Bela Diri Terminal Mojok

Apa Benar Tarung Jalanan Lebih Baik daripada Bela Diri (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Banyak orang membandingkan antara tarung jalanan dan bela diri. Berebut mana yang lebih baik, apalagi kalau ditandingkan. Tarung jalanan dipandang lebih superior karena mengedepankan insting dan pengalaman. Selain itu, petarung jalanan juga dipandang keren karena mereka “ditempa oleh realita”. Sedangkan bela diri dinilai hanyalah tarian dan pamer jurus.

Kalau begitu, apa benar tarung jalanan lebih superior daripada bela diri? Saya pikir jawabannya bukan sekadar ya atau tidak.

Sebelumnya mari kita samakan dulu apa definisi tarung jalanan. Kalau menilik perjalanannya, tarung jalanan dekat dengan dunia gangster dan klub motor. Entah untuk melepas penat atau memang memperjuangkan sesuatu seperti wilayah. Ia juga erat dengan kekerasan jalanan. Akhir-akhir ini, banyak penggiat tarung bebas dan MMA yang menyebut tanding mereka sebagai tarung jalanan.

Izinkan saya mengerucutkan arti tarung jalanan ini. Tarung jalanan adalah pertarungan dua individu, bukan keroyokan ataupun penyerangan tiba-tiba. Jadi, klitih dan tawuran tidak akan saya masukkan. Kedua, mayoritas tarung jalanan tidak memiliki aturan kecuali kesepakatan bersama. Jadi, model fight club ataupun sparing antar geng sama-sama tarung jalanan. Terakhir, tarung jalanan tidak merujuk pada teknik dan aturan bela diri tertentu. Maka untuk penggiat MMA yang merasa street fighter, boleh menyingkir dulu.

Kenapa saya kerucutkan? Karena banyak orang menganggap tarung jalanan sebagai hal bebas. Termasuk ketika para atlet bela diri bertanding dengan nuansa jalanan seperti di Makassar. Saya pikir mereka tidak tepat disebut petarung jalanan. Tarung jalanan lahir tanpa ada tatanan dan aturan baku. Tujuannya hanya satu: menang.

Baiklah, kita sudah dalam satu frekuensi. Sekarang mari kita bandingkan. Tarung jalanan memang tidak memiliki aturan tegas, apalagi kalau terjadi secara dadakan seperti ricuh antar geng. “Aturan” tarung jalanan sering disebut “no holds barred” alias tanpa aturan. Mungkin aturan yang sering muncul hanya jangan membunuh lawan.

Tentu ini berbeda dengan bela diri. Kalau bicara latih tanding mereka, pasti aturan ketat diterapkan. Dari tidak boleh menyerang titik lemah tertentu, sampai larangan memakai senjata. Memang beberapa pelaku bela diri akan menyerang titik terlarang ketika mempertahankan diri di luar ring atau sasana. Namun secara umum mereka punya aturan baku.

Bicara teknik, tarung jalanan umumnya tidak mengenal ini. “Latihan” mereka cenderung mencari serangan terbaik untuk melumpuhkan. Sering kali mereka memadukan beberapa teknik bela diri yang dianggap perlu, tapi tidak ada latihan tegas dan terstruktur. Mungkin tidak akan kepikiran untuk latihan juga. Yang penting mereka tahu apa yang dilakukan ketika harus bertarung. Latihan mereka hanyalah pertarungan yang dialami.

Baca Juga:

7 Rekomendasi Film Jackie Chan di Vidio, Tampilkan Seni Bela Diri yang Memukau

Tarung Derajat, Bela Diri Penyelamat dan Pemberi Harapan bagi Orang Lemah kayak Saya

Para atlet bela diri punya latihan yang jelas. Bahkan ada sanksi ketika melanggar latihan. Dan latihannya tidak hanya cara menghajar musuh. Dari latihan pernapasan, teknik menghindar, sampai mengunci serangan akan mereka pelajari. Mental bertarung juga ditempa. Hasil tempaan ini teruji dan terbukti dengan sabuk atau jenis tingkatan lain. Jadi secara bekal, atlet bela diri cenderung lebih siap.

Penggunaan senjata oleh petarung jalanan cenderung kreatif. Mereka akan memanfaatkan objek di sekitar mereka sebagai perpanjangan serangan. Dari pasir sampai botol pecah akan mereka pakai jika memungkinkan. Namun, penggunaannya cenderung serampangan alih-alih melatih memanfaatkan foreign object dengan efisien.

Beberapa cabang bela diri mempelajari penggunaan senjata. Bahkan seni bela diri Arnis (disebut juga Kali dan Eskrima) dari Filipina benar-benar menjadikan senjata sebagai materi utama. Penggunaan senjata dalam bela diri tentu lebih efisien. Mereka menjadikan senjata sebagai perpanjangan lengan dan kaki. Selain belajar menggunakan senjata, pelucutan senjata juga dipelajari dalam banyak bela diri.

Terakhir, saya ingin membahas tentang serangan “mematikan”, yaitu serangan fatal di titik lemah yang berfungsi melumpuhkan musuh. Petarung jalanan cenderung hanya mengenal titik populer seperti selangkangan, hidung, dan ulu hati. Mereka akan memanfaatkan serangan di titik ini untuk memenangkan pertarungan dengan cepat.

Serangan serupa juga dipelajari di berbagai bela diri. Dan titik lemah manusia lebih dieksplorasi dalam materi bela diri. Dari sendi sampai area ginjal menjadi sasaran dari serangan fatal atlet bela diri. Dan dengan latihan dan pembentukan mental, serangan pada titik lemah ini bisa lebih berbahaya.

Lantas, bagaimana membandingkan keduanya? Akan sangat sulit! Jika membandingkan antar bela diri, kita bisa memakai konsep tingkatan mereka. Misal sabuk hitam Karate vs sabuk hitam Taekwondo. Sementara kalau tarung jalanan, kematangan dan pengalaman ini tidak terdefinisi. Hanya publikasi kelompok mereka yang jadi acuan seberapa tangguh si petarung.

Apalagi kalau ditandingkan, akan banyak faktor yang berpengaruh. Namun kesiapan mental serta latihan akan membuat atlet bela diri lebih unggul. Apalagi untuk cabang bela diri yang lebih fleksibel dalam pertarungan. Bahkan dalam situasi no holds barred sekalipun, atlet bela diri masih bisa menguasai permainan. Tapi semua akan dipengaruhi oleh pengalaman.

Menurut saya, petarung jalanan menang mental dan kreativitas. Untuk yang sudah senior, mental mereka jelas kuat bahkan di keadaan serba mendadak. Mereka juga akan jeli melihat peluang melumpuhkan musuh. Dari menendang selangkangan, menggigit telinga, sampai memakai senjata.

Sementara itu, atlet bela diri akan lebih superior, terutama untuk atlet senior. Secara mental mereka juga tertempa dalam latihan. Fisik tentu lebih kuat oleh latihan serius bertahun-tahun. Dan lebih penting, mereka belajar cara bertarung yang efektif. Termasuk dalam memakai senjata serta melumpuhkan lawan.

Pada akhirnya atlet bela diri akan lebih unggul. Glorifikasi tarung jalanan akan sirna melawan individu yang berlatih untuk bertarung. Bahkan dalam situasi yang tidak imbang, misal masalah senjata, atlet bela diri masih punya kesempatan untuk menang. Semua karena mereka dilatih untuk menuntaskan pertarungan dengan efisien dan cekatan. Bukan hanya membanggakan diri ala-ala underground fight club.

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Jangan Meniru Tutorial Bela Diri Mentah-mentah, kalau Masih Sayang Nyawa.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 1 Januari 2023 oleh

Tags: bela diritarung jalanan
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

pencak silat MOJOK.CO

Menjadi Wasit Juri Pencak Silat Itu Seperti Lagunya Armada: Pergi Pagi Pulang Pagi

10 Juli 2020
Hal yang Mungkin akan Terjadi jika Anak Bela Diri Ikut Mosh Pit terminal mojok.co

Hal yang Mungkin akan Terjadi jika Anak Bela Diri Ikut Mosh Pit

22 Februari 2021
7 Rekomendasi Film Jackie Chan di Vidio, Tampilkan Seni Bela Diri yang Memukau

7 Rekomendasi Film Jackie Chan di Vidio, Tampilkan Seni Bela Diri yang Memukau

27 September 2023
taekwondo korea kata edo mojok

Salah Kaprah tentang Bela Diri Taekwondo yang Dipercayai Banyak Orang

20 Januari 2021
bela diri MOJOK.CO

Duka Praktisi Bela Diri: Susah Mencari Guru, Stigma Suka Berkelahi, dan Dianggap Bisa Sembuhin Kesurupan

15 Juli 2020
tutorial bela diri

Jangan Meniru Tutorial Bela Diri Mentah-mentah, kalau Masih Sayang Nyawa

13 Desember 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Kebohongan Tentang Indomaret yang Perlu Diluruskan (Unsplash)

4 Kebohongan Tentang Indomaret yang Perlu Diluruskan

4 Februari 2026
Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Nggak Aman untuk Perempuan Mojok.co

Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Nggak Aman untuk Perempuan

6 Februari 2026
Universitas Terbuka (UT) Banyak Prestasinya Itu Bukan Kebetulan, tapi Memang Sistemnya yang Keren

Universitas Terbuka (UT) Banyak Prestasinya Itu Bukan Kebetulan, tapi Memang Sistemnya yang Keren

31 Januari 2026
Banting Setir dari Jurusan Manajemen Jadi Guru PAUD, Dianggap Aneh dan Nggak Punya Masa Depan Mojok.co jurusan pgpaud

Jurusan PGPAUD, Jurusan yang Sering Dikira Tidak Punya Masa Depan

5 Februari 2026
Jatiwaringin Bekasi, Daerah Seribu Galian yang Nggak Tahu Kapan Kelarnya. Warga di Sini Punya Kesabaran Tingkat Tinggi bekasi jogja

Setahun Hidup di Jogja Bikin Saya Rindu Jalan Berlubang di Bekasi

6 Februari 2026
Pengendara Mobil Nggak Usah Ikut-ikutan Lewat Jalan Tikus, Kalian Nggak Diajak!

Pengendara Mobil Nggak Usah Ikut-ikutan Lewat Jalan Tikus, Kalian Nggak Diajak!

31 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya
  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.