Kota Medan, katanya kota dengan julukan Gotham City, selalu saja membuat jantung masyarakat berdegup kencang. Bukan soal rayap besi dan tunawisma saja, tapi persoalan transportasi umum. Yap, salah satunya adalah angkot Medan.
Orang Medan selalu menyebutnya “Sudako”. Ini dari cerita populer dan menurut sejarah, Sudako berarti Sarana Umum Dalam Kota. Sudako juga dikenal Sumatera Daihatsu Company.
Namun, saya tidak akan membahas tentang istilah atau asal usul angkot dengan sebutan Sudako. Melainkan, angkot Medan itu ibarat raja tanpa mahkota, dengan kelakuannya yang unik dan sering bikin naik pitam.
#1 Angkot Medan suka ngetem berjamaah di tengah jalan
Bulan pertama tiba di Medan, saya mengunjungi Kampus UIN Sumatera Utara. Kebetulan, kampus tersebut berhadapan dengan Universitas Negeri Medan.
Dan tahu kan, kampus adalah tempat terbaik buat para angkot. Namun, paling mengejutkannya adalah seluruh angkot tidak ada yang ngetem di pinggir jalan, semuanya berjamaah di tengah jalan.
Bayangkan, kamu harus zig-zag di hadapan 2 kampus besar di Medan, bukan karena ingin menyalip, melainkan untuk menghindari angkot Medan lagi ngetem berjemaah di tengah jalan. Saya heran, jalanan dengan 2 jalur dengan pembatas trotoar di tengah. Ada sekitar 8-10 meter 1 jalur, dan semuanya ngetem di tengah jalan? Ajaib.
Ngetem berjemaah ini karena angkot hanya bisa putar balik sebelum memasuki area Perumahan Citra Land. Dan, pihak pengelola perumahan melarang angkot masuk wilayah itu.
Namun, alasan itu bukan jawaban untuk tetap ngetem di tengah jalan. Atau biasa saya dapati tiba-tiba berhenti mendadak di tengah jalan (ingat, bukan minggir dulu) ketika ada mahasiswa mau naik.
Skill berkendara naik level, ketika lewat depan Kampus UINSU dan UNIMED, harus zig-zag seperti ujian SIM C, dan harus fokus seperti ujian skripsi.
#2 Boxing khas angkot Medan
Saya heran dengan karakteristik para sopir angkot Medan. Biasanya saya melihat Pertarungan MMA, UFC dan Boxing di TV atau media sosial. Namun, di Medan, pertarungan seperti boxing itu nyata adanya langsung di jalanan.
Angkot Medan terkenal dengan ugal-ugalan, celah sempit, main masuk tanpa memikirkan ada yang kena serempet atau merasa terganggu dengan sikap mereka di jalan. Saya dan teman-teman menyebutnya Senggol Boxing.
Salah satu kejadian saya temukan di Jalan Letda Sujono, perseteruan antara ojek online dan sopir angkot Medan. Awalnya hanya adu mulut karena ojol tidak terima dengan perilaku sopir yang ugal-ugalan bawa angkot. Tak lama kemudian, pukulan langsung melayang dan terjadilah siaran langsung boxing antara sopir angkot dan ojek online.
Belum lama, (Sabtu, 10 Oktober 2026) terjadi perseteruan antara sopir angkot Medan dan ojol di tengah jalan. Terlihat adu jotos antara keduanya, berbuntut ojek online tidak terima disalip oleh si supir.
Di bulan yang sama, (Sabtu, 03 Oktober) unggahan dari akun Instagram @tkpmedan.co.id seorang penumpang merekam dan terlihat sesama sopir angkot saling adu jotos. Lucunya, sopir tersebut tidak peduli ada atau tidaknya penumpang yang lagi mereka bawa. Tiba-tiba sopir naik ke mobil seketika juga tancap gas dengan kuat, sontak para penumpang terpental ke belakang.
#3 Di mana ada celah, di situ ada angkot Medan
Tiba-tiba berhenti menurunkan penumpang itu sudah biasa, tiba-tiba potong jalur itu hal biasa. Namun, ada yang tak biasa dari angkot Medan. Unik-unik dan lucu-lucu menurut saya.
Saya menyebutnya “Di mana ada celah, di situ angkot masuk”. Siapa sangka, kenekatan sopir mengambil celah sempit di antara kendaraan sangatlah menguji nyali.
Seperti yang sering terjadi di Simpang Empat Aksara, lampu merah Aksara. Biasanya saya mendapati sopir masuk ke celah sempit, seolah mobil raja mau lewat, jika tak mendapat jalan, maka klakson bunyi terus.
Hingga masuk ke zona khusus kendaraan roda dua, ketika ada kesempatan untuk menerobos lampu merah, ada saja seribu cara untuk melewatinya. Pernah di simpang empat Aksara, sopir angkot Medan rela untuk mengambil jalur kiri lalu ke zig-zag melewati pemotor yang arah lampu hijau secara berlawanan.
Lebih heran lagi angkot naik ke pedestrian ketika macet di Jl. Prof. Yamin arah Lapangan Merdeka. Sangat janggal, namun nyata. Selama celah itu muat untuk roda empat, hanya satu tujuan, yaitu terobos.
#4 Angkot rasa mobil perang
Mungkin ada persamaan antara angkot Medan dan wilayah lainnya di Indonesia, baik itu dari segi ugal-ugalan, atau hal unik lainnya. Namun, angkot di sana, menurut saya, rasanya seperti mobil perang.
Ketika naik beberapa angkot Medan, seakan saya jadi pasukan militer sedang menuju medan perang. Bagaimana tidak, antara bangku penumpang dan sopir dibatasi kerangkeng besi yang bahkan satu jari pun sulit untuk masuk.
Ya, mungkin karena alasan keamanan bagi sopir dan penumpang sebelahnya. Belum lagi jendela dengan tambahan besi panjang sekelilingnya ruangan penumpang.
Mobil lecet-lecet, tak heran saya menyebutnya angkot rasa mobil perang, persneling yang panjang hingga dapat menyentuh langit-langit mobil, seperti RPG siap tembak.
Dan suara kunci roda yang sangat berisik di bawah kursi penumpang. Semua ini saya dapatkan bukan hanya satu angkot, melainkan secara umum angkot. Emang persiapan perang dengan pengendara lainnya.
Karakteristik angkot Medan adalah ciri khas yang buat saya kaget dari awal hingga saya sudah satu tahun di sana. Inilah keunikannya, Kota Medan, ini menjadi pengalaman terbaik sekaligus terlucu menurut saya pribadi selama di sana.
BACA JUGA Setahun merantau di Medan membuat saya bersyukur akhirnya bisa pulang ke Surabaya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.