ADVERTISEMENT

Kebakaran Jembatan Lama Kota Kediri terus berulang, bukti Pemkot memang nggak becus bekerja

Kebakaran Jembatan Lama Kota Kediri terus berulang, bukti Pemkot memang nggak becus bekerja

Tinggal dan besar di Kota Kediri membuat Jembatan Lama Kediri memiliki ikatan sentimental bagi saya pribadi. Jembatan yang dibangun untuk menghubungkan dua wilayah yang dipisahkan Sungai Brantas itu kini minim perhatian. Ini bisa dilihat dari kejadian kebakaran yang mengancamnya berkali-kali. Ironisnya, penyebabnya diduga masih sama: puntung rokok yang dibuang sembarangan.

Jumat, 6 November 2026, kebakaran kembali terjadi di Jembatan Lama Kota Kediri. Kejadian itu mengingatkan saya pada insiden serupa pada Sabtu malam, 18 Oktober 2025. Genap satu tahun lalu, persoalan yang sama kembali muncul. Kalau sudah begini, rasanya saya tidak sedang membicarakan satu kejadian kebakaran biasa, melainkan masalah perawatan bangunan cagar budaya yang tak kunjung dibereskan.

ADVERTISEMENT

Padahal, Jembatan Lama bukan bangunan sembarangan. Jembatan yang dibangun pada abad ke-19 ini merupakan salah satu ikon sejarah Kota Kediri. Seharusnya, keberadaannya bisa menjadi daya tarik wisata heritage yang mengundang orang dari berbagai daerah. Namun, bagaimana wisatawan mau menikmati warisan sejarah kalau merawatnya saja masih terkesan setengah-setengah?

Kebakaran berulang di Jembatan Lama Kediri, kok masih belum ada perubahan?

Bagi yang belum tahu, bagian kanan dan kiri Jembatan Lama yang digunakan sebagai jalur pejalan kaki menggunakan material kayu. Material inilah yang membuat area tersebut rentan terbakar, apalagi ketika cuaca sedang panas dan kering. Puntung rokok yang dibuang sembarangan bisa menjadi pemicu kebakaran.

Masalahnya, kejadian seperti itu bukan pertama kali terjadi. Insiden pada 2025 dan 2026 seharusnya cukup menjadi peringatan bagi Pemkot Kediri untuk mengevaluasi pengelolaan kawasan jembatan.

Meski akses menuju area jembatan sudah ditutup, namun tanpa pengawasan yang memadai. Pengunjung bisa datang, memarkir kendaraan di luar jembatan, lalu nongkrong sesuka hati. Sayangnya tidak semua orang punya kesadaran untuk menjaga bangunan bersejarah. Ada yang membuang sampah sembarangan, mencoret-coret bagian jembatan, bahkan membuang puntung rokok tanpa memikirkan akibatnya.

Ya, memang tidak adil kalau seluruh kesalahan dibebankan kepada pemerintah. Pengunjung juga punya tanggung jawab. Namun, justru karena kesadaran masyarakat belum tentu sama, pengawasan dari pengelola kawasan menjadi penting. Masa bangunan cagar budaya dibiarkan begitu saja, berharap semua pengunjung mendadak punya kesadaran sejarah tampaknya akan sulit.

Belajar merawat jembatan bersejarah dari Surabaya

Kalau Pemkot Kediri serius ingin menjadikan Jembatan Lama sebagai destinasi wisata heritage, mungkin tidak ada salahnya belajar dari Surabaya. Kota Pahlawan memiliki Jembatan Merah, salah satu peninggalan era kolonial yang masih menjadi bagian dari daya tarik wisata kota.

Jembatan bersejarah tidak cukup hanya dipertahankan bentuk fisiknya. Kawasannya juga perlu ditata, aksesnya diatur, dan perilaku pengunjung diawasi. Apalagi Jembatan Lama Kediri dan Jembatan Merah sama-sama memiliki bagian pedestrian dengan material kayu yang membutuhkan perhatian.

Jika penempatan petugas sepanjang waktu dianggap merepotkan, Pemkot bisa memulai dengan memasang kamera pengawas di titik-titik rawan. Petugas juga bisa ditempatkan pada jam-jam ramai, terutama malam hari ketika banyak muda-mudi datang untuk nongkrong.

ADVERTISEMENT

Pengunjung perlu diberi edukasi sederhana: tidak merokok sembarangan, tidak mencoret bangunan, dan tidak membuang sampah di kawasan jembatan. Kelihatannya sepele, tetapi kebiasaan kecil seperti itulah yang bisa menentukan apakah bangunan bersejarah tetap bertahan atau justru rusak perlahan.

Jembatan Brawijaya sudah ada, lantas apa yang ditakutkan?

Ada satu hal yang sering terlupakan ketika membicarakan pengelolaan Jembatan Lama. Sejak 2019, Kota Kediri memang sudah memiliki Jembatan Brawijaya yang berdiri tepat di sebelahnya. Artinya, kendaraan tidak lagi harus bergantung pada Jembatan Lama untuk melintasi Sungai Brantas.

Kondisi itu seharusnya memberi Pemkot ruang lebih leluasa untuk mengatur fungsi dan akses Jembatan Lama. Pengalaman saya saat dulu kuliah di UIN Walisongo Semarang melihat pengelolaan bangunan cagar budaya di Semarang utamanya di sekitaran Kota Lama menunjukkan bahwa warisan sejarah justru membutuhkan aturan kian jelas. Tidak semua tempat harus dibuka sebebas-bebasnya hanya karena ingin mendatangkan pengunjung. Ada kalanya membatasi akses justru menjadi cara terbaik untuk melindungi bangunan asli.

Jembatan Lama Kediri bukan sekadar jalur penyeberangan atau tempat nongkrong malam minggu. Ada sejarah panjang yang melekat pada konstruksinya. Kalau terus dibiarkan tanpa pengawasan, bukan tidak mungkin kerusakannya semakin parah dan generasi berikutnya hanya bisa melihat sisa-sisanya.

Terakhir, Pemkot Kediri perlu berhenti menganggap kebakaran berulang sebagai kejadian yang selesai setelah api berhasil dipadamkan oleh petugas Damkar. Sebab persoalannya bukan cuma bagaimana memadamkan api, tetapi bagaimana mencegahnya agar tidak kembali terjadi. Jika terulang lagi ya memang benar, itu bukti Pemkot memang nggak becus bekerja.

Masa harus menunggu Jembatan Lama benar-benar hangus dulu, baru Pemkot Kediri sibuk membicarakan pentingnya menjaga cagar budaya?

Penulis: W.S Nurbaiti
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Belum genap setahun, ornamen Jembatan Brawijaya Kediri sudah rusak: proyek sulapan atau kelalaian? dan artikel menarik lainnya di Terminal Mojok

Terakhir diperbarui pada 8 November 2026 oleh .

W.S Nurbaiti

Lulusan Tadris Biologi, bermukim di Kediri. Menulis untuk membaca kebijakan, menimbang persoalan, dan menyuarakan suara yang terabaikan.