Beberapa hari ini viral di media sosial mengenai kerusakan ornamen Jembatan Brawijaya Kediri yang mencuri perhatian warganet. Mengutip akun Facebook Ag243, unggahan itu menjadi perhatian sebab usia jembatan belum lama selesai dipercantik. Namun anehnya sejumlah huruf tampak patah sehingga tulisan yang semula utuh kini terlihat janggal.
Pemandangan ini mungkin terkesan sepele, tetapi cukup untuk memunculkan pertanyaan tentang kualitas pengerjaan proyek infrastruktur di Kota Kediri.
Apalagi, jembatan yang diresmikan pada 2019 itu baru menjalani rehabilitasi dengan anggaran mencapai Rp3,3 miliar pada 2025 lalu. Tentu dengan nilai sebesar itu, wajar jika masyarakat berharap hasil pengerjaannya tidak hanya sedap dipandang saat baru selesai, tetapi juga mampu bertahan dalam jangka waktu yang layak.
Kerusakan ornamen tersebut tentu belum cukup untuk menyimpulkan adanya masalah serius dalam keseluruhan proyek. Namun, ketika bagian yang baru dipasang mulai patah sebelum genap setahun, pemerintah perlu memberikan penjelasan yang masuk akal. Jangan sampai anggaran sudah dihabiskan, tetapi kualitas hasil pekerjaan justru menjadi tanda tanya.
Anggaran miliaran, kualitas payah
Bagi warga yang melintas, patahnya huruf di Jembatan Brawijaya Kediri mungkin bukan persoalan besar. Jembatan masih bisa digunakan dan aktivitas lalu lintas tetap berjalan. Namun, persoalannya bukan semata-mata soal fungsi jembatan, melainkan kualitas ornamen yang menjadi bagian dari hasil rehabilitasi jembatan.
Jika ornamen memang dipasang sebagai elemen estetika, tentu ketahanannya juga perlu diperhitungkan. Jangan sampai tampilannya hanya bagus saat baru selesai dikerjakan, kemudian rusak ketika belum lama dinikmati masyarakat.
Tentu saja dengan anggaran rehabilitasi mencapai Rp3,3 miliar, pertanyaan tentang kualitas material dan pengerjaan menjadi relevan. Apakah material yang digunakan sudah sesuai dengan kondisi lingkungan? Bagaimana metode pemasangannya? Apakah ada pemeriksaan kualitas sebelum pekerjaan dinyatakan selesai?
Pertanyaan semacam ini bukan berarti menuduh kontraktor melakukan kesalahan. Justru, penjelasan teknis diperlukan agar masyarakat tidak hanya menebak-nebak penyebab kerusakan.
Pengawasan kurang maksimal, proyek sulapan
Ada sejumlah kemungkinan yang bisa menyebabkan ornamen patah di Jembatan Brawijaya Kediri. Mulai dari karakteristik material, metode pemasangan, paparan cuaca, hingga benturan atau faktor eksternal lainnya. Tanpa pemeriksaan langsung, penyebab pastinya belum dapat dipastikan. Namun kerusakan yang begitu cepat membuat asumsi di tengah masyarakat mengaitkan dengan proyek sulapan.
Oleh karena itu, idealnya pemerintah kota maupun pihak pelaksana proyek perlu menjelaskan kondisi tersebut. Jika kerusakan berkaitan dengan kualitas pekerjaan, mekanisme pemeliharaan atau perbaikan sesuai ketentuan kontrak semestinya menjadi perhatian.
Sebab, proyek infrastruktur tidak cukup dinilai dari seberapa megah desainnya atau seberapa besar anggaran yang digelontorkan. Kualitas pekerjaan juga harus terlihat dari kemampuannya bertahan setelah digunakan masyarakat.
Jangan sampai persoalan baru ditangani setelah kerusakan semakin meluas atau ramai diperbincangkan di media sosial. Pengawasan dan evaluasi seharusnya berjalan tanpa perlu menunggu keluhan warga menjadi viral.
Jembatan Brawijaya Kediri bukan sekadar pajangan
Jembatan Brawijaya Kediri memiliki fungsi utama menghubungkan wilayah dan menunjang mobilitas masyarakat. Ornamen memang bisa mempercantik tampilannya, tetapi unsur estetika seharusnya berjalan beriringan dengan kualitas dan ketahanan yang digunakan bangunan.
Saya kira masyarakat tidak menuntut jembatan selalu terlihat sempurna. Namun, ketika anggaran miliaran rupiah digunakan untuk rehabilitasi, warga berhak berharap hasil pekerjaan memiliki mutu yang sepadan.
Patahnya ornamen mungkin terlihat sebagai kerusakan kecil. Namun, kejadian itu tetap layak menjadi bahan evaluasi, terutama jika usia ornamen belum genap setahun. Pemerintah perlu memastikan apakah kerusakan tersebut sekadar persoalan teknis yang mudah diperbaiki atau justru menunjukkan adanya hal yang perlu dibenahi dalam pengerjaan.
Intinya pembangunan bukan perkara membuat sesuatu terlihat baru, melainkan memastikan hasilnya tetap layak setelah waktu berjalan dan terlewat. Jangan sampai yang tersisa dari proyek miliaran rupiah justru bukan kekaguman warga, melainkan pertanyaan sederhana: baru sebentar dipasang, kok sudah rusak?
Penulis: W.S Nurbaiti
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Jembatan Brawijaya Kediri Terlihat Murahan untuk Proyek Bernilai Rp3,3 Miliar
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.