Analisis Kekuatan Program Gordon Ramsay Uncharted Sumatera Barat

Artikel

Dessy Liestiyani

Saya termasuk salah satu pemirsa yang cukup antusias menunggu tayangan program Gordon Ramsay Uncharted, dengan tema Sumatera Barat. Alasan pertama tentu saja karena saya orang Indonesia. Alasan kedua, karena saat ini saya tinggal di Bukittinggi, salah satu kota di Sumbar yang dijadikan lokasi syuting program ini. Pastinya pengin tau, chef top sekelas Gordon Ramsay ngapain aja sih di Sumbar.

Sayangnya saya gak ngeh waktu Gordon Ramsay syuting. Gak tau kenapa, jagad maya per-medsos-an saya gak heboh di bulan Januari lalu, waktu di mana tim produksi program ini syuting. Bisa jadi orang-orang di kota ini memang sebenarnya gak tau siapa itu Gordon Ramsay. Aseli. Kalah ngetop dengan salah satu calon kandidat pilpres waktu mengunjungi Bukittinggi, yang beritanya bikin heboh orang seprovinsi.

Dan program yang saya tunggu-tunggu ini akhirnya tayang di National Geographic pada 29 Juni 2020. Melihat opening title programnya aja dada udah berasa sesak. Gile keren banget! Idung sampai kembang kempis saking bangganya liat keindahan Indonesia bisa nongol di kanal NatGeo.

Di program Uncharted kali ini, Chef Gordon memasak bersama chef top Indonesia, William Wongso. Pemilihan chef senior Indonesia ini buntut-buntutnya ternyata bikin rame dunia maya yang seperti biasa, gak afdol kalau gak nyinyir! Tim produksi NatGeo pastinya punya pertimbangan tersendiri waktu memilih William Wongso sebagai talen yang akan memandu Gordon Ramsay.

Alur cerita

Progam ini pada dasarnya memiliki alur cerita yang sederhana. Chef Gordon ditantang Chef William untuk masak rendang, yang nantinya akan dinikmati oleh Gubernur Sumatera Barat bersama keluarganya.

Dalam proses pembelajaran dan pencarian bahan baku, Chef Gordon berkeliling ke beberapa tempat di Sumatera Barat. Kegiatannya mulai dari kulineran makan bika, dipaksa makan durian, menjaring ikan dengan perahu nelayan, mencari udang sungai dengan perahu di gua yang luar biasa indah, sampai mencoba pacu jawi, olahraga tradisional khas Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

Di luar sosok Chef Gordon Ramsay sendiri yang sudah sangat “menjual”, menurut saya episode Uncharted kali ini sangat “kaya” akan materi. Item memasak sendiri yang menjadi spesialisasi Chef Gordon, dan yang harusnya menjadi tema besar program ini, justru tidak terlihat outstanding.

Di luar keindahan alam Sumatera Barat yang justru menjadi exposure perjalanan Chef Gordon, banyak aktivitas yang sebenarnya hanya sebagai pemanis, namun mampu menjadi kekuatan yang menambah nilai entertain program ini. Saya jelaskan di poin selanjutnya.

Baca Juga:  Bukti Wali Kota Tegal Adalah Superhero bagi Warganya

Chef Gordon Ramsay Blusukan ke pasar

Menarik sekali melihat aktivitas Chef Gordon di pasar tradisional. Di sini, Chef Gordon belanja bahan baku rendang, dan dengan susah payah ngulek bumbu rendang sampai halus. Selain itu, Chef Gordon juga semangat banget nyobain ceker ayam, dan asyik sendiri sepedaan di lorong-lorong pasar.

Segmen pasar ditutup dengan adegan Chef Gordon yang memasak bumbu rendang dengan kompor seadanya di salah satu sudut pasar. Sangat natural.

Chef Gordon mancing

Adegan di mana Chef Gordon Ramsay diharuskan mencari sendiri bahan baku menjadi item yang menarik dan tidak membosankan. Ngeliat Chef Gordon yang kecebur di laut saat masang jaring ikan, cukup bisa bikin nyengir pemirsa.

Belum lagi adegan makan rendang dari “dapur” perahu di atas laut, yang buat saya menjadi item spesial karena tidak banyak orang yang tahu. Bahkan Chef Gordon sendiri menyangka selama melaut sang nelayan akan memasak sendiri ikan hasil tangkapannya, bukannya malah makan rendang.

Mencari udang dengan menyusuri sungai dalam gua, juga menjadi salah satu kekuatan episode ini. Digambarkan bagaimana perjuangan Chef Gordon dan “pemandunya” Ade memasuki gua dengan perahu kayuh, akhirnya terbayar dengan indahnya pemandangan dalam gua yang sangat memanjakan mata.

Sayangnya, sudah satu jam Chef Gordon mancing udang, namun tidak ada hasil. Malah akhirnya beli udang dari nelayan lain yang kebetulan lewat.

Chef Gordon dan pacu jawi

Di episode ini, betapa interaksi antara Chef Gordon dengan sapi/kerbau selalu menjadi tontonan menarik. Salah satu syaratnya adalah ia harus mencoba menjadi joki pada olahraga tradisional, pacu jawi. Kegiatan balapan sapi ini tanpa kehadiran Chef Gordon saja sudah cukup menarik, terutama karena dilakukan di lintasan sawah penuh lumpur. Kebayang kan betapa menariknya melihat pacu jawi dengan joki Chef Gordon pulak.

Interaksi berikutnya adalah ketika Chef Gordon diajak Chef William mencari dadiah, yoghurt tradisional Sumatera Barat. Dadiah sendiri diperoleh dari hasil fermentasi susu kerbau di dalam buluh-buluh bambu.

Baca Juga:  Kertas HVS dan Deret Geometri Tak Hingga

Jadilah sang chef bertemu dengan orang lokal yang sedang memerah susu kerbau. Dan sambil menunggu dadiah yang diinginkan, Chef Gordon mencoba meneruskan pekerjaan memerah susu kerbau tersebut.

Ekspresi canggung dan sedikit rasa takut terlihat dari gerakan tubuh Chef Gordon. Mungkin hal ini juga yang membuat sang kerbau menjadi tidak nyaman. Akibatnya, sang kerbau malah buang air besar sambil mengipas-ngipas buntutnya ke arah Chef Gordon. Jadilah kotoran kerbau mampir ke tubuh Chef Gordon.

Sosok Chef Gordon

Chef Gordon Ramsay di mata saya tidak hanya menyandang status tukang masak yang jago, tapi “sumbu pendek”-nya itu jadi daya tarik tersendiri setiap saya nonton Master Chef atau Hell’s Kitchen.

Karakternya yang gampang emosi dan mengucap sumpah serapah bila ada hal yang tidak berkenan, bisa jadi jualannya tipi karena selalu membuat ciut nyali para kontestan di kedua acara memasak tersebut. Dan bila diperhatikan, di program Uncharted ini keluar juga beberapa kalimat khas Chef Gordon yang agak nyerempet.

Chef Gordon Ramsay sempat mengomentari rendang yang dicicipinya di Istana Pagaruyung seperti “semur daging yang sedang bercinta dengan kari”. Atau betapa tidak sukanya Chef Gordon dengan durian, yang menurutnya seperti “otak manusia”. Bahkan Chef Gordon mencela sendiri hasil adonan kue bika yang ia masak, yang menurutnya “seperti kotoran burung di kaca mobilnya”. Sangat khas Chef Gordon.

Btw, saya cukup puas menonton tayangan episiode ini. Jauh di atas ekspektasi saya, dan sangat bagus untuk jadi referensi program dengan format “cooking-adventure”. Mudah-mudahan episode ini sukses sehingga tim produksi NatGeo bisa menggarap episode selanjutnya di wilayah Indonesia yang lain.

BACA JUGA Contoh Pertanyaan Interview Kerja yang Sering Muncul dan Tips Menjawabnya dan tulisan Dessy Liestiyani lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

 

---
18


Komentar

Comments are closed.