Anak Kelima: Dianggap Hasil Proyek Acak Hingga Jadi Bahan Julid

nama anak zaman sekarang anak kelima Takut Mengajarkan Bahasa Daerah kepada Anak karena Takut Bicara Kasar Itu Alasan yang Bodoh mojok

anak kelima Takut Mengajarkan Bahasa Daerah kepada Anak karena Takut Bicara Kasar Itu Alasan yang Bodoh mojok

Belakangan beredar konten (entah video atau quote tulisan) tentang derita menjadi anak sulung dan bungsu. Lalu tidak lupa konten tambahan lain dari anak tengah. Sangat bagus sih, biasanya. Memperlihatkan betapa dalam satu keluarga, persaingan antaranak untuk memperoleh eksposur itu begitu sengit.

Saya menduga, paling tidak yang pernah bikin konten menjadi anak bungsu itu ya mentok-mentok adalah anak ketiga. Kalaupun ada yang bikin dan mereka adalah anak keempat ya paling juga karena mereka itu hasil “unplanned” dari ibu bapaknya.

Sebenarnya, sudah ada juga dari sekian penjelasan atau komplain dari anak bungsu di video atau tulisan itu yang “saya banget”. Sayangnya lebih banyak lagi yang belum terwakilkan karena pengalaman mereka ya itu tadi, mentok sebagai anak bungsu ketiga atau keempat.

Sebagai anak kelima, saya melihat bahwa ternyata kenyataan pahit yang dialami orang-orang yang lahir sebagai bungsu di posisi buncit (ketiga atau keempat) ini belum ada apa-apanya. Alasannya saya jabarkan berikut.

#1 Proyek acak

Saya berani bilang begini karena menurut pengakuan orang tua saya, mereka tidak pernah tahu secara pasti apa maksudnya mereka “menciptakan” saya. Pokoknya teledor hantam kromo aja. Nggak jadi ya berarti paling enggak sudah ada kontribusi untuk tidak menambah jumlah populasi di dunia.

Permasalahannya adalah jika jadi macam saya saat itu. Justru bukan pertanyaan mau makan apa nanti. Toh walau bukan orang tua saya bukan termasuk kalangan berduit, sekedar makan ya masih bisalah ditompo. Adalah perkara saya bakal jadi apa, atau dijadiin apa nanti di masa depan. Itu pertanyaan yang selalu muncul di kepala saya sejak bertahun-tahun yang lalu saat saya masih SD.

Pokoknya kelak mudah-mudahan saya bisa jadi orang. Begitu kata orang tua saya. Lah, emang dulu mereka berasoy geboy “menciptakan” saya harapannya saya keluar sebagai berudu? Atau komodo?

#2 Jangan berharap punya barang baru

Hal yang juga jadi keresahan dari teman-teman bungsu ketiga atau keempat adalah “haram hukumnya punya barang baru”. Kita-kita yang jadi hasil proyek acak ini biasanya menjadi pengumpul barang-barang bekas dari kakak-kakak kita yang terkenal jaim itu.

Bagi anak kedua, mungkin saja hal ini lumrah. Faktor orang tua juga biasanya jadi penentu. Bagi anak ketiga atau keempat, hal ini mulai jadi bahan perdebatan, “kok barang saya enggak ada yang baru?”

Nah, bagi kami yang anak kelima (atau kesekian) ini, biasanya bukan masalah kami dapat baru atau bekas. Toh kalaupun bekas, biasanya barangnya adalah barang lawas yang super lawas. Pernah sekali saya dapat longsoran Walkman (pemutar kaset piringan hitam) yang telah berganti tangan sebanyak tiga kali. Bisa saya kasi gambaran, barang itu dibeli tahun 90an awal dan sampai ke tangan saya tahun 2002. Sebuah barang yang punya sejarah panjang. Cerita lain adalah kamar abang saya, yang dulu jadi markas anak muda kampung, setelah “diwariskan”, saya masih harus menyesuaikan saking kamar tersebut sudah sangat lekat dengan nama abang saya.

Itu hanya satu dari sekian barang yang saya terima setelah melalui tangan ketiga bahkan keempat. Lebih sangar dari barang yang dijajakan calo.

#3 Kasih sayang tidak merata

Sebagai orang tua, mungkin akan merasa bahwa semua kasih sayang kepada anaknya akan sama, mau dia anak kesekian sekalipun. Tapi, mari kita bicara dari perspektif anak.

Anak pertama akan jadi orang yang memperoleh kasih sayang dan kena marah-marah dalam porsi yang sama. Tidak peduli dia cewek atau cowok. Bahkan ketika ia cewek, perlakuan yang berimbas jadi semacam pandangan sekitar kalau ia “tomboy” tidak akan terelakkan.

Anak kedua sampai ketiga mungkin akan sedikit berbeda. Apalagi jika mereka bungsu. Lalu yang keempat kelima dan seterusnya, bagaimana? Kami tinggal ke pojokan aja trus nangis. Walau kenyataannya mungkin kasih sayang orang tua tak terhingga sepanjang masa, itu terjadi hanya untuk anak pertama sampai ketiga. Keempat dan seterusnya, lebih asyik kalo kita dapat dongeng sebelum tidur dari kakak-kakak kita aja. Atau mentok-mentok dari nenek.

#4 Bahan julid

Mau memberi penjelasan seribu kali pun, kenyataan menjadi anak kelima akan selalu menampar. Tidak hanya sekali, tapi akan berulang kali.

Kamu berapa bersaudara, Fik?”

Enam”

Anjay, banyak banget. Trus kamu anak keberapa?”

Kelima”

[ketawa tiada henti]

Percakapan di atas adalah contoh julidan yang secara kasat mata tidak kelihatan nilai julidnya. Tapi, mari kita kaji secara mendalam. Pertama, menjadi anak kelima itu bukan mau dan ingin saya. Lantas kenapa saya ditertawakan? Toh kalian yang jadi anak pertama dan kedua juga bukan berangkat dari keinginan kalian kan? Itu adalah murni keinginan orang tua kalian.

Kedua, orang tua saya percaya bahwa semua mahluk hidup punya peran masing-masing, terlepas dari ia anak keberapa. Itu juga yang jadi pegangan saya, awalnya. Tapi, julidan tetangga bahkan orang-orang yang merasa sudah patuh sama anjuran pemerintah karena melaksanakan program “dua anak saja cukup” ini yang jadi sumber masalah. Kalo saya sih, setuju sama omongan Abdur Arsyad (stand up comedian) yang bilang “Kalo dua anak saja cukup, apalagi lima?” Mau satu atau dua ya monggo, mau banyak juga silahkan. Asal ya itu tadi, banyak hal yang harus dipikirkan soal bagaimana nanti anak-anak kita harus berkembang. Terutama, semua anak butuh kasih sayang yang sama porsinya.

BACA JUGA Mitos tentang Laut di Film ‘Pirates of Caribbean’ yang Diambil dari Legenda Laut Wakatobi dan tulisan Taufik lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Exit mobile version