Alun-alun Gunungkidul: Kawasan Terbuka Rasa Gurun Sahara yang Punya Potensi Jadi Peternakan Unta

Alun-alun Gunungkidul: Kawasan Terbuka Rasa Gurun Sahara yang Punya Potensi Jadi Peternakan Unta

Alun-alun Gunungkidul: Kawasan Terbuka Rasa Gurun Sahara yang Punya Potensi Jadi Peternakan Unta (Unsplash.com)

Sungguh menyenangkan melihat kondisi Alun-alun Gunungkidul sekarang. Kawasan terbuka yang dulu ditumbuhi rumput hijau itu, kini diurug pasir sama pemangku kebijakan. Nggak cuma itu, beberapa pohon di pinggir alun-alun juga banyak yang lenyap akibat penataan taman kota bernilai ratusan juta.

Sebelum Pemkab Gunungkidul melakukan (((penataan))) kawasan terbuka yang dimulai sejak pertengahan 2022 lalu, sebenarnya alun-alun sudah tampak hijau dan tertata. Beberapa pohon yang mengelilingi alun-alun juga telah memberi suasana sejuk dan adem.

Setelah revitalisasi dilakukan, saya lihat-lihat dengan saksama alun-alun yang sekarang cenderung mirip padang pasir yang penuh kerikil. Ya, adanya pasir dan kerikil-kerikil ala skena coffe shop di kawasan Alun-alun Gunungkidul tentu semakin memberi kesan kalau Pemkab seolah serius ingin menjadikan tempat ini sebagai destinasi wisata baru.

Saya rasa dengan adanya konsep padang gurun ini bakal mendatangkan banyak wisatawan dari luar daerah. Terutama buat mereka yang ingin merasakan sensasi jajan es teh di padang pasir. Sungguh kebijakan dari Pemkab Gunungkidul yang layak diapresiasi setinggi langit!

Debu-debu beterbangan di Alun-alun Gunungkidul itu bagian dari keindahan!

Sayangnya, keputusan mindblowing dari Pemkab Gunungkidul terkait revitalisasi alun-alun ini mendapat protes cukup keras dari sebagian warga. Hal ini dipicu lantaran banyaknya debu-debu dari “padang pasir” itu berhamburan bin morat-marit tertiup angin. Kondisi ini dianggap mengganggu pemandangan para pejalan dan pedagang sekitar.

Saya pantau dari komentar-komentar di media sosial, sebenarnya warga nggak ada masalah dengan proyek penataan taman kota. Mereka menganggap, selama itu dilakukan demi kenyamanan bersama, tentu sah-sah saja. Tapi, yang masyarakat tanyakan, apa sih sebenarnya motivasi di balik revitalisasi ini? Dapat wangsit dari mana tiba-tiba punya ide revitalisasi konsep padang gurun itu?

Sebagai warga yang (((berpihak))) dan sangat mencintai setulus hati Pemkab Gunungkidul, izinkan saya menjawabnya. Begini dulur-dulur Gunungkidul, kebijakan mutakhir dari Pemkab ini sudah seharusnya kita dukung sepenuh jiwa, lho. Menurut saya, masalah banyak debu berhamburan itu bagian dari konsep keindahan.

Awalnya debu-debu itu mungkin mengganggu, tapi lama-lama bakalan terbiasa dan menjadi candu, kok. Selain itu, dulur-dulur juga bisa bikin konten ala-ala padang pasir di depan Kantor Pemkab Gunungkidul. Bukankah ini cukup menjanjikan buat engagement dan bisa menarik para wisatawan luar daerah?

Dari sekian ribu penduduk di Gunungkidul, saya cukup yakin (pasti) ada warga yang ingin merasakan sensasi gurun pasir. Nah, melalui proyek ini, diharapkan mampu memfasilitasi warga yang punya keinginan itu biar terwujud. Bukankah Pemkab Gunungkidul sudah sangat baik ingin mewujudkan cita-cita warganya? Bukankah ini amat sangat mulia, Lur???

Baca halaman selanjutnya: Nggak sedikit warga yang bilang penataan alun-alun semi mangkrak…

Potensi jadi peternakan unta yang menyejahterakan warga

Di samping itu, nggak sedikit juga komentar warga yang mengatakan kalau penataan Alun-alun Gunungkidul sekarang itu “semi mangkrak”. Mereka menganggap proyek ini seperti nggak terurus dan sejak awal sudah terkesan serampangan. Padahal anggaran yang dikeluarkan senilai Rp500-an juta, tapi yang tampak kini cuma pasir berhamburan dan kerikil-kerikil ala coffe shop.

Warga juga mengungkit masalah-masalah pra-revitalisasi. Sebelum revitalisasi dimulai, saat itu Pemkab Gunungkidul punya rencana ingin menebang pohon beringin kembar di tengah alun-alun itu. Iya, pohon yang meneduhkan sekaligus jadi simbol atau identitas masyarakat Gunungkidul itu…

Bagaimana mungkin pemangku wilayah yang selama ini sudah dianggap sebagai “kepala adat” dan mencintai keindahan alam, kok punya rencana seperti itu. “LOGIKANYA GIMANA SIH?” komentar salah seorang netizen.

Begini dulur-dulur Gunungkidul, anggaran ratusan juta itu nggak semestinya kita permasalahkan, lho. Ingat, semua itu dilakukan demi kesejahteraan masyarakat Gunungkidul. Lagian, proyek ini kan masih ada beberapa tahap, jadi tunggu saja kejutan-kejutan mindblowing dari Pemkab Gunungkidul.

Percayalah, ada banyak keuntungan dari proyek padang pasir, eh, Alun-alun Gunungkidul ini. Siapa tahu Pemkab Gunungkidul sebenarnya punya ide bisnis peternakan unta. Nantinya, warga bisa beternak unta di alun-alun yang mirip padang pasir ini.

Jadi, selain ternak sapi dan kambing, warga berkesempatan untuk memelihara unta. Bisnis unta ini nggak boleh kita pandang remeh. Sebab, saat ini, harga unta di kisaran Rp30 jutaan! Sekali lagi, bukankah ini amat sangat menjanjikan dan mampu meningkatkan taraf ekonomi warga? Masih mau protas-protes kalau Pemkab Gunungkidul cuma menghabis-habiskan anggaran tanpa dasar?

Mari selalu husnudzon dengan semua kebijakan Pemkab Gunungkidul

Dear dulur-dulur Gunungkidul, saat ini, mari kita coba untuk selalu husnudzon dengan semua kebijakan pemangku wilayah. Kita harus yakin seyakin-yakinnya kalau semua proyek penataan taman kota, mulai dari Tugu Tobong Gamping, Taman Maliotobong, sampai alun-alun, semua dilakukan semata-mata demi menyejahterakan kita.

Mari lupakan jalan-jalan rusak di kampung, masalah kekeringan, angka gantung diri tinggi, hingga pernikahan dini yang sampai detik ini belum usai itu. Itu persoalan sepele saja. Yang paling penting saat ini adalah memberi kesempatan Pemkab Gunungkidul untuk membangun “citra” dan memoles wajah kota sedemikian rupa.

Sekali lagi, biarkan jalan-jalan di kampung kita rusak. Toh, jalan kita kan nggak bakal dilewati Pak Jokowi dan Pak Luhut, ngapain dibenerin? Mending yang pasti-pasti saja lah kayak memoles Alun-alun Gunungkidul itu. Meski ngabisin anggaran ratusan juta, yang penting para pejabat di negeri ini senang dan kagum dengan pembangunan di wilayah perkotaan. Bukankah kita juga ikut bangga kalau Pak Bupati dipuji-puji para penguasa???

Sudahlah, mari kita fokus cari air bersih dan pakan ternak saja lah, Lur. Btw, ada rekomendasi air dan pakan ternak murah di Gunungkidul, Lur? Kambingku dari pagi belum makan. Kemarin sore, saya juga melihat ada ayam yang mati di lumbung padi…

Sing bakoh, Lur!

Penulis: Jevi Adhi Nugraha
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Mengenal Gunungkidul, Kabupaten (yang Dianggap) Gersang yang Ternyata Dulunya Dasar Laut.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version