Sebagai warga Bangkalan Madura, saya turut senang mendengar kabar baik dari kabupaten ini. Beberapa masyarakat juga mulai bergairah menyambut tahun 2026 karena banyak agenda Pemkab yang ditunggu-tunggu. Salah satunya revitalisasi Alun-alun Bangkalan Madura yang termasuk taman kota, Taman Paseban.
Hal ini juga diperkuat oleh tulisan Mas Abdur Rohman yang menyebut kalau Alun-alun Bangkalan Madura menjadi salah satu proyek yang segera direvitalisasi tahun 2026 ini. Geliatnya juga mulai nampak tipis-tipis, seperti dibukanya pagar pembatas lapangan sepak bola di alun-alun sehingga terasa lebih luas.
Namun saya rasa renovasi fisik tidaklah cukup untuk alun-alun yang sepaket dengan Taman Paseban ini. Jika benar Alun-alun Bangkalan akan direvitalisasi, 3 hal ini juga harus diperhatikan. Harapannya agar alun-alun tak hanya berbenah secara fisik, tapi juga berbenah secara sistem manajerial.
Ruang aman sebagai pusat hiburan warga Bangkalan
Saya yakin sebagian besar warga Bangkalan Madura senang jika ada renovasi Alun-alun Bangkalan, khususnya bagian Taman Paseban. Soalnya alun-alun dan taman ini memang tempat rekreasi mingguan terjangkau bagi warga setelah penat memeras keringat sepanjang minggu.
Renovasi fisik memang keharusan mengingat tempat ini mulai nampak kumuh dan kusam. Perlu penyegaran dengan cat yang lebih estetik.
Akan tetapi jangan berhenti di situ. Perlu juga renovasi manajerial sumber daya manusia pengelola dan aturannya. Salah satu yang terpenting adalah taman yang benar-benar memberi ruang aman bagi warga Bangkalan. Harapannya warga menikmati Alun-alun Bangkalan Madura, anak-anak aman bermain di sana, dan kaum muda-mudi juga nyaman berolahraga di sana.
Sejauh ini, alun-alun dan Taman Paseban bagi saya belum cukup aman. Setidaknya ada dua hal yang saya temui saat ke sana. Pertama, saya pernah diganggu ODGJ ketika sedang nongkrong di sana. Kedua, saya pernah diserbu petasan oleh anak kecil (diduga anak jalanan) ketika sedang menjalani aktivitas bersama komunitas literasi di alun-alun.
Nah, ruang aman ini juga perlu diperhatikan Pemkab agar revitalisasi Alun-alun Bangkalan Madura tak sekadar perbaikan fisik, tapi juga manajerial. Misalnya menyediakan tim keamanan. Paling tidak hadir 2-3 orang memastikan kondisi aman dan semua warga yang datang beraktivitas dengan nyaman.
Membenahi sistem parkir Alun-alun Bangkalan Madura
Selama ini, yang bikin saya dan banyak teman malas beraktivitas di Alun-alun Bangkalan Madura adalah budaya bayar-bayar-bayar untuk sekadar menikmati fasilitas dasar. Bayar parkir, misalnya. Maksud saya, parkir ini kan di taman kota yang merupakan fasilitas publik warga Bangkalan. Bukan di pinggir jalan liar yang dikuasai oknum. Apa Pemkab tidak bisa menertibkan parkir di kawasan publiknya sendiri seperti alun-alun dan taman.
Lebih dari itu, pelayanan parkirnya juga buruk. Beberapa kali motor saya dibiarkan kepanasan. Nggak ada inisiatif dari tukang parkir untuk menutup jok kendaraan dengan kardus atau apa pun itu. Begitu juga saat turun hujan, helm dibiarkan terkena air hujan. Padahal menyelamatkan helm yang parkir di wilayahnya kan tanggung jawab tukang parkir.
Masa tukang parkirnya cuma menagih uang, memberi karcis, lalu ngopi. Makanya jika Alun-alun Bangkalan Madura benar-benar direvitalisasi, saya harap manajemen parkir ini juga diperbaiki. Kalau bisa parkiran dibuat gratis dan tukang parkirnya diberi arahan standar pelayanan dasar. Pakai seragam khusus misalnya, lalu diajari pelayanan dasar seperti menyelamatkan motor yang diparkir dari hujan dan panas.
Saya yakin warga yang datang ke sini pasti terkesan dan merasa dihargai. Fasilitas publik bisa digunakan dengan baik.
Toilet adalah fasilitas dasar, masa harus bayar?
Puncak kejengkelan saya tiap berkunjung ke Alun-alun Bangkalan Madura adalah toiletnya yang berbayar. Seharusnya kan toilet umum menjadi fasilitas dasar yang bisa dinikmati pengunjung, masa harus bayar?
“Kan bayarnya cuma dua ribu!”
Lha iya kalau hanya kencing sekali. Saya pernah kencing dua kali saat berada di Alun-alun Bangkalan Madura. Pertama waktu baru tiba di sana saya merasa kebelet. Kedua setelah beraktivitas agak lama saya tiba-tiba pengin kencing lagi. Ha masa saya harus menahannya sampai rumah? Bisa kencing batu, dong. Alhasil saya kencing lagi di alun-alun dan bayar dua ribu lagi.
Habis duit 4 ribu buat ke toilet yang notabene fasilitas dasar. Sudah gitu harus bayar parkir lagi dua ribu.
Makanya kalau Alun-alun Bangkalan Madura beneran akan direvitalisasi, tolong sistem bayar toilet ini dihapus. Bikin gratis gitu. Toilet itu fasilitas dasar, lho. Masa warga diperas terus, sih.
Itulah 3 hal yang menurut saya perlu juga diperbaiki dari Alun-alun Bangkalan Madura selain bentuk fisiknya. Saya yakin kalau ruang publik ini semakin nyaman, warga bakal senang. Alun-alun akan semakin ramai, ekonomi warga bergerak, dan kebagiaan warga muncul. Semoga.
Penulis: Naufalul Ihya’ Ulumuddin
Editor: Intan Ekapratiwi
BACA JUGA Alun-Alun Bangkalan Madura Sudah Waktunya Direnovasi karena Mirip Taman yang Tak Terurus.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
