Alternatif Ending One Piece: Revolusi Harga Mati

Artikel

Gusti Aditya

Entah apa yang ada di dalam kepala Eiichiro Oda. Seakan, Oda ingin mentertawakan para penganut teori-teori ndakik yang tersebar di jagad sosial media. Entah Zoro menemukan ajal atau Shanks adalah musuh sesungguhnya, biarlah Oda menyimpan seluruh tanda tanya One Piece di dalam pikirannya.

Oda memang sudah bilang bahwa One Piece sudah beranjak menuju akhir. Padahal, masih banyak tanda tanya yang seharusnya bisa dijelaskan sampai 100 chapter banyaknya. Ya, namanya juga Oda Sensei, seperti menebak laju air yang mengalir dari hulu hingga akhir, mustahil.

Maka dari itu, jika boleh ikut berndakik-ndakik, saya ingin menyampaikan apa yang ada di dalam pikiran saya mengenai ending One Piece. Ya, memang nggak mutu dan cenderung mengarah ke wagu. Tapi saya akan mengakui, ini bukan teori, tapi ini semacam peregangan saja lantaran One Piece kian menarik. Begini sekiranya.

Banyak yang memprediksi hal ini bakalan terjadi. Namun, bagaimana jika di akhir nanti, Luffy dan kru Bajak Laut Topi Jerami turut serta dalam pasukan Revolusioner yang dikomando oleh ayahnya sendiri, Dragon. Sedangkan Shanks yang hingga kini abu-abu, ada di bawah komando Gorosei bersama dengan para Angkatan Laut.

Tujuan Revolusioner Army bikin pemerintah dunia kalang kabut memang berdasar. Mereka hendak mengungkap hilangnya sejarah Abad Kekosongan. Fakta demi fakta mereka peroleh, ternyata Abad Kekosongan ini adalah suatu masa di mana kebengisan diktator dalam kelompok Gorosei berkuasa. Mereka membunuh para aktivis bernama “klan D” yang mencoba menggoyangkan kekuasaan mereka.

Jebul, Abad Kekosongan adalah segelintir fakta bahwa pihak Gorosei pernah menggulingkan Will of D. dengan bengis dan tidak pernah dicatat oleh sejarah. Dengan penggulingan ini lah pihak-pihak Gorosei berhasil merebut pemerintahan dunia dari “klan D”.

Baca Juga:  Catatan Anak Desa yang Pulang ke Rumah Selepas Sarjana

Selama Gorosei menjabat, juga banyak menghilangkan beberapa aktivis yang terkenal vokal terhadap pergerakan mereka. Mulai dari kader-kader bekas “klan D” hingga penembakan misterius di daerah East Blue. Pemenggalan sang raja bajak laut, Gol D. Roger, hingga penumpasan Portgas D. Ace sebagai keturunan terakhir Roger juga menjadi pertanyaan serius.

Sejarah macam inilah yang tak pernah diungkapkan di buku sejarah anak SD dalam jagad One Piece. Sejarah dijungkir balikan, agar nama diktator Gorosei tidak tercium bangkainya. Hadir kelompok demi kelompok, Revolusioner Army contohnya. Raftel adalah dalih bahwa siapa saja yang ingin bergabung bersama mereka untuk meruntuhkan Marijoa.

Lagu-lagu nyeleh pun terdengar dari kuping ke kuping. Mencoba mengeritik melalui cara yang lain. Contohnya lagu ini, “Namaku Gorosei, rumah real estate, kapalku banyak, harta karun berlimpah. Orang memanggilku Five Elder Stars, tokoh papan atas, atas segalanya.” Lagu tersebut didendangkan oleh Soul “Brook” King di panggung-panggungnya pun tak berpengaruh banyak.

Demo berlangsung dengan semangat golongan terpelajar seperti Kidd, Law, Luffy hingga Shirohige. Melihat kegoyahan di Gedung Marineford, dikatator Gorosei yang mendekam di Marijoa tetap tak mau lengser dari jabatannya sebagai petinggi dunia. Marine pun menerjunkan penembak misterius, menghancurkan para demonstrasi secara diam-diam.

Suasana menjadi makin tidak kondusif. Worst Generation membentangkan spanduk rasa kecewa terhadap orde Gorosei, anjing pemerintah yakni Shichibukai pun membakar ban hingga kejadian ini dimanfaatkan cukong antar negara bernama Yonkou yang beriringan dengan inflasi Belly makin menguat. Zoro yang membimbing para demonstran sisi kanan pun berujar, “Sejarah buat oleh pihak pemenang, dan kini kami yang menang!”

Di ending arc Kerusuhan Marijoa, Luffy dan pasukannya akhirnya menduduki Marijoa. Dengan menggunakan kekuatan haki raja, Luffy berteriak, “Apabila usul ditolak tanpa ditimbang. Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan. Dituduh subversif dan mengganggu keamanan. Maka hanya ada satu kata: LAWAN! GOMU-GOMU NO REVOLUSI! GEAR 98!” Marijoa pun luluh-lantah.

Baca Juga:  Jika Semua Orang di Dunia Sibuk Bikin Skripsi, Dunia Pasti Akan Damai

Di Raftel pun sebuah surat tersemat. Surat tersebut dibuat oleh Gol D. Roger, isinya begini, “jadi petinggi untuk rakyat, silakan. Namun jangan lupa melayani rakyat. Jangan banyak aleman, sahkan RUU saja ntar bilangnya sulit dibahas. Huft.” Anggota Topi Jerami dan seluruh aliansi pun tertawa terbahak-bahak. Jadi ini yang namanya Laugh Tale.

Titah Roger pun dirasa masuk akal. Ya, nama mereka sudah naik pasca Kerusuhan Marijoa. Kuda tunggangan untuk masuk dunia politik sudah tersedia dengan anggunnya. Entah apa yang akan mereka lakukan dalam 20 tahun mendatang. Apakah akan berlomba dalam merebutkan kursi pemerintah, atau mengembara sepi menuju tempat terpencil.

Seperti itulah rekomendasi ending One Piece dari saya untuk Oda Sensei. Apapun itu, yang jelas saya nggak sabar atas penantian panjang ini. pokoknya, setelah tamat, jangan ada cinta-cintaan di antara tokohnya, ya, Sensei. Jangan bikin manga atau anime penuh filler tentang anaknya Luffy juga. Jangan. Pokoknya jangan.

BACA JUGA No Debat! One Piece Lebih Baik daripada Naruto dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
10


Komentar

Comments are closed.