Menjelang semester baru, mahasiswa kembali menyusun KRS. Mahasiswa memilih mata kuliah dan dosen yang akan diambil di semester baru. Kalau bisa leluasa memilih, sebenarnya saya lebih senang kelas-kelas yang diajar oleh dosen muda daripada dosen tua.
Rasanya dunia perkuliahan jadi lebih simpel dan luwes ketika diajar oleh dosen muda. Saya jadi lebih punya kesempatan atau peluang mengerjakan hal-hal lain di luar bidang akademik atau perkuliahan. Kemampuan yang saya rasa perlu untuk dikulik lebih dalam apalagi di tengah kondisi seperti sekarang ini.
Setidaknya itulah yang saya rasakan di kampus saya. Sebab, dua tipe dosen itu benar-benar kentara perbedaanya. Dan, inilah beberapa alasan yang membuat saya lebih senang diajar oleh dosen muda.
Dosen muda lebih mudah diajak kompromi
Dosen muda yang pernah saya jumpai di kelas itu lebih luwes dan mudah diajak kompromi. Berbeda dengan dosen tua yang cenderung kaku. Apalagi soal tugas dan nilai. Jangan pernah coba-coba menawar.
Teman saya pernah diajar pengajar senior yang sudah bergelar doktor. Beliau punya standar sangat tinggi sehingga pelit nilai, paling tinggi hanyalah B-. Mahasiswa jadi merasa keaktifan dan keseriusan dalam mengerjakan tugas tidak begitu dihargai.
Berbeda dengan dosen-dosen baru yang cenderung lebih santai. Mereka masih bisa diajak kompromi soal tugas dan nilai. Misalnya, saya pernah mendapatkan dosen yang memberi alternatif tugas lain kepada mahasiswa yang tidak mengumpulkan tugas karena alasan tertentu. Kalau dosen senior mah, hal-hal begini siap-siap langsung dikasih nilai nol.
Gap usia yang tidak terlalu jauh jadi terasa lebih “nyambung”
Dosen muda cenderung lebih update dengan tren dan memahami apa yang digemari kalangan mahasiswa. Keunggulan ini yang membuat mereka bisa menyampaikan segala sesuatu jadi lebih mudah dipahami. Misal, mengambil contoh atau studi kasus yang kekinian atau dekat dengan mahasiswa.
Selain itu, mereka juga lebih mudah mencairkan suasana. Candaan mereka juga lebih masuk di kalangan mahasiswa. Kelas jadi lebih cair dan nyaman. Proses belajar pun jadi hidup.
Berbeda dengan pengajar tua yang kaku dan cenderung tertinggal tren. Studi kasus yang diberikan untuk menjelaskan materi cenderung terasa jauh dari mahasiswa. Sekalinya pengajar senior bercanda mereka akan menggunakan jokes bapak-bapak yang disambut kelas yang sunyi karena tidak paham.
Dosen tua memang lebih unggul secara keilmuan, tapi…
Ilmu yang dimiliki dosen senior itu tidak perlu dipertanyakan lagi. Mereka sudah membaca ratusan buku, jurnal, dan berkontribusi pada banyak riset ilmiah. Karier akademik dan jaringan mereka lebih moncer daripada dosen baru.
Akan tetapi, dari apa yang saya cermati, kebanyakan dosen senior kurang kurang terbuka dengan cara atau hal-hal bari. Mereka terlalu percaya diri dengan cara mereka sendiri, cara mereka adalah yang terbaik. Ujung-ujungnya jadi kurang adaptif sehingga ilmu mereka tidak tersampaikan dengan maksimal ke mahasiswa.
Pada akhirnya, diajar pengajar muda atau tua punya sisi positif maupun negatif masing-masing. Kalau kalian adalah tipe mahasiswa yang sibuk berkegiatan di luar bidang akademik, tapi ingin “selamat” secara akademik, memilih pengajar muda adalah hal yang tepat. Namun, kalau kalian ingin mengejar akademik dan ingin punya jaringan di bidang ini, pengajar tua atau senior perlu dicoba. Akhirnya, semua itu cocok-cocokan dengan kebutuhan atau tujuan masing-masing mahasiswa kuliah.
Penulis: Mohammad Rafatta Umar
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 3 Alasan Saya Lanjut Kuliah di MM UGM, Kampus yang (Katanya) Paling Bergengsi di Jogja.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















