Alasan Kartun Indonesia Harus Belajar dari Eksistensi Spongebob Squarepants

Spongebob Squarepants bukanlah kartun yang isinya cuman lucu-lucuan. Yang jokes-nya kerap dianggap KPI tidak cocok buat anak-anak.

Featured

Avatar

Siapa yang nggak suka nonton animasi kartun? Siapa juga nih, yang nggak pernah atau bahkan sampai belum pernah sama sekali nonton Spongebob Squarepants? Di antara seluruh animasi kartun yang pernah tayang di layar kaca Indonesia sampai sekarang ini mungkin hanya kartun ini yang masih eksis dan banyak penontonnya.

Meski menurut Wikipedia, animasi yang diciptakan ahli biologi dari Amerika Serikat, Stephen Hillenburg mulai ditayangkan di negara asalnya sejak 1999 masih saja eksis sampai sekarang. Walau kreatornya telah meninggal dunia, Spongebob Squarepants yang masuk ke televisi Indonesia dari tahun 2006 nyatanya masih digemari, terbukti dengan tayangannya yang masih diputar di GTV.

Suksesi Spongebob Squarepants di dunia animasi ini mencoba untuk ditiru oleh animator lain. Bahkan industri anime (animasi dari manga) tak kalah gencar untuk menembus pasar dunia, termasuk Indonesia. Tetapi belum tentu pula semua jenis anime memiliki penggemar setia. Soal animasi ini, Indonesia juga ingin unjuk gigi. Kendati animasi yang dibuat animator Indonesia tak bisa mengungguli atau setidaknya hampir menyamai eksistensi Spongebob.

Selain karena Spongebob Squarepants lebih dahulu tayang di televisi Indonesia bisa menarik hati anak-anak—segmentasi awal— juga karena ide cerita dan gaya penokohan kartun Indonesia yang membosankan, alias itu-itu mulu. Film animasi Battle Of Surabaya; Tendangan Halilintar; Pada Suatu Ketika; Si Juki; sampe yang berbentuk serial seperti Adit, Sopo dan Jarwo gagal bertahan. Jangankan bertahan, menemukan penggemarnya saja tidak.

Animasi-animasi tadi bukannya nggak bagus, apalagi Adit, Sopo dan Jarwo yang secara bentuk animasinya sudah tiga dimensi. Spongebob saja masih dua dimensi. Lalu, apa yang membuat kartun ini masih bertahan, sementara animasi seperti Adit, Sopo dan Jarwo justru malah tergeser dengan animasi dari Malaysia, Upin & Ipin?

Dalam hal ini, saya rasa industri animasi kartun di Indonesia harus belajar dari Spongebob agar bisa tetap bertahan di tengah gempuran sinetron. Animasi Indonesia hampir selalu mempunyai cerita-cerita yang tak terlepas dari kepatuhan anak kepada orang tuanya, atau cerita sejarah, atau paling mentok dagelan-dagelan khas warga Indonesia. Sementara Spongebob menggabungkan semua itu.

Spongebob Squarepants bukanlah animasi kartun yang isinya cuman lucu-lucuan. Yang terkadang jokes-nya kerap dianggap Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) tidak cocok buat anak-anak. Terlalu vulgar, kasar, dan sebagainya. Sehingga beberapa kali kartun ini mendapat teguran—eh, yang ditegur pihak TV-nya, ding. Kehadiran animasi di Indonesia pun mulanya bermaksud agar kartun macam Spongebob tidak lagi ditonton.

Tetapi nyatanya Spongebob yang bertahan. Salah satu yang membuat kartun Spongebob bisa bertahan adalah kekuatan karakter yang diciptakan. Nggak hanya Spongebob Squarepants, karakter lain juga ada dan mendukung jalannya cerita biar nggak membosankan. Sahabat Spongebob, Patrick Star dengan keluguannya, Squidward dengan karakter sinis dan sombong tapi manusiawi, sampe Eugiene Krab, bos Spongebob yang pelitnya melebihi orang belum gajian.

Tentu saya nggak bisa menyebutkan semua karakternya. Tetapi yang pasti, kartun Spongebob Squarepants ini bisa bertahan karena setiap karakter mampu menarik perhatian penonton. Misalnya, Patrick dengan segala keluguan dan kebodohannya bisa membuat penontonnya tertawa. Saya sebagai penonton setia Spongebob pasti tertawa kalau lihat tingkah si Patrick.

Patrick ini sering disebut karakter abnormal yang memengaruhi Spongebob. Saya paling ingat ketika Spongebob ditelpon Patrick saat sedang mencuci pakaian, pas diangkat ternyata Patrick cuman pengin tahu seberapa lama ia bilang “ululululu“. Alhasil pakaiannya mengecil karena ditinggal mengangkat telpon yang nggak penting banget dari si Patrick.

Kelakuan semacam itu sesekali Spongebob Squarepants dinilai kartun pembodohan, nggak bisa mencerdaskan anak bangsa. Namun justru karena demikian, Spongebob jadi punya ciri khas. Satu hal yang kita anggap diluar kebiasaan orang normal malah dilakukan hampir seluruh penduduk Bikini Buttom. Sekarang coba pikir, apa ada orang yang mau merobek celananya sendiri di depan umum seperti Spongebob?

Selain karakter, pembawaan cerita di Spongebob juga sangat menarik. Apalagi seolah memutarbalikkan realitas yang ada. Saya harus berpikir hingga berkali-kali ketika menyaksikan Spongebob. Serius. Beda banget saat saya nonton Tsubasa, Doraemon, atau animasi-animasi Indonesia. Perlu memahami dengan tenaga ekstra buat mengerti cerita yang coba dibangun dari setiap episode Spongebob Squarepants.

Contohnya saat episode Pulau Karate—saya lupa judulnya. Ceritanya Spongebob mendapat kiriman kaset undangan untuk dinobatkan menjadi raja karate. Pergilah Spongebob bersama Sandy Cheeks, temannya berwujud tupai yang selalu memakai helm udara. Saat melewati Pulau Karate yang sudah jelas ada tulisannya, Sandy menunjuk ke arah pulau itu. Namun Spongebob tetap ngeyel nggak percaya.

Dari situlah saya bingung. Nih Spongebob kok bodohnya minta ampun ya? Apa jangan-jangan dia buta huruf dan nggak bisa baca? Saya pikir, mana mungkin sebuah spons nggak bisa baca. Apalagi di semesta Bikini Bottom.

Pada episode ketika Spongebob disuruh Squidward menyimpan klarinetnya, kemudian Spongebob menyimpannya ke sebuah brankas. Yang terjadi berikutnya adalah Spongebob dan Squidward bisa masuk ke dalam brankas tadi.

Bayangkan, brankas sekecil itu bisa dimasukin dua makhluk, Spongebob dan Squidward. Dan ketika masuk, di dalamnya ada banyak laci. Saya pas nonton episode ini lalu mikir keras. Setelah dipikir-pikir kembali, ternyata sederhana saja.

Ini pamahaman saya saja ya. Begini, jika dilihat dari perspektif manusia, Spongebob itu kan spons, sementara Squidward adalah seekor cumi. Jadi, wajar kalau keduanya bisa muat di dalam brankas. Sek sek, bukannya di dalam brankas juga ada burung elang, kan? Pertanyaannya, burung elang mana yang bisa masuk di dalam air?

Itulah yang membuat animasi kartun Spongebob Squarepants bisa menarik dan nggak ngebosenin. Dekonstruksi logika yang coba dilakukan sangat berhasil membuat penonton penasaran untuk menyaksikan episode-episode lainnya. Di tambah jokes yang tidak naif, benar-benar menggambarkan moralitas yang terjadi. Menurut saya Spongebob layak bertahan hingga beberapa tahun yang akan datang.

Industri animasi kartun Indonesia harus bisa menirunya. Bukan meniru cerita atau bentuk animasinya. Tapi bagaimana membuat animasi kartun yang melekat di masyarakat tanpa kenaifan. Sulit memang, sebab di tanah air, pembuatan film dan animasi kartun maupun tiga dimensi diawasi dengan peraturan yang ketat. Nggak boleh begini-begitu. Semua harus nurut aturan yang justru bagi saya mengurung kreativitas animator dan pembuat cerita.

BACA JUGA Kartun SpongeBob SquarePants di Mata Anak Kecil atau tulisan Muhammad Arsyad lainnya.

Baca Juga:  Beban Santri Melawan Ormas yang Mengaku Paling Pancasila se-Indonesia

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
31


Komentar

Comments are closed.