Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Alasan CV Lamaran Kerja yang Nggak Diterima dalam Proses Perekrutan Nggak Dikembalikan

Seto Wicaksono oleh Seto Wicaksono
5 Juli 2021
A A
Alasan CV Lamaran Kerja yang Nggak Diterima dalam Proses Perekrutan Nggak Dikembalikan Alasan CV Lamaran Kerja yang Nggak Diterima dalam Proses Perekrutan Nggak Dikembalikan terminal mojok.co

Alasan CV Lamaran Kerja yang Nggak Diterima dalam Proses Perekrutan Nggak Dikembalikan Alasan CV Lamaran Kerja yang Nggak Diterima dalam Proses Perekrutan Nggak Dikembalikan terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Bikin CV lamaran kerja, kan, nggak murah. Kalau memang nggak terpakai, mbok dikembalikan saja.

Semakin hari, entah kenapa, di luar dugaan saya, semakin banyak persoalan di ruang lingkup pekerjaan yang bisa dibahas dan selalu saja menarik. Kali ini, ada pernyataan yang melahirkan diskusi terbuka tentang usul atau saran bagi para rekruter. Inti pembahasannya adalah, “Jika seseorang tidak diterima bekerja, mohon agar berkasnya dikembalikan saja.”

Dear Perekrut…. pic.twitter.com/JDq1Jw7rBd

— TwitSvonDS (@TwitsvonDS) July 2, 2021

Saya akui bahwa dari sudut pandang pelamar kerja, pembahasan ini cukup bagus. Boleh jadi, betul-betul mewakili keresahan mereka ketika tak kunjung mendapat panggilan kerja atau tidak diterima saat mengikuti proses wawancara kerja.

Namun, dari sisi rekruter atau HRD, bagaimana? Pasalnya, mengembalikan CV lamaran kerja kepada mereka yang sudah dan/atau belum mengikuti proses wawancara sama sekali—tapi sudah mengirimkan CV berupa hardcopy—adalah hal yang agak nganu untuk dilakukan. Iya, kalau hanya satu atau dua CV lamaran kerja. Nah, kalau puluhan, ratusan, atau ribuan, gimana?

Dikembalikan melalui jasa ekspedisi gitu? Ya, nggak semua perusahaan rela mau mengeluarkan budget untuk persoalan ini. Atau memanggil kembali kandidat dan meminta mereka untuk mengambil satu per satu CV lamaran kerja yang sudah diberikan kepada rekruter? Makin nggak mungkin karena harus mengorbankan banyak hal lagi bagi para kandidat, kan?

Mari kita bahas dari sudut pandang rekruter terlebih dahulu. Konsep melamar pekerjaan sejak dahulu sebetulnya sederhana dan masih sama hingga sekarang: kirim CV/profil ke suatu perusahaan, bersaing dengan para pelamar kerja lain, jika sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan akan diberi kesempatan untuk mengikuti proses wawancara dan berbagai tes lainnya. Ya, semacam kompetisi terbuka, lah. Sampai di sini, kita masih sepakat dan satu persepsi, ya?

Dan selayaknya kompetisi, dibutuhkan segala effort dan perjuangan untuk mencapai suatu tujuan yang sudah ditargetkan. Bagi pelamar kerja, sudah tentu targetnya adalah diterima atau dipercaya menempati suatu posisi tertentu di perusahaan dan mendapatkan paket benefit sesuai harapan. Sedangkan effort-nya, ya meluangkan waktu, tenaga, dan biaya, untuk segala proses yang diikuti. Baik secara offline maupun online.

Baca Juga:

Ormawa Sepi Peminat, Mahasiswa Gen Z Lebih Pilih Magang dan Side Job, Salah Siapa?

Wanita Sudah Menikah Sulit Dapat Kerja: HRD Cari Karyawan Apa Calon Mantu?

Nah, yang menjadi perkara adalah, ketika para pelamar kerja mengikuti proses secara offline. Juga harus membawa CV lamaran kerja dan kelengkapan dokumen lainnya. Iya, kalau diterima. Kalau nggak, sebagian orang merasa rugi karena CV-nya nggak dikembalikan oleh rekruter atau HRD. Ini yang menjadi perkara bagi sebagian orang, toh?

Sebagian di antara kalian mungkin ada yang menyarankan sekaligus bertanya, “Kenapa nggak diminta lagi aja CV-nya kalau memang sudah tahu nggak diterima?” jawaban yang bisa saya berikan, sih, sederhana dan singkat saja, “Kurang etis, Mas/Mba.”

Begini. Ketika datang melamar pekerjaan membawa CV ke suatu perusahaan, kalian ibarat tamu yang membawa seserahan bagi tuan rumah. Ya, masa seserahannya mau diminta lagi, sih? Kecuali sejak awal kalian cukup berani meyakinkan tuan rumah, “Pak/Bu, ini seserahan hanya saya pinjamkan, ya. Hanya untuk dilihat-lihat. Kalau sudah cukup dipahami, nanti akan saya minta kembali.” Ya, gimana, ya.

Dibanding meminta kembali CV yang sudah diserahkan kepada rekruter atau HRD, saya punya saran yang bisa diaplikasikan saat kalian mengikuti proses interview secara langsung agar bisa hemat walaupun diminta CV dan kelengkapan dokumen lainnya.

Pertama, cukup membawa CV dengan menyertakan profil yang lengkap. Termasuk kontak yang bisa dihubungi (baik nomor telepon, WhatsApp, atau email). Nggak perlu bawa yang lainnya dulu. Jika ditanya oleh rekruter, sampaikan dengan baik bahwa dokumen lainnya akan dilengkapi saat ada proses lanjutan atau ada kepastian lolos. Biaya yang dikeluarkan hanya sekitar Rp500-Rp2000-an, kok, untuk nge-print selembar CV. Kebangetan kalau kalian masih ngedumel juga.

Kedua, kirim CV dan/atau portofolio via email. Kalau rekruter menanyakan kenapa nggak bawa yang hardcopy, sampaikan hal serupa pada poin pertama.

FYI, walaupun CV kalian nggak dikembalikan, nggak semena-mena dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu apalagi disalahgunakan. Sebagian rekruter menyimpannya untuk bank data, pipeline, atau sejenisnya, yang akan di-screening kembali jika ada posisi lain yang bisa ditawarkan/informasikan kepada para pelamar kerja. Kalaupun sudah tidak digunakan karena sudah bertahun-tahun lamanya tersimpan, akan dibakar atau dihancurkan menggunakan mesin penghancur kertas untuk meminimalisir penyalahgunaan data pribadi, kok. Ya, gimana ya. Ini bukan mengada-ngada. Memang begitu realitasnya.

BACA JUGA Kandidat yang Berbisik dan Tanya Jawaban ke Orang Lain Saat Interview Online, Maunya Apa, sih? dan artikel Seto Wicaksono lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 19 Oktober 2021 oleh

Tags: CV lamaran kerjaHRDPojok Tubir TerminalProses Perekrutan
Seto Wicaksono

Seto Wicaksono

Kelahiran 20 Juli. Fans Liverpool FC. Lulusan Psikologi Universitas Gunadarma. Seorang Suami, Ayah, dan Recruiter di suatu perusahaan.

ArtikelTerkait

Dosen Pelaku Pelecehan Seksual Disanksi Skorsing Sekaligus Izin Belajar Lanjut Doktoral, Ini Sanksi Apa Hadiah MOJOK.CO

Pelecehan Seksual Tak Pernah Bisa Dibenarkan, kecuali Kamu Idiot dan Bebal

11 Juni 2021
madura calon mertua menikah dengan teman satu kantor mojok

3 Saran dari HRD Perihal Menikah dengan Teman Satu Kantor

7 Juli 2020
jadi presiden selama sehari lambang negara jokowi nasionalisme karya anak bangsa jabatan presiden tiga periode sepak bola indonesia piala menpora 2021 iwan bule indonesia jokowi megawati ahok jadi presiden mojok

Jokowi Jadi Presiden Biar Aman Saat Mengkritik Negara: Sebuah Plot Twist

31 Mei 2021

Berhenti Menormalisasi Nyalahin Setan dan Sedang Khilaf Saat Melakukan Kejahatan

20 Juni 2021
Fenomena HRD Ghosting dan Cara Menghindarinya

Fenomena HRD Ghosting dan Cara Menghindarinya

19 November 2019
Foto Siluet Perempuan di IG Nicholas Saputra Adalah Beban Berat bagi Lelaki Indonesia terminal mojok.co

Foto Siluet Perempuan di IG Nicholas Saputra Adalah Beban Berat bagi Lelaki Indonesia

28 Juli 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bus Jaya Utama Indo: Bus Patas Termahal di Jalur Pantura, Nyamannya Tak Seistimewa Harganya, tapi Tetap Layak Disyukuri

Bus Jaya Utama Indo: Bus Patas Termahal di Jalur Pantura, Nyamannya Tak Seistimewa Harganya, tapi Tetap Layak Disyukuri

8 April 2026
Hidup di Desa Nggak Selamanya Murah, Social Cost di Desa Bisa Lebih Mahal daripada Biaya Hidup Sehari-hari karena Orang Desa Gemar Bikin Hajatan

Pindah ke Desa Bukan Solusi Instan Saat Muak Hidup di Kota Besar, apalagi bagi Kaum Introvert, Bisa-bisa Kena Mental

5 April 2026
Rindu Kota Batu Zaman Dahulu yang Jauh Lebih Nyaman dan Damai daripada Sekarang Mojok.co apel batu

Senjakala Apel Batu, Ikon Kota yang Perlahan Tersisihkan. Lalu Masih Pantaskah Apel Jadi Ikon Kota Batu?  

10 April 2026
Mobil Honda Mobilio, Mobil Murah Underrated Melebihi Avanza (Unsplash)

Kaki-kaki Mobil Honda Tidak Ringkih, Jalanan Indonesia Saja yang Kelewat Kejam!

5 April 2026
Suzuki Access 125 Motor Paling Kasihan: Tampilan Retro Elegan dan Fitur Lengkap, tapi Masih Aja Kalah Saing dari Skuter Matic Lain Mojok.co

Suzuki Access 125 Motor Paling Kasihan: Tampilan Retro Elegan dan Fitur Lengkap, tapi Masih Aja Kalah Saing dari Skuter Matic Lain

6 April 2026
Sarjana Keguruan Pilih Jadi TKW di Taiwan, Merasa Lebih Dihargai daripada Jadi Guru Honorer dengan Gaji “Imut” selama Bertahun-tahun Mojok.co

Sarjana Keguruan Pilih Jadi TKW di Taiwan, Lebih Menjanjikan daripada Jadi Guru Honorer dengan Gaji “Imut” Selama Bertahun-tahun

9 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI
  • Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.