Dalam kurun waktu satu dekade terakhir, banyak media cetak mengalami senja kala. Digitalisasi dan internet menjadi tantangannya. Ketakutan yang sama juga dialami buku fisik. Akankah buku fisik tergeser oleh buku elektronik atau e-book sehingga fungsi perpustakaan offline ikut tergantikan?
Kekhawatiran itu diperkuat oleh salah satu survei yang dilakukan oleh databoks.katadata.co.id. Menurut data tersebut, 83% masyarakat Indonesia lebih suka membaca buku melalui gawai atau smartphone.
Data-data tersebut jelas menakutkan, tapi saya sebagai pustakawan masih yakin kalau buku atau publikasi cetak masih diperlukan dan diminati. Apalagi di rak-rak koleksi perpustakaan.
Di perpustakaan, media digital berperan mewadahi koleksi masa kini dan pengembangan perpustakaan ke depan. Kehadirannya jelas tidak bertujuan untuk menggeser maupun menghapus koleksi cetak (fisik) dalam perpustakaan kok.
Digitalisasi merambah perpustakaan tanpa menggeser buku fisik
Digitalisasi perpustakaan diarahkan untuk memenuhi hak akses pengguna (pemustaka) dalam menemukan, mencari, dan mendapatkan sumber informasi di mana saja dan kapan saja. Itu mengapa, koleksi digital diperlukan karena unggul dalam efisiensi waktu dan tempat. Termasuk juga efisiensi lokasi atau tempat penyimpanan koleksi.
Sementara, publikasi tercetak, termasuk e-book, tidak dapat ditiadakan untuk memenuhi kebutuhan pemustaka yang berkunjung langsung ke perpustakaan. Jadi, digitalisasi dan koleksi tercetak akan tetap saling melengkapi dalam peranannya di masa depan.
Lalu, apakah seluruh lapisan masyarakat di masa depan sudah tidak memerlukan buku cetak? Perpustakaan konvensional? Bagaimana nasib perpustakaan selanjutnya? Apakah akan dibangun menjadi all library without wall?
Peran pustakawan di era disrupsi teknologi kemudian menjadi penting. Selama pustakawan, sebagai jembatan pemustaka dan segala informasi koleksi perpustakaan baik digital maupun fisik, bisa menyeimbangkan keduanya, saya rasa umur buku fisik masih akan panjang.
Alasan sederhana di balik buku digital sulit menggantikan buku fisik
Pada praktiknya, peniadaan koleksi cetak atau buku fisik tidaklah mungkin dilakukan. Ada banyak pertimbangan, teknologi dan digitalisasi di negara ini belum bisa merata jadi salah satunya.
Alasan lain, sensasi membaca buku fisik jauh berbeda daripada e-book. Aroma buku yang menyeruak sulit terganti dengan buku digital.
Alasan tersebut terdengar sederhana memang, tapi kenyataannya paling membekas bagi banyak orang. Sensai membalik lembar demi lembar, dan aroma buku memang bikin banyak orang candu. Bahkan, beberapa penelitian menyebut, pilihan bacaan kita (buku fisik maupun digital) berpengaruh pada cara otak bekerja dalam menanggapi teks.
Merenungkan hal itu, rasa-rasanya buku fisik atau cetak tidak mungkin tergantikan oleh buku digital atau e-book, setidaknya dalam waktu dekat.
Pada akhirnya, buku cetak dan digital tetap akan saling bertemu di semesta ilmu. Entah akan dimenangkan oleh siapa, tapi saya melihat keduanya malah saling melengkapi. Buku digital akan jadi pelengkap buku cetak yang bisa digunakan di saat waktu yang tepat. Tinggal pengguna yang akan menggunakannya.
Penulis: Ferika Sandra
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Setelah Perpusda Bangkalan Madura Punya Gedung Baru, Saya Kira Semua akan Berubah, Ternyata Tidak.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













