Alasan Bubble Cryptocurrency Berbeda dengan Fenomena Bubble Lainnya – Terminal Mojok

Alasan Bubble Cryptocurrency Berbeda dengan Fenomena Bubble Lainnya

Artikel

Cryptocurrency bisa dibilang “meledak” pada awal 2021. Hal ini sebenarnya dapat ditandai dengan siklus empat tahunan, dimana kapitalisasi nilai cryptocurrency akan menggelembung dengan cepat. Kendati sempat diragukan akibat pandemi, siklus tersebut datang juga pada tahun ini.

Bitcoin dan dogecoin menjadi pemimpin bubble kali ini. Salah satu faktor yang menyebabkan hal tersebut ya karena Elon Musk yang memborong bitcoin dan dogecoin, mengatakan bahwa suatu saat cryptocurrency merupakan salah satu opsi pembayaran untuk Tesla.

Selain itu, banyak institusi terutama perbankan yang dahulunya skeptis terhadap cryptocurrency dan blockchain kini berbalik arah, menerima dengan tangan terbuka. Bahkan ada yang terang-terangan sudah berinvestasi di dalamnya.

Pertumbuhan aset di cryptocurrency sangat pesat. Satu dasawarsa yang lalu, lebih tepatnya pada 22 Mei 2010 diperingati sebagai Bitcoin Pizza Day, hari di mana Laszlo Hanyecz, seorang programmer yang membeli dua loyang Papa Pizza Hot dengan 10.000 bitcoin yang saat itu bernilai 41 USD. Kini, kapitalisasi itu senilai USD483,925,200.

Bagi sebagian orang, hal ini merupakan momentum yang pas untuk nyemplung di dalamnya, mereka tidak ingin ketinggalan dan harus membeli lebih mahal lagi, apalagi saat ini sudah mendapatkan lampu hijau dari Elon Musk dan institusi perbankan.

Ada yang berpikiran “apaan sih bitcoin itu, bentuk fisiknya nggak ada tapi nilainya ratusan juta rupiah”. Ada juga yang skeptis, menganggap bahwa ini hanya bubble seperti yang dahulu, sama seperti dot com, tulip, batu akik, dan lainnya, yang suatu saat akan meletus dan tidak bernilai lagi harganya. Namun, bubble cryptocurrency saya rasa akan berbeda dengan bubble yang lainnya.

Jumlahnya terbatas

Bitcoin sebagai induk dari cryptocurrency kerap diidentikkan dengan emas, terbatas dan didapatkan dengan cara ditambang. Algoritma bitcoin itu telah disetting sedemikian rupa agar tidak mengeluarkan lebih dari 21 juta koin untuk ditambang. Saat ini sudah 18,6 juta koin yang telah berhasil ditambang dan diprediksi bitcoin akan selesai ditambang pada 2140.

Eh itu kan cuma tersisa beberapa juta aja, tapi kok habisnya lama? Itu terjadi karena adanya bitcoin halving. Singkatnya, setiap empat tahun sekali bitcoin selalu memangkas separuh coin yang ditambang.

Misalnya pada 2012, jumlah bitcoin yang dapat ditambang per 10 menit adalah 25 bitcoin, lalu pada halving 2016 berkurang menjadi 12.5, lalu pada 2020 berkurang menjadi 6.25 dan seterusnya dan seterusnya.

Tidak semua orang dapat menambang bitcoin, karena dibutuhkan komputasi yang sangat besar dan listrik yang besar. Hal tersebut yang membuat supply bitcoin terjaga. Berbeda dengan bubble yang lainnya, apabila ada peningkatan demand selalu dibarengi dengan peningkatan supply.

Kebanyakan transaksi tidak dilakukan secara langsung

Lazimnya, bagi orang yang ingin menukarkan cryptocurrency dengan uang, sedikit yang bertransaksi secara langsung orang ke orang (apalagi jika nominal transaksi besar), biasanya akan menggunakan perantara situs exchanger.

Sistem transaksi dari exchanger menggunakan order buku, jadi jika Anda menjual atau membeli dengan harga paling mendekati dengan harga terkini maka transaksi itu akan cepat tereksekusi.

Contohnya, saat ini bitcoin di kisaran harga 700 juta, Anda ingin membeli bitcoin di harga 500 juta, maka transaksi tersebut masih pending hingga harga bitcoin menyentuh 500 juta kembali. Sedangkan jika Anda ingin menjual bitcoin di harga satu miliar, akan pending juga, sebab tidak ada yang ingin membeli di harga segitu. Hampir tidak ada perang harga yang njomplang antara satu exchanger dengan yang lainnya.

Nah, hal ini akan berbeda apabila kita melakukan direct selling antara penjual dan pembeli. Kebanyakan mereka akan melakukan perang harga dalam bertransaksi. Mereka akan mematok harga selangit apabila barang yang dijual sedang hype, menikmati margin yang sangat besar, hingga di satu titik ada kompetitor yang membanting harga dan merusak pasar.

Adanya siklus empat tahunan

Cryptocurrency, khususnya bitcoin, setidaknya telah mencatatkan tiga kali bubble pada 2013, 2017, dan 2021. Dan setiap periode bubble baru akan mencatatkan harga yang lebih tinggi dari bubble sebelumnya.

Siklus empat tahunan ini yang membuat orang yakin bahwa akan ada periode bubble kembali dan berharap untuk bisa mencatatkan harga yang lebih tinggi lagi.

Kapan meletusnya? Hanya Tuhan dan mungkin Elon Musk yang tahu.

BACA JUGA Sebelum Trading Kripto, Pelajari Dulu Aplikasi Layanannya dan tulisan Achmad Bayu Setyawan lainnya di Terminal Mojok.

Baca Juga:  Ayam Geprek Sambal Matah, Varian Kuliner yang Sering Bikin Salah Paham
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.