Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Anime

Cara yang Ditempuh Goku dan Naruto dalam Mendidik Anak

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
24 September 2020
A A
Cara yang Ditempuh Goku dan Naruto dalam Mendidik Anak terminal mojok.co

Cara yang Ditempuh Goku dan Naruto dalam Mendidik Anak terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Dunia manga atau anime adalah hal kompleks. Bukan sebuah hal yang salah untuk membandingkan, membedah, atau bahkan mempreteli satu persatu antar manga. Jika strukturnya runtut, amunisi mengenai pemahaman manga memadai, ditambah pisau analisis yang jelas, pembahasan akan menjadi menarik.

Membandingkan secara vis-à-vis antara manga satu dengan lainnya dengan hal-hal dasar dan logika yang cacat adalah hal yang salah kaprah. Pun membandingkan potensi kekuatan main character antara anime yang satu dan lainnya, jelas-jelas demografinya saja berbeda. Apalagi, jika membandingkan melalui segi cara main character ini memperlakukan anaknya. Nek ini kebangetan, sih.

Dalam tulisan “Fans Kimetsu no Yaiba Nyebelin? Ah, Perasaanmu Saja”, banyak hal yang menggelitik. Selain menyentil ceramah no jutsu-nya Naruto, dari sekian banyak hal menggelitik, puncaknya adalah ketika si penulis menelurkan gagasannya mengenai Goku dan Naruto yang mendidik anak mereka masing-masing dengan cara yang salah. Katanya, begini:

“Belum lagi, karakter Goku dan Naruto itu bukan sosok ayah yang baik. Goku sedari kecil mengajarkan anaknya untuk ikut bertarung, belum lagi Naruto yang hari ulang tahun anaknya saja lupa….”

Saya apresiasi Mas Arif sebagai penulis dan fans Kimetsu no Yaiba karena menyempatkan untuk menonton (karena saya nggak yakin blio baca manga) dua manga legend di atas. Kendati demikian, Mas Arif masih terjebak dalam paradoks—yang acap kali dilakukan banyak orang—mengenai sebuah anime, yakni hanya sekadar melihat, tapi tidak untuk mengkaji lebih dalam. Kita mulai satu-satu.

“…Goku sedari kecil mengajarkan anaknya untuk ikut bertarung.…”

Sayang sekali, pendapat ini langsung mentah begitu saja jika kita mengikuti manga sejak awal dan runtut. Melihat sebuah manga itu berdasar pencarian jati diri yang dikembangkan sang mangaka. Begini, ketika menilai dan mengkaji, kita harus melihat latar belakang yang sedang terjadi. Mengapa Goku mengajarkan anaknya untuk terus bertarung? Latar belakang kehidupan tentu menjawab dengan baik dan benar.

Son Gohan, anak dari Goku dan Chi-chi, muncul di Dragon Ball Z chapter awal-awal. Sejak dalam arc Pulau Kame, kala bertemu dengan Master Roshi dan Krilin, secara nggak terduga Raditz datang dan mengawasi keadaan bumi. Raditz adalah kakak dari Goku. Jika ditarik secara urut, Raditz merupakan Saiyan race yang memegang erat ras petarung dan menginvasi sebuah daerah. Sifatnya berbeda dengan Goku maupun sang ayah, Bardock.

Baca Juga:

Pengalaman Belajar Ilmu Tenaga Dalam di Pesantren Berharap Bisa Rasengan Kayak Naruto

4 Hal Menyebalkan yang Membuat Ibu-ibu Kapok Pergi ke Posyandu

Dalam arc tersebut, Raditz menculik Gohan dengan alasan Goku tidak mau kembali bersamanya dan masih ada tanda-tanda kehidupan manusia di bumi. Raditz mengancam akan membunuh Gohan semisal Goku tidak memberikan persembahan 100 mayat manusia di bumi. Dengan alasan ini, nggak ada alasan bagi Goku untuk tidak mengajari anaknya untuk bertarung atau setidaknya melindungi diri.

Selain melihat latar belakang keadaan saat itu, coba menyediakan sedikit waktu untuk mengkaji latar belakang historis seri di mana Gohan muncul. Goku adalah keturunan langsung dari Saiyan Race. Secara harfiah, Saiyan Race memperbanyak keturunan untuk memperkuat rasnya. Lantas, apa bedanya didikan Goku dan (kebanyakan) Saiyan Race? Saiyan murni bertarung untuk menginvasi suatu daerah, sedangkan Goku bertujuan untuk melindungi bumi.

Mungkin pertimbangan Gohan untuk fokus di dunia akademis, berbeda jauh dengan jalan yang dipilih oleh Goku. Selain itu, dorongan sang ibunda yang mengatakan kekhawatiran dan dunia fisik tidak menghasilkan apa-apa. Efeknya, Gohan menjadi pribadi yang berimbang. Ia menyukai kehidupan damai di bumi, tapi kala posisi sedang menghimpit, misalkan dalam Dragon Ball Super arc Tournament of Power, ia membangkitkan kekuatan yang bernama Mystic.

“…belum lagi Naruto yang hari ulang tahun anaknya saja lupa….” Untuk menjawab ini, mari kita gunakan formula yang sama dengan penjabaran di atas. Kita harus adil sejak dalam pikiran. Melihat aspek-aspek seperti alur cerita dan kondisi Konoha saat itu.

Di masa Boruto tumbuh dan Himawari mulai belajar memahami dunia, dunia shinobi sedang geger pascaperang. Sebagaimana negara yang baru saja merdeka, membangun infrastruktur dan akses melalui jalur teknologi adalah hal yang nggak bisa diganggu-gugat. Walau persaingan dan ketegangan dengan negara lain sudah reda, tapi tidak dengan perlombaan kemajuan negaranya.

Itulah kondisi di mana Naruto memerintah. Berbeda dengan kondisi yang dialami oleh para Hokage sebelumnya. Bukan berarti menyepelekan tugas Hokage pendahulunya. Zaman yang dilalui Naruto di masa kini adalah sebuah zaman di mana musuh hanya bisa diraba-raba dan diterka. Sama seperti masa yang dialami oleh Minato dan Hiruzen, musuh masih sembunyi di balik layar, menduga adalah hal yang berisiko. Makanya, tugas Sasuke adalah mengurus polemik “luar negeri”, sedangkan Naruto, Shikamaru, dan stafnya mengurus “dalam negeri”.

Naruto terlahir dalam sebuah generasi yang wagu. Dia adalah produk tempaan hasil generasi lama yang sedang berusaha adaptasi dengan segala kemajuan yang melaju pascaperang. Di satu sisi, generasi ini masih menyimpan traumatis tersendiri akan terjadinya gejolak perang yang akan terjadi di suatu hari kelak. Sedangkan generasi Boruto, memikirkan perang itu seperti apa bahkan nggak akan mampu. Itu adalah konsekuensi zaman, bukan salah Naruto ataupun Boruto. Ya, apalagi Himawari. Mereka nggak salah.

Di sinilah mengapa Naruto diceritakan sangat sibuk. Diganyang dengan dokumen-dokumen, akses masuk alat-alat ninja yang baru, dan menguji aspek moralitas dari penggunaan alat-alat tersebut. Mbok kiro gampang? Ngurus keperluan akademik untuk sidang aja susahnya setengah mati. Apalagi Naruto yang mencoba menjadi Hokage penghubung generasi lama dan generasi modern.

Di saat Naruto lupa tanggal ulang tahun Himawari, di satu sisi Naruto sedang menyelamatkan anaknya dan satu generasi penuh talenta dari ancaman perang. Sudah, ketimbang ngurusin Goku dan Naruto, Mas Arif memuja Tanjiro saja dengan segala alasan dan pembenaran rumpangnya.

BACA JUGA Anime dan Manga Adalah Cara Paling Asyik Belajar Budaya dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 8 Oktober 2021 oleh

Tags: AnakGokunaruto
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut.

ArtikelTerkait

Benarkah Dongeng Klasik Tidak Layak untuk Anak-anak Terminal Mojok

Benarkah Dongeng Klasik Tidak Layak untuk Anak-anak?

5 Agustus 2022
Pengalaman Belajar Ilmu Tenaga Dalam di Pesantren (Unsplash)

Pengalaman Belajar Ilmu Tenaga Dalam di Pesantren Berharap Bisa Rasengan Kayak Naruto

19 Mei 2025
kurama Jangan-jangan Pemerintah Kita Kena Genjutsu Mata Bulan alias Eye of The Moon Madara naruto tsuki no me mojok.co

Apakah kalau Naruto Mati Akan Dimakamkan Sesuai Protokol Kesehatan?

23 Oktober 2020
kurama Jangan-jangan Pemerintah Kita Kena Genjutsu Mata Bulan alias Eye of The Moon Madara naruto tsuki no me mojok.co

Jangan-jangan Pemerintah Kita Kena Genjutsu Mata Bulan alias Eye of The Moon Madara

3 Februari 2021
kurama Jangan-jangan Pemerintah Kita Kena Genjutsu Mata Bulan alias Eye of The Moon Madara naruto tsuki no me mojok.co

Kata Siapa Naruto Tanpa Kurama Jadi Lemah? Ngaco!

22 Februari 2021
rafathar hidup anak dalam reality show protes diprank the truman show richie rich mojok.co

Rafathar Sudah Mulai Protes Terlalu Sering Di-prank, Raffi-Gigi Kapan Mau Tobat?

5 September 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Harga Nuthuk di Jogja Saat Liburan Bukan Hanya Milik Wisatawan, Warga Lokal pun Kena Getahnya

Saya Memutuskan Pindah dari Jogja Setelah Belasan Tahun Tinggal, karena Kota Ini Mahalnya Makin Nggak Ngotak

3 Februari 2026
Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan

Jogja Memang Santai, tapi Diam-diam Banyak Warganya yang Capek karena Dipaksa Santai meski Hampir Gila

2 Februari 2026
Purworejo Tak Butuh Kemewahan karena Hidup Aja Pas-pasan (Unsplash)

Purworejo Tidak Butuh Kemewahan, Apalagi soal Makanan dan Minuman karena Hidup Aja Pas-pasan

6 Februari 2026
Oleh-Oleh Khas Wonosobo yang Sebaiknya Kalian Pikir Ulang Sebelum Membelinya Mojok.co

Wonosobo Memang Cocok untuk Berlibur, tapi untuk Tinggal, Lebih Baik Skip

3 Februari 2026
Es Teh Jumbo Cuan, tapi Jualan Gorengan Bikin Saya Bisa Kuliah (Unsplash)

Bisnis Kecil Seperti Gorengan dan Es Teh Jumbo Dipandang Remeh Nggak Bakal Cuan, Padahal Berkat Jualan Gorengan Saya Bisa Kuliah

2 Februari 2026
Pantai Watu Bale, Tempat Wisata Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi Mojok.co

Pantai Watu Bale, Tempat Wisata Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi 

5 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers
  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign
  • Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia
  • Film “Surat untuk Masa Mudaku”: Realitas Kehidupan Anak Panti dan Lansia yang Kesepian tapi Saling Mengasihi
  • Lulusan Sarjana Nekat Jadi Pengasuh Anak karena Susah Dapat Kerja, Kini Malah Dapat Upah 450 Ribu per Jam

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.