Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Surat dari Menakjingga: Semua Ini karena Ratu Ayu Kencana Wungu Ingkar Janji

Aly Reza oleh Aly Reza
22 Agustus 2020
A A
ranggalawe bendera majapahit berdiri tahun 1293 M bonek bondho nekat mentalitas asal-usul surabaya sejarah madura menakjingga mojok

bendera majapahit berdiri tahun 1293 M bonek bondho nekat mentalitas asal-usul surabaya sejarah madura menakjingga mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Halo, perkenalkan nama saya Adipati Menakjingga, sosok yang dalam banyak catatan sering diidentikkan sebagai sosok antagonis, karena dianggap telah berani berkhianat dan memberontak kepada Majapahit. Waduh, ini kayaknya perlu saya luruskan. Biar kalian nggak selalu memuja-muja kepahlawanan si Damarwulan dan menjelek-jelekkan Menakjingga.

Begini, saya punya alasan logis, kok, kenapa saya akhirnya menyerang Keraton Kulon, keraton pusat Majapahit di Trowulan. Sebelum lebih jauh, saya kasih sekilas info, nih. Jadi, pada masa itu ada dua keraton. Pertama, Keraton Kulon sebagai pusat pemerintahan. Dan kedua, Keraton Wetan yang terletak di Blambangan sebagai negara bawahan Majapahit.

Masalahnya sebenarnya sederhana saja. Seandainya waktu itu Ratu Ayu Kencana Wungu sudi menepati janjinya pada saya, mungkin pemberontakan tersebut nggak bakal pernah saya lakukan. Hla Ratu Ayu Kencana Wungu ini malah berbelit-belit, je. Ujung-ujungnya malah dia mengingkari janji. Kalau udah diblenjani janji kayak gini, siapa coba sing ora gela? Siapa coba sing atine ora lara?

Temen-temen masih bingung, ya, dengan cerita saya. Sorry, sorry, saya masih kebawa emosi. Dan saya nulis ini sebenernya dalam keadaan sedikit terburu-buru karena sebentar lagi saya harus bertarung melawan pemuda gagah utusan Ratu Ayu Kencana Wungu. Jadi agak amburadul.

Denger-denger, pemuda itu namanya Raden Ratnapangkaja atau Damar Shashangka. Tapi orang-orang—dari yang telinga saya tangkap—lebih akrab memanggilnya Damarwulan. Damarwulan ini artinya sama sih, dengan Damar Shashangka; cahaya rembulan. Dijuluki begitu karena di mata perempuan, orangnya gagah dan rupawan. Wajahnya cemlorot kayak rembulan.

Dan dari informasi yang saya peroleh pula, si Damarwulan ini turun ke gelanggang perang untuk melawan saya karena sayembara dari Ratu Ayu Kencana Wungu. Iyap, karena keder dengan saya, Ratu Ayu Kencana Wungu bikin sayembara. Barangsiapa yang berhasil menumpas saya, maka jika lelaki akan dipersuami. Sedangkan kalau perempuan akan diambil sebagai saudari. Sesaat setelah wara-wara itu menyebar, tampil lah si Damarwulan.

Kelihatannya memang heroik sekali. Tapi saya jamin, sama seperti saya dulu, pemuda itu ikut sayembara karena kepincut dengan kecantikan Ratu Ayu Kencana Wungu dan tergiur dengan iming-iming tahta Majapahit. Tidak murni pengin membela bangsa dan negara dari kelompok separatis.

Duh, saya malah ngelantur lagi. Saya harus cepat menyelesaikan cerita ini, karena kata pengawal, pasukan Damarwulan sudah mulai bergerak menuju gelanggang. Menakjingga ditantang kalau kelamaan turun ntar dikira takut lagi.

Baca Juga:

Mojokerto, Kota yang Tak Pernah Move On dari Masa Lalunya dan Tak Bisa Lepas dari Apa-apa yang Berbau Majapahit

Trowulan, Daerah di Mojokerto yang (Hampir) Tak Mungkin Kena Banjir

Jadi begini, Kisanak sekalian. Prabu Hayam Wuruk punya putri kandung bernama Ratu Ayu Kusumawardhani. Dia juga punya putra dari istri selir bernama Bhre Wirabhumi yang diberi mendat memimpin Keraton Wetan. Nah, Bhre Wirabhumi ini lah yang di kemudian hari berjuluk Adipati Kebo Marcuet.

Ratu Ayu Kusumawardhani ini menikah dengan Raden Wikramawardhana yang masih keponakan dari Prabu Hayam Wuruk. Dan dikaruniai seorang putri cantik jelita bernama Dyah Rani Suhita. Kemudian lebih dikenal dengan Ratu Ayu Kencana Wungu. Perempuan yang sekarang terang-terangan mengibarkan bendera perang dengan saya lantaran tak sanggup memenuhi janji orang tuanya pada saya.

Pada tahun 1389 M, persis 32 tahun setelah tragedi Perang Bubat, Prabu Hayam Wuruk mangkat. Seharusnya yang berhak naik keprabon adalah Ratu Ayu Kusumawardhani sebagai putri kandung. Tapi karena dia menolak, alhasil kedudukan tahta majapahit diemban oleh sang suami yang selanjutnya mengambil gelar Hyang Wishesha. Pengukuhan Raden Wikramawardhana sebagai penguasa baru Majapahit ini terjadi pada 1400 M.

Bhre Wirabhumi atau Adipati Kebo Marcuet nggak terima, dong. Meskipun dia hanya putra selir, tapi dia merasa tetep berhak untuk menduduki tahta Majapahit. Dan yang lebih membuat dia tersinggung, dalam pengangkatan Raden Wikramawardhana itu, dia nggak dilibatkan dalam satu pun rembugan yang dilakukan pihak Keraton Kulon. Dia kecewa, marah, sakit hati, dan akhirnya memilih menabuh genderang perang dengan saudaranya sendiri. Pemberontakan tersebut terjadi pada 1401 M, satu tahun sejak maraknya Raden Wikramawardhana sebagai raja.

Oh ya, sekilas info lagi. Kebo Marcuet ini sebenernya bukan lah sosok bertanduk seperti kebo (kerbau) kayak cerita-cerita yang sudah beredar. Kebo di sini hanya simbol ambisi Bhre Wirabhumi untuk menyeruduk dan menjungkalkan Keraton Kulon.

Nggak ada yang meragukan kehebatan Adipati Kebo Marcuet. Pihak Keraton Kulon pun merasa kuwalahan dan akhirnya membuat sayembara. Pokoknya yang bisa menundukkan Adipati Kebo Marcuet, bakal dikasih dua hadiah sekaligus. Pertama, dinikahkan dengan putrinya; Ratu Ayu Kencana Wungu. Kedua, akan dilimpahi kekuasaan atas Keraton Wetan.

Mendengar sayembara dengan hadiah sebombastis itu, siapa coba yang nggak kepincut? Dan seorang pemuda gagah bernama Jaka Umbaran—yang tidak lain adalah saya sendiri—adalah orang pertama dan mungkin satu-satunya yang berani mengacungkan tangan.

Bayangin aja, Rek, sudahlah jadi suami Ratu Kencana Wungu yang manis itu, eh kebagian jatah jabatan juga di Blambangan. Harta, tahta, wanita. Duh, paket komplit yang sulit buat saya tolak.

Begitulah hingga akhirnya saya harus bertarung habis-habisan dengan Adipati Kebo Marcuet. Duel sengit itu pun berhasil saya menangkan. Tapi risikonya, sekujur tubuh saya rusak parah dan beberapa bagian mengalami cacat permanen. Yah, bisa dibilang saya yang sebelumnya gagah perkasa, jadi buruk rupa hanya dalam sekejap mata.

Prabu Wikramawardhana ternyata tidak ingkar janji. Saya pun akhirnya menduduki kursi Keraton Wetan. Dan saya kemudian menjuluki diri saya sebagai Adipati Menakjingga. Tapi untuk urusan menikahi Ratu Ayu Kencana Wungu, saya diminta bersabar menunggu sampai dia sedikit lebih dewasa. Oke lah, saya terima kesepakatan itu. Kesepakatan yang tahunya malah memicu saya untuk melakukan pemberontakan.

Pasalnya gini, Kisanak. Setelah Ratu Ayu Kencana Wungu beranjak dewasa dan naik tahta Majapahit menggantikan ayahandanya yang sudah wafat, dia mengelak ketika saya datang untuk menagih janji untuk dinikahkan dengannya.
Alasan pertama, janji tersebut dibuat oleh orang tua Ratu Ayu Kencana Wungu tanpa persetujuan dirinya. Jadi, perjanjian itu tidak sah. Kedua, sudahlah saya ini tua bangka, buruk rupa pula. Dan Ratu yang cantik semlohai itu tak sudi kalau harus menikah dengan lelaki seperti saya.

Cuih! Dia pikir saya, Menakjingga, jadi begini emangnya karena apa? Karena membela keluarganya dari serangan Kebo Marcuet, loh. Emang, orang good looking, lebih-lebih yang punya kuasa, rerata pada nggak tahu diri.
Merasa harga diri saya dilecehkan, dikhianati, dan martabat saya diinjak-injak sebegitu rupa, saya pun memutuskan untuk menyerang Keraton Kulon.

Jika dalam perang ini saya gugur, saya sudah bisa menerawang bahwa sejarah akan mencatat Menakjingga sebagai pemberontak. Dan sebelum narasi itu benar-benar meracuni pikiran Kisanak sekalian, saya hanya pengin katakan, saya nggak bakal memberontak seandainya Ratu Ayu Kencana Wungu nggak ingkar atas janji orang tuanya pada saya. Dan seandainya dia mau nerima saya apa adanya, tentunya jalan cerita bakal jauh berbeda.

Sudahlah, semua sudah terlanjur terjadi. Saya cukupkan sekian surat ini, saya mau siap-siap berperang.

BACA JUGA Lagu Dangdut: Satu Lagu Sejuta Penyanyi dan tulisan Aly Reza lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 22 Agustus 2020 oleh

Tags: damarwulanmajapahitmenakjingga
Aly Reza

Aly Reza

Muchamad Aly Reza, kelahiran Rembang, Jawa Tengah. Penulis lepas. Bisa disapa di IG: aly_reza16 atau Email: [email protected]

ArtikelTerkait

papua barat majapahit

Papua Barat Bagian dari Majapahit Itu Narasi Nasionalis Romantik yang Keliru

9 September 2019
sunda majapahit gajah mada penaklukan mojok

Mengapa Sunda Tidak Pernah Menjadi Bagian dari Majapahit?

25 September 2020
tun abdul jalil majapahit samudera pasai mojok

Akhir Tragis Cerita Cinta Tun Abdul Jalil dan Raden Galuh Gemerencang

2 Oktober 2020
Trowulan, Daerah di Mojokerto yang (Hampir) Tak Mungkin Kena Banjir

Trowulan, Daerah di Mojokerto yang (Hampir) Tak Mungkin Kena Banjir

15 Maret 2024
majapahit situs peninggalan bumi lasem mojok

Mengupas Sebab Lenyapnya Situs-situs Majapahit di Bumi Lasem

15 Oktober 2020
Kisah Fakboi Ken Arok yang Mampu Taklukkan Hati Ken Dedes mojok.co

Kisah Fakboi Ken Arok yang Mampu Taklukkan Hati Ken Dedes

26 Agustus 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cerita Pahit 25 Tahun Hidup di Kabupaten Ngawi yang Aneh  Mojok.co

Ngawi Sangat Berpotensi Menjadi Kota Besar, Tinggal Pilih Jalan yang Tepat Saja

17 April 2026
3 Tahun “Menantang Maut” di Pacitan demi Bisa Sekolah (Unsplash)

Pengalaman Saya 3 Tahun “Menantang Maut” di Pacitan Hanya demi Bisa Berangkat Sekolah

19 April 2026
Saya Orang Asli Depok dan Tidak Bangga Tinggal di Daerah yang Aneh Ini Mojok.co

Warga Depok Habiskan Hampir 2 Juta Rupiah per Bulan Cuma buat Kerja di Kawasan Senayan, Dedikasinya Tinggi!

16 April 2026
Gaji ke-13 PNS: Tradisi Musiman yang Dirayakan dengan Sepatu Baru dan Kecemasan Baru

Tidak Semua Anak PNS Hidup Sejahtera Bergelimang Harta, Banyak yang Justru Hidup Sengsara

14 April 2026
Membayangkan Apa yang Akan Terjadi Jika di Bogor Tidak Ada Angkot terminal di bogor angkot jakarta

4 Hal Menyebalkan dari Oknum Sopir Angkot yang Bakal Kamu Temui saat Berada di Jakarta

16 April 2026

Di Balik Cap Manja, Anak Bungsu Sebenarnya Dilema antara Kejar Cita-cita atau Jaga Ortu karena Kakak-kakak Sudah Berumah Tangga 

17 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Penyebab Tokoh Agama dan Kaum Intelektual Melakukan Pelecehan Seksual
  • UKM Pencak Silat Unair Selamatkan Mimpi Atlet PSHT, Gelanggang Pertandingan Lebih “Menyeramkan” daripada Ruang Kelas Kuliah
  • iPhone Jadul Bangkit Kembali Berkat Gen Z, Kualitas Foto “Tak Sempurna” Malah Dianggap Unggul daripada Keluaran Terbaru
  • Bersih Desa, Tradisi Sakral yang Kini Cuma Jadi Ajang Gengsi: Bikin Perantau dan Pemudanya Sengsara, Buang-Buang Waktu dan Uang
  • Jadi PNS di Desa Luar Jawa Lebih Sejahtera daripada di Kota, Ilmu Nggak Sia-sia dan Nggak Makan Gaji Buta
  • Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.