Surat dari Menakjingga: Semua Ini karena Ratu Ayu Kencana Wungu Ingkar Janji – Terminal Mojok

Surat dari Menakjingga: Semua Ini karena Ratu Ayu Kencana Wungu Ingkar Janji

Artikel

Aly Reza

Halo, perkenalkan nama saya Adipati Menakjingga, sosok yang dalam banyak catatan sering diidentikkan sebagai sosok antagonis, karena dianggap telah berani berkhianat dan memberontak kepada Majapahit. Waduh, ini kayaknya perlu saya luruskan. Biar kalian nggak selalu memuja-muja kepahlawanan si Damarwulan dan menjelek-jelekkan Menakjingga.

Begini, saya punya alasan logis, kok, kenapa saya akhirnya menyerang Keraton Kulon, keraton pusat Majapahit di Trowulan. Sebelum lebih jauh, saya kasih sekilas info, nih. Jadi, pada masa itu ada dua keraton. Pertama, Keraton Kulon sebagai pusat pemerintahan. Dan kedua, Keraton Wetan yang terletak di Blambangan sebagai negara bawahan Majapahit.

Masalahnya sebenarnya sederhana saja. Seandainya waktu itu Ratu Ayu Kencana Wungu sudi menepati janjinya pada saya, mungkin pemberontakan tersebut nggak bakal pernah saya lakukan. Hla Ratu Ayu Kencana Wungu ini malah berbelit-belit, je. Ujung-ujungnya malah dia mengingkari janji. Kalau udah diblenjani janji kayak gini, siapa coba sing ora gela? Siapa coba sing atine ora lara?

Temen-temen masih bingung, ya, dengan cerita saya. Sorry, sorry, saya masih kebawa emosi. Dan saya nulis ini sebenernya dalam keadaan sedikit terburu-buru karena sebentar lagi saya harus bertarung melawan pemuda gagah utusan Ratu Ayu Kencana Wungu. Jadi agak amburadul.

Denger-denger, pemuda itu namanya Raden Ratnapangkaja atau Damar Shashangka. Tapi orang-orang—dari yang telinga saya tangkap—lebih akrab memanggilnya Damarwulan. Damarwulan ini artinya sama sih, dengan Damar Shashangka; cahaya rembulan. Dijuluki begitu karena di mata perempuan, orangnya gagah dan rupawan. Wajahnya cemlorot kayak rembulan.

Dan dari informasi yang saya peroleh pula, si Damarwulan ini turun ke gelanggang perang untuk melawan saya karena sayembara dari Ratu Ayu Kencana Wungu. Iyap, karena keder dengan saya, Ratu Ayu Kencana Wungu bikin sayembara. Barangsiapa yang berhasil menumpas saya, maka jika lelaki akan dipersuami. Sedangkan kalau perempuan akan diambil sebagai saudari. Sesaat setelah wara-wara itu menyebar, tampil lah si Damarwulan.

Kelihatannya memang heroik sekali. Tapi saya jamin, sama seperti saya dulu, pemuda itu ikut sayembara karena kepincut dengan kecantikan Ratu Ayu Kencana Wungu dan tergiur dengan iming-iming tahta Majapahit. Tidak murni pengin membela bangsa dan negara dari kelompok separatis.

Duh, saya malah ngelantur lagi. Saya harus cepat menyelesaikan cerita ini, karena kata pengawal, pasukan Damarwulan sudah mulai bergerak menuju gelanggang. Menakjingga ditantang kalau kelamaan turun ntar dikira takut lagi.

Jadi begini, Kisanak sekalian. Prabu Hayam Wuruk punya putri kandung bernama Ratu Ayu Kusumawardhani. Dia juga punya putra dari istri selir bernama Bhre Wirabhumi yang diberi mendat memimpin Keraton Wetan. Nah, Bhre Wirabhumi ini lah yang di kemudian hari berjuluk Adipati Kebo Marcuet.

Baca Juga:  Mentalitas Bonek Sudah Ada Sejak Awal Berdirinya Majapahit

Ratu Ayu Kusumawardhani ini menikah dengan Raden Wikramawardhana yang masih keponakan dari Prabu Hayam Wuruk. Dan dikaruniai seorang putri cantik jelita bernama Dyah Rani Suhita. Kemudian lebih dikenal dengan Ratu Ayu Kencana Wungu. Perempuan yang sekarang terang-terangan mengibarkan bendera perang dengan saya lantaran tak sanggup memenuhi janji orang tuanya pada saya.

Pada tahun 1389 M, persis 32 tahun setelah tragedi Perang Bubat, Prabu Hayam Wuruk mangkat. Seharusnya yang berhak naik keprabon adalah Ratu Ayu Kusumawardhani sebagai putri kandung. Tapi karena dia menolak, alhasil kedudukan tahta majapahit diemban oleh sang suami yang selanjutnya mengambil gelar Hyang Wishesha. Pengukuhan Raden Wikramawardhana sebagai penguasa baru Majapahit ini terjadi pada 1400 M.

Bhre Wirabhumi atau Adipati Kebo Marcuet nggak terima, dong. Meskipun dia hanya putra selir, tapi dia merasa tetep berhak untuk menduduki tahta Majapahit. Dan yang lebih membuat dia tersinggung, dalam pengangkatan Raden Wikramawardhana itu, dia nggak dilibatkan dalam satu pun rembugan yang dilakukan pihak Keraton Kulon. Dia kecewa, marah, sakit hati, dan akhirnya memilih menabuh genderang perang dengan saudaranya sendiri. Pemberontakan tersebut terjadi pada 1401 M, satu tahun sejak maraknya Raden Wikramawardhana sebagai raja.

Oh ya, sekilas info lagi. Kebo Marcuet ini sebenernya bukan lah sosok bertanduk seperti kebo (kerbau) kayak cerita-cerita yang sudah beredar. Kebo di sini hanya simbol ambisi Bhre Wirabhumi untuk menyeruduk dan menjungkalkan Keraton Kulon.

Nggak ada yang meragukan kehebatan Adipati Kebo Marcuet. Pihak Keraton Kulon pun merasa kuwalahan dan akhirnya membuat sayembara. Pokoknya yang bisa menundukkan Adipati Kebo Marcuet, bakal dikasih dua hadiah sekaligus. Pertama, dinikahkan dengan putrinya; Ratu Ayu Kencana Wungu. Kedua, akan dilimpahi kekuasaan atas Keraton Wetan.

Mendengar sayembara dengan hadiah sebombastis itu, siapa coba yang nggak kepincut? Dan seorang pemuda gagah bernama Jaka Umbaran—yang tidak lain adalah saya sendiri—adalah orang pertama dan mungkin satu-satunya yang berani mengacungkan tangan.

Bayangin aja, Rek, sudahlah jadi suami Ratu Kencana Wungu yang manis itu, eh kebagian jatah jabatan juga di Blambangan. Harta, tahta, wanita. Duh, paket komplit yang sulit buat saya tolak.

Baca Juga:  Tagar #GoodbyeMaudy dan Harapan Orang Indonesia

Begitulah hingga akhirnya saya harus bertarung habis-habisan dengan Adipati Kebo Marcuet. Duel sengit itu pun berhasil saya menangkan. Tapi risikonya, sekujur tubuh saya rusak parah dan beberapa bagian mengalami cacat permanen. Yah, bisa dibilang saya yang sebelumnya gagah perkasa, jadi buruk rupa hanya dalam sekejap mata.

Prabu Wikramawardhana ternyata tidak ingkar janji. Saya pun akhirnya menduduki kursi Keraton Wetan. Dan saya kemudian menjuluki diri saya sebagai Adipati Menakjingga. Tapi untuk urusan menikahi Ratu Ayu Kencana Wungu, saya diminta bersabar menunggu sampai dia sedikit lebih dewasa. Oke lah, saya terima kesepakatan itu. Kesepakatan yang tahunya malah memicu saya untuk melakukan pemberontakan.

Pasalnya gini, Kisanak. Setelah Ratu Ayu Kencana Wungu beranjak dewasa dan naik tahta Majapahit menggantikan ayahandanya yang sudah wafat, dia mengelak ketika saya datang untuk menagih janji untuk dinikahkan dengannya.
Alasan pertama, janji tersebut dibuat oleh orang tua Ratu Ayu Kencana Wungu tanpa persetujuan dirinya. Jadi, perjanjian itu tidak sah. Kedua, sudahlah saya ini tua bangka, buruk rupa pula. Dan Ratu yang cantik semlohai itu tak sudi kalau harus menikah dengan lelaki seperti saya.

Cuih! Dia pikir saya, Menakjingga, jadi begini emangnya karena apa? Karena membela keluarganya dari serangan Kebo Marcuet, loh. Emang, orang good looking, lebih-lebih yang punya kuasa, rerata pada nggak tahu diri.
Merasa harga diri saya dilecehkan, dikhianati, dan martabat saya diinjak-injak sebegitu rupa, saya pun memutuskan untuk menyerang Keraton Kulon.

Jika dalam perang ini saya gugur, saya sudah bisa menerawang bahwa sejarah akan mencatat Menakjingga sebagai pemberontak. Dan sebelum narasi itu benar-benar meracuni pikiran Kisanak sekalian, saya hanya pengin katakan, saya nggak bakal memberontak seandainya Ratu Ayu Kencana Wungu nggak ingkar atas janji orang tuanya pada saya. Dan seandainya dia mau nerima saya apa adanya, tentunya jalan cerita bakal jauh berbeda.

Sudahlah, semua sudah terlanjur terjadi. Saya cukupkan sekian surat ini, saya mau siap-siap berperang.

BACA JUGA Lagu Dangdut: Satu Lagu Sejuta Penyanyi dan tulisan Aly Reza lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
35


Komentar

Comments are closed.