Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Mabuk Kendaraan: Sebuah Pertanda Seseorang Tidak Berbakat Jadi Orang Kaya

Reno Ismadi oleh Reno Ismadi
10 Agustus 2020
A A
radio mabuk kendaraan mojok.co

radio mabuk kendaraan mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Ibu saya sampai sekarang selalu berkeyakinan bahwa salah satu syarat seseorang bisa kaya adalah tidak punya kebiasaan mabuk kendaraan. Entah itu kendaraan laut, darat, atau udara. Keyakinan itu tidak didapat dari membaca artikel yang membahas korelasi antara mabuk kendaraan dan kekayaan. Sependek yang saya tahu memang tidak ada artikel semacam itu.

Ibu saya selalu bercermin dari dirinya sendiri. Beliau adalah pengidap mabuk kendaraan akut. Jika tidak dalam kondisi mendesak, mobil, bus, angkot, kapal, dan pesawat adalah kendaraan yang akan dihindarinya sebagai alat bepergian. Menurutnya, tanda-tanda awal orang menjadi kaya pastilah punya mobil. Sedangkan dia, andaikan sanggup beli mobil sendiri, menaikinya yang tidak sanggup.

Celakanya, kebiasaan mabuk kendaraan ini ternyata diturunkan secara genetik oleh ibu saya kepada saya. Bahkan level saya lebih akut dibanding ibu saya. Baru mencium bau kendaraan saja mualnya langsung terasa. Seumur hidup, hanya dua kendaraan yang tidak membuat saya mabuk, yaitu motor dan kereta api.

Melihat kondisi saya yang 11-12 dengan dirinya, ibu saya sering berseloroh bahwa nasib saya tidak akan jauh beda dengan ibu saya. ‘’Kamu gak punya bakat jadi orang kaya, udah paling bener jadi guru kayak ibu. Kerjanya di sekolah tok, kalaupun ada upacara 17an di kantor camat gak perlu pakai mobil’’

Saya dengan sigap menepis saran itu dan dengan yakin membantah. Namanya jadi kaya ya nggak ada hubungannya sama mabuk kendaraan. Lha bagaimana mungkin mabuk kendaraan ada sangkut pautnya dengan kekayaan. Saya tidak terima lah. Lha wong cita-cita saya jadi pebisnis sukses atau minimal manajer di korporasi terkenal.

Tapi setelah bertahun-tahun kenyang dengan selorohan ibu saya. Lama-lama saya merasa bahwa persepsinya bukan selorohan belaka dan ada benarnya juga. Bahkan cukup rasional jika ditelisik lebih jauh. Sepertinya orang yang dilahirkan dengan gangguan mabuk kendaraan akan sulit jadi kaya. Jangankan jadi kaya, mau kemana-mana aja susah kalau nggak pakai motor.

Saya jadi membayangkan jika suatu saat saya menjadi manajer atau direktur di sebuah perusahaan terkemuka. Itu berarti, saya harus melakukan perjalanan dinas ke luar kota atau bahkan ke luar negeri. Minimal saya harus naik mobil dan pesawat yang mana keduanya saya takuti.

Sebenarnya masyarakat modern sudah punya solusinya, yaitu dengan minum obat anti mabuk. Tapi masalahnya, solusi itu menghilangkan satu masalah dengan menyelipkan satu masalah baru, yaitu rasa ngantuk. Kalau tidak mau ngantuk, berarti harus menahan rasa mual sepanjang perjalanan. Bayangkan saya yang seorang petinggi perusahaan harus mengalami masalah dilematis tentang kendaraan padahal masih ada masalah pekerjaan yang menunggu.

Baca Juga:

Beasiswa untuk Orang Kaya: Ironi Sistem Pendidikan Kita

PNS Masih Bisa Berbisnis, tapi Pebisnis Belum Tentu Bisa Jadi PNS, Rumus dari Mana?

Jika kepepet saya harus memilih salah satu opsi, dampaknya mungkin akan luar biasa. Misalkan saya memilih untuk tetap menaiki pesawat tanpa meminum obat anti mabuk, badan saya bisa dengan mudah masuk angin dan mual. Alhasil saya yang seorang petinggi perusahaan harus menggosok pusar saya dengan balsem dan sekertaris saya membantu dengan mengerok punggung untuk meredakan masuk angin saya.

Andai kemudian cara tersebut berhasil menghilangkan mabuk saya. Saya masih harus menemui delegasi perusahaan lain dengan badan bau balsem yang semriwing itu. Hal ini pastinya akan mengganggu citra perusahaan saya. Bagaimana bisa sebuah perusahaan mengirim delegasi beraroma balsem ke pertemuan elit di saat delegasi lain pakai parfum bermerk dari Paris.

Misal saya memilih opsi untuk minum obat anti mabuk, saya harus siap menghadapi efek kantuknya yang luar biasa hebat itu. Dari pengalaman saya selama ini, saya selalu tidur pulas setelah mengkonsumsi obat itu. Kalaupun terpaksa menahan kantuk, wajah saya jadi  terlihat seperti orang yang seharian minum tuak dan begadang semalaman menonton dangdut. Ah saya tidak bisa membayangkan harus menghadiri pertemuan dengan kondisi seperti mayat hidup itu.

Itu semua memang baru skenario saja. Tapi entah kenapa rasanya bisa benar-benar terjadi di kemudian hari. Saya jadi sering meratapi kondisi ini. Apakah saya akan benar-benar gagal jadi orang kaya hanya karena mabuk kendaraan. Saya jadi sering mencari-cari apakah ada orang kaya yang juga penderita mabuk kendaraan seperti saya. Jika ada maka ia akan saya jadikan panutan melebihi Bill Gates atau Jeff Bezos sekalipun.

Apakah saya jualan nasi kuning saja biar tidak usah kemana-mana pakai mobil atau pesawat. Tapi kalau nanti bisnis nasi kuning saya jadi berkembang pesat dan harus buka cabang di berbagai kota kan saya perlu naik mobil atau pesawat. Kalau saya nggak pergi, bisnis saya jalan di tempat. Ahh bedebah.

BACA JUGA Mempertanyakan Prinsip Syariah RSUD: Memangnya Nungguin Orang Sakit Bikin Kamu Horny? dan tulisan Reno Ismadi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 10 Agustus 2020 oleh

Tags: Kayamabuk kendaraan
Reno Ismadi

Reno Ismadi

Bachelor of International Relations, Master of Doing Nothing.

ArtikelTerkait

enggan miskin

Miskin Enggan, Kaya Tak Mampu

22 Mei 2019
5 Tips Ampuh Menghindari Mabuk Kendaraan

5 Tips Ampuh Menghindari Mabuk Kendaraan

8 Mei 2022
Kerja Keras Mungkin Nggak Bikin Kaya, tapi Proses Nggak Mengkhianati Hasil, Mbak! Terminal mojok

Kerja Keras Mungkin Nggak Bikin Kaya, tapi Proses Nggak Mengkhianati Hasil, Mbak!

27 Februari 2021
Salahkah Menulis demi Uang? kaya

Salahkah Berharap Bisa Kaya dari Karya?

29 Maret 2023
Mengenal Jurusan Aktuaria, Jurusan yang Bikin Kamu Kaya Mendadak

Mengenal Jurusan Aktuaria, Jurusan yang Bikin Kamu Kaya Mendadak

21 Januari 2020
Subsidi Silang Dunia Pendidikan: Niat Baik yang Berakhir Begitu Buruk

Subsidi Silang Dunia Pendidikan: Niat Baik yang Berakhir Begitu Buruk

12 Januari 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Catatan untuk Pemkab Bangkalan Madura agar Program Satu Desa Satu Sarjana Tidak Sia-Sia Mojok.co

4 Catatan untuk Pemkab Bangkalan Madura agar Program Satu Desa Satu Sarjana Tidak Sia-Sia

10 Juni 2026
Krisis Identitas Kawasaki Brusky 125: Mencoba Terjun di Pasar Matic, tapi Blunder. Jiplaknya Kebangetan!

Krisis Identitas Kawasaki Brusky 125: Mencoba Terjun di Pasar Matic, tapi Blunder. Jiplaknya Kebangetan!

13 Juni 2026
Debu Jalur Pantura Kendal Makin Meresahkan Pengendara Motor, Sebaiknya Sedia Masker kalau Nggak Mau Sesak Napas Terminal

Debu Jalur Pantura Kendal Makin Meresahkan Pengendara Motor, Sebaiknya Sedia Masker kalau Nggak Mau Sesak Napas

9 Juni 2026
Hal-Hal yang Nggak Saya Sukai dari Kebayoran Baru Jaksel, Banyak Kecoak Geprek hingga Pengemis Nodong QRIS

Hal-Hal yang Nggak Saya Sukai dari Kebayoran Baru Jaksel, Banyak Kecoak Geprek hingga Pengemis Nodong QRIS

10 Juni 2026
Pertamax di Pertashop Memang Lebih Murah, tapi Tetap Saja Orang pada Beli Pertalite, Harga Pertamax Nggak Ngotak! pertamina pertamax oplosan

Bisnis Pertashop Jelas Karam: Hidup Segan, Mati Tinggal Menunggu Hari

14 Juni 2026
Jalan Keloran Selatan Bantul, Ujian Terberat Pengendara Bermata Minus seperti Saya

Para Pengendara Motor di Jogja Itu Terkenal dengan Santainya, kecuali Orang Bantul Selatan

9 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.