Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Empati Warkop Pitulikur dan Fenomena Siswa Belajar Online di Warkop, yang Prihatin Seharusnya Pemerintah

Dian Eko Restino oleh Dian Eko Restino
22 Juli 2020
A A
Empati Warkop Pitulikur dan Fenomena Siswa Belajar Online di Warkop_ yang Prihatin Seharusnya Pemerintah MOJOK.CO

Empati Warkop Pitulikur dan Fenomena Siswa Belajar Online di Warkop_ yang Prihatin Seharusnya Pemerintah MOJOK.CO

Share on FacebookShare on Twitter

Badai Covid-19 belum berakhir. Demi mencegah penularan virus ini, segala kegiatan berkerumun dibatasi, bahkan dilarang. Dunia pendidikan pun terkena imbasnya. Belajar online jadi pilihan.

Terhitung sejak 16 Maret 2020 hingga sekarang, kegiatan pembelajaran tatap muka di sekolah resmi dihentikan sementara, diganti dengan School from Home (SFH), ada yang mengistilahkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), ada juga yang memakai istilah Belajar Dari Rumah (BDR). Yaa memang begitulah negara kita, banyak sekali istilah, singkatan, tapi sebenarnya artinya sama; belajar online.

Tidak hanya guru, siswa dan orang tua harus segera beradaptasi dengan sistem pembelajaran yang baru, yaitu melalui daring (dalam jaringan), atau belajar online, atau virtual (nah kan, banyak istilah yang berbeda tapi maknanya sama).

Untuk melaksanakan kegiatan belajar online, banyak yang melakukan inovasi melalui aplikasi-aplikasi online. Ada yang sudah menyiapkan kelas-kelas virtual. Ada juga melalui aplikasi video meeting. Hingga ada juga yang “hanya” penugasan melalui form yang disampaikan melalui grup-grup WhatsApp. Maka, media yang digunakan adalah gawai (ponsel/ laptop/ komputer) dan tentu saja: sambungan internet.

Namun hal ini menyisakan masalah tersendiri. Di beberapa sudut daerah pasti ada beberapa siswa dan orang tua yang tidak punyai gawai dengan spesifikasi yang support aplikasi belajar online. Lalu tingkat ekonomi yang beragam terkait kemampuan dalam membeli kuota internet. Belum lagi jika penghasilan orang tua menurun terdampak Covid-19, dagangan sepi, dirumahkan, atau bahkan PHK.

Belajar online tentu tidak begitu berpengaruh bagi siswa dari keluarga yang cukup dalam memfasilitasi gawai dan internet. Memang pada saat pandemi ini, mau tidak mau, kegiatan tatap muka harus ditiadakan diganti virtual. Namun, problem pemerataan pendidikan masih menjadi PR bagi kita semua, terutama bagi keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah.

Ketika belajar online jadi pilihan, ada masyarakat tertentu yang tidak bisa mengikuti. Mereka tidak bisa menikmati layanan pembelajaran yang diberikan oleh sekolah.

Ketika belajar di sekolah belum diperbolehkan, muncul fenomena siswa belajar di warung kopi (warkop), memanfaatkan fasilitas wifi. Salah satunya adalah Warkop Pitulikur di Surabaya. Pemiliknya memiliki empati tinggi ketika dengan ikhlas menyediakan fasilitas wifi, masih ditambah teh hangat gratis untuk siswa yang belajar di sana.

Baca Juga:

Terima Kasih PO Sudiro Tungga Jaya Rute Surabaya-Ngawi Sudah Banyak Berjasa di Rumah Tangga Saya

Tidak Semua Lidah Orang Surabaya Doyan Makan Rawon, Beberapa Ada yang Trauma dengan Alasan yang Masuk Akal

Syaratnya pun mudah: harus benar-benar digunakan untuk belajar online dari gurunya. Tidak boleh dipakai untuk game dan segala sesuatu yang tidak berhubungan dengan pembelajaran. Sebuah pemandangan yang menyenangkan, meskipun di baliknya terdapat keprihatinan. Nanti saya jelaskan.

Selain Warkop Pitulikur, fenomena belajar online di warkop juga terjadi di Mojokerto. Siswa bahkan didampingi langsung oleh orang tua.

Kenapa belajar online ke warkop?

Alasan mereka hampir sama, yakni untuk mengurangi pengeluaran kuota internet. Bahkan beberapa dari mereka tidak punya paket internet sama sekali. Anak-anak tersebut tidak peduli harus menghadapi deru dan asap kendaraan yang lalu-lalang.

Saya yakin, fenomena ini banyak terjadi di sudut-sudut daerah. Hal ini memang sudah saya prediksi beberapa saat setelah diberlakukan sekolah daring. Karena siswa di sekolah yang saya ampu memang sebagian besar berasal dari keluarga yang ekonominya sedang-sedang saja, bahkan menengah ke bawah.

Daerah sekitar saya juga banyak warkop dengan fasilitas free wifi bagi pengunjungnya. Dalam kondisi demikian, ke mana lagi siswa yang tidak mempunyai kuota internet akan menyambungkan gawainya untuk tetap bisa mengikuti kegiatan belajar online?

Apakah siswa yang ke warkop untuk tetap mengikuti layanan pembelajaran salah? Jika suatu hal yang salah, siapa yang patut disalahkan? Orang tuanya? Gurunya? Sekolah? Atau pemilik warkop?

Mari kita bergerak ke salah satu sudut pandang. Bagaimana kalau kita menilai bahwa siswa tersebut telah melakukan daya dan upaya untuk tetap belajar dalam kondisi yang sulit. Paket data internet terbatas atau bahkan tidak ada, uang saku sudah tidak diberi karena tidak berangkat ke sekolah. Daripada hanya rebahan dirumah lalu ketinggalan materi pelajaran, ditagihi tugas oleh guru, bukankah lebih baik mengikuti pelajaran online walaupun harus ke warkop?

Kemudian, apakah salah jika orang tua mengizinkan anaknya pergi ke warkop demi mengikuti pembelajaran? Ekonomi keluarga menurun, orang tua di rumah sibuk dengan pekerjaan, momong anaknya yang masih kecil, masak, dan segala pekerjaan rumah tangga di pagi hari, atau mungkin kurang paham tentang materi pelajaran dan gaptek dengan aplikasi-aplikasi teknologi.

Ditambah anaknya yang tidak mengikuti pelajaran sekolah? Mungkin ada orang tua yang berpikir, “Nak sekolaho sing pinter ben iso luweh pinter teko bapak ibumu, iso ngangkat derajat keluargamu.” Salahkah orangtua yang berparadigma bahwa jalan memperoleh penghidupan dan pekerjaan yang lebih layak adalah lewat pendidikan dan pintar di sekolah?

Guru dan sekolah memang seolah menjadi pelaksana kebijakan pemerintah dengan sistem pendidikan moda daring. Saya, sebagai guru merasakannya, bagaimana sekarang melayani siswa tidak hanya 8 jam kerja, tapi 24 jam non-stop.

Mulai dari merancang materi pembelajaran, soal dan evaluasi, administrasi rutin, mengelola akun-akun siswa dalam aplikasi integrasi sekolah, menagih tugas siswa dan menjawab berbagai kebingungan siswa tentang sistem online yang baru sampai pagi buta, bahkan membangunkan siswa jam pertama pembelajaran.

Lantas, apakah bisa guru mengawasi satu per satu aktivitas siswa di rumah? Jika guru mengimbau siswa untuk tidak ke warkop, sedangkan guru selalu menagih siswa untuk mengerjakan tugas, lalu apa yang harus dilakukan oleh siswa tersebut?

Kalau guru mengimbau orang tua untuk mencegah anaknya pergi ke warkop, lalu bagaimana para orangtua (yang memiliki keterbatasan membeli paket internet) memenuhi kebutuhan belajar online anaknya?

Pemilik Warkop Pitulikur salah? Bukankah beliau memiliki empati tinggi, sigap menangkap keluh kesah hati para orang tua yang sulit memenuhi fasilitas belajar online anaknya? Pemilik Warkop Pitulikur tentunya juga orang tua yang memiliki anak yang masih sekolah.

Dulu, anak yang masih berseragam sekolah pasti dilarang nongkrong di warkop, sekarang malah dipersilahkan untuk mengikuti pembelajaran di warkop dan gratis. Bukankah beliau (pemilik Warkop Pitulikur) sekarang malah bisa disebut turut mencerdaskan generasi bangsa?

Peran dan perhatian lebih besar tentang solusi dari masalah ini harus berasal dari pemerintah. Bukankah pemerintah telah menganggarkan ratusan trilyun untuk penanganan Covid-19 ini, seperti yang dimuat Kompas dan Okezone.

Bahkan Mas Menteri Nadiem sendiri juga telah menegaskan dana BOS bisa dipakai untuk pulsa internet siswa, yang bisa kita simak pada berita Tempo. Sejauh mana kebijakan itu bisa dirasakan para siswa? Apakah karena birokrasi yang rumit, sehingga banyak siswa yang belum merasakan pemerataan layanan pendidikan?

Saya sebagai guru hanya bisa merasakan, dan melaksanakan kebijakan tersebut. Tapi masak gini?

Sumber gambar: Twitter Warkop Pitulikur.

BACA JUGA Saya Dosen, Kuliah Online Bikin Saya Ngerasa Jadi Pengangguran yang Digaji atau tulisan-tulisan lainnya di Terminal Mojok.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 22 Juli 2020 oleh

Tags: belajar onlinepandemi coronaSurabayawarkopwarkop pitulikur
Dian Eko Restino

Dian Eko Restino

Dian Eko Restino, S.Pd., Gr. Guru SMPN 10 Surabaya Menempuh S-1 Jurusan Bimbingan dan Konseling di Universitas Negeri Malang (Lulus 2013) Dan telah menempuh Pendidikan Profesi Guru di Universitas Negeri Malang (Lulus 2019).

ArtikelTerkait

Stasiun Wonokromo Surabaya Tampak Semenjana di Hadapan Stasiun Gubeng Baru yang Istimewa

Stasiun Wonokromo Surabaya Tampak Semenjana di Hadapan Stasiun Gubeng Baru yang Istimewa

11 Januari 2025
Kalau di Kota Ada Kirim Parsel, di Desa Ada Ater-ater Tipe-tipe Orang saat Menunggu Lebaran Datang Terima kasih kepada Tim Pencari Hilal! Ramadan Sudah Datang, eh Malah Menanti Bulan Syawal Ramadan Sudah Datang, eh Malah Menanti Lebaran Buku Turutan Legendaris dan Variasi Buku Belajar Huruf Hijaiyah dari Masa ke Masa Serba-serbi Belajar dan Mengamalkan Surah Alfatihah Pandemi dan Ikhtiar Zakat Menuju Manusia Saleh Sosial Inovasi Produk Mushaf Alquran, Mana yang Jadi Pilihanmu? Tahun 2020 dan Renungan ‘Amul Huzni Ngaji Alhikam dan Kegalauan Nasib Usaha Kita Nggak Takut Hantu, Cuma Pas Bulan Ramadan Doang? Saya Masih Penasaran dengan Sensasi Sahur On The Road Menuai Hikmah Nyanyian Pujian di Masjid Kampung Mengenang Asyiknya Main Petasan Setelah Tarawih Horornya Antrean Panjang di Pesantren Tiap Ramadan Menjadi Bucin Syar'i dengan Syair Kasidah Burdah Drama Bukber: Sungkan Balik Duluan tapi Takut Ketinggalan Tarawih Berjamaah Opsi Nama Anak yang Lahir di Bulan Ramadan, Selain Ramadan Panduan buat Ngabuburit di Rumah Aja Sebagai Santri, Berbuka Bersama Kiai Adalah Pengalaman yang Spesial Panduan buat Ngabuburit di Rumah Aja Pandemi Corona Datang, Ngaji Daring Jadi Andalan Tips Buka Bersama Anti Kejang karena Kantong Kering Mengenang Asyiknya Main Petasan Setelah Tarawih Rebutan Nonton Acara Sahur yang Seru-seruan vs Tausiyah Opsi Nama Anak yang Lahir di Bulan Ramadan, Selain Ramadan Drama Bukber: Sungkan Balik Duluan tapi Takut Ketinggalan Tarawih Berjamaah Sebagai Santri, Berbuka Bersama Kiai Adalah Pengalaman yang Spesial Aduh, Lemah Amat Terlalu Ngeribetin Warung Makan yang Tetap Buka Saat Ramadan Tong Tek: Tradisi Bangunin Sahur yang Dirindukan Kolak: Santapan Legendaris Saat Ramadan

Panduan buat Ngabuburit di Rumah Aja

3 Mei 2020
4 Rekomendasi Kuliner Bebek di Surabaya selain Bebek Sinjay dan Bebek Purnama

4 Rekomendasi Kuliner Bebek Enak di Surabaya selain Bebek Sinjay dan Bebek Purnama

21 Desember 2024
bu risma

Sudah Siapkah Surabaya Melepas Bu Risma?

17 Oktober 2019
Pernikahan Saat Pandemi Mengatasi Malu dan Gengsi terminal mojok.co

Pernikahan Saat Pandemi Mengatasi Malu dan Gengsi

18 November 2020
Stasiun Surabaya Gubeng- Simbol Perpisahan dan Kemarahan (Pexels)

Stasiun Surabaya Gubeng: Simbol Perpisahan dan Kemarahan yang Menjadi Satu

28 Januari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derita Di Balik Keindahan Brown Canyon Semarang: Kisah Warga yang Harus Berdamai dengan Truk Tronton dan Debu Tambang Mojok.co

Penderitaan Tinggal Dekat Tempat Wisata Brown Canyon Semarang, Warga (Terpaksa) Berdamai dengan Truk Tronton dan Debu Tambang

4 Juni 2026
4 Saran dari Warlok Jogja untuk Para Pendatang Biar Cepet Betah (Unsplash)

Sebagai Warga Jogja, Saya Punya Empat Permintaan Kecil untuk Pendatang agar Bisa Beradaptasi dengan Baik

8 Juni 2026
Derita Mahasiswa Jurusan Manajemen, Kena Label Nggak Masuk Akal, Mulai dari Sultan hingga Dicap Murahan Mojok.co

Derita Mahasiswa Jurusan Manajemen, Kena Label Nggak Masuk Akal, Mulai dari Sultan hingga Dicap Murahan

4 Juni 2026
4 Hal yang Bakal Saya Rindukan setelah Lulus dari UM Malang kkn

UM BBM: Program KKN ala UM Malang yang Punya Banyak Celah dan Penuh Masalah!

7 Juni 2026
Kesamaan Prinsip From Doubter to Believer Liverpool & Tekkadan (Unsplash)

Liverpool dan Tekkadan Punya Kesamaan, Sama-sama Memegang Prinsip: From Doubter to Believer

3 Juni 2026
Di Mana Kosan Dipijak, di Situ Ada Aturan yang Nggak Ngotak: Kompilasi Peraturan Kos yang Nggak Masuk Akal

Di Mana Kosan Dipijak, di Situ Ada Aturan yang Nggak Ngotak: Kompilasi Peraturan Kos yang Nggak Masuk Akal

4 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.