Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Jika Mie Instan Adalah Agama, Agama Pertama Saya adalah Supermi

Indah Setiani oleh Indah Setiani
15 Juni 2020
A A
supermi, Jika Makanan Bisa Diberi Gelar Pahlawan, Maka Kami Akan Memilih Mie Instan Sebagai Pahlawan Anak Kosan!
Share on FacebookShare on Twitter

Perdebatan antara mana yang lebih baik antara Indomie dan Mie sedap menjadi perdebatan panjang yang tidak ada usainya dan Mojok meyediakan tempat untuk perdebatan tersebut. Meskipun tergolong perdebatann gabut yang terasa prinsipal, ini masih lebih baik dari perdebatan siapa yang lebih baik antara kampret dan cebong yang sekarang sedang hiatus sampai pilpres 2024 nanti.

Beberapa tahun lalu saya menemukan agama Indomie di Twitter, agak terlambat karena jumlah penganutnya sudah terlampau banyak meski saya yakin  ngga sebanyak jumlah penjualannya sejak berdiri. Membaca beberapa tweetnya membuat saya terpanggil secara sadar untuk menganutnya sebagai agama dengan jelas. Maka sejak saat itu saya dengan bangga mengaku beragama Indomie kepada teman-teman saya.

Tentu saja sebuah kebanggan beragama indomie ketika agama KTP saya sudah sangat melelahkan. Bukan agamanya sebenarnya yang melelahkan tetapi penganutnya yang terlalu serakah untuk memperluas jumlah pekarangannya di surga nanti. Saya kenyang saat di warkop, jalan di gang disindir bahkan diteriakin kafir ketika dengan jujur mengutarakan pilihan politik saya.

Namun kebanggan serupa kembang api, melesat ke tempat yang tinggi, memancarkan keindahannya, lalu mati. Saya pikir setelah mengaku beragama indomie maka indomie menjadi satu-satunya, nyatanya tidak, saya dipaksa fleksibel. Dengan alasan masih tinggal bersama dengan keluarga dan tidak terlibat dalam urusan belanja bulanan, yang paling penting dengan alasan diskon yang menggiurkan yang secara otomatis bisa menghemat pengeluaran bulanan, berbagai merek mie bahkan yang paling asing pun dengan manis bertengger di kabinet dapur. Suka tidak suka, satu rasa sama rasa dalam keluarga itu penting hukuman berbeda rasa serupa penghianatan, saya belum siap nama saya bertengger seorang diri di KK.

Ketika  ke Indomart (saya penggemar indomart, no debat) dan secara tidak sengaja berada di rak mie-miean, saya sering tersenyum pada satu merek mie. Bukan indomie, atau mie Sedaap tapi Supermi. Bahkan terkadang secara refleks tangan saya mengambil beberapa bungkus. Disimpan di kamar selama berminggu-minggu, jika lowong dan ingat saya akan makan. Bagi saya secara pribadi, makan Supermi bukan soal rasa seperti Indomie atau mie sedap tapi lebih kepada ingatan. Kita mungkin bisa bekrhianat pada kekasih bahkan negara tapi tidak akan mungkin pada ingatan.

Sambil menikmati supermi yang dimasak polos tanpa tambahan telur, potongan, ayam, sosis ataupun tofu saya pulang pada masa lalu. Saya sempat marasakan “hidup tenang” masa pemerintahan orde baru, Supermi adalah merek mie yang saya kenal selain Sarimi. Keluarga saya lebih senang Supermi meski terkadang saya selalu penasaran seperti apa rasa Sarimi, meski kini saya tahu Sarimi tidak lebih enak dari Supermi.

Tinggal di pedesaan di diaerah Sulawesi “hidup tenang” ala orde baru salah satu yang saya ingat adalah mati lampu di malam hari lebih sering daripada lampu menyala. Ngobrol sama bayangan, lubang hidung hitam pagi hari bukan sesuatu yang asing. Pada malam-malam seperti itulah ingatan saya semakin tajam tentang Supermi.

Malam-malam ketika keluarga saya tidak ada lauk, maka Supermi adalah pilihan. Supermi yang diseduh dengan air termos udah kayak pop mie tanpa tambahan apa pun bahkan sebungkus di makan bersama dengan dua adik saya atau mungkin sekeluarga karena yang saya tahu, makan mie sebungkus seorang diri itu agak mustahil.  Makan dengan disuap ibuk supaya tidak banyak piring kotor, itulah masa mesti balap-balapan, ngunyah sekenanya supaya cepat dapat suapan berikutnya. Bukan apa-apa pada masa itu Supermi enak banget.

Baca Juga:

Tak Ada Mie Instan yang Tetap Enak Dimakan Mentah selain Mie Sedaap Goreng

Saya Sudah Mencoba Resep Indomie Goreng Dicampur Indomie Ayam Bawang dari King Aloy, dan Rasanya Biasa Saja

Pada tahun 2000an ketika kerusuhan Poso, saya hijrah ke Jakarta (maaf, saya meolak disebut pengungsi), inilah masa saya mengenal Indomie. Saya ingat awal-awal di Jakarta, suatu kali tidak ada makanan di rumah, hanya ada Indomie karena tidak terbiasa dengan kompor gas dan sudah kadung lapar maka dengan polos saya menyeduh Indomie dengan air dispesnser yang nggak sepanas liat gebetan jalan dengan orang lain (apasih). Sepupu saya yang melihat hal tersebut nanya, “emang enak mie diseduh gitu?” dengan bangga saya jawab “enak dong” maka ketika si indomie dirasa sudah siap, saya mengajak sepupu untuk makan bersama. Namun kerutan dalam yang terjadi di wajah sepupu pada suapan pertama, dan hal itu menular pada saat itu. Seingat saya, itu kali terakhir saya menyeduh indomie dengan air dispenser, sumpah ngga enak blass.

Hidup di masa kini, Supermi serupa pondokkan di masa lalu yang masih tetap bertahan dan sesekali dikunjungi ketika ternyata kehidupan sekarang sama sulitnya. Saya pikir andai memang indomie benar-benar adalah agama yang diakui secara hukum, maka sudah pasti saya menjadi murtad karena agama pertama saya Supermi. Ditambah lagi saya pasti jadi pelacur agama, karena meski mengakui indomie sebagai agama, jujur saja saya lebih menyukai mie sedap rasa soto yang ada bubuk koyanya. Sekaligus terkadang saya masih menyebut semua jenis mie dengan supermi. Hadeh.

BACA JUGA Baik Indomie maupun Mie Sedaap, Nenek Saya Nyebutnya Tetap Sakura! atau tulisan Indah Setiani lainnya. 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 15 Juni 2020 oleh

Tags: agama indomieindomiemie sedaapsupermi
Indah Setiani

Indah Setiani

Seorang penikmat seni yang sedang menyesuaikan ritme dengan Jakarta. Menghabiskan waktu luang dengan berpindah dari galeri ke buku, atau dari film ke tempat tidur.

ArtikelTerkait

Indomie Goreng Rasa Kuah, Mi Instan Ambigu yang Nggak Laku

Indomie Goreng Rasa Kuah, Mi Instan Ambigu yang Nggak Laku

4 Oktober 2023
Mie Bangladesh Itu Cuma Versi Upgrade dari Mie Dokdok, Rasanya Mirip, Harganya Ikutan Mirip

Mie Bangladesh Itu Cuma Versi Upgrade dari Mie Dokdok, Rasanya Mirip, Harganya Ikutan Mirip

1 Maret 2024
Panduan Memasak Indomie dengan Metode Pop Mie: Cocok buat Kaum Mager Sekalian! terminal mojok.co

Panduan Memasak Indomie dengan Metode Pop Mie: Cocok buat Kaum Mager Sekalian!

17 Februari 2021
5 Makanan Lokal yang Seharusnya Jadi Varian Rasa Indomie

5 Makanan Lokal yang Seharusnya Jadi Varian Rasa Indomie

19 Maret 2022
Indomie Bukan Makanan Legendaris, Ia Cuma Simbol Krisis dan Kemiskinan Kolektif

Indomie Bukan Makanan Legendaris, Ia Cuma Simbol Krisis dan Kemiskinan Kolektif

21 September 2025
Makan Indomie Tengah Malam Adalah Budaya yang Harus Dilestarikan terminal mojok

Makan Indomie Tengah Malam Adalah Budaya yang Harus Dilestarikan

9 Juli 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

UT, Kampus Terbaik Tempat Mahasiswa Tangguh yang Diam-diam Berjuang dan Bertahan Demi Masa Depan

UT, Kampus Terbaik Tempat Mahasiswa Tangguh yang Diam-diam Berjuang dan Bertahan Demi Masa Depan

19 Januari 2026
Ilustrasi Hadapi Banjir, Warga Pantura Paling Kuat Nikmati Kesengsaraan (Unsplash)

Orang Pantura Adalah Orang Paling Tabah, Mereka Paling Kuat Menghadapi Kesengsaraan karena Banjir

14 Januari 2026
Publikasi Artikel: Saya yang Begadang, Dosen yang Dapat Nama publikasi jurnal

Publikasi Jurnal Kadang Jadi Perbudakan Gaya Baru: Mahasiswa yang Nulis, tapi Dosen yang Dapat Nama, Logikanya di Mana?

19 Januari 2026
Panduan Etika di Grup WhatsApp Wali Murid agar Tidak Dianggap Emak-emak Norak dan Dibenci Admin Sekolah

Panduan Etika di Grup WhatsApp Wali Murid agar Tidak Dianggap Emak-emak Norak dan Dibenci Admin Sekolah

16 Januari 2026
Jangan Kuliah S2 Tanpa Rencana Matang, Bisa-bisa Ijazah Kalian Overqualified dan Akhirnya Menyesal mojok.co

Jangan Kuliah S2 Tanpa Rencana Matang, Bisa-bisa Ijazah Kalian Overqualified dan Akhirnya Menyesal

14 Januari 2026
Tempat Lahirnya Para Pahlawan, Satu-satunya Hal yang Bisa Dibanggakan dari Purworejo Mojok.co

Tempat Lahirnya Para Pahlawan, Satu-satunya Hal yang Bisa Dibanggakan dari Purworejo

14 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu
  • Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026
  • Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam
  • Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?
  • Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.