Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Jangan Sombong, Jangan Sok Suci, Kita Hanya Beda Jalan dalam Memilih Dosa

Aly Reza oleh Aly Reza
12 Juni 2020
A A
sombong humblebrag merendah untuk meninggi dosa, berdosa

sombong humblebrag merendah untuk meninggi dosa, berdosa Jangan Sombong, Jangan sok Suci, Kita Hanya Beda Jalan dalam Memilih Dosa

Share on FacebookShare on Twitter

Kita tidak perlu menghakimi dosa manusia secara berlebihan. Sebab, kita hanya beda jalan dalam memilih dosa.

Sore ketika Kang Salim baru saja pulang dari menjual sekarung cabai hasil memetik di ladang pagi tadi, di cangkruk bambu depan rumah sudah bercengkerama Misbah dan Kang Amin.

“Wah, Kang Salim sudah pulang. Sini dulu Kang, ini dibawain bingkisan lemper sama tamu kita,” sambut Misbah ketika mendapati Kang Salim tiba di depan rumah.

“Ngrasani siapa tho kok kelihatannya asik gitu?” tanya Kang Salim setelah menjabat tangan Kang Amin dan Misbah secara bergantian.

“Itu loh, Kang, ada kabar nggak mengenakkan dari Gus Bidin, anaknya Kiai Basori.” Mendengar keterangan Kang Amin, Kang Salim tersedak. “Anaknya kiai tersohor dari kabupaten ini, itu tho?” tanya Kang Salim setengah tak percaya. “Emangnya ada apa dengan Gus Bidin? Saya kok ketinggalan berita.”

“Beritanya baru pagi tadi sih, Kang. Gus Bidin tertangkap tangan terlibat dalam pesta narkoba di kediaman temannya.” Misbah memvalidasi. “Miris nggak tuh, Kang? Masa anaknya kiai kelakuannya kayak gitu?”

Kang Salim berhenti mengunyah dan merenungkan sejenak apa yang baru saja dia dengar. “Menurut kalian, Gus Bidin itu sosok yang gimana tho sebelum dia terseret kasus ini?”

“Dalam beberapa kesempatan, saya sering, Kang, ketemu sama beliau. Biasanya kalau lagi hadir di majelisnya Kiai Basori.” Kang Amin menerangkan. “Orangnya ramah dan sopan sih, Kang. Dan kalau nyimak konten-konten YouTube-nya, Gus Bidin ini juga terkenal loman, hobi berderma. Tenggang rasanya tinggi.”

Baca Juga:

3 Dosa yang Sering Dilakukan para Penikmat Bakso

Manusia yang Eksploitatif Adalah Manusia yang Kegeeran

“Terus setelah ketahuan Gus Bidin ternyata ‘pemakai’, apa persepsi sampeyan tentang beliau masih tetap sama?” Pertanyaan pancingan yang ditujukan Kang Salim kepada Kang Amin.

“Waduh, jujur saya malah kecewa, Kang. Nggak nyangka aja gitu. Saya jadi hilang respek sama beliau yang dalam anggapan saya selama ini jadi sosok teladan bagi kawula-kawula milenial.”

“Sekarang mana pantes disebut teladan. Yang ada mah contoh buruk, perusak moral generasi muda,” sahut Misbah berapi-api.

“Ini nih yang disebut dengan satu kesalahan orang dicatat lekat-lekat. Diingat-ingat sampai mati. Sementara seribu kabaikan yang pernah diperbuatnya dianggap lenyap tak berbekas.”

Kang Amin dan Misbah saling bertukar pandang.

“Kecenderungan manusia memang selalu seperti itu. Nggak pernah bisa adil sejak dalam pikiran.” Kang Salim melanjutkan. “Harusnya cara pikir Kang Amin tentang Gus Bidin itu dibalik.” Kang Amin hanya mengernyitkan dahi, masih belum menimpali.

“Begini, kalau ditelisik riwayatnya, prosentase kebaikan yang pernah dilakukan Gus Bidin kan jauh lebih besar dari kesalahan yang dia perbuat. Harusnya nilai kebaikan yang besar itu bisa jadi alasan kita buat menutup atau menghapus setitik kesalahannya. Tapi yang kita lakukan malah sebaliknya. Oke, mengonsumsi narkoba tetep salah. Tapi bukan berarti kita bisa memvonis Gus Bidin sebagai perusak moral bangsa tho, ya. Sebab teladan kebaikan yang beliau syiarkan nyatanya jauh lebih banyak dari itu.”

“Masalahnya, Kang, dia ini kan anak orang berpengaruh gitu, loh.” Misbah memprotes.

“Mau anak kiai, anak konglomerat, lebih-lebih anak orang biasa kayak kita, kita ini tetaplah anak-turun Nabi Adam yang mewarisi potensi berbuat salah dan dosa. Dan jangan keliru, jangankan cuma anaknya Kiai Basori, anaknya Nabi Adam, Qabil, nyatanya jadi pembunuh. Atau Kan’an, anaknya Nabi Nuh, nyatanya jadi pembangkang ayahnya sendiri. Dan sekian contoh lain.”

“Iya juga sih, Kang. Kita ini emang lebih gampang kalau nyatet dosa orang lain. Sementara dosa sendiri menguap entah ke mana.” Timpal Kang Amin sambil menundukkan kepala. “Padahal hakikatnya manusia itu tetep punya cacat atau aib. Hanya karena kasih sayang dari Tuhan aja semua aib kita tertutupi. Tuhan aja mau menutupi aib hamba-Nya, loh. Lah kita kok ya malah mengumbar-ngumbar aib sesama. Haduh.”

“Itulah pentingnya muhasabah, seperti kata Umar bin Khattab; Hisablah atau evaluasilah dirimu sekalian sebelum dihisab di akhirat. Yang akan selamat dari hisab akhirat adalah mereka yang selama di dunia suka menghisab dirinya sendiri.”

“Apakah itu artinya kita harus kritis terhadap diri sendiri, Kang? Dalam pengertian, mencoba untuk terus melihat ke dalam, mengoreksi keburukan-keburukan diri sendiri. Sehingga kita nggak gampang menjudge buruk orang lain. Karena menyadari bahwa kita toh juga punya potensi keburukan.” Misbah mengajukan pandangan.

Kang Salim mengangguk sambil mengulum senyum.

“Lah tapi, Kang. Bukankah kalau kita terlalu kritis terhadap diri sendiri, selalu mencari-cari kesalahan diri sendiri, akibatnya nanti kan malah bisa self blashing, Kang?” sanggah Kang Amin. “Jatuhnya malah bikin kita ngerasa inferior dan rendah diri. Dan itu nggak baik buat kondisi kejiwaan, Kakangkuh.”

“Waduh, mikirmu jauh banget tho, Kang Amin,” Kang Salim garuk-garuk kepala dibuatnya. “Tapi kalau manut apa kata Ibnu Athaillah, otokritik atau kritis terhadap diri sendiri itu batasannya semata agar kita selalu eling lan waspada, nggak jumawa, lebih-lebih jadi sok suci. Misalnya saja, kita barusan ngerasa lebih bersih dari Gus Bidin, kan? Disadari atau tidak. Itu efek dari kurangnya kita melihat ke dalam, kurang muhasabah.

“Kata Ibnu Athaillah lagi; Kegigihanmu untuk meneliti aib dan kelemahan yang tersembunyi dalam dirimu jauh lebih baik daripada pengetahuan tentang makrifat ketuhanan yang kau buru.”

“Kok bisa, Kang” tanya Misbah.

“Begini, untuk mencapai maqam makrifat, seseorang haruslah memenuhi predikat taqwa terlebih dahulu. Nah, menurut Syekh Hasan al-Bashri, seseorang bisa mendapat predikat taqwa dan akan senantiasa dalam kebaikan selama dia ber-muhasabah ketat dan tak henti-hentinya menasehati dirinya sendiri ketimbang terhadap orang lain. Kalau pakai bahasa Gus Mus; keras terhadap diri sendiri, lunak kepada yang di luar. Itulah jalan agar dia sampai ke maqam taqwa yang untuk selanjutnya barulah bisa menuju titik makrifat ­ila-Allah. Jadi, sangat tepat apa kata Ibnu Athaillah tadi, bahwa muhasabah atau otokritik itu lebih baik dari mempelajari pengetahuan ketuhanan secara langsung.”

“Loh, Kang, tapi bagaimana pun, saling menasehati antar sesama kan nggak ada larangannya, tho? Hla wong dalam Q.S. al-Ashr saja disebutkan, di antara golongan orang yang tidak merugi adalah mereka yang saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran,” protes Misbah. “Umar bin Khattab juga pernah berkata bahwa saudara yang baik adalah dia yang nggak segan menegur saudaranya yang berbuat aniaya.”

“Betul, nggak ada larangan kok buat saling menasehati. Hanya saja dalam pandangan sufisme, porsi menasehati orang lain haruslah lebih kecil dari porsi menasehati diri sendiri. Yang jadi masalah, Mis, bukan ngasih nasehat atau nggak, tapi ketegaan kita mengumbar keburukan saudara kita itu, loh.”

Kang Amin dan Misbah manggut-manggut mendengarkan.

“Untunglah kalian berdua ngrasani Gus Bidinnya sama saya. Coba kalau sama Syekh Hasan al-Bashri, tanggapannya bisa lain.”

“Kalau ngrasaninya bareng beliau, emang apa yang bakal terjadi, Kang?” Tanggap Kang Amin penasaran.

“Pernah suatu ketika, ada seseorang yang menghadap ke Syekh Hasan al-Bashri, melaporkan tentang seseorang yang punya kebiasaan buruk menjelek-jelekkan beliau. Di luar dugaan, bukannya tersinggung, beliau malah marah sama si pelapor. Beliau bilang gini; Seandainya laporanmu tentang orang itu salah, kau akan ku cambuk karena telah berdusta dan menyebarkan berita bohong (hoaks). Tapi jika laporanmu ternyata benar adanya, maka kau akan tetap ku cambuk karena telah berbuat ghibah, mengumbar kejelekan orang lain di hadapanku.

“Beliau nggak berkenan jika ada yang membuka aib sesamanya di hadapan orang-orang. Lagian, kita ini kok kayak nganggur banget gitu sampai kehidupan orang lain saja ikut kita urusi,” seloroh Kang Salim. “Gus Bidin mungkin berdosa karena mengonsumsi narkoba, kita juga dosa karena telah ghibah. Jadi, jangan sombong, jangan ngerasa diri paling suci. Kita cuma beda jalan dalam memilih dosa, kok.”

Usai menuntaskan kalimat terakhirnya, Kang Salim menyomot tiga bungkus lemper dan dibawanya berlalu menuju ke dalam rumah, meninggalkan Kang Amin dan Misbah yang masih termangu.

*Rujukan: Menjadi Manusia Rohani (Ulil Abshar Abdalla) dan diolah dari Ngaji Filsafat Dr. Fahruddin Faiz edisi 249; Muhasabah Hasan al-Bashri serta penggalan ceramah Gus Mus.

BACA JUGA Kalau Ada Gelar Pak Haji, Kenapa Tidak Ada Gelar Pak Salat, Pak Puasa, atau Pak Zakat? dan tulisan Aly Reza lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 24 Oktober 2021 oleh

Tags: dosa manusiakebaikan orang lainkesalahan orang lainkhotbahmuhasabah
Aly Reza

Aly Reza

Muchamad Aly Reza, kelahiran Rembang, Jawa Tengah. Penulis lepas. Bisa disapa di IG: aly_reza16 atau Email: [email protected]

ArtikelTerkait

ngatur-ngatur tuhan ritual agam islam mojok.co

Jangan Kira Aktivitas Agama Hanya Seputar Ritual Syariat

11 September 2020
ngatur-ngatur tuhan ritual agam islam mojok.co

Siapa Kita kok Ngatur-Ngatur Tuhan?

29 Mei 2020
saya memang begitu orangnya, keburukan orang lain. teman lama ngontak lagi, orang datang pas butuh doang sifat teman menyebalkan bikin dijauhi teman suka ngomong sendiri suka cerita tanpa ditanya nggak mau dinasihati mojok.co

Betapa Sumpeknya Orang yang Hidupnya Cuma Nyari Kesalahan dan Keburukan Orang Lain

19 Juni 2020
kematian

Kematian Sungguh Tak Patut Ditangisi dan Ditakuti

26 Juni 2020
Meniti Karier Itu Harus Pelan, Nggak Usah Ngebet Pengin Terkenal

Meniti Karier Itu Harus Pelan, Nggak Usah Ngebet Pengin Terkenal

4 September 2020
mati, surga, dan neraka MOJOK

Mati Rasa pada Surga dan Neraka

3 Juli 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

3 Tempat yang Bikin Saya Merindukan Tangerang Selatan (Wikimedia Commons)

3 Tempat yang Bikin Saya Merindukan Tangerang Selatan

30 Maret 2026
5 Oleh-Oleh Khas Kebumen yang Belum Tentu Cocok di Lidah Semua Orang, Jadi Terasa Kurang Spesial Mojok.co

5 Oleh-Oleh Khas Kebumen yang Belum Tentu Cocok di Lidah Semua Orang, Jadi Terasa Kurang Spesial

30 Maret 2026
Makanan Malang yang Membuat Saya sebagai Perantau Kecewa, Sebaiknya Jangan Pasang Ekspektasi Ketinggian Mojok.co

Makanan Malang yang Bikin Pendatang seperti Saya Kecewa, Memang Sebaiknya Jangan Pasang Ekspektasi Ketinggian

1 April 2026
Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

2 April 2026
5 Oleh-Oleh Khas Salatiga yang Sebaiknya Dipikir Dua Kali sebelum Dibeli Mojok.co

5 Oleh-Oleh Khas Salatiga yang Sebaiknya Dipikir Dua Kali sebelum Dibeli

28 Maret 2026
Unpopular Opinion, Mojokerto Adalah Kota Paling Layak untuk Hidup Bahagia Sampai Tua Mojok.co

Mojokerto, Kota yang Tak Pernah Move On dari Masa Lalunya dan Tak Bisa Lepas dari Apa-apa yang Berbau Majapahit

2 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Innova Reborn: Mobil Keluarga yang Paling Punya Adab, Tidak Mengeluarkan Aura Brengsek seperti Fortuner dan Pajero
  • Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut dan Tagihan Shopee PayLater
  • Ambisi Beli Mobil Keluarga sebelum Usia 30, Setelah Kebeli Tetap Gagal Senangkan Ortu dan Jadi Pembelian Sia-sia
  • Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja
  • Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan
  • Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.