ADVERTISEMENT

3 kebiasaan warga desa yang kurang elok saat menjenguk orang di rumah sakit, terlalu ramai sampai sibuk telponan

3 kebiasaan warga desa yang kurang elok saat menjenguk orang di rumah sakit, terlalu ramai sampai sibuk telponan Mojok.co

Membicarakan warga desa tidak akan jauh-jauh dari rasa guyub. Apa-apa selalu dilakukan bersama-sama. Baik itu acara pesta, sedang berduka, kabar baik, atau kabar kurang baik, semua masyarakat desa harus senantiasa dilibatkan. Sifat “tidak perlu dibantu” seolah-olah hal yang tidak baik dalam lingkungan warga desa, sekalipun niatnya tidak ingin merepotkan. 

Akan tapi ketahuilah, dalam beberapa cara hidup yang demikian memang tidak bikin semua orang nyaman. Dan, mohon maaf, sebaliknya malah menyusahkan, bukan saja untuk diri kita sendiri, tapi juga orang lain. 

ADVERTISEMENT

Salah satunya saat menjenguk orang sakit. Menurut saya, ada beberapa hal yang perlu diubah dari kebiasaan masyarakat desa saat menjenguk orang sakit. Sebab, kebiasaan ini kurang elok. Berikut saya jelaskan satu per satu!

#1 Rombongan sampai satu mobil pick up

Hal pertama yang perlu dibahas yakni kebiasaan warga desa yang ke rumah sakit dengan cara rombongan. Rombongan ini bukan hanya tujuh atau delapan orang, tetapi sampai belasan. Yang sering pula terjadi, mereka berangkat ke rumah sakit bukan menggunakan kendaraan pribadi, melain menggunakan mobil pick up tanpa tutup. Bahkan, sampai banyak yang harus berdiri.

Alasan utama saya melarang hal ini karena keselamatan. Transportasi macam ini kurang aman. Selain itu, warga desa berbondong-bondong ke rumah sakit bikin ramai, suasana jadi kurang kondusif untuk pasien.

Di daerah saya, hampir semua depan pintu kamar pasien bahkan selalu disediakan tikar karena takut ada yang ingin menjenguk. Jika kalian melihatnya sendiri, pokoknya seperti acara selamatan, semua duduk seperti di kediaman tuan rumah sendiri. Padahal, rumah sakit ini ya banyak orang sakit. Kasian mereka dong, kasian juga para tenaga medisnya,

Jadi, saran saya, kalau ada niat untuk menjenguk tetangga di rumah sakit. Langsung berangkat saja, tidak perlu rombongan ngajak yang lain. Atau, tunggu saja di rumahnya setelah ia bisa pulang.

#2 Warga desa membawa oleh-oleh berlebihan

Membawa buah tangan saat menjenguk orang sakit memang baik, tapi jika berlebihan juga tidak baik. Kalian sudah tahu bahwa sebagai masyarakat desa, orang sakit yang akan menjenguk bukan cuma satu atau dua orang, tetapi bisa puluhan. Nah, hal ini akan menjadi masalah jika semua yang menjenguk itu membawa oleh-oleh.

Misal, kemarin saya sempat menjaga orang tua saya yang sakit selama tiga hari. Saat hari pertama, saya masih biasa saja menemui kerabat-kerabat yang menjenguk. Barulah memasuki hari kedua dan ketiga, saya mulai kewalahan, ditambah lagi oleh-oleh yang mereka bawa. 

Ini rumah sakit, di mana kami bisa simpan semua itu? Bawaan orang-orang seperti mau piknik aja. Alhasil, beberapa makanan akhirnya mubazir, basi. Sayang kan. 

ADVERTISEMENT

Ini tidak terjadi pada saya saja ya. Hampir semua keluarga pasien yang bersebelahan dengan saya juga mengalami hal itu. Hmm, di sini saya mulai heran. Semua merasa kesusahan, tapi kok budaya ini terus bertahan ya?

#3 Tak henti-henti ambil dokumentasi

Saya tidak tahu, apakah yang terakhir ini terjadi di seluruh masyarakat desa di Indonesia. Namun, dalam kasus saya di Madura, warga desa yang menjenguk sangat sibuk untuk ambil dokumentasi. Mulai dari pintu masuk, jalan menuju ke kamar pasien, sampai ke dalam ruang rawatnya juga divideo dan difoto. Ya, ada yang sembunyi-sembunyi, ada pula yang terlihat terang-terangan.

Ada pula meskipun tidak mengambil dokumentasi, mereka tak henti-henti melakukan panggilan video dengan gawainya. Iya kalau tidak ramai. Lah, ini kadang sampai ramai. Padahal, sebetulnya di berbagai sudut ruangan sudah tertera bahwa dilarang mengambil dokumentasi dalam bentuk apapun. Tujuannya tentu untuk kenyamanan bersama, baik pasien, perawat, dan pengunjung. Tapi, ketika ditegur oleh perawat, katanya kasihan kerabat yang tidak bisa menjenguk. Makanya minta divideokan. Jadi bingung, menjenguk langsung bikin rumah sakit ramai. Tak menjenguk malah melanggar aturan.

Demikianlah kebiasaan warga desa yang menurut saya kurang elok saat menjenguk orang sakit. Ya, saya harap kita bisa lebih bijak lagi saat ingin melakukan sesuatu, dalam hal ini ya berkunjung ke rumah sakit. 

Sebab, selain punya kewajiban menjaga keguyuban antar tetangga, kita juga punya kewajiban menjaga agar orang lain tetap merasa nyaman dan tenang, apalagi saat kesehatan mereka terganggu. Sekian!

Penulis: Abdur Rohman
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Pengalaman membangun rumah di desa, mahal di mental karena ada saja konfliknya  dan artikel menarik lainnya di TERMINAL MOJOK.

Terakhir diperbarui pada 2 November 2026 oleh .

Abdur Rohman

Seorang warga sipil Bangkalan dengan selera yang kontradiktif: mencintai segala jenis olahan mie, namun memiliki alergi akut terhadap mie-literisme.