Ada satu pencapaian besar anak lulusan SMA yang jarang sekali dapat tepuk tangan, yaitu langsung dapat kerja dan punya penghasilan sendiri. Kenapa? Karena “normalnya”, lulus SMA ya kuliah.
Tidak ada toga untuk dipajang di feeds Instagram, tidak ada seremoni wisuda meriah dengan buket bunga, dan jelas tidak ada gelar akademis yang bisa diselipkan di belakang nama. Yang ada hanyalah rutinitas bangun pagi, memakai baju rapi, berangkat kerja, gajian di akhir bulan, lalu mengulanginya lagi esok hari.
Bagi anak yang mengalaminya, ini adalah kemenangan kecil yang patut dirayakan. Namun, bagi sebagian masyarakat kita, pencapaian ini sering dianggap “kurang megah”.
“Lho, kok nggak kuliah? Eman-eman lho…”
Pertanyaan itu meluncur begitu santai. Padahal bagi anak yang baru saja berjuang menembus kerasnya dunia kerja usai lulus SMA, kalimat itu rasanya seperti vonis hakim, kamu telah mengambil jalan yang salah.
Seolah-olah setelah tiga tahun mengenakan seragam putih-abu-abu, cuma ada satu jalur ketaatan yang diakui dunia yaitu masuk perguruan tinggi. Kalau tidak, silakan bersiap menerima tatapan iba, ceramah panjang, atau dibandingkan dengan anak tetangga yang baru diterima di kampus negeri.
Seakan-akan kuliah adalah satu-satunya jalan menuju surga
Kita hidup di tengah masyarakat yang mengagungkan ijazah sarjana sebagai satu-satunya tiket menuju masa depan cerah. Kuliah dianggap jaminan mutu, pintu gerbang kesuksesan, sekaligus bahan pamer paling ampuh saat arisan keluarga. Lulusan SMA langsung kerja tentu tidak masuk hitungan.
Tentu tidak ada yang salah dengan kuliah. Pendidikan tinggi memang membuka banyak kesempatan. Masalahnya muncul ketika pilihan itu dipaksakan jadi kewajiban sosial. Siapa pun yang memilih jalur berbeda otomatis dicap bernasib malang.
Padahal, kondisi finansial dan prioritas tiap orang itu beda-beda.
Ada anak yang sebenarnya pintar, tapi sadar kondisi ekonomi keluarga sedang tidak baik-baik saja. Daripada memaksakan diri bikin orang tua terlilit utang demi biaya semesteran, dia memilih bekerja. Ada juga yang memang ingin membiayai adiknya sekolah, atau sekadar ingin mandiri secara finansial secepat mungkin.
Sayangnya, alasan seserius itu kerap dipatahkan oleh pertanyaan dangkal: “Kenapa nggak nyoba beasiswa aja?”
Orang yang bertanya sering kali tidak mau tahu seberapa berdarah-darahnya pertimbangan yang sudah diambil anak tersebut. Mereka cuma fokus pada satu hal, yaitu anak ini tidak kuliah. Dari satu hal itu, masa depannya langsung diramal suram. Lulusan SMA kerja mentereng pun, tetep dianggap suram.
Bekerja usia 18 tahun itu juga proses belajar, bukan berhenti tumbuh
Ada stigma bahwa orang yang tidak mengecap pendidikan tinggi pasti bakal tertinggal jauh dalam hal kemampuan berfikir. Anggapan ini sangat tidak adil.
Seseorang yang langsung terjun ke dunia kerja selepas SMA juga sedang mengalami proses “kuliah”, bedanya ruang kelas mereka adalah dunia nyata. Mereka belajar cara menghadapi tekanan atasan, mengelola gaji pertama agar cukup sampai akhir bulan, berkomunikasi dengan berbagai karakter orang, hingga memahami cara bertahan hidup di tengah kerasnya persaingan.
Pengalaman kerja memang tidak otomatis membuat seseorang lebih hebat dari lulusan sarjana. Namun hal yang sama juga berlaku sebaliknya: gelar sarjana tidak pernah menjamin seseorang otomatis lebih bijak dan sukses daripada yang tidak berkuliah.
Mempertahankan pekerjaan dan bisa berdiri di atas kaki sendiri pada usia 18 atau 19 tahun itu bukan hal sepele. Ada tanggung jawab besar yang sedang mereka pikul yaitu sebuah kedewasaan yang belum tentu dimiliki oleh mereka yang sabtu-minggunya masih sekadar nongkrong di kafe menggunakan uang saku orang tua.
Masa depan itu bukan lomba lari dengan rute seragam, lulusan SMA langsung bekerja bukan musibah
Persoalannya sebenarnya sederhana, kita ini terlalu hobi membanding-bandingkan rute hidup orang lain.
Ketika ada anak diterima di PTN favorit, kita merayakannya dengan syukuran. Namun ketika ada anak lulusan SMA diterima kerja sebagai kasir, staf toko, atau buruh pabrik dan mulai menghasilkan uang sendiri, respon kita justru rasa kasihan.
Kenapa standar keberhasilan harus sesempit itu?
Hidup ini maraton dengan garis start dan rute yang berbeda-beda untuk tiap orang. Seseorang yang mulai bekerja di usia 18 tahun bisa jadi sedang membangun pondasi bisnisnya sendiri di usia 25 tahun. Sementara mereka yang lulus kuliah tepat waktu mungkin baru mulai meraba-raba arah kariernya. Tidak ada yang tahu pasti.
Pada akhirnya, anak-anak lulusan SMA yang memilih langsung bekerja tidak butuh ceramah condescending tentang betapa pentingnya gelar sarjana. Mereka sudah tahu itu, dan mereka sudah memperhitungkan keputusannya matang-matang.
Yang mereka butuhkan sederhana: dihentikannya pandangan sebelah mata dan berikan mereka ruang untuk membuktikan pilihannya.
Sebab, tidak semua orang yang tidak kuliah sedang kehilangan masa depan. Kadang-kadang, mereka hanya sedang menempuh jalan hidup yang belum sanggup dipahami oleh pikiran orang-orang di sekitarnya.
Penulis: Felinna Agicia Syahira
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Cerita Lulusan SMA yang Berhasil Mapan Tanpa Ijazah S1, tapi Diam-Diam Menyesalinya dan Merasa Iri pada Sarjana dan artikel menarik lainnya di Terminal Mojok