ADVERTISEMENT

3 keunggulan Lamongan yang terus terpendam karena warlok pesimis dengan daerahnya sendiri

3 keunggulan Lamongan yang terus terpendam karena warlok pesimis dengan daerahnya sendiri Mojok.co

Lamongan sering dipandang sebelah mata oleh banyak orang. Tidak terkecuali warganya sendiri. Bagaimana tidak, Lamongan kerap disandingkan dengan daerah-daerah tetangga yang megah. 

Lamongan kerap dibanding-bandingkan dengan Gresik yang penuh dengan industri raksasa. Tuban dengan destinasi wisata religi dan pesisirnya. Tidak lupa Mojokerto yang megah dengan deretan pengalaman visual yang ciamik. 

ADVERTISEMENT

Kondisi yang di antara oleh daerah-daerah “sangar” tadi membuat Lamongan dianggap sekadar kabupaten perlintasan alias sekadar lewat. Padahal kalau mau jujur dan jeli melihatnya, Lamongan itu punya banyak keunggulan istimewa. Sayangnya, keunggulan tersebut kerap terkubur atau luput dari rasa bangga warganya sendiri.

#1 Lamongan urat nadi di jalur utama Pantura

Siapa sangka kabupaten yang sering jadi bahan lelucon ini ternyata punya posisi geografis yang sangat strategis di gerbang pesisir utara Jawa.

Lamongan berada tepat di koridor utama Pantura. Mau geser ke Surabaya? Dekat dan terjangkau, tinggal meluncur sekitar satu sampai dua jam. Mau menuju pusat industri Gresik? Tinggal lurus. Mau menyeberang ke arah barat menuju Tuban hingga Jawa Tengah? Jalurnya lurus dan sangat terbuka.

Artinya, tinggal di Lamongan itu sebenarnya tidak pernah terisolasi dari peradaban kota besar. Mobilitas kita untuk urusan pekerjaan, pendidikan, hingga belanja barang berada dalam jangkauan yang sangat masuk akal. Sayangnya, karena kita sudah terlalu terbiasa melintasi jalur ini saban hari, kita lupa bahwa kemudahan akses gerbang Pantura ini adalah sebuah keunggulan konektivitas yang tidak dimiliki oleh daerah-daerah pedalaman yang terpencil.

#2 Lamongan punya transportasi publik yang lengkap, dari kereta utama sampai Trans Jatim

Kadang hal yang dianggap angin lalu oleh warlok adalah keberadaan infrastruktur dan moda transportasi publik. Daerah ini termasuk komplit lho dibanding daerah-daerah lain.

Coba bayangkan, Lamongan punya stasiun kereta api yang melayani rute strategis dari timur ke barat. Mau ke Surabaya, Semarang, hingga Jakarta? Tinggal beli tiket kereta di Stasiun Lamongan, Babat, atau titik stasiun lainnya. 

Soal mobilitas lokal antarwilayah yang murah meriah, ada bus Trans Jatim yang menjangkau koridor Pantura hingga pusat kota.

 Memang, kita mungkin belum punya jalan tol langsung di tengah kota atau bandara internasional sendiri. Tapi memiliki akses rel kereta api aktif, armada Trans Jatim yang terjangkau, dan jalur nasional di sepanjang wilayah adalah kemewahan tersendiri. Bandingkan dengan Tuban yang tidak ada rel kereta api sama sekali, alhasil warganya harus menempuh perjalanan berjam-jam cuma buat menemukan stasiun!

ADVERTISEMENT

#3 Kedaulatan pangan mandiri, lumbung padi sekaligus pusat hasil laut

Satu kelebihan mendasar dari Lamongan adalah kedaulatan dan keanekaragaman pangan. Soal ini Lamongan benar-benar luar biasa. Sayangnya warlok kerap melupakan keunggulan ini. Mereka terlalu sibuk ngulik kelemahan Lamongan dibanding kota besar lain. 

Lamongan itu ibarat daerah berkah yang punya dua mesin pangan sekaligus: sektor pertanian darat dan sektor perikanan laut/tambak. Di Jawa Timur, Lamongan konsisten memegang predikat sebagai salah satu lumbung beras terbesar. Di saat yang sama, wilayah pesisirnya di Paciran dan Brondong menghasilkan tonase ikan laut dan olahan perikanan yang melimpah ruah. 

Dampaknya ke kehidupan harian? Harga bahan pokok di pasar-pasar lokal cenderung lebih terjangkau dan ketersediaan pangan selalu melimpah. Mau cari ikan segar, beras bagus, hingga sayuran, semuanya tersedia dari tanah dan laut sendiri. Kedaulatan pangan semacam ini adalah privilese. Bayangkan, di kota besar, hampir semua bahan makanan mahal karena bergantung pada daerah. 

Warlok kurang membuka mata 

Pada akhirnya bukannya Lamongan tidak punya daya tarik atau kalah kelas. Hanya saja, banyak dari kita yang terlalu sibuk mengagumi gemerlap kota orang lain. Kita sampai lupa kalau tanah tempat kita berpijak ini menyimpan banyak kemudahan dasar yang patut disyukuri.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti memandang daerah ini cuma sebagai kabupaten perlintasan sepi. Mari akui bersama bahwa ketenangan dan kesederhanaan Lamongan bukan berarti ia kosong tanpa apa-apa.

Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Sebagai Warga Asli Lamongan, Saya Risih ketika Ada yang Menyebut Lamongan Kota dan artikel menarik lainnya di TERMINAL MOJOK.

Terakhir diperbarui pada 22 Oktober 2026 oleh .

M. Afiqul Adib

Seorang tenaga pendidik lulusan UIN Malang dan UIN Jogja. Saat ini tinggal di Lamongan. Mulai suka menulis sejak pandemi, dan entah kenapa lebih mudah menghapal kondisi suatu jalan ketimbang rute perjalanan.