Ada kabar baik untuk warga Batang. Daerah yang selama ini lebih akrab dengan pantura, sawah, tambak, dan jalanan yang dilalui truk-truk besar itu kabarnya bakal menjadi rumah bagi pusat data kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI). Wah, keren. Batang sebentar lagi akan ikut masuk dalam percakapan tentang masa depan teknologi dunia.
Kalau mendengar kata AI, yang terbayang mungkin robot canggih, komputer supercepat, atau ChatGPT yang bisa diajak mengerjakan tugas kuliah sampai tengah malam. Sementara itu, kalau mendengar kata Batang, sebagian orang mungkin membayangkan perjalanan mudik, kawasan industri, atau warung makan di pinggir jalur pantura. Dua dunia yang sekilas berbeda ini sekarang berpeluang bertemu.
Namun, sebelum terlalu jauh membayangkan Batang menjadi Silicon Valley-nya Jawa Tengah, ada baiknya kita berhenti sebentar. Sebab, pertanyaan paling penting bukan cuma apakah Batang sanggup menjadi tempat berdirinya pusat data AI, melainkan juga apakah kehadiran proyek itu nantinya benar-benar akan membawa manfaat bagi warga Batang.
Investasi triliunan rupiah di Batang, lalu kita harus tepuk tangan?
Kabar mengenai rencana pembangunan pusat data AI di kawasan industri Batang bukan isapan jempol belaka. Warta Ekonomi pada 9 September 2026 memberitakan rencana investasi sekitar Rp82 triliun untuk pembangunan hyperscale data center berbasis AI di KEK Industropolis Batang. Dalam pemberitaan tersebut, proyek yang dikaitkan dengan perusahaan patungan Zankore itu ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.
Angka Rp82 triliun tentu bukan angka yang bisa dianggap receh. Membayangkannya saja mungkin sudah membuat sebagian orang ingin segera mengganti kalkulator dengan komputer kuantum. Pemerintah dan pengelola kawasan industri tentu punya alasan untuk menyambut peluang investasi berteknologi tinggi seperti ini.
Akan tetapi, kita perlu membedakan antara rencana investasi dan proyek yang sudah benar-benar terealisasi. Republika pada 19 Oktober 2026 memberitakan bahwa Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyatakan lahan untuk pusat data AI di Batang tersedia, tetapi proyeknya masih dalam tahap kajian. Sebelumnya, Republika juga melaporkan bahwa pemerintah daerah belum mengetahui secara pasti sejumlah detail proyek tersebut.
Artinya, kita memang boleh berharap, tetapi tidak perlu buru-buru menganggap semua rencana itu sudah menjadi kenyataan. Investasi yang diumumkan lewat berita belum otomatis berubah menjadi lapangan kerja, peningkatan pendapatan warga, atau kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan.
Sebab, angka investasi yang besar memang mengesankan jika dicetak dalam siaran pers. Namun, bagi warga yang sedang mencari pekerjaan, angka itu baru akan terasa ketika ada kesempatan kerja yang bisa diakses. Bagi pedagang kecil, manfaatnya baru terasa ketika ada peningkatan aktivitas ekonomi yang benar-benar sampai ke lapak mereka. Dan bagi warga yang tinggal di sekitar kawasan, investasi akan terasa manfaatnya jika pembangunan tidak justru menambah persoalan baru.
Jangan sampai warga hanya kebagian cerita bahwa daerahnya sudah semakin modern, sementara manfaat ekonominya lebih banyak berputar di antara perusahaan, pemilik modal, dan orang-orang yang sejak awal memang sudah punya akses.
AI canggih, air Batang bagaimana?
Ada persoalan lain yang tidak kalah penting, yakni air dan energi.
Dalam pemberitaan Republika pada 7 Oktober 2026, rencana pembangunan pusat data AI di kawasan industri Batang disebut membutuhkan pasokan air yang cukup besar serta listrik yang andal. Pihak Dinas ESDM Jawa Tengah juga menyatakan bahwa mereka telah menerima informasi mengenai rencana tersebut, meskipun keterlibatan mereka dalam pembahasan proyek masih terbatas pada tahap itu.
Ini penting untuk diperhatikan. Pusat data bukan sekadar gedung berisi komputer yang bisa dinyalakan, ditinggal, lalu menghasilkan keajaiban digital. Infrastruktur seperti ini memerlukan listrik dalam jumlah besar untuk mengoperasikan server, sementara sistem pendinginnya dapat membutuhkan air, bergantung pada teknologi yang digunakan.
Di sinilah pertanyaan tentang pembangunan menjadi lebih menarik. Apakah kebutuhan air proyek akan dipenuhi tanpa mengganggu kebutuhan masyarakat? Bagaimana pengelolaan sumber airnya? Apakah penggunaan air tanah akan dibatasi dan diawasi? Lalu, dari mana pasokan listriknya berasal, dan bagaimana dampaknya terhadap target pengurangan emisi?
Pertanyaan-pertanyaan itu bukan berarti kita sedang mencari-cari alasan untuk menolak investasi. Justru sebaliknya, pertanyaan tersebut perlu diajukan sejak awal agar pembangunan tidak menimbulkan persoalan yang baru disadari setelah semuanya telanjur berjalan.
Kita tentu tidak ingin teknologi yang katanya membawa masa depan malah membuat warga harus berhadapan dengan persoalan air bersih. Akan menjadi ironi jika kecanggihan komputasi meningkat pesat, tetapi masyarakat justru harus semakin cermat menghitung kebutuhan air untuk kehidupan sehari-hari.
Karena itu, sebelum proyek benar-benar berjalan, informasi mengenai kebutuhan air, sumber energi, pengelolaan limbah, serta kajian dampak lingkungannya perlu disampaikan secara terbuka. Bukan hanya kepada investor, tetapi juga kepada masyarakat yang akan hidup berdampingan dengan fasilitas tersebut.
Jangan-Jangan AI-nya pintar, rekrutmen warganya tetap sulit
Hal lain yang patut dipikirkan adalah lapangan kerja.
Selama ini, investasi industri kerap disambut dengan harapan bahwa semakin banyak perusahaan masuk, semakin banyak pula warga yang bisa bekerja. Harapan itu wajar. Tidak ada yang salah dengan keinginan masyarakat agar pembangunan kawasan industri ikut memperbaiki taraf hidup mereka.
Namun, pusat data AI berbeda dari pabrik yang mempekerjakan banyak operator untuk menjalankan lini produksi. Fasilitas semacam ini membutuhkan tenaga profesional di bidang teknologi informasi, jaringan, keamanan siber, kelistrikan, pendinginan, dan pemeliharaan infrastruktur. Kebutuhan tenaga kerjanya bergantung pada skala dan model operasional fasilitas tersebut.
Dengan kata lain, nilai investasi yang besar tidak otomatis berarti jumlah pekerjaan yang tercipta juga besar. Apalagi, tidak semua posisi yang tersedia nantinya bisa langsung diisi oleh lulusan sekolah atau perguruan tinggi di Batang.
Kalau pemerintah daerah benar-benar ingin menjadikan investasi ini sebagai peluang bagi masyarakat, persiapan tenaga kerja lokal seharusnya dimulai sejak sekarang. Sekolah menengah kejuruan, perguruan tinggi, balai latihan kerja, dan perusahaan perlu membangun hubungan yang lebih konkret. Warga tidak cukup hanya diberi tahu bahwa masa depan teknologi sedang datang. Mereka juga perlu mendapatkan bekal agar bisa ikut bekerja di dalamnya.
Selain pekerjaan teknis, peluang ekonomi lokal juga perlu dipikirkan. Usaha katering, penyediaan kebutuhan operasional, transportasi, jasa kebersihan, dan usaha kecil lainnya mungkin dapat mengambil bagian apabila kebutuhan proyek dan aturan pengadaannya memungkinkan. Namun, peluang seperti itu tidak akan muncul secara otomatis hanya karena sebuah fasilitas besar dibangun.
Pemerintah dan pengelola kawasan perlu menjelaskan bagaimana masyarakat lokal dapat mengakses kesempatan tersebut. Jangan sampai warga Batang hanya menjadi penonton ketika daerahnya sendiri menjadi tempat berdirinya infrastruktur teknologi bernilai triliunan rupiah.
Pembangunan bukan cuma soal gedung yang berdiri
Batang tentu tidak harus menolak kemajuan teknologi hanya karena ada pertanyaan mengenai air, listrik, atau lapangan kerja. Investasi pusat data AI bisa menjadi peluang untuk memperkuat infrastruktur digital dan membuka kesempatan ekonomi baru. Yang perlu dipastikan adalah apakah peluang itu dikelola dengan perencanaan yang matang dan berpihak pada kepentingan masyarakat.
Justru karena proyek ini masih berada dalam tahap kajian, sekaranglah waktu yang tepat untuk membicarakan berbagai hal yang mungkin terlupakan ketika semua orang terlalu sibuk membicarakan nilai investasinya.
Pemerintah perlu membuka informasi yang relevan kepada publik, memastikan kajian lingkungan dilakukan secara serius, menjelaskan rencana pemenuhan kebutuhan air dan listrik, serta menyusun strategi agar masyarakat lokal memperoleh kesempatan yang masuk akal untuk terlibat. Masyarakat juga perlu mendapatkan ruang untuk menyampaikan kekhawatiran dan pendapat sebelum keputusan penting diambil.
Sebab, ukuran keberhasilan pembangunan tidak semestinya berhenti pada berapa triliun rupiah investasi yang masuk atau seberapa canggih teknologi yang beroperasi. Kita juga perlu melihat apakah kualitas hidup masyarakat membaik, apakah sumber daya alam tetap terjaga, dan apakah warga memiliki kesempatan yang lebih baik untuk menata masa depan mereka.
Batang boleh saja menjadi tempat berdirinya pusat data AI. Bahkan, kita patut berharap proyek tersebut bisa membawa manfaat yang nyata. Namun, kebanggaan terhadap investasi seharusnya berjalan beriringan dengan keberanian untuk bertanya.
Sebab, kalau kelak pusat data itu benar-benar beroperasi, jangan sampai yang paling cerdas di Batang justru mesinnya, sementara kita sebagai masyarakat hanya diminta percaya bahwa semua ini pasti membawa kebaikan.
Teknologi boleh semakin pintar. Investasi boleh semakin besar. Namun, pembangunan yang baik tetap harus mampu menjawab pertanyaan sederhana: sebenarnya, siapa yang paling merasakan manfaatnya?
Penulis: May Naila Khoiroh
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Sisi Gelap Kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Kampus Islami yang Nggak Islami dan artikel menarik lainnya di Terminal Mojok