ADVERTISEMENT

Cerita pilu warlok Sumenep Madura tanpa keberadaan Jembatan Suramadu

Cerita pilu warlok Sumenep Madura tanpa keberadaan Jembatan Suramadu Mojok.co

Membaca tulisan Mojok yang berjudul Membayangkan Bangkalan Madura tanpa Jembatan Suramadu: mungkin malah baik-baik saja, warlok bisa hidup lebih tenang, menyayat hati saya. Mungkin Bangkalan akan baik-baik saja tanpa Suramadu, tapi tidak dengan warga yang hidup di Sumenep, Madura. 

Sumenep adalah kabupaten yang berada di ujung timur Pulau Madura. Kami jauh dari Jembatan Suramadu, tapi mungkin yang paling membutuhkannya. Sebab, tanpanya, perjalanan orang-orang ke Sumenep Madura terasa semakin menyiksanya. 

ADVERTISEMENT

Jadi, saya tidak setuju kalau mengatakan tanpa adanya jembatan ini, orang Madura akan baik-baik saja. Mungkin bagi orang Bangkalan, yang lokasinya paling dekat dengan Surabaya, akan merasa baik-baik saja. Tapi, tidak dengan orang Sumenep. 

Itu mengapa, saya selalu kesal jika melihat komentar yang meminta Jembatan Suramadu ditutup saja kalau orang Madura lagi bikin masalah di Surabaya. 

Mbok ya pahami dulu bagaimana susahnya kehidupan orang Madura, utamanya orang Sumenep kalau misalnya Jembatan Suramadu ditutup. Sebab, infrastruktur satu ini adalah jantung dari mobilitas orang Sumenep. FYI, perjalanan dari Sumenep–Surabaya memakan waktu 5 jam, itu kalau tidak macet. Kalau macet, bisa 6 jam. 

Jembatan Suramadu sangat membantu, terutama saat kondisi kritis

Menuliskan hal ini membuat saya mengingat-ingat kembali pengalaman saya menggunakan kapal feri ketika hendak bepergian ke Surabaya dari Madura.  Saat pelabuhan sedang ramai, penyebrangan ke Surabaya bisa memakan waktu 1 jam. Bayangkan, jika sedang membawa orang sakit yang kritis, kondisinya akan semakin genting. 

Saya teringat peristiwa pilu ketika sepupu saya sedang kritis. Dia kena DBD dan harus segera dirujuk di rumah sakit Surabaya. Waktu itu, Jembatan Suramadu masih dalam tahap pembangunan. 

Akhirnya, sepupu saya tidak terselamatkan. Dia terlambat mendapat penanganan yang tepat. Kemacetan jalan dan padatnya Pelabuhan Kamal jadi salah satu faktorny. 

Kejadian serupa juga pernah dialami oleh saudara mbah saya. Saudara mbah saya sedang sakit jantung. Lalu, diminta untuk dirujuk ke rumah sakit Surabaya. Seperti sepupu saya, perjalanan tersendat karena banyak titik macet dan penyeberangan di Pelabuhan Kamal sangat ramai. Akhirnya, setelah beberapa hari di rumah sakit, beliau meninggal dunia. Bagi pasien jantung, penanganan awal yang lambat berpengaruh begitu besar pada kondisi pasien setelahnya.  

Bayangkan ada dua kejadian malang di keluarga saya akibat mobilitas Sumenep ke Surabaya tidak sat-set karena Jembatan Suramadu belum dibangun. Waktu jembatan ini sudah ada, mobilitas ke Surabaya hanya memakan waktu 10 menit saja. Sedangkan jika naik kapal, seingat saya waktu antrian paling sebentar bisa 20 menit. Kalau lagi ramai, di atas 30 menit. 

ADVERTISEMENT

Saya jadi membayangkan, ada berapa banyak orang Sumenep dulu, yang harus mengalami duka akibat faktor serupa seperti yang dialami oleh keluarga saya. Suatu ironi.

Mobilitas warlok sangat terbantu Jembatan Suramadu

Keberadaan Jembatan Suramadu bukan hanya membantu manakala kondisi kritis. Keberadaannya juga membantu dalam kondisi terdesak. Pada 17 September 2018 malam, mbak saya sedang melaksanakan resepsi pernikahan. 

Posisi saya, di pagi harinya masih di Surabaya karena ada tugas presentasi. Akhirnya saya berangkat ke Sumenep  pukul 12 siang. Saya tiba di Sumenep pukul 17 siang. Masih ada waktu 2 jam buat saya persiapan ke resepsi. 

Kepalangnya, tanggal 18 September saya harus ada di Surabaya. Soalnya, ada tugas mata kuliah Pengantar Ilmu Politik yang harus dikerjakan di tempat dan dikumpulkan waktu itu juga. Akhirnya, saya berangkat dari Sumenep, tanggal 18 September pukul 01.00 dini hari. Lalu, tiba di Surabaya pukul 05.00. 

Jadwal padat saya waktu itu tidak mungkin bisa diatasi dengan baik kalau tidak ada Jembatan Suramadu. Saya tidak menjamin, kalau berangkat dari Surabaya pukul 12.00 dan masih mengandalkan penyebrangan kapal, bisa sampai di Sumenep pukul 17.00. Sama halnya, saya juga tidak bisa menjamin, bisa mengerjakan tugas Pengantar Ilmu Politik, kalau masih mengandalkan penyebrangan kapal. 

Pariwisata Sumenep Madura ikut menggeliat

Dari sektor pariwisata, keberadaan Jembatan Suramadu memberi pengaruh ke wisata di Sumenep. Percuma Sumenep, banyak mempromosikan dan membuka wisata kalau tidak ada Jembatan Suramadu. Saya rasa semua akan menjadi sia-sia.

Saya teringat dengan ucapan keluarga Saya di Lumajang. Mereka mau  ziarah ke tempat-tempat ziarah di Sumenep karena ada Jembatan Suramadu. Kata dia, kalau nggak ada, mereka sengka (malas). Saya melihat sendiri, bagaimana kenaikan jumlah peziarah setelah infrastruktur satu ini selesai dibangun. 

Ketika ada banyak peziarah datang ke Sumenep, maka pedagang-pedagang kecil di sekitar tempat ziarah akan terbantu perekonomiannya. Misalnya, saat saya mengantarkan mbak membeli baju Sakera buat anaknya di area Asta Tinggi, saya melihat banyak rombongan peziarah membeli oleh-oleh di pedagang sekitar sana. 

Memang dalam aspek ekonomi, keberadaan Jembatan Suramadu memiliki peran signifikan. Sebagaimana harga barang-barang di Sumenep, harganya bisa sama dengan barang di Jawa atau paling tidak selisih harganya tak terlalu jauh. 

Dalam teori ekonomi, ketersediaan  infrastruktur yang menunjang distribusi, bisa menekan harga jual barang. Sebab, waktu tempuh lebih sebentar sehingga biaya bahan bakar bisa ditekan. 

Saya yakin banyak orang terbantu dengan keberadaan Jembatan Suramadu

Diskursus Jembatan Suramadu, seharusnya bukan lagi berbicara penting dan tidak penting atau layak ditutup atau terus dibuka. Saya yakin semua orang Madura merasa terbantu hidupnya dengan adanya jembatan ini. Coba tanyakan saja kepada orang Bangkalan yang kerjanya di Surabaya dan PP, pasti hidupnya terbantu dengan adanya Jembatan Suramadu. 

Harusnya, diskursus Jembatan Suramadu dibawa ke ranah bagaimana meningkatkan SDM di Madura. Sebab, kekesalan orang Surabaya terhadap orang Madura, ya karena faktor SDM-nya. Ketertinggalan ekonomi Madura dengan Surabaya, ya karena faktor SDM-nya. Apakah ada faktor Jembatan Suramadu? Jelas tak ada. Jembatan Suramadu hanya alat yang menunjang kehidupan masyarakat.

Penulis: Akbar Mawlana
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Saya orang Madura dan mengakui kalau kami memang keras kepala   dan artikel menarik lainnya di TERMINAL MOJOK.

Terakhir diperbarui pada 22 Oktober 2026 oleh .

Akbar Mawlana

Alumni S1 Sosiologi dan sekarang menjadi pegiat literasi. Suka menulis isu sosial.