ADVERTISEMENT

Membayangkan Bangkalan Madura tanpa Jembatan Suramadu: mungkin malah baik-baik saja, warlok bisa hidup lebih tenang

Membayangkan Bangkalan Madura tanpa Jembatan Suramadu: mungkin malah baik-baik saja, warlok bisa hidup lebih tenang Mojok

Dahulu Jembatan Suramadu diproyeksikan akan meningkatkan kondisi sosio-ekonomi warga Madura umumnya, dan Bangkalan khususnya. Dengan terhubunganya pulau kecil ini dengan ibu kota provinsinya, yakni Surabaya, maka mobilitas barang dan penduduknya akan lebih mudah. Tapi, apakah kini setelah Suramadu dibuka Madura sudah sesuai harapan? Saya rasa masih jauh.

Yah, jangankan mengubah Madura, nasib Bangkalan yang jadi gerbang masuk Suramadu  saja kondisinya masih tetap, nggak ada perubahan yang signifikan.

ADVERTISEMENT

Nah, hal itu yang akhirnya muncul bayangan dan pertanyaan dalam diri saya. Bagaimana ya nasib Bangkalan Madura seandainya Suramadu tidak pernah dibangun. 

Banyak yang bilang Madura akan tetap terisolasi sehingga ekonominya tidak akan berkembang baik. Padahal, menurut saya, sudah ada Jembatan Suramadu pun kondisinya sama saja, nggak baik. Jadi, alih-alih berprasangka negatif, berikut saya jelaskan hal-hal baik yang akan dirasakan Bangkalan Madura jika Jembatan Suramadu tidak ada.

Uang bisa berputar di masyarakat sendiri

Mengatakan Suramadu akan membuka jalan bagi investor masuk ke Bangkalan Madura adalah ramalan yang tidak tepat. Sampai saat ini, investor masih maju-mundur ketika ingin berinvestasi di kabupaten ini. Isu yang banyak muncul, problemnya ternyata bukan infrastruktur untuk mobilitasnya, tapi karena banyak premannya. Hmmmm!

Tapi selain itu, ada faktor lain yang mempengaruhi minimnya investor ke Bangkalan Madura, yakni letak geografis yang terlalu dekat dengan Surabaya sejak ada Jembatan Suramadu. Jadi, nanggung. Investor lebih baik bangun usaha di Surabaya saja, toh orang Bangkalan kalau mau beli apa-apa juga ke Surabaya. Nah, inilah yang disebut kebocoran ekonomi.

Nah, bayangkan kalau Jembatan Suramadu tidak ada. Uang yang ada di Bangkalan Madura tentunya akan berputar di kawasan ini saja, jadi keuntungan tetap berada di kabupaten ini. 

Pelabuhan Kamal akan tetap eksis

Selanjutnya, bagi saya, pembangunan Suramadu itu bak proyek tanpa pertimbangan yang jelas. Cita-cita yang diharapkan nggak kecapai, aspek yang dikorbankan juga belum ada ganti ruginya sampai sekarang. Hal yang dikorbankan yakni geliat ekonomi informal di daerah Kecamatan Kamal.

Dulu, karena orang-orang selalu menggunakan kapal jika ingin ke Surabaya, pelabuhan di Kamal begitu ramai dan sangat hidup. Bus-bus besar dan kendaraan pribadi semuanya meramaikan pelabuhan kamal. Tapi, sejak ada Suramadu, pelabuhan di Kamal semakin sepi. Banyak ekonomi informal juga mati. Apakah Suramadu berhasil menghidupkan kegiatan ekonomi di kawasan lain? Jawabannya tidak. Gerbang masuk Suramadu bagian Bangkalan juga masih kosong melompong.

Nah, ini maksud saya ganti rugi yang harus dikembalikan oleh pemerintah. Ayo, mana kawasan transit yang seramai Pelabuhan Kamal waktu dulu di Bangkalan, tidak ada kan?

ADVERTISEMENT

Warga Bangkalan Madura akan selamat dari stigma

Kemudian, jika Suramadu tidak dibangun, mungkin saja stigma terhadap orang Madura, terutama Bangkalan, juga tidak akan seintens sekarang ini. Ketidaksiapan Suramadu itu sebetulnya sangat jelas, yakni ketimpangan budaya. Bayangkan, kota paling maju dengan tiba-tiba dikoneksikan dengan daerah yang masih sangat tradisional. Ketimpangan pendidikan, budaya, akses ekonomi, tentu saja akan menimbulkan kekacauan.

Saya tidak bermaksud membela kabupaten saya, tapi Suramadu itu sudah salah sejak dari semula. Harusnya, sebelum dua kabupaten/kota ini disatukan, keduanya juga harus disetarakan. Pendidikannya, ekonominya, norma budayanya, harus setara. Ya maklum akhirnya gagal kan. Ujung-ujungnya, warga Madura yang disalahkan. Hadeh!

Bangkalan tidak akan mengalami krisis identitas

Posisi Bangkalan sejak ada Suramadu benar-benar dilema. Secara geografis ia masuk kawasan Madura, tapi koneksinya lebih terhubung ke Surabaya. Lalu, secara kawasan ia masih pedesaan, tapi kerap dipaksa jadi perkotaan. Jadi, Bangkalan Madura ini sebetulnya apa, kota atau desa?

Nah, karena kondisi yang seperti itu Bangkalan Madura tidak punya hal yang bisa diunggulkan. Di kabupaten Madura lain, mereka punya banyak hidden gem. Kultur budaya, pariwisata, sastrawan yang karyanya bernuansa Madura, mereka punya. Mereka seperti the real mempresentasikan Madura. Sementara Bangkalan seperti sudah luntur, alasannya ya karena terkontaminasi kultur perkotaan Surabaya.

Coba Suramadu ini nggak dibangun, kultur ke-Madura-an yang dimiliki Bangkalan tentu tidak akan luntur. Bangkalan akan punya nafas yang sama seperti empat kabupaten lain di Madura. Tapi ya mau bagaimana lagi, nasi sudah jadi bubur, Suramadu sudah dibangun. Tak mungkin kita memilih untuk merobohkan jembatan itu. Tentunya akan muncul masalah baru yang lebih rumit. 

Ya, maka dari itu, lebih baik kita carikan saja solusi-solusinya. Eh kok kita sih, ya pejabat pemerintah yang digaji pakai pajak kita dong yang bertugas menyelesaikannya! Hehehe.

Penulis: Abdur Rohman
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Saya orang Madura dan mengakui kalau kami memang keras kepala dan artikel menarik lainnya di TERMINAL MOJOK.

 

Terakhir diperbarui pada 21 Oktober 2026 oleh .

Abdur Rohman

Seorang warga sipil Bangkalan dengan selera yang kontradiktif: mencintai segala jenis olahan mie, namun memiliki alergi akut terhadap mie-literisme.