Dua tahun lebih hidup di Surabaya, saya menyadari bahwa Kota Pahlawan ini punya sejumlah ruas jalan yang ketika dilalui tidak cukup hanya mengandalkan kemahiran berkendara. Kita juga butuh mental, kesabaran, keberanian, dan doa di sepanjang jalan. Salah satu dari banyaknya ruas jalan mematikan di Surabaya adalah Jalan Mastrip.
Mematikannya jalur Mastrip pernah diulas oleh Mbak Bella Yuninda Putri di Terminal mojok. Saya sendiri beberapa kai melewati jalan ini, baik ketika dari Gresik menuju Sidoarjo maupun sebaliknya.
Sesekali, saya juga melintasinya ketika berangkat dari Surabaya kota menuju kedua daerah tersebut. Dari pengalaman itu, saya setuju bahwa jalan mastrip memang mematikan. Sebab ketika melewatinya, mental dan kesabaran memang diuji.
Motor vs mobil vs angkutan vs truk
Bagaimana nggak mematikan, ruang jalan yang terasa sempit harus diperebutkan oleh sepeda motor, mobil pribadi, angkutan, hingga truk-truk besar. Masing-masing pengendara tersebut tentu punya kepentingan yang sama mendesaknya sehingga saling tidak mau mengalah. Yang apes tentu pengendara perantau seperti saya yang harus pandai membaca situasi, memahami momentum, dan berani mengambil keputusan ketika memutuskan mendahului truk-truk tersebut.
Ada kalanya, adrenalin saya memuncak sehingga muncul keinginan mengambil celah sempit di antara truk-truk yang berjalan beriringan. Namun, setiap kali keinginan itu muncul, saya teringat bahwa saya adalah perantau. Kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, yang menanggung akibatnya bukan hanya saya, tapi juga keluarga yang berada jauh dari Surabaya. Mereka jadi repot-repot mengeluarkan biaya untuk mendatangi saya.
Menyadari konsekuensi itu, saya memutuskan untuk jadi manusia yang lebih sabar, lebih tenang, dan lebih berhati-hati. Meski begitu, pengalaman saya melewati jalan ini memang termasuk apes karena dalam dua momen yang tidak mengenakan.
Pertama, ketika siang hari dan matahari sedang terik-teriknya. Di tengah panas yang rasanya menusuk kulit, saya harus rela melaju dengan pelan sambil dibersamai oleh kendaraan besar yang mengeluarkan asap tebal. Panas matahari ditambah panas asap tronton. Perpaduan yang membuat saya rasanya ingin pingsan. Bahkan parfum saya wanginya begitu semerbak saat berangkat, kita hilang berganti bau asap dan matahari.
Makin sore, makin lengkap
Kedua, saat sore hari, bertepatan dengan jam pulang kerja. Jadi kalau siang cobaannya adalah panas dan asap tronton, sore hari masalahnya lebih lengkap. Jalan makin penuh, klakson bersahutan, dan beberapa kendaraan yang kelihatan terburu-buru sehingga keberadaan dari lampu merah hanya jadi hiasan jalanan.
Dalam situasi seperti itu, potensi ketersinggungan antara pengendara makin tinggi. Sedikit saja motor melambat, maka sahutan klakson akan berbunyi. Gak kalah bikin pusing, ada kendaraan yang dengan santainya memotong jalur. Dan itu bukan hanya satu dua kendaraan, tapi puluhan kendaraan. Di sisi lain, mereka yang merasa jalurnya diserobot tentu jadi tersulut emosinya.
Melihat bagaimana pemandangan di jalan Mastrip ini, saya jadi berpikir, mengapa mereka tidak mencari jalan alternatif lain saja? Yah gak apa-apa harus memutar sedikit, dari pada harus melalui kubangan stress bernama jalan Mastrip ini?
Bagi sebagian pekerja, Jalan Mastrip bukan soal suka atau tidak suka
Seorang teman asal Gresik yang bekerja di Surabaya bercerita bahwa bagi orang yang melalui Jalan Mastrip Surabaya ini sesekali seperti saya, kemacetan mungkin sebatas pengalaman tidak menyenangkan yang setelahnya sebisa mungkin tidak ingin diulangi. Namun bagi para pekerja, jalur mastrip dengan segala kerumitannya adalah satu-satunya jalur paling ideal yang bisa dilalui.
Sebab, tidak semua orang punya kemampuan untuk mencari tempat tinggal di area Surabaya atau dekat dengan tempat kerja. Ada yang tinggi di Gresik, ada yang di Sidoarjo, yang tempat kerja mereka letaknya di Surabaya. Sehingga mereka suka tidak suka harus mau mentoleransi atau menormalisasi kondisi macet yang tiap hari harus mereka hadapi.
Di sisi lain, teman saya mengakui memang ada jalur alternatif seperti Jalan Raya Menganti melalui Wiyung atau jalur Sepanjang Tani–Kebonsari. Namun, pilihan tersebut tidak menguntungkan.
Misalnya bagi pengendara dari kawasan Bambe atau Driyorejo yang hendak menuju Sepanjang dan sekitarnya, misalnya, memutar melalui Menganti dan Wiyung. Konsekuensinya, perjalanannya bisa dua kali lipat lebih jauh sebelum kembali bergerak ke arah selatan. Sementara jalur Sepanjang Tani–Kebonsari juga bukan jaminan terbebas dari kemacetan. Pada akhirnya, jalan Mastrip menjadi pilihan yang paling realistis terlepas dari kondisinya yang menyeramkan itu.
Alasan banyaknya truk di Jalan Mastrip
Teman saya bercerita bahwa banyaknya truk yang melalui jalan Mastrip bukan tanpa alasan. Jalan ini melalui kawasan Karangpilang yang punya banyak aktivitas industri dan pergudangan. Salah satunya adalah kawasan industri Wira Jatim.
Ditambah lagi posisinya yang menghubungkan Surabaya dengan kawasan industri di Driyorejo, Gresik, serta akses menuju Sidoarjo. Sehingga tidak mengherankan, banyak kendaraan besar pengangkut di sepanjang jalan ini.
Hal ini menandakan bahwa bukan hanya para pekerja lokal yang hidup dengan melalui jalur ini, tapi juga para supir truk pun melalui jalur ini sebagai bagian dari pekerjaan mereka. Sebab di dalam truk inilah barang kebutuhan industri diantarkan ke berbagai daerah.
Cerita dari teman saya membuat saya memandang jalan Mastrip dengan cara yang berbeda. Di balik tronton yang berlalu-lalang, klakson yang bersahutan, dan pengendara yang berebut jalan, mereka sebenarnya hanya orang-orang yang ingin menyelesaikan urusannya masing-masing. Bagi mereka, jalan itu merupakan bagian dari perjuangan mencari penghidupan.
Harus diakui, Jalan Mastrip Surabaya memang jalan yang menguras banyak tenaga ketika melaluinya. Dan ironisnya, banyak orang ingin segera terbebas dari jalan tersebut, tapi harus rela kembali melewatinya pada esok hari.
Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Jalan Mastrip Jombang, Jalur Utama Jombang-Mojokerto-Surabaya yang Bikin Anda Selangkah Lebih Dekat dengan Maut dan artikel menarik lainnya di Terminal Mojok