ADVERTISEMENT

Tempe ireng Tegal, kuliner khas korban fitnah busuk, padahal yang hitam kadang justru bikin nagih

Tempe ireng Tegal, kuliner khas yang sering jadi korban fitnah (Unsplash)

Bagi mayoritas masyarakat Indonesia, tempe yang ideal itu putih bersih dengan balutan jamur estetik. Maka, jangan heran kalau orang luar daerah main ke Kabupaten Tegal, khususnya ke daerah pegunungan seperti Kecamatan Bojong dan Bumijawa, lalu mendadak syok saat mampir ke pasar tradisional. Di sana, ada tempe ireng Tegal, yang warnanya hitam legam seperti habis kena azab.

Tenang, itu bukan tempe kedaluwarsa. Kuliner exotic tersebut bernama tempe ireng Tegal, salah satu warisan kuliner khas Desa Bojong yang keberadaannya mulai langka.

ADVERTISEMENT

Masa SMP dan misteri tempe ireng Tegal

Perkenalan saya dengan tempe ireng Tegal sebenarnya berawal dari sebuah “paksaan” kurikulum. Syahdan pada 2015, saat masih duduk di kelas 9 SMP, guru IPA kami memberikan tugas kelompok untuk membuat makanan fermentasi. 

Ketika kelompok lain memilih jalan ninja yang mudah dengan membuat tempe biasa, guru kami dengan senyum misterius justru menyarankan kami membuat tempe ireng Tegal.

Beliau bercerita kalau tempe ini rasanya sangat gurih. Saking enaknya, mertua sang guru yang tinggal di Semarang selalu menagih oleh-oleh tempe hitam ini setiap kali ada yang berkunjung. Sayangnya, guru kami pun tidak tahu kenapa tempe itu bisa berwarna hitam.

Sebagai bocah Bumijawa yang malas main jauh-jauh ke Kecamatan Bojong, kelompok kami sempat mencoba jalur curang. Kami menebak-nebak sendiri rahasianya: “Ah, paling warnanya hitam karena dibungkus daun pisang.” Kami pun praktik di rumah. Hasilnya? Gagal total. Yang jadi malah tempe putih biasa.

Mau tidak mau, minggu berikutnya kami harus melakukan ekspedisi antar-kecamatan menuju Pasar Bojong. Berbekal info dari pedagang pasar, kami diarahkan masuk ke sebuah gang sempit tempat industri rumahan tempe ireng Tegal ini berada. 

Seingat saya, pabrik berskala home industri ini adalah satu-satunya yang tersisa di sana. Bapak pemilik rumah produksi menyambut kami dengan ramah. 

Bukan kedelai hitam, apalagi pembusukan!

Di dapur produksi itulah misteri menahun ini akhirnya terpecahkan. Bapak pemilik pabrik menjelaskan bahwa warna hitam pada tempe ireng Tegal sama sekali bukan karena proses pembusukan. 

Teksturnya padat dan aromanya segar khas kedelai segar, sangat jauh dari aroma tempe busuk atau semangit. Plot twist lainnya, tempe ini juga tidak menggunakan kedelai hitam. Mereka memakai kedelai kuning biasa, persis seperti bahan baku tempe pada umumnya.

ADVERTISEMENT

Lantas, dari mana warna hitam pekat itu berasal? Jawabannya ada pada ragi. 

Tentu, si bapak tidak menjelaskan pakai ragi yang seperti apa. Namanya juga resep rahasia keluarga. 

Selain ragi, formula rahasianya ada pada daun pisang klutuk (daun pisang batu). Beliau kemudian memberikan kami daun pisang klutuk kering yang sudah mengandung ragi tempe.

Seusai dari rumah produsen tersebut, kami langsung praktik. Daun pemberian tersebut lalu kami campurkan ke dalam kedelai yang sudah kami rebus dan siap fermentasi. Setelah kami tata rapi dalam bungkusan daun pisang segar, tempe kami diamkan selama dua hari sampai jamurnya tumbuh dan menghasilkan warna hitam yang khas.

Berkat nekat blusukan ke pabriknya langsung, eksperimen kedua kelompok kami sukses besar. Kami tidak hanya membawa pulang tempe ireng Tegal buatan sendiri, tapi juga berhasil memanen pujian dari guru IPA karena menyajikan laporan yang paling niat seangkatan.

Nasib tempe ireng Tegal, kuliner langka yang wajib kamu coba

Sayangnya, tempe ireng Tegal ini tergolong kuliner yang egois sekaligus pemalu. Ia tidak mau eksis di sembarang tempat. 

Sepengetahuan saya, kamu tidak akan bisa menemukannya di pasar Kota Tegal atau Slawi. Tempe ini hanya bisa kamu temukan di pasar-pasar dataran tinggi seperti Pasar Bojong dan Pasar Bumijawa.

Bagi kalian yang kebetulan sedang plesiran ke daerah atas Tegal, jangan ragu untuk berburu tempe ireng ini. Cara terbaik untuk menikmatinya adalah goreng polos tanpa tepung, cukup bumbui bawang dan garam atau diiris tipis menjadi oseng-oseng pedas. 

Rasanya begitu gurih, saya jamin bakal mengubah pandangan kalian. Bahwa yang hitam itu tidak selalu buruk, kadang malah bikin nagih.

BACA JUGA 5 Kuliner Tegal yang Layak Dikenal Lebih Luas, Ayo Orang Tegal Jangan Buka Warteg Melulu dan artikel menarik lainnya di TERMINAL MOJOK.

Terakhir diperbarui pada 22 Oktober 2026 oleh .

Malik Ibnu Zaman

Penulis partikelir yang lahir di Tegal Jawa Tengah. Menulis cerpen, puisi, esai, dan resensi yang tersebar di beberapa media online.