“Wah, enak banget ya kerjanya jalan-jalan terus, dibayarin kantor lagi”. Jujur, kalimat itu sudah bukan lagi ucapan basa-basi. Itu sudah jadi makanan sehari-hari setiap kali saya atau teman-teman peneliti lapangan memberitahu apa pekerjaan kami.
Banyak orang melihat pekerjaan peneliti lapangan melalui sudut pandang yang mereka lihat di media sosial. Mereka mengira peneliti lapangan itu bak pekerjaan jackpot. Kami dianggap sebagai manusia-manusia paling beruntung yang bisa keliling Indonesia, dari ujung Sumatra hingga pedalaman di Papua, tanpa perlu pusing memikirkan harga tiket pesawat atau biaya penginapan.
Narasi “kenikmatan” inilah yang sangat menyebalkan dan akhirnya menutupi realita sebenarnya di lapangan. Orang-orang hanya melihat foto kami tersenyum dengan latar pemandangan alam yang indah, tapi mereka tidak tahu dan tidak ingin tahu apa yang terjadi sebelum dan sesudah foto itu diambil.
Bagi kalian para mahasiswa tingkat akhir atau fresh graduate yang mau pengin meniti karier sebagai peneliti lapangan, sebaiknya kalian membaca tulisan ini sampai habis. Pahami bahwa setiap pekerjaan, sekeren apa pun kelihatannya, selalu punya sisi gelap atau sisi nggak enak.
Berikut 5 penderitaan hakiki menjadi peneliti lapangan yang akan meruntuhkan ekspektasi kalian.
#1 Jalan-jalan hanyalah sebuah omong kosong bagi peneliti lapangan
Peneliti lapangan dalam proses pengambilan data mengharuskan bepergian ke berbagai daerah, itu fakta. Tapi, kalau berpergian itu disamakan dengan “jalan-jalan” atau liburan bergaya healing, itu adalah omong kosong yang perlu dibantah.
Di bayangan banyak orang, ketika kami ditugaskan ke berbagai daerah, kami akan duduk manis, bersantai di pinggir pantai, sambil menikmati minuman kelapa muda. Kenyataannya, nkami harus bepergian menuju desa yang jaraknya lebih dari tiga jam dari pantai. Tidak jarang harus berpanas-panasan mencari rumah narasumber dari ujung ke ujung RT, dan harus mengatur kegiatan FGD agar lancar.
Jadwal kami di lapangan itu sangat padat, mulai dari pagi buta hingga malam hari, bahkan sekedar bengong saja, isi kepala kami tetap bekerja memahami temuan lapangan. Hotel atau penginapan buat kami bukanlah tempat staycation, melainkan murni hanya sebagai tempat untuk menumpang mandi, menaruh barang, dan pingsan tertidur karena kelelahan.
#2 Peneliti lapangan harus terbiasa dengan perjalanan yang menyiksa fisik
Ini perlu saya tegaskan, jangan bayangkan perjalanan kami selalu mulus layaknya pejabat yang naik pesawat kelas bisnis lalu dijemput mobil ber-AC. Sering kali, lokasi penelitian kami berada di area sulit dijangkau oleh akal sehat Google Maps.
Untuk mencapai satu lokasi, kami bisa menghabiskan waktu berhari-hari di jalan. Kami harus terbiasa dengan guncangan mobil yang melewati jalanan rusak atau tanah berlumpur, terombang-ambing ombak belasan saat menaiki kapal laut atau harus memberanikan diri menaiki kapal kayu kecil untuk menyusuri aliran sungai, hingga berjalan kaki menembus hutan atau mendaki bukit karena akses kendaraan terputus.
Badan pegal, masuk angin, mabuk perjalanan, hingga asam lambung naik karena telat makan adalah sahabat sejati kami.
#3 Laporan yang menumpuk telah menanti
Banyak yang berpikir bahwa penderitaan kami selesai ketika kami pulang dari lapangan. Sayangnya, itu hanya sebuah imajinasi. Masa pengambilan data justru baru pemanasan. Tantangan sesungguhnya dimulai ketika kami kembali ke kantor atau rumah.
Di dalam tas kami, tersimpan voice recorder yang berisi puluhan jam rekaman wawancara atau lembar kerja hasil kegiatan FGD. Dan tebak siapa yang harus merapihkan itu semua? Ya, kalian benar sekali, kami sendiri. Proses ini menguras tenaga karena harus mendengarkan ulang hasil rekaman. Memang zaman sekarang ada bantuan AI, tapi sayangnya teknologi juga masih banyak luputnya.
Belum lagi kami harus merapikan catatan lapangan, Menyusun kodifikasi data, dan menulis laporan tebal dengan tenggat waktu (deadline) yang selalu terasa mencekik leher. Pulang dari lapangan pada akhirnya bukan waktunya istirahat, tapi waktu berduaan dengan laptop kesayangan.
#4 Peneliti lapangan kehilangan waktu bersama keluarga
Penderitaan satu ini dampaknya lebih ke arah emosional. Menjadi peneliti lapangan berarti harus menerima untuk menjual waktu kita. Pergi ke lapangan itu bukan hanya hitungan satu atau dua hari, melainkan bisa berminggu-minggu, bahkan ada rekan yang harus berbulan-bulan.
Kami terpaksa merelakan rutinitas akhir pekan bersama keluarga, kehilangan momen nonton bareng bersama pasangan, atau melewatkan waktu bermain dengan anak di rumah.
Kadang, saat kami sedang ingin berkomunikasi dengan orang rumah, sinyal provider di lokasi penelitian justru tidak bersahabat atau tidak ada sama sekali, membuat sekedar video call atau berkirim pesan teks pun susahnya pakai banget.
Tidak sedikit yang jeda antara satu daerah ke daerah lain hanya hitungan hari. Baru sampai rumah, harus siap-siap pergi kembali. Begitu kami pulang ke rumah, ada perasaan asing, seolah-olah kehidupan di rumah sudah berjalan jauh ke depan sementara kami tertinggal karena terlalu lama hidup berpindah-pindah.
#5 Tidak ada saat hal penting terjadi
Ini adalah penderitaan puncak yang sering kali menyisakan rasa bersalah yang mendalam. Karena jadwal lapangan sering kali sudah dikunci jauh-jauh hari dan terikat kontrak dengan donor atau instansi, kami tidak punya fleksibilitas untuk tiba-tiba pulang. Percayalah, ini beneran terjadi.
Ada cerita rekan yang harus bersusah payah untuk pulang, saat mendapatkan kabar mertuanya meninggal dunia. Setelah mendapatkan izin pulang lebih awal, tidak langsung memudahkan untuk segera tiba di rumah, tapi harus menghadapi kenyataan perjalanan yang jauh, kehabisan tiket pesawat untuk menuju bandara besar, hingga harus terpaksa menunggu keberangkatan pesawat yang terlambat.
Akhirnya, dia baru bisa disamping istri setelah dua hari perjalanan. Sebagai peneliti lapangan, harus siap absen di momen-momen krusial orang terdekat.
Jadi, setelah mengetahui 5 hal itu, apakah menjadi peneliti lapangan seburuk itu? Tentu tidak. Terlepas dari 5 penderitaan di atas, pekerjaan ini memberikan kami kekayaan batin luar biasa. Kami bisa mendengar cerita hidup langsung dari mulut masyarakat, melihat realitas Indonesia dari sudut pandang yang paling jujur, dan ikut andil menyatakan masalah di akar rumput.
Akan tetapi, glorifikasi “jalan-jalan dibayar” itu harus dihentikan segera. Setiap pekerjaan apapun itu, menuntut mental baja, fisik yang Tangguh, dan kesabaran ekstra.
Penulis: Muhammad Ilham
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Pengalaman Jadi Surveyor: Dikira Minta Sumbangan Sampai Jualin Produk.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













