Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Malang pernah terkenal dengan solidaritas masyarakatnya yang tinggi. sayang, solidaritas itu kini bisa dengan mudah dibeli

Iqbal AR oleh Iqbal AR
12 Juli 2026
A A
Malang pernah terkenal dengan solidaritas masyarakatnya yang tinggi. sayang, solidaritas itu kini bisa dengan mudah dibeli

Malang pernah terkenal dengan solidaritas masyarakatnya yang tinggi. sayang, solidaritas itu kini bisa dengan mudah dibeli (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kalau ada satu frasa yang bisa menggambarkan Malang beserta orang-orangnya, frasa tersebut adalah solidaritas tinggi. Manusia-manusia yang hidup di Malang seakan punya keterkaitan satu sama lain, seakan saling terhubung satu sama lain. Ibaratnya, kalau ada satu orang yang disakiti, maka semua orang akan ikut tersakiti dan siap membalasnya.

Salah satu yang mempengaruhi adanya solidaritas yang tinggi adalah faktor Arema Malang. Pada masanya, Arema nggak hanya sekadar sebuah tim sepak bola. Arema adalah identitas, jadi pemersatu orang-orang Malang yang latar belakangnya berbeda-beda. Orang keturunan Madura, Jawa, Arab, bisa membaur jadi satu di bawah bendera Arema.

ADVERTISEMENT

Maka nggak heran jika orang Malang bisa sesolid itu. Selain karena sama-sama tumbuh dan hidup di daerah yang sama, mereka juga dipersatukan oleh entitas yang kuat. Selain punya solidaritas yang tinggi, orang Malang juga terkenal punya pendirian yang kuat. Orang sini itu lugas, nggak mencla-mencle. Orang Malang berdiri bersama orang Malang lainnya, bukan dengan rezim, atau bahkan pemilik modal. Ini seakan jadi nilai plus bagi Malang dan masyarakatnya.

Tapi itu dulu. Sekarang, solidaritas tinggi yang pernah melekat pada Kera Ngalam (atau sebagian) itu perlahan luntur. Solidaritas tinggi, pendirian yang kuat, sudah mulai nggak kelihatan di orang-orang Malang. Rasanya, solidaritas dan pendirian, serta loyalitas terhadap sesamanya seakan mudah banget dibeli. Ini terlihat banget dari beberapa kejadian yang menimpa Kota ini akhir-akhir ini.

Mendemonisasi para demonstran yang sedang menyuarakan aspirasinya

Dalam nyaris satu dekade terakhir, Malang selalu jadi salah satu titik demonstrasi ketika ada yang nggak beres dengan pemerintah. Mulai dari UU KPK, RKUHP, Omnibus Law, hingga aksi besar Agustus 2025 lalu, kota ini nggak pernah absen menggelar demonstrasi. Masyarakat, mahasiswa, hingga pekerja serentak turun ke jalan menyuarakan aspirasi mereka.

Namun, di setiap demonstrasi yang terjadi, selalu ada saja orang-orang Malang yang “mengganggu” jalannya penyampaian aspirasi ini. Orang-orang ini kerap memasang spanduk yang bertuliskan “demomu macetku”. Nggak jarang juga orang-orang ini melabeli para demonstran dengan istilah anarkis. Bahkan ada yang sampai bilang bahwa yang demo-demo ini mending pergi saja. Diusir. Intinya orang-orang ini seakan ingin mendemonisasi para demonstran yang sedang menyuarakan aspirasinya.

Ironisnya lagi, mereka selalu mengatasnamakan diri mereka sebagai “Arek Malang”, atau “Wong Malang”. Kayak seakan-akan para demonstran ini bukan orang Malang, dan mereka yang demo ini cuma pengin merusak Kota ini. Padahal, para demonstran ini kebanyakan orang sini juga. Arek-arek juga. Kok bisa malah didemonisasi sedemikian rupa. Sama-sama orang Malang, lho.

Ya meskipun kalau kita telisik siapa orang-orang yang menolak demo ini, kita akan tahu siapa yang ada di belakangnya, siapa yang mem-backing-i. Orang Malang pasti tahu, lah.

Baca Juga:

Tragedi Kanjuruhan Cuma Jadi Album Foto Berdebu yang Terlupakan dan Tak Akan Pernah Diselesaikan

Arema, Persik, dan Kota Malang yang Tak Pernah Belajar Apa-apa dari Tragedi Kanjuruhan

Banyak orang Malang yang nggak bersikap tegas, bahkan terkesan abai atas apa yang terjadi di Kanjuruhan

Seharusnya, apa yang terjadi di Stadion Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022 itu jadi momen yang nggak akan terlupakan, khususnya oleh orang Malang. 135+ nyawa melayang sia-sia, akibat dari aparat yang goblok, dan penyelenggara pertandingan yang juga goblok. Ini juga diperparah dengan penegakan hukum yang nggak berpihak kepada korban.

1 Oktober 2022 juga seharusnya menjadi ujian bagi orang Malang yang katanya punya solidaritas tinggi terhadap sesama. Kalau benar solidaritasnya tinggi, orang-orang sini harusnya berdiri bersama korban, menuntut keadilan sampai tuntas, sekaligus punya sikap tegas terhadap apa-apa saja yang bersangkutan: sepak bola, Arema FC, aparat, dan PSSI.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Nyatanya itu nggak terjadi. Banyak arek yang solidaritasnya malah ndlosor. Mereka memilih untuk nggak berdiri bersama korban, dan nggak ikut menuntut keadilan sampai tuntas. Mereka nggak punya sikap tegas terhadap Arema FC, terhadap aparat, dan terhadap PSSI. Bahkan terkesan abai dengan apa yang terjadi di Kanjuruhan. Seakan-akan mereka lupa bahwa 135+ nyawa yang melayang itu adalah orang-orang dan arek-arek Malang.

Bahkan suara-suara “Usut Tuntas Tragedi Kanjuruhan” sudah mulai jarang terdengar dari sebagian orang Malang. Justru orang-orang dari daerah lain yang masih konsisten, masih tetap menyuarakannya. Lalu para korban dibiarkan berjuang sendiri, berjalan sendiri, mencari keadilan yang entah kapan mereka dapat.

Degradasi solidaritas dan lunturnya ketegasan

Ironis sekali jika melihat Malang dan orang-orangnya saat ini. Seakan-akan orang Malang sekarang itu bukanlah orang yang pernah kita—atau seenggaknya saya—kenal. Melihat bagaimana sikap orang-orang terhadap rentetan demonstrasi melawan rezim yang zalim, lalu bagaimana sikap mereka terhadap Kanjuruhan, saya jadi heran, Kera Ngalam, kok, jadi begini?

Mana solidaritas dan loyalitas tinggi yang dulu pernah ada? Mana kelugasan dan ketegasan sikap yang dulu pernah dipegang teguh? Kok sekarang jadi lembek dan mencla-mencle gini. Sedih aja rasanya, padahal dulu loyalitas, solidaritas, ketegasan dan kelugasan itu jadi nilai plus, jadi hal positif dari orang Malang.

Tapi sekarang, solidaritas dan loyalitas tinggi, ketegasan dan kelugasan itu sudah perlahan nggak ada di orang-orang Malang. Sudah luntur, sudah terdegradasi, atau mungkin sudah laku terbeli dengan harga yang sangat murah oleh entah siapa saja.

Penulis: Iqbal AR
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Jika Berani Berbenah, Malang Bakal Sejahtera karena Potensi Wisata Kota Ini Begitu Besar tapi Terbentur Tembok Birokrasi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 12 Juli 2026 oleh

Tags: arek malangArema Malangkarakteristik orang malangsifat orang malangtragedi kanjuruhan
Iqbal AR

Iqbal AR

Penulis lepas lulusan Sastra Indonesia UM. Menulis apa saja, dan masih tinggal di Kota Batu.

ArtikelTerkait

Pak Midun dan Tragedi Kanjuruhan: Misi Membawa "Kue Busuk" sebagai Kado di Ulang Tahun Indonesia

Pak Midun dan Tragedi Kanjuruhan: Misi Membawa “Kue Busuk” sebagai Kado di Ulang Tahun Indonesia

6 Agustus 2023
Tragedi Kanjuruhan Cuma Jadi Album Foto Berdebu yang Terlupakan dan Tak Akan Pernah Diselesaikan

Tragedi Kanjuruhan Cuma Jadi Album Foto Berdebu yang Terlupakan dan Tak Akan Pernah Diselesaikan

2 Oktober 2025
Tragedi Kanjuruhan: Mari Dukung Sanksi FIFA!

Tragedi Kanjuruhan: Mari Dukung Sanksi FIFA!

2 Oktober 2022
PSSI dan FIFA sama-sama brengsek. (Mojok.co/Ega Fansuri)

PSSI dan FIFA Membuang Empati ke Tempat Sampah

19 Oktober 2022
Menolak Arema FC Main di Bantul Itu Sudah Betul (Unsplash)

Menolak Arema FC Main di Bantul Itu Sudah Betul

5 Januari 2023
liga 2 judi bola shin tae-yong konstitusi indonesia Sepakbola: The Indonesian Way of Life amerika serikat Budaya Sepak Bola di Kampung Bajo: Bajo Club dan Sejarahnya yang Manis terminal mojok.co

Sepak Bola Indonesia Sebaiknya Memang Dibekukan Saja!

27 Maret 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Maganghub Kemnaker, program waras pemerintah yang layak dipertahankan Mojok.co

Maganghub Kemnaker, program waras pemerintah yang layak dipertahankan 

8 Juli 2026
Cara Lulus Kuliah Cepat Nggak Sampai 4 Tahun untuk Mahasiswa Jogja, Dijamin Cum Laude!

Jogja Memang dan Akan Selalu Jadi Kota Tujuan Kuliah, Kota Pendidikan yang Sebenarnya

6 Juli 2026
Culture Shock Anak Jombang Tinggal di Bogor: Makan Bubur Ayam Malam Hari Itu Aneh dan Nggak Kenyang!

Culture Shock Anak Jombang Tinggal di Bogor: Makan Bubur Ayam Malam Hari Itu Aneh dan Nggak Kenyang!

10 Juli 2026
5 jajanan yang menyadarkan saya kalau Tegal lebih dari sekadar sate kambing Mojok.co

5 jajanan yang menyadarkan saya kalau Tegal lebih dari sekadar sate kambing

8 Juli 2026
Tugu Jogja Kini Lebih Menyenangkan ketimbang Malioboro (Unsplash)

Orang yang Foto di Tugu Jogja Itu Bukan Norak, Hampir Semua Pelancong Pernah Melakukannya

7 Juli 2026
Malang pernah terkenal dengan solidaritas masyarakatnya yang tinggi. sayang, solidaritas itu kini bisa dengan mudah dibeli

Malang pernah terkenal dengan solidaritas masyarakatnya yang tinggi. sayang, solidaritas itu kini bisa dengan mudah dibeli

12 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.