Ada satu pertanyaan yang sudah lama mengganjal di kepala saya dari kondisi lingkungan sekitar rumah saya, yakni di Madura. Jika diperhatikan, sebetulnya tidak sedikit orang-orang yang masuk kategori keluarga kaya, atau setidaknya mampulah. Meskipun rumahnya sederhana, mereka kadang punya tabungan besar yang tidak disangka-sangka. Entah dari jumlah sapinya yang sampai puluhan ekor atau hasil panennya yang selalu melimpah.
Tapi meski demikian, sebagai masyarakat yang dikenal religius, orang yang sudah melaksanakan haji atau umroh di Madura sebetulnya masih bisa dihitung jari. Kan ini paradoks ya. Punya banyak uang, beragama Islam, tapi belum haji/umroh.
Nah, setelah saya telusuri dan diskusi dengan orang tua saya, ternyata katanya sekaya-kayanya orang Madura, uangnya belum tentu cukup untuk mempersiapkan ibadah haji. Katanya, iya sih untuk berangkatnya bisa, tapi selamatannya gimana. Apalagi oleh-olehnya, bisa dua kali lipat dari biaya aslinya.
Orang tak dikenal bisa datang demi dapat oleh-oleh
Sudah biasa di Madura, orang yang baru pulang dari Makkah, rumahnya akan kedatangan banyak orang untuk bertamu. Nah, ketika bertamu, tentu tak sopan rasanya jika kita tidak menghidangkan apa-apa. Ketika tamunya akan pulang pun akan dianggap tidak baik jika tidak diberikan buah tangan. Akhirnya, wajiblah kita menghabiskan puluhan juta cuma buat beli buah tangan itu.
Puluhan juta yang saya sebut itu bisa lebih dari dua kali lipat biaya asli hajinya. Sebab, tamunya bukan saja tetangga-tetangga sebelah rumah. Mereka bisa datang dari desa sebelah. Orang yang tak kita kenal pun sering kali ikut menyelinap dalam rombongan orang-orang. Jadi, kita tak ada waktu, dan sebetulnya memang tidak perlu, memilah-milah buah tangan untuk para tamu.
Nah, hal ini terjadi karena informasi kepulangan haji di desa itu tersebarnya mudah sekali. Belum lagi, kadang yang bertamu dalam satu rumah bukan perwakilan, tapi semuanya ikut datang.
Rela mengutang beras demi dapat buah tangan
Sebetulnya, budaya bertamu ke orang yang baru pulang haji di Madura hanya ingin pahala saja. Kita ikut bahagia dan berharap dapat berkah supaya takdir segera memberangkatkan kita juga. Tapi, makin kesini niat itu makin bergeser, yakni hanya untuk mendapat buah tangan dari si tuan rumah saja.
Hal ini dapat dilihat dari warga desa yang kadang sebenarnya juga pilah-pilih buat berkunjung. Kalau sudah terdengar gosip bahwa oleh-olehnya tidak seberapa, mereka kurang peduli untuk datang. Sedangkan kalau buah tangan yang didapat terbilang mewah, semua terburu-buru takut tidak kebagian. Bahkan kalau mereka kebetulan tidak punya beras untuk dibawa ke sana, mereka siap berutang demi mendapat oleh-olehnya. Haduh, parah!
Makanya, kalau ada yang mengajak bertamu ke orang yang baru pulang ngaji, pasti yang ditanyakan pertama kali yakni, akan dikasih apa tamunya. Atau sebaliknya, yang ngajak biasanya langsung memberitahu oleh-olehnya saat mengajak tetangganya.
Harus bisa berangkat haji sembunyi-sembunyi di Madura
Nah, problem di atas akhirnya membuat banyak orang Madura tidak berani untuk berangkat haji. Misal pun kita suatu saat mendapat haji atau umroh gratis, menerimanya adalah pilihan yang sangat sulit. Sebab, kita juga perlu memikirkan gimana caranya mendapatkan oleh-oleh yang tidak sedikit.
Tapi ya, itu sebetulnya tak berlaku ke semua orang Madura kok. Anak-anak muda, gen Z seperti saya misalnya, kadang tetap menyusun rencana berangkat umroh tanpa diketahui masyarakat desa, yakni dengan sembunyi-sembunyi. Lagian, itu kan yang memang ideal, kita umroh hanya niat cari pahala, jadi memang tak perlu ngasih tahu ke tetangga. Tapi ya kadang, orang tua tetap bilang, ya mosok nggak selametan, nanti nggak selamet!
Demikianlah derita orang kaya di Madura yang kayanya nggak kaya-kaya banget. Hehehe. Pengin naik haji, tapi tak berani gara-gara ekspektasi oleh-oleh dari tetangga. Ya, maka dari itu, bagi saya budaya seperti itu agaknya memang perlu kita hapus. Sebab bikin impian banyak orang untuk berhaji pupus. Kita perlu membangun budaya baru, yakni berangkat haji atau umroh tanpa ada tetangga yang tahu!
Penulis: Abdur Rohman
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













