Beberapa tahun belakangan, kita sering lihat orang datang ke coffee shop sambil bawa tumbler. Ada yang polos, ada yang ditempeli stiker band indie favoritnya, termasuk saya. Bagaimanapun, tumbler membuat dingin minuman bertahan lebih lama. Es yang tidak segera mencair, membuat rasa minuman lebih stabil dan konsisten.
Selain itu, juga mengurangi sampah plastik. Apalagi, di harga plastik yang sedang meningkat seperti sekarang. Hitung-hitung membantu pedagang. Pun, pemanasan global juga agak lega sedikit. Sangat win-win!
Akan tetapi, suatu waktu, saya pernah sedikit terkejut karena barista berterima kasih sebab tumbler saya bersih. Ini membingungkan, tumbler bersih yang bare minimum itu, kok, sampai mendapat terima kasih? Rupanya, belakangan ada satu hal kecil yang sering diabaikan oleh para pembawa tumbler: mencuci tumblernya.
Di situ kemudian masalah-masalah kecil yang tadinya tidak terlihat, mulai muncul ke permukaan.
“Tolong cucikan, Kak!”
Coba, deh, lihat dari sisi barista, apalagi saat antrean panjang. Seorang pembeli datang menyodorkan tumbler ke meja kasir. Dari tampilan dalamnya, jelas isinya setidaknya sudah dari kemarin: sisa kopi kering menempel di dinding dalam bak peta topografi.
Saat dibuka, tercium bau asam yang familiar. Bukan asam kopi segar, tapi asam hasil fermentasi liar semalaman di suhu ruang. Belum lagi, jika itu minuman kopi berbasis susu. Atau yang lebih parah, jika minuman masih ada sisa menggenang di dalam.
Pembeli pun menceletuk, “Tolong dicuci dulu ya, Kak!”
Barista pun menerima tumbler itu, suka tidak suka. Sebab barista sering kali tak punya pilihan. Ia bisa saja langsung tuang kopi pesanan ke dalam tumbler tanpa dicuci karena, well, itu bukan bagian dari pekerjaan mereka. Tapi, dia tahu, kerak kopi lama akan bercampur dengan kopi baru. Rasa akan jadi aneh dan bukan tidak mungkin, pembeli akan komplain.
Mau tak mau, barista membilas tumbler itu. Membuang sisa kopi lama, menggosok dengan spons bersabun, membilas, dan mengeringkannya. Itu semua butuh waktu. Sementara di depan, lima pelanggan lain sudah mulai tidak sabar.
Jadinya, tidak hanya merugikan barista, tetapi juga pelanggan lain.
Ketika barista menolak nyuciin tumbler kalian
Ada skenario lain yang tidak jarang terjadi. Barista tidak selalu sempat mencuci. Tentu saja, pekerjaan mereka sudah banyak, dan mencuci wadah minum pelanggan jelas bukan salah satunya. Tapi, pelanggan datang dengan tumbler bau apek. Kali ini barista memutuskan untuk bilas cepat—cuma dikocok dengan air, tanpa sabun.
Usai menerima tumbler bersih berisi kopi, tiga jam kemudian, pelanggan itu membuka Google Maps. Pada alamat coffee shop tadi, ia meninggalkan bintang satu.
Apa yang dia tulis?
“Barista-nya jutek. Melayani dengan muka masam. Saya kan bawa tumbler sendiri untuk dukung lingkungan, masa dilayani seenaknya. Kopi pesanan juga lama. Rasanya juga aneh tidak seperti biasanya. Tidak ramah. Tidak rekomendasi.”
Dalam review tersebut, tidak ada satu kalimat pun tentang kondisi tumbler yang dia bawa. Yang ada hanya perasaan tidak enak yang dia proyeksikan sepenuhnya ke coffee shop.
Konsekuensi umum adalah barista dipanggil manajer. Lagi-lagi, merepotkan yang tidak seharusnya repot.
Bahkan, mencucinya menggunakan sabun, pun, bisa saja tetap berisiko diberi bintang satu. Sebab rasa sabun bisa tertinggal ketika pengeringan tidak maksimal, yang mana hampir tidak mungkin di coffee shop yang alurnya sering kali cepat. Simalakama.
“Saya mulas setelah minum di sini”
Katakanlah, akhirnya barista meneguhkan hati untuk menolak mengerjakan cuci tumbler busuk pelanggan. Dengan tumbler yang sudah terbentuk biofilm di dalamnya itu, bukan tidak mungkin, pelanggan akhirnya mulas. Bukan karena kafein, tapi karena bakteri yang sudah berkembang biak di sana.
Banyak bahaya di sini. Pertama, tentu kesehatan pelanggan itu sendiri. Mulas itu bukan satu-satunya efek. Kita tidak pernah benar-benar tahu, bakteri apa yang hidup di alat makan minum yang kotor. Ya kalau hanya bikin mencret, kalau ternyata bakteri yang memakan otak?
Kedua, juga berbahaya pada barista dan jenama kafe tersebut. Kabar tidak jernih bisa mengesankan bahwa kafenya lah yang tidak higienis.
Ramah lingkungan itu tidak cukup hanya dengan membawa tumbler
Orang-orang harus tahu, ramah lingkungan itu bukan perkara bawa tumbler saja. Rasanya percuma berusaha untuk ramah lingkungan, tapi tidak punya nalar dalam melakukannya. Ya maksudnya gimana ceritanya kamu bawa wadah minum yang belum dicuci? Logikanya nggak ketemu lho ini.
Perlu diingat, mencuci tumbler kalian bukanlah tugas barista. Setidaknya, jadilah orang yang bernalar. Tumbler yang bersih tidak akan memicu konflik dengan barista dan pelanggan lain di belakang. Itu juga tidak akan membuat barista kena teguran manajemen, atau memicu review bintang satu gara-gara rasa sabun atau mulas.
Tumbler yang bersih membuat semua orang bisa fokus ke tujuan awal: menikmati kopi. Itu jauh lebih ramah lingkungan daripada sekadar membawa wadah tapi meninggalkan masalah untuk orang lain. Ingatlah, sesama pelanggan seperti saya. Kita membayar kopi, bukan jasa cuci wadah air!
Penulis: Annisa Rakhmadini
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













