Kalian mahasiswa baru (maba) yang di UIN Walisongo Semarang perlu tahu ini. Bersiaplah mengahali jalur menurun Silayur yang seperti neraka.
Kebetulan, saat kuliah dahulu, saya kerap beberapa kali berkunjung ke UIN Walisongo Semarang. Berdasar pengalaman, pengendara motor yang baru pertama kali melintas jalur Silayur, Ngaliyan, Semarang pasti deg-degan.
Jalur di sana mirip-mirip dengan jalanan sekitar UIN Maulana Malik Ibrahim yang ada di Kota Batu. Bedanya, turunan Silayur, Ngaliyan, Semarang lebih mirip perosotan anak TK alias lebih curam.
Entah bagaimana asal-usulnya sehingga jalur ini bisa dibuat. Yang pasti, insiden lalu lintas di turunan Silayur, Ngaliyan, Semarang semakin santer terdengar. Setidaknya itulah yang saya dengar dari beberapa kolega yang ada di Semarang.
Insiden-insiden mengkhawatirkan. Bahkan, aksi unjuk rasa dari mahasiswa di UIN Walisongo Semarang sempat dilakukan berkali-kali. Tuntutannya, kendaraan tonase besar lebih tertib mengikuti aturan jam operasional yang sudah ditentukan.
Asal tahu saja selain jalur yang bak perosotan, truk tonase besar memperparah suasana. Truk-truk itu sering abai dan tetap melintas di jam-jam padat pemotor melintas di jalur ini.
Sayangnya lagi, tidaka ada pihak yang menegus maupun memberikan solusi atas persoalan itu. Pemangku kebijakan seolah tutup mata hingga insiden terus berulang.
Silayur Ngaliyan Semarang harus menghadapi kendaraan-kendaraan BSB Industrial Park
Semarang saya akui merupakan kota jujugan pemodal untuk membangun industri. Tidak heran jika kalian berkesempatan ke Semarang berbagai daerah bakal mudah ditemui kawasan industri. Mulai daerah dataran rendah di wilayah Tugu, Kota Semarang seperti Kawasan Industri Wijaya Kusuma. Hingga daerah dataran tinggi di wilayah Mijen, Kota Semarang dengan BSB Industrial Park. Konon, UMR yang rendah di Jawa Tengah membuat kawasan ini jadi surga para investor untuk membangun bisnis.
Nah, untuk BSB Industrial Park yang ada di Mijen, Semarang inilah yang memiliki andil besar beberapa insiden lalu lintas di turunan Silayur, Ngaliyan. Sebab, banyak kendaraan tonase besar yang dari segi usia sudah uzur dan karatan tetap memaksakan melintas di jalur ini meski sudah berkali kali kecelakaan terjadi.
Ironisnya pabrik yang membuka usaha di kawasan itu makin bertambah, tapi jalan yang ada di Ngaliyan tetap itu-itu saja. Termasuk turunan Silayur yang nantinya akan tembus di Kampus 3, 2 dan 1 UIN Walisongo, Semarang.
Pemangku kebijakan diam tanpa solusi jangka panjang
Walau sudah berkali-kali menelan korban, pemangku kebijakan di Kota Semarang ataupun di Jawa Tengah nyaris tanpa solusi jangka panjang. Turunan Silayur, Ngaliyan tetap dibiarkan sebagai jalur neraka bagi pengendara.
Tidak ada langkap pencegahan atau langkah serius untuk menuntaskan masalah itu. Polanya nyaris sama, setelah insiden terjadi pemerintah memberikan himbauan, kepolisian menetapkan tersangka dan akhirnya jalan kembali dibuka. Soal larangan jam operasional truk melintas hanya simbol saja faktanya truk yang bandel tetap nekat melintasi jalur ini.
Bahkan, saking template-nya, jika besok insiden serupa terjadi di Silayur Ngaliyan Semaranglagi pemerintah dan kepolisian tetap akan melakukan pola yang sama. Awalnya mengutuk truk yang melanggar namun tanpa berpikir jangka panjang padahal itu berkaitan dengan nyawa orang. J
ika ditelisik lebih dalam, nyawa yang dipertaruhkan juga bukan sembarangan. Mereka rerata pengguna jalan, mulai mahasiswa yang di kuliah oleh keluarga hingga para pekerja pabrik yang jadi tulang punggung keluarga. Pengguna jalan ini nggak tahu apa-apa, namun tiba-tiba mendapat getahnya. Terutama truk yang mengalami rem blong.
Surga armada tua yang dipaksa mengaspal, sering membuat insiden fatal
Semarang memang kota besar, tapi saya heran, aparat kepolisian di sana hanya menindak pengendara motor yang sering melakukan kesalahan-kesalahan dengan dampak kecil.
Bukannya menyepelekan pelanggaran. Pengalaman saya di sana sering melihat polisi gesit saat melihat pemotor melebihi marka garis saat berhenti di lampu merah langsung ditilang. Namun, anehnya banyak kendaraan truk dengan muatan berlebih dan armada yang nyaris tua dibiarkan mengaspal. Padahal, armada-armada itulah yang selama ini menimbulkan insiden lalu lintas besar.
Tak hanya petugas kepolisian, pemangku kebijakan di Semarang juga tampak kompak. Alih-alih menertibkan mereka yang bermasalah, pemerintah malah justru abai untuk menindak dan membiarkan begitu saja kendaraan tonase besar yang tidak sesuai jam operasional itu melintas.
Coba saja saat kalian melintas di turunan Silayur, Ngaliyan di waktu sore saat pekerja pabrik menyemut di jalur ini. Pasti saat kebetulan berpapasan dengan truk ini nyali akan langsung ciut, menepi jadi pilihan yang sempurna dari pada harus mempertaruhkan nyawa.
Pada akhirnya turunan Silayur, Ngaliyan, Kota Semarang butuh perhatian ekstra dari pemangku kebijakan. Apalagi di jalur ini dipastikan akan diserbu oleh banyak Maba yang memilih UIN Walisongo Semarang. Butuh berapa korban lagi agar pemerintah bisa tergerak dan sadar untuk membenahi jalur turunan ini?
Penulis: Ferika Sandra
Editor: Kenia Intan
BACA JUGAnBerkendara dari Ngaliyan ke Mranggen di Siang Hari Bisa Bikin Kepala Menguap.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













