Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

Sarapan di Semarang Memang Rada Aneh, tapi Sekarang Saya Bisa Menikmati Bahkan Ketagihan

Raihan Muhammad oleh Raihan Muhammad
16 Juni 2025
A A
Sarapan Sate di Semarang Memang Aneh, tapi Saya Ketagihan (Unsplash)

Sarapan Sate di Semarang Memang Aneh, tapi Saya Ketagihan (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya datang dari planet bernama Bekasi. Lalu, saya mendarat di Semarang sebagai mahasiswa rantau. Perubahan sosial dan budaya menguji saya. Salah satunya adalah sarapan di Semarang dengan menu sate.

Awalnya saya pikir sarapan di Semarang dengan menu sate cuma lelucon anak kos. Maksud saya, siapa yang waras makan sate pukul 7 pagi?

Tapi beneran, di pojok kampus, pasar, atau gang pinggir jalan, penjual sate sudah buka sejak ayam baru melek. Aromanya menyapa lebih dulu ketimbang dosen di ruang kelas. Saya cuma bisa melongo sambil mikir, “Kok bisa, ya?”

Tiga pekan pertama saya tetap setia dengan roti sobek dan susu sapi murni. Tapi, godaan sarapan di Semarang dengan menu sate itu kayak mantan yang tiba-tiba rajin story: makin dihindari, makin terasa. 

Akhirnya saya nyobain. Dan anehnya, saya suka. Lidah saya berkhianat. Sarapan di Semarang dengan menu sate ternyata nikmat juga. Dari situ saya sadar. Kadang, yang awalnya bikin bingung bisa berubah jadi candu asal mau mencoba dan sedang lapar.

Di Planet Bekasi, sate itu makanan malam. Titik

Sebagai warga Planet Bekasi, saya terbiasa melihat sate sebagai makanan yang hanya muncul setelah matahari tenggelam. Di sana, warung sate baru berasap ketika azan Magrib berkumandang. 

Jadi, begitu melihat kultur sarapan di Semarang dengan menu sate, saya kaget bukan main. Rasanya kayak liat menyajikan Indomie di jamuan pernikahan. Nggak salah, tapi janggal.

Selain itu, budaya makan di Planet Bekasi punya semacam “aturan tak tertulis”. Pagi ya bubur, nasi uduk, atau lontong sayur. Siang baru agak fleksibel. Malam? Nah, baru deh saatnya sate, tongseng, atau segala yang dibakar dan berbumbu berat. 

Baca Juga:

Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah

Pantai KIW Edge, Pantai Terbaik Semarang yang Sebenarnya Bekas Tambak di Kawasan Pabrik

Logikanya sederhana: makanan berat = waktu istirahat. Sate bukan hanya soal rasa, tapi momen. Dan pagi hari bukanlah momen yang tepat menurut takdir perut Bekasi. Di sana, sarapan pakai sate itu selevel sama minum kopi panas sambil lari pagi. Bisa, tapi jelas tidak umum.

Butuh waktu untuk berdamai dengan kultur sarapan di Semarang dengan menu sate

Makanya, butuh waktu buat saya berdamai dengan kultur sarapan di Semarang dengan menu sate. Saya sempat mikir, jangan-jangan orang Semarang punya metabolisme berbeda. 

Tapi, lama-lama saya paham. Ini bukan cuma soal perut, tapi (mungkin) soal budaya. Di Semarang, sate pagi adalah hal biasa. Seperti kedai kopi di Jakarta yang ketika pagi hari sudah buka. Ini semacam penanda bahwa setiap tempat punya “logika” kulinernya sendiri. Dan sebagai perantau, kita cuma punya dua pilihan, bertanya-tanya terus, atau mulai menikmati. Akhirnya saya sudah memilih yang kedua.

Dari bingung jadi rutin. Sate sekarang bagian dari pagi saya

Sekarang, untuk sarapan (tapi agak siangan) saya justru ngeburu-ngeburu tukang sate langganan. Bukan lagi untuk melongo, tapi untuk antre. 

Kalau kesiangan dikit, ya siap-siap kecewa: habis. Saya jadi hafal ritme satenya di pasar. Mereka mulai bakar pukul 6, rame pukul 6:30, dan biasanya udah kelar sebelum pukul 8. Yang antre juga bukan cuma saya, tapi juga dosen, satpam, bahkan mbak-mbak fotokopi yang biasanya galak kalau pagi. Jadi, siapa bilang kultur sarapan di Semarang dengan menu sate itu aneh?

Yang paling lucu, saya pernah ditelepon ibu dari Bekasi dan dia nanya, “Kamu udah sarapan? Jangan cuma minum susu ya.” Dan saya jawab, “Tenang, Bu. Aku makan sate.” 

Ibu saya langsung kaget. “Sate? Pagi-pagi?” Saya hanya bisa mengangguk pelan lewat suara, sambil nyengir di tengah warung. 

Kadang saya membayangkan kalau kultur sarapan di Semarang dengan menu sate saya bawa ke grup WhatsApp keluarga. Mungkin bakal jadi polemik 2 hari 2 malam. Tapi, ya sudahlah, mereka belum paham.

Lama-lama saya sadar, culture shock itu kayak belajar bahasa baru. Awalnya aneh, lalu jadi biasa, kemudian jadi bagian dari diri. 

Dan buat saya, sarapan di Semarang dengan menu sate adalah salah satu dialek yang sekarang sudah saya pahami. Rasanya bukan cuma soal daging dan sambal, tapi juga pelajaran penting bahwa sebagai perantau, kadang kita nggak harus ngotot bawa semua hal dari rumah. 

Ada saatnya membuka diri, mencicipi, lalu jatuh cinta. Kadang cinta memang datang dari tusukan pertama.

Kalau bukan karena merantau, saya nggak akan tahu nikmat sarapan di Semarang dengan menu sate

Kadang saya mikir, kalau saya nggak merantau ke Semarang, mungkin hidup saya bakal tetap kaku dalam menu makan. Sate? Ya malam. Bubur? Ya pagi. Dunia terasa terkotak-kotak dan sudah diatur sejak orok. 

Tapi ternyata, pindah kota bisa mengguncang segalanya, bahkan keyakinan soal jam makan. Dan anehnya, guncangan itu justru menyenangkan. Saya jadi belajar bahwa hidup itu bukan soal mempertahankan kebiasaan, tapi memberi ruang buat kemungkinan baru. Termasuk soal sate.

Nah, ini bukan cuma sarapan di Semarang dengan menu sate sebenarnya. Tapi, soal cara saya memandang dunia. 

Dulu saya pikir, kalau sesuatu itu beda dari yang saya kenal, berarti aneh. Tapi ternyata, beda bukan berarti salah. Beda itu kadang cuma belum sempat kita kenali. Saya kira itulah pelajaran penting dari perantauan ini. Sarapan sate mungkin terdengar lucu di telinga orang Bekasi, tapi di Semarang, itu bagian dari denyut kehidupan.

Sekarang, sarapan di Semarang dengan menu sate bukan cuma mengunyah daging dan sambal. Saya juga menelan pelajaran tentang keterbukaan, kerendahan hati, dan kenikmatan yang datang dari hal-hal yang awalnya saya tolak mentah-mentah. 

Siapa sangka, sebuah tusuk sate bisa jadi medium refleksi? Mungkin benar kata orang. Merantau itu bukan cuma soal pindah tempat, tapi soal memperluas perut, eh, perspektif.

Penulis: Raihan Muhammad

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA 5 Kuliner Asli Semarang yang Layak Dikenal Banyak Orang selain Lumpia

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 16 Juni 2025 oleh

Tags: bekasikuliner bekasikuliner semarangsarapan di bekasisarapan di Semarangsarapan sate di Semarangsate semarangSemarang
Raihan Muhammad

Raihan Muhammad

Manusia biasa yang senantiasa menjadi pemulung ilmu dan pengepul pengetahuan. Pemerhati politik dan hukum. Doyan nulis secara satire/sarkas agar tetap waras. Aku menulis, maka aku ada.

ArtikelTerkait

Hampir Setahun Proyek Galian di Kaliabang Bekasi Belum Beres, Cari Fosil Dinosaurus?

Hampir Setahun Proyek Galian di Kaliabang Bekasi Belum Beres, Cari Fosil Dinosaurus?

25 November 2025
4 Oleh-oleh Semarang yang Jarang Dilirik Wisatawan padahal Sangat Layak Jadi Buah Tangan Mojok.co

4 Oleh-oleh Semarang yang Jarang Dilirik Wisatawan padahal Sangat Layak Jadi Buah Tangan

10 Juli 2025
5 Kuliner Enak yang Sulit Ditemukan di Semarang

5 Kuliner Enak yang Sulit Ditemukan di Semarang

7 November 2024
4 Lumpia Semarang yang Bikin Kecewa Wisatawan, Jangan Dibeli

Lumpia Semarang Memang Overrated, tapi Tetap Pantas Jadi Kuliner Andalan Semarang!

20 Juli 2025
Berharap Terminal Bawen Semarang Segera Berbenah agar Tidak Membingunkan Pengunjung Mojok.co

Berharap Terminal Bawen Semarang Segera Berbenah agar Tidak Membingungkan Pengunjung

20 Februari 2026
Stasiun Alastua, Stasiun Penolong Semarang yang Juga Butuh Ditolong

Stasiun Alastua, Stasiun Penolong Semarang yang Juga Butuh Ditolong

22 Agustus 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Saya Orang Asli Depok dan Tidak Bangga Tinggal di Daerah yang Aneh Ini Mojok.co pasar rebo

Derita Orang Pasar Rebo, Jauh dari Jakarta Bagian Mana pun, Malah Lebih Dekat ke Depok!

22 April 2026
Sudah Selayaknya Tegal Masuk dalam 10 Besar Kota Paling Toleran, Bukan Jogja Mojok.co

Sudah Selayaknya Tegal Masuk dalam 10 Besar Kota Paling Toleran, Bukan Jogja

26 April 2026
Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah Mojok.co

Dibanding Surabaya dan Semarang, Jogja Masih Jadi Pilihan Terbaik untuk Kuliah

28 April 2026
Normalisasi Tanya Kebutuhan Pengantin sebelum Memberi Kado Pernikahan daripada Mubazir Mojok.co

Normalisasi Tanya Kebutuhan Pengantin sebelum Memberi Kado Pernikahan daripada Mubazir

25 April 2026
4 Alasan Samarinda Ideal untuk Bekerja, tapi Tidak untuk Menua

Curahan Mahasiswa Baru Samarinda: Harus Mencicil Motor karena Tak Ada Kendaraan Umum di Samarinda, padahal Bukan Orang Berduit

22 April 2026
Fakta Nikahan Orang Madura, Resepsi Bertabur Uang tapi Akhirnya Jadi Masalah

Fakta Nikahan Orang Madura, Resepsi Bertabur Uang tapi Akhirnya Jadi Masalah

26 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Merenungi Tragedi KRL Cikarang usai Peristiwa Daycare Jogja, Potret Nyata Perempuan yang Tetap Berjuang di Tengah Stigma
  • YUHU. Rilis Single Baru “Bertemu Di Sini”: Definisi Rindu Itu Bersifat Universal
  • Magang di Jakarta Terkesima Terima Gaji 2 Kali UMR saat Kerja di Jogja, Hidup Bisa Foya-foya dan Tak Menderita
  • Klaten International Cycling Festival 2026: Gowes Asyik Sepeda Klasik di Klaten bareng Pencinta Sepeda Mancanegara
  • Tidak Diakui, Harga yang Harus Saya Bayar karena Menolak Keinginan Orang Tua untuk Jadi PNS
  • Membiasakan Ngasih Tip Kurir ShopeeFood meski Kita Bukan Orang Mapan: Uang 5 Ribu Nggak Bikin Jatuh Miskin, Tapi Sangat Berarti buat Mereka

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.