Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Derita Mahasiswa Jurusan Manajemen, Kena Label Nggak Masuk Akal, Mulai dari Sultan hingga Dicap Murahan

M. Rafikhansa Dzaky Saputra oleh M. Rafikhansa Dzaky Saputra
4 Juni 2026
A A
Derita Mahasiswa Jurusan Manajemen, Kena Label Nggak Masuk Akal, Mulai dari Sultan hingga Dicap Murahan Mojok.co

Derita Mahasiswa Jurusan Manajemen, Kena Label Nggak Masuk Akal, Mulai dari Sultan hingga Dicap Murahan (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Saat masih duduk di bangku kuliah, tepatnya di jurusan Manajemen UMS, saya sadar jurusan ini punya banyak sekali stereotip aneh. Mahasiswa jurusan ini sering “panen” julukan aneh. 

Setidaknya ada dua hal yang dulu paling sering saya jumpai. Pertama, mahasiswanya punta banyak pacar alias tukang selingkuh. Kedua, mahasiswa kaya atau anak orang kaya yang hidupnya serba nyaman. 

Saya tanya ke 10 teman untuk memastikannya. Saya meminta mereka menyebutkan tiga jurusan yang mahasiswanya dipandang sebagai tukang selingkuh dan prodi yang dianggap sebagai gudang orang kaya. 

Dan, bisa ditebak, hasil riset kecil-kecilan itu memverifikasi stereotipe yang yang saya rasakan ketika jadi sebagai mahasiswa jurusan Manajemen. 

Jurusan Manajemen kandang “buaya” dan “ayam kampus”

Mari kita buka dengan stigma paling menyakitkan. Jurusan di mana saya belajar dahulu kerap dijuluki kandang “buaya” dan “ayam kampus”. Buaya di sini artinya orang yang sering selingkuh. Manajemen berada di posisi pertama, setelahnya ada Teknik Mesin dan Hukum.

Sedikit berbagai pengalaman. Dahulu, saat saya masih kuliah, tiap kali kenalan dengan orang baru dan mengaku anak jurusan Manajemen, mereka punya dua respon yang sama. Pertama, “Ceweknya banyak dong”. Kedua, “Ah, pemain ki pasti”. Pemain-pemain ndasmu! Aneh banget, kenapa kami dicap seperti ini ya?

Lebih parahnya lagi, stigma ini punya turunan yang seksis dan merendahkan teman-teman perempuan di jurusan, Isu miring soal “ayam kampus” misalnya, entah kenapa selalu menyeret nama jurusan Manajemen. 

Bahkan, kawan perempuan saya ada yang selalu digosipkan gonta-ganti pasangan dan dikira sering “dipakai” hanya karena gayanya yang centil. Tolol banget kan?! Padahal dia nggak seperti itu.

Baca Juga:

Dear Mahasiswa Baru, Tidak Semua Organisasi Layak untuk Diikuti, Banyak yang Akhirnya Cuma Bikin Kalian Depresi

Chat Aneh Mahasiswa ke Dosen Muda, Tolong Jangan Dibiasakan

Kasihanilah kami, merantau jauh-jauh, capek kuliah, eh malah dihantui embel-embel yang merendahkan.

Mahasiswa jurusan Manajemen dikira anak orang kaya dan banyak duitnya

Berikutnya, anak jurusan Manajemen pasti selalu dicap berasal dari keluarga kaya yang nyaman hidupnya. Bahkan, ada salah satu kawan yang curgia, kebanyakan mahasiswa Manajamen ambil jurusan ini untuk meneruskan bisnis orang tuanya. 

Setelah saya tanya lebih lanjut kenapa anggapan ini muncul, teman-teman saya menjawab karena biaya. Iya, rata-rata biaya kuliah di jurusan Manajemen UMS memang lebih mahal dibanding yang lain. Selain itu, gedungnya memang megah dan stastus jurusannya memang prestisius. 

Namun, mohon maaf nih, asumsi itu jelas salah besar dan tidak sesuai dengan realitas di lapangan. Faktanya, banyak sekali kawan jurusan Manajemen saya yang orang tuanya bekerja serabutan, pensiunan, atau pedagang di pasar yang penghasilannya pas-pasan.

Saya pernah kesal sekali gara-gara asumsi mahasiswa Manajemen pasti orang kaya ini. Ceritanya, waktu itu saya terpaksa menolak ajakan nongkrong ke coffee shop oleh seorang kawan. Alasannya saya sebutkan dengan jujur, kantong saya benar-benar lagi tipis. 

Tebak bagaimana responsnya? Dia malah nyeletuk dengan gampangnya, “mosok cah Manajemen ra nduwe duit?”

Aduh, tolong diingat ya kawan-kawan, nggak semua anak Manajemen itu banyak duit! Banyak dari kami yang harus cek saldo ATM berkali-kali sebelum makan. Bahkan, tak jarang kami cuma bisa makan mi instan di akhir bulan.

Dicap sombong dan memiliki pergaulan eksklusif

Dampak dari stigma “anak kaya” tadi akhirnya memunculkan stereotip baru yang tidak kalah menyebalkan di lingkungan kampus. Entah apa yang melatarbelakangi munculnya pemikiran ini. Saya sering sekali menemui anak Manajemen yang dicap sombong oleh anak prodi lain. 

Hanya karena mahasiswi Manajemen identik suka dandan dan yang mahasiswanya suka tampil necis, pertemanan kami langsung dinilai eksklusif, elite, dan pilih-pilih.

Saking parahnya stereotip ini, urusan memilih tempat nongkrong pun sampai bisa jadi bahan perbincangan yang pelik. Kesalahpahaman tersebut pernah saya rasakan langsung saat diajak nongkrong oleh seorang kawan dari prodi seberang. Dengan nada yang agak sungkan, dia tiba-tiba bilang, “Tapi kita cuma nongkrong di warmindo lho, rapopo kan?”

Pas saya tanya kenapa dia ngomong begitu, dengan entengnya dia menjawab, “Ya biasannya kan anak Manajemen nongkrong di coffee shop,” Ya ampun, mahasiswa Manajemen seperti saya yang nongkrong di angkringan atau burjon juga banyak. Bahkan, jauh lebih sering daripada ke kafe estetik.

Mau diajak nongkrong ke mana pun kami juga pasti gas. Bahkan, kalau cuma diajak main ke Waduk Cengklik bermodalkan kopi saset tiga ribuan pun kami bakal berangkat dengan senang hati.

Dikira selalu pintar berwirausaha atau berdagang

Terakhir, rasanya emang nggak afdal kalau anak jurusan Manajemen nggak punya mindset bisnis yang kuat di dalam darahnya. Terlebih, biasanya dari pihak kampus juga mewadahi dan memfasilitasi pengembangan potensi wirausaha para mahasiswanya. Namun, hal ini malah berubah jadi beban moral tersendiri untuk kami.

Contohnya, beberapa tetangga saya saat tahu saya anak Manajemen pasti langsung bilang “wah, pinter bisnis ya berarti.” Bahkan, bapak kos saya pernah bertanya waktu saya selesai wisuda “Mau buka bisnis apa mas setelah ini?” Sebuah pertanyaan berat yang jujur langsung memicu tekanan mental tersendiri bagi lulusan baru seperti saya.

Emang sih, Manajemen kami diajarkan teori berdagang, tapi maaf, nggak semua dari kami pintar atau minat berwirausaha. Apalagi saya yang aslinya udah pernah bangkrut sampai tiga kali saat memutuskan mencoba dunia wirausaha. 

Lagi pula, banyak kok anak Manajemen yang setelah lulus tujuannya bukan berdagang. Ada yang pengen jadi HRD, karyawan kantoran biasa, atau malah belok kerja di industri kreatif sebagai konten kreator seperti saya.

Jadi, tolong ikhlas ya kalau banyak anak manajemen yang sebenarnya nggak minat atau jago berdagang.

Stereotip yang dirasakan mahasiswa jurusan Manajemen

Itulah beberapa stereotip aneh terhadap mahasiswa Manajemen yang sering saya temui dan rasakan dulu semasa kuliah. Anehnya, alih-alih meredup, stereotip ini  nyatanya masih tetap subur dan berlaku sampai sekarang. 

Nggak hanya jadi bahan gunjingan di kalangan mahasiswa aja. Bahkan, di media sosial pun ada beberapa akun official kampus yang sengaja menggoreng konten anak Manajemen dengan narasi dikotomi antara mahasiswa setia versus tukang selingkuh demi mendulang keterlibatan audiens.

Akan tetapi, tolong diingat ya teman-teman, realitas mahasiswa Manajemen aslinya nggak seindah dan seliar yang ada di FYP media sosial kalian. Kami juga cuma mahasiswa biasa pada umumnya. Kami sama-sama pusing kalau dikejar tugas hingga harus putar otak pas lagi susah makan di akhir bulan. Hidup kami sama berdarah-darahnya kok dengan mahasiswa jurusan lain. 

Dan, satu lagi, hanya karena kamu kebetulan pernah disakiti oleh anak jurusan Manajemen, bukan berarti kamu bisa langsung menyamaratakan kalau semua anak Manajemen itu tukang selingkuh ya. 

Sumpah, asumsi seperti itu berdampak banget buat kelangsungan hidup sosial kami di dunia nyata. Khususnya buat saya sendiri, gara-gara pasokan stigma bajingan ini, saya jadi ketiban apes susah punya pacar selama kuliah huhuhu.

Penulis: M. Rafikhansa Dzaky Saputra
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Kalau Cara Pandangnya pada Jurusan Manajemen kayak Gitu, Berarti Semua Jurusan S1 Nggak Ada yang Layak Dipilih.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 3 Juni 2026 oleh

Tags: jurusanjurusan manajemenMahasiswaMahasiswa Jurusan Manajemen
M. Rafikhansa Dzaky Saputra

M. Rafikhansa Dzaky Saputra

Nama saya M. Rafikhansa Dzaky Saputra lahir di Salatiga, 12 Maret 2003. Saya adalah seorang conten creator. Berbekal latar belakang tersebut, saya memiliki keahlian dalam pengelolaan konten, dokumentasi visual, desain dan lain-lain. Juga seroang Alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta yang pernah berkeliaran di LPM Pabelan dan akrab dengan nasihat bahwa "sukses itu harus jadi PNS"

ArtikelTerkait

Dosen Munafik Berhenti Belajar, Tapi Sok Paling Tahu (Unsplash)

Dosen Munafik Maksa Mahasiswa Baca Jurnal Biar Skripsi Makin Canggih, tapi Dia Sendiri Nggak Pernah Baca Jurnal Lagi Sejak Lulus S2

18 Oktober 2025
4 Tipe Mahasiswa yang Cocok Kuliah di Kota Semarang, Nggak Sembarang Orang Sanggup  Mojok.co jogja

4 Tipe Orang yang Sebaiknya Nggak Lanjut Kuliah di Semarang, Nggak Sembarang Orang Sanggup Menghadapi Kota Ini

29 Mei 2024
3 Stereotipe Menyebalkan yang Melekat pada Mahasiswa Jurusan Peternakan

3 Stereotipe Menyebalkan yang Melekat pada Mahasiswa Jurusan Peternakan

6 April 2023
Rahasia di Balik Kata 'Rasa' dalam Makanan dan Minuman Kemasan terminal mojok.co

Mari Bersepakat Bahwa Indomaret Lebih Baik Daripada Alfamart

25 Juni 2019
Jangan Lakukan 4 Hal Ini Saat Kuliah S2, Sudah Bukan Waktunya Lagi

Jangan Lakukan 4 Hal Ini Saat Kuliah S2, Sudah Bukan Waktunya Lagi

13 Oktober 2025
Alih-alih Mengharuskan PPG, Bukankah Lebih Baik Meningkatkan Kualitas Mahasiswa yang Jadi Calon Guru Sejak Mereka Kuliah S1?

PPG Seharusnya Dibuka untuk Mahasiswa Pendidikan yang Jurusannya Linier, biar Adil dan Persaingannya Jadi Masuk Akal!

28 Juli 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengalaman Saya Menemani Anak 3 Tahun untuk Sunat (Unsplash)

Pengalaman Saya Sebagai Bapak Milenial Mengalahkan Rasa Takut untuk Menemani Anak Sunat di Usia 3 Tahun

29 Mei 2026
Orang Kampung yang Sekolah Tinggi Malah Paling Jarang Srawung Mojok.co

Orang Kampung yang Sekolah Tinggi Jarang Srawung karena Lingkungannya Toxic dan Pemikirannya Jalan di Tempat!

30 Mei 2026
Korupsi Mandala Krida Bunuh Marwah Jogja Kota Budaya (Wikimedia Commons)

Kasus Korupsi Mandala Krida Membuat Jogja Kehilangan Marwahnya Sebagai Kota Beradab

29 Mei 2026
Bahaya di Gamping Sleman- Ketika Anak Muda Pesimis Hidup (Unsplash)

Bahaya yang Saya Lihat di Gamping Sleman: Ketika Anak Muda Pesimis dengan Kondisi Ekonomi dan Lari ke Judol Sebagai Pelampiasan

1 Juni 2026
Saya Kelas Menengah, dan Saya Beneran Pengin Kaya

Saya Kelas Menengah, dan Saya Beneran Pengin Kaya

29 Mei 2026
Pantai Depok Batang, Destinasi Indah yang Berdampingan dengan Krisis Lingkungan Pesisir Mojok.co

Pantai Depok Batang, Destinasi Indah yang Berdampingan dengan Krisis Lingkungan Pesisir

30 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.