Ada sebuah ungkapan, yang menyebutkan bahwa jika ingin melihat warna asli dunia, bertanyalah kepada mereka yang bekerja di garda terdepan bidang pelayanan seperti ojol, kurir, hingga cleaning service. Nah, saya yang bekerja sebagai petugas cleaning service yang setiap hari menjaga kebersihan toilet mall, saya mengamini kalimat itu sepenuhnya itu sangat relatable.
Mal boleh saja mewah, berkilau, dan dipenuhi manusia-manusia berpakaian trendy, wangi parfum mahal. Namun, di balik bilik-bilik sempit toilet mal, topeng kesopanan itu sering kali ditanggalkan. Di sinilah ego asli manusia keluar, diganti dengan perilaku “ajaib” yang setiap menit menguji batas kesabaran saya. Sepanjang petualangan saya memegang alat pel, berikut adalah 8 tipe pengunjung toilet mal yang paling sukses membuat ngelus dada:
#1 Pengguna toilet mal yang pura-pura lupa tidak memencat atau menekan tombol flash
Ini adalah kasta terendah dalam hierarki pengunjung toilet. Setelah lega, mereka meninggalkan “kenang-kenangan”. Logika saya sering tidak sampai, apa sih susahnya mencet tombol flush? Buang air atau BAB yang butuh tenaga saja bisa, masa cuma mencet tombol kecil itu saja tidak bisa?
Meninggalkan kotoran begitu saja bukan hanya tidak sopan, tapi juga sangat membebani petugas dan pengunjung berikutnya. Untuk pengunjung seperti ini, saya selalu langsung menegurnya. Alasan mereka saat menjawab template banget, “Oh iya pak, maaf lupa”.
#2 Membuang sampah sembarangan
Meskipun tempat sampah sudah disediakan di setiap sudut toilet dan di dalam bilik, masih saja banyak pengunjung yang membuang sampah tidak pada tempatnya. Mulai dari bungkus makanan, tisu toilet, hingga sampah pribadi lainnya sering kali diletakkan begitu saja di atas tangki kloset atau dipaksakan masuk ke dalam lubang kloset. Perilaku ini bukan hanya tidak memiliki rasa tanggungjawab, tapi merusak estetika kebersihan mal.
#3 Pengguna toilet mal yang mencuci muka secara berlebihan
Ada tipe pengunjung yang menggunakan wastafel dengan cara yang kurang tertib. Mereka membasuh wajah dengan sangat ceroboh dan terburu-buru seolah dikejar rentenir sehingga air membanjiri meja wastafel, cermin, dan sampai tumpahan airnya ke bawah lantai. Kondisi lantai yang basah ini bukan cuma merepotkan penjaga toilet, tapi rawan menimbulkan kecelakaan bagi pengguna lain.
#4 Pengguna toilet mal yang mencuci kaki di wastafel
Entah apa yang ada di pikiran orang yang mengangkat kaki setinggi meja wastafel. Mengangkat kaki ke atas meja wastafel adalah tindakan yang sangat tidak pantas. Selain melanggar etika penggunaan fasilitas publik, hal ini berisiko merusak struktur wastafel yang tidak dirancang untuk menahan beban berat kaki manusia, mereka juga sukses mengubah area cuci tangan jadi kubangan becek yang bisa membuat orang lain terpeleset.
#5 Pengunjung yang tanpa permisi masuk ke ruang janitor
Buat kalian yang belum tahu, bagi CS, ruang janitor itu bak ruang rahasia yang tidak boleh dimasuki siapapun selain penjaga. Isinya cuma peralatan tempur seperti ember, sapu, dan cairan pembersih. Tapi tetap saja, ada pengunjung yang merasa itu adalah pintu menuju Narnia atau bilik rahasia untuk sekadar sembunyi, ikut ganti baju, ikut cuci gelas,cuci kaki, dll. Masuk ke ruang kerja orang tanpa izin itu tidak sopan, kawan.
#6 Pengguna toilet mal yang boros penggunaan tisu
Banyak yang tidak menyadari bahwa persediaan tisu di pusat perbelanjaan atau mal itu memiliki kuota yang dibatasi setiap harinya. Saya harus bekerja ekstra keras untuk mengatur strategi agar persediaan tisu tetap mencukupi hingga jam operasional mal berakhir. Pengunjung yang mengambil tisu secara berlebihan hanya untuk dibuang sembarangan menunjukkan kurangnya rasa empati terhadap pengelolaan fasilitas.
#7 Pengunjung yang membuat bilik menjadi tempat nongkrong dan merokok
Toilet Mal adalah fasilitas umum yang memiliki keterbatasan jumlah bilik. Sangat tidak bijak jika seseorang menggunakan bilik hanya untuk bermain ponsel atau merokok di dalam ruangan yang sirkulasinya tertutup, sementara di luar terdapat antrean panjang yang membutuhkan fasilitas tersebut. Selain egois karena menghambat orang lain menjadi antri, asap rokok haram kalau bertemu dengan AC Mal, serta puntung rokok yang dibuang sembarangan juga sangat berpotensi menyumbat saluran pembuangan toilet yang menyebabkan mampet airnya tidak mengalir.
#8 Pengguna toilet wanita yang enggan mengantre dan nyelonong ke toilet laki-laki
Saya paham antrean di toilet mall wanita itu sering kali sepanjang antrean bansos. Tapi, menerobos masuk ke toilet pria dengan alasan “darurat” itu tetap saja sebuah anomali. Bayangkan betapa kikuknya para pria yang sedang buang air kecil di urinoir saat tiba-tiba ada rombongan wanita lewat di belakang mereka. Privasi itu berlaku dua arah, tidak bisa ditawar cuma gara-gara malas mengantre.
Itulah tipe-tipe pengguna toilet mal yang menyebalkan yang menjadi “makanan” sehari-hari saat kerja jadi CS. Menjaga toilet mal memang jadi ujian kesabaran yang tanpa ujung. Bukannya mengeluh ya, malah lewat pekerjaan ini saya belajar banyak hal soal manusia. Status sosial yang tinggi ataupun pakaian yang mahal, sama sekali bukan jaminan seseorang bisa memanusiakan sesamanya.
Menghargai fasilitas umum dan petugas yang menjaganya adalah bentuk paling jujur dari kualitas diri manusia yang sebenarnya. Dengan adanya tulisan ini, Mari kita jadikan toilet mal atau toilet manapun sebagai ruang yang nyaman bagi siapa saja. Sebab, peradaban suatu bangsa konon bisa dilihat dari cara masyarakatnya menggunakan dan menjaga kebersihan toilet.
Penulis: Acep Saepulloh
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Toilet Mal Sebagai Tempat Favorit Untuk Bercermin: Soalnya Selalu Terlihat Good Looking, sih.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













