Memasuki usia 30 tahun, saya merasa waktu berjalan semakin cepat dan kehidupan jadi terasa sempit. Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hingga hari demi hari. Semua berlalu tanpa terasa. Banyak momen yang harus dikorbankan, terutama momen bersama teman.
Kalau ingat dulu, interaksi pertemanan itu terjalin melalui ruang-ruang yang menghubungkan kepentingan satu sama lain. Bisa di kelas, lingkungan organisasi, lingkungan kos-kosan, satu tongkrongan tempat ngopi, dan tempat lain yang membuat teman-teman kita berkumpul secara sengaja.
Akan tetapi, seiring dengan usia yang menua, tuntutan yang membuat kita jadi budak korporat, prioritas hubungan emosional, dan segala hal pelik lainnya membuat manusia jadi membatasi ruang-ruang tersebut. Semua itu menyita waktu dan tenaga. Momen untuk bermain, nongkrong, ngobrol, dan jalan-jalan pun jadi tidak bisa dilakukan sesering saat usia 20-an awal.
Akibatnya, muncul sebuah pola pertemanan yang disebut dengan low maintenance friendship. Sebuah pola pertemanan yang tidak menuntut intensitas interaksi yang tinggi dari sebuah relasi pertemanan. Pola pertemanan ini cocok dengan karakteristik, beban, dan tekanan yang dihadapi oleh manusia di usia 30 tahunan.
Saya sendiri sudah menjalani pola pertemanan ini. Setidaknya saya punya dua sahabat yang sudah berteman sejak SMA. Saya punya beberapa teman sekelas dan beberapa senior organisasi yang saya anggap sebagai kakak. Saya pun punya sepupu yang sangat dekat sejak kecil.
Akan tetapi, kedekatan dengan mereka tidak lantas membuat saya harus menagih atensi dan komunikasi yang intens dari mereka. Dan makin menua, saya makin sadar bahwa yang baik dari relasi pertemanan adalah kualitas interaksi bukan kuantitas.
Memasuki usia 30, saya juga makin sadar betul bahwa energi sosial itu terbatas. Teman-teman saya juga pasti energinya terbatas karena sudah menghadapi banyak hal dalam hidupnya.
Baca juga Sambatan-sambatan Orang Umur 30 Tahun.
Rasanya menjalani pertemanan low maintenance
Dulu mungkin saya bangga punya banyak teman, selalu bertemu, ngobrol, dan bercanda. Namun, memasuki usia 30, pertemanan yang dijaga adalah pertemanan yang memberi rasa tenang, dan tidak menghabiskan energi. Di luar itu, pertemanan dan relasi lain hanya bersifat transaksional dan menjaga koneksi tetap terhubung saja.
Sebuah riset dari Carmichael, Reis, dan Duberstein (2015) berjudul In Your 20s it’s Quantity, in Your 30s it’s Quality: The Prognostic Value of Social Activity Across 30 Years of Adulthood mendukung hal itu. Isi riset ini intinya menyebutkan bahwa pada usia 30an, manusia lebih menginginkan relasi sosial yang lebih bermakna dan berkualitas. Oleh karena itu, usia 30 adalah fase seleksi sosial.
Kita jadi mulai mengurangi relasi yang melelahkan dan tidak sefrekuensi. Di sisi lain tetap ingin mempertahankan relasi pertemanan yang intim, memuaskan, dan berkepanjangan. Tentu kecenderungan seperti ini jadi gambaran tentang relasi low maintenance friendship.
Kalau dilihat secara perilaku, mereka yang menjalani pola pertemanan ini bisa terlihat dari jarangnya chat dilakukan, tapi tetap saling ingat satu sama lain. Tidak harus hadir atau ketemu setiap hari, tapi hadir di momen penting yang sedang dijalani. Tidak menuntut balasan cepat, tapi tetap punya kepedulian kecil untuk sekadar menanyakan kabar.
Misal, dalam konteks pertemanan yang saya lakukan, ketika salah satu ulang tahun atau anak dari teman lahiran, maka tetap ada interaksi, baik itu dengan memberi hadiah maupun ucapan selamat.
Hari-hari besar pun kami tetap datang dan menyapa. Misal, ketika sahabat menikah, saya usahakan untuk hadir. Karena sekali lagi, kualitas pertemanan jadi yang paling penting.
Frekuensi bertemunya mungkin hanya setahun satu atau dua kali, tapi ngobrolnya bisa berjam-jam. Tidak terdistraksi ponsel atau hal lain saking serunya update kehidupan.
Manfaat low-maintenance friendship
Ada beberapa manfaat dari pertemanan semacam ini. Pertama, pertemanan jauh lebih realistis dan apa adanya. Semuanya serba saling memahami satu sama lain. Teman dekat tetap dianggap dekat, meskipun komunikasi gak sesering saat masih kuliah atau sekolah. Situasi seperti ini justru bikin relasi terasa lebih dewasa dan terbebas dari drama-drama yang nggak perlu.
Kedua, pola pertemanan ini membuat seseorang jadi menghemat energi sosial. Sebab kita tahu, rutinitas yang sudah ada (pekerjaan, keluarga, pasangan, studi, masalah pribadi dll) bisa saja sudah menelan banyak energi. Dan tidak semua orang punya energi lebih.
Ketiga, mengurangi ekspektasi yang tidak sehat, terutama soal kehadiran. Menjalin low maintenance friendship membawa seseorang pada ekspektasi bahwa kedekatan tidak selalu terwujud dengan kehadiran terus-menerus.
Keempat adalah, kualitas pertemanan jadi menguat. Sebab jarang berinteraksi dan basa-basi bisa jadi malah membuat seseorang menyimpan banyak cerita dan bahan obrolan saat bertemu. Pertemuan pun jadi berkualitas dan nggak membosankan karena punya banyak hal yang bisa dibagikan ke teman.
Baca juga Memasuki Usia 30 Tahun Itu Tidak Menyeramkan asal Kalian Tahu Siasatnya.
Jangan berubah jadi “no maintenance”
Akan tetapi, perlu menjadi catatan, pola pertemanan ini rawan terjerumus pada pola pertemanan “no maintenance” yang membuat seseorang membenarkan sikap avoidance. Terlihat dari dirinya yang nggak pernah nanya kabar, tidak hadir saat teman butuh, hanya muncul saat ada perlu (ngutang), lalu berlindung di balik kata, “maaf ya aku sibuk, aku canggung, aku ngggak enak, aku blab la blaa, halah kentut!!”
Jadi, kunci low maintenance friendship adalah reciprocity, atau rasa saling. Sebab, pertemanan dewasa tidak harus selalu ramai, riuh, atau saling bertemu setiap hari, tapi harus tetap hidup dan punya rasa saling peduli. Sebab pertemanan orang dewasa sangat erat kaitannya dengan kesejahteraan, emosi positif, rasa memiliki, dan makna hidup.
Terlepas dari itu, saya menyadari bahwa memasuki usia 30-an, saya harus menerima bahwa orang punya hidup masing-masing. Dan, pola low maintenance friendship memberi ruang untuk itu.
Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Lagu Baru Sheila On 7 “Sederhana” Pas untuk Orang-Orang Usia 30 Tahun
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













