Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Kritik untuk Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia UNY dan UAD, Terlalu Ndakik-Ndakik hingga Berjarak dari Realitas

Janu Wisnanto oleh Janu Wisnanto
8 Mei 2026
A A
Kritik untuk Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia UNY dan UAD, Terlalu Ndakik-Ndakik hingga Berjarak dari Realitas Terminal

Kritik untuk Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia UNY dan UAD, Terlalu Ndakik-Ndakik hingga Berjarak dari Realitas (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Ketika dahulu kuliah di jurusan Sastra Indonesia UNY dan kini masuk lingkungan Sastra Indonesia UAD, ada satu fase yang membuat saya heran. Fase di mana mahasiswa jurusan ini merasa paling peka dan filosofis, pokoknya yang paling dekat dengan makna kehidupan. Namun, mereka malah alergi membicarakan kehidupan itu sendiri. 

Diskusi sastra, bedah puisi, hingga ngobrol soal metafora senja dan kopi terus berjalan.  Semua orang berlomba-lomba ingin jadi yang paling kontemplatif, paling berbeda dari manusia biasa di jurusan ini. Tapi, giliran bicara negara, pendidikan, kemiskinan, represi aparat, oligarki kampus, atau realitas sosial di sekitar, mereka mendadak sunyi.

ADVERTISEMENT

Saya kadang bingung, ini mahasiswa sastra atau kurator kata-kata indah? Padahal, sastra Indonesia tidak lahir dari ruang steril ber-AC dengan aroma kopi susu gula aren. Sastra lahir dari zaman yang kacau. Dari manusia yang gelisah dan ketidakadilan yang bikin dada sesak.

Jiplak karya penyair, tapi lupa meniru semangatnya

Penyakit mahasiswa jurusan Sastra Indonesia di UNY dan UAD itu sama, terlalu banyak mengutip puisi indah, tapi lupa meniru semangat penyairnya. Bantah saya kalau Anda tidak setuju. Wiji Thukul tidak menulis puisi untuk dipajang di feed Instagram hitam-putih sambil diberi caption “sedang tidak baik-baik saja”. Ia menulis karena negara memburu rakyatnya, karena ada ketakutan yang nyata dan kekuasaan yang harus dilawan.

Soal ini, W. S. Rendra bahkan pernah menyindir penyair yang sibuk menulis tentang anggur dan rembulan sementara jutaan anak tak bisa sekolah. Itu tamparan keras bagi sastra yang terlalu sibuk menjadi cantik, tetapi lupa menjadi berguna.

Bahkan, Chairil Anwar, yang sering dipuja sebagai simbol kepuitisan itu, sebenarnya juga lahir dari kegelisahan zaman perang dan pergolakan identitas bangsa. Chairil bukan sekadar “Aku ini binatang jalang”. Dia adalah potret generasi yang sedang bernegosiasi dengan kematian, kolonialisme, dan kemerdekaan.

Masalahnya, banyak mahasiswa jurusan Sastra Indonesia hari ini hanya mewarisi kulitnya, bukan keberaniannya. Yang diwarisi cuma gaya bicara lambat, diksi rumit, dan kebiasaan mengutip filsuf tanpa benar-benar memahami realitas sosial tempat mereka hidup.

Mereka hafal nama penyair Amerika Latin, tapi tidak tahu kasus-kasus agraria di Kulon Progo.  Mahasiswa jurusan Sastra Indonesia mungkin pandai mengulas puisi postmodern berlembar-lembar, tapi bingung menjelaskan kenapa UKT naik terus. Mereka sibuk mendebat makna absurditas, tapi tak pernah benar-benar turun melihat absurditas hidup rakyat kecil.

Baca Juga:

Kuliah S2 itu cuma lanjutan, kualitas asli seseorang justru terlihat saat kuliah S1

5 jurusan S2 ini mending dipelajari di luar negeri karena lingkungan akademis Indonesia belum siap

Mahasiswa jurusan Sastra Indonesia terlalu eksklusif

Lucunya, sebagian mahasiswa sastra malah bangga dengan eksklusivitas itu. Seolah semakin sulit dipahami tulisan mereka, semakin tinggi nilai intelektualnya. Padahal kalau tulisan hanya bisa dimengerti sesama penghuni lingkaran sastra kampus, lalu untuk siapa sastra itu dibuat?

Saya jadi teringat kalimat legendaris dari Seno Gumira Ajidarma “When journalism is silenced, literature must speak. Because while journalism speaks with facts, literature speaks with truth”. Kalimat itu berasal dari bukunya Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara. Kalimat tersebut seharusnya cukup untuk mengguncang ruang-ruang diskusi sastra di kampus. Tapi, sekarang yang terjadi  justru sebaliknya, sastra dijadikan ruang pelarian dari realitas, bukan alat untuk membongkar realitas.

ADVERTISEMENT

Saya tidak bilang semua karya sastra harus menjadi pamflet politik. Tidak. Sastra juga boleh indah. Boleh personal. Boleh absurd. Bahkan, Seno sendiri mengakui sastra boleh “sekadar indah”. Tapi, persoalannya, ketika lingkungan sastra kampus terlalu nyaman menjadi ruang estetika tanpa keberpihakan sosial, ada yang sedang hilang dari roh kesusastraan itu sendiri.

Karena sastra sejatinya tidak pernah benar-benar netral. Novel, puisi, cerpen, teater, semuanya lahir dari konteks sosial tertentu. Dari relasi kuasa tertentu. Dari luka tertentu. Maka, aneh sekali ketika mahasiswa sastra justru takut bicara politik, takut bicara negara, takut bicara pendidikan, takut bicara ketimpangan sosial. Seolah kritik sosial adalah sesuatu yang “tidak sastra”. Padahal, sejarah sastra Indonesia dipenuhi oleh orang-orang yang dibesarkan oleh keberanian menyentuh persoalan sosial.

Kultur Sastra Indonesia UNY dan UAD yang bergeser

Saya rasa problem ini bukan cuma soal kurikulum kampus negeri dan swasta. Tapi, juga soal kultur. Kultur mahasiswa sastra hari ini terlalu sibuk tampil intelektual daripada benar-benar menjadi intelektual.

Diskusi sastra akhirnya berubah jadi ajang performa. Siapa paling banyak baca teori hingga paling rumit menjelaskan puisi. Semua terdengar ndakik-ndakik. Padahal, intelektualitas bukan soal terdengar rumit. Intelektualitas adalah keberanian berpikir jernih terhadap kenyataan.

Saya sering merasa mahasiswa sastra hari ini lebih takut dianggap tidak estetik daripada takut menjadi tidak relevan. Mereka lebih takut disebut “terlalu politis” daripada sastra kehilangan daya gugahnya.

Akibatnya, ruang-ruang diskusi sastra di kampus terasa seperti museum yang indah, tenang, penuh kutipan keren, tetapi tidak benar-benar hidup. Tidak ada kegaduhan intelektual yang berani membenturkan sastra dengan kondisi bangsa. Sastra tak lagi jadi alat membaca zaman.

Padahal kalau mau jujur, Indonesia sedang penuh bahan bakar sastra. Korupsi ada. Kemiskinan ada. Pendidikan amburadul ada. Ketimpangan sosial ada. Kekerasan aparat ada. Eksploitasi alam ada. Buruh diperas ada. Petani digusur ada. Tapi, mahasiswa sastra malah sibuk membuat puisi tentang “matamu adalah rumah yang lupa pulang”. Ya Tuhan.

Keluarlah kalian mahasiswa jurusan Sastra Indonesia

Saya kadang ingin mengguncang pundak mereka sambil berkata “Keluar sebentar dari lingkaran senja dan metaforamu itu. Lihat dunia nyata.” Sastra bukan cuma soal merangkai kata indah. Sastra adalah cara manusia merekam zaman. Dan, kalau mahasiswa sastra tidak mampu membaca zamannya sendiri, lalu apa bedanya mereka dengan mesin penghasil kutipan Pinterest?

ADVERTISEMENT

Saya percaya mahasiswa sastra sebenarnya punya potensi besar menjadi pengganggu kenyamanan sosial. Mereka punya bahasa, imajinasi, hingga kemampuan membaca manusia lebih dalam daripada banyak jurusan lain. Tapi, potensi itu sering mati karena terlalu sibuk menjadi “anak sastra”. Terlalu sibuk menjaga citra eksklusif. Terlalu sibuk menjadi estetik.

Padahal, mungkin yang dibutuhkan sastra Indonesia hari ini bukan lebih banyak penyair senja, melainkan lebih banyak manusia yang berani bicara. Berani menjadikan sastra bukan sekadar dekorasi intelektual, tetapi alat untuk memahami dan melawan kebobrokan zaman. Kalau jurusan Sastra Indonesia di banyak kampus, termasuk UNY dan UAD, terus melahirkan manusia yang hanya pandai bermain metafora, tetapi takut menyentuh realitas. Jika kalian tidak terima, silakan bantah saya dengan tulisan juga.

Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA FISIP Kehilangan “Taring” karena Mahasiswanya Jarang Baca dan Dosennya Sibuk Berpolitik .

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 Mei 2026 oleh

Tags: jurusan kuliahjurusan sastra indonesiaKampuskampus jogjamahasiswa sastra indonesiaSastra IndonesiaUADUNY
Janu Wisnanto

Janu Wisnanto

Mahasiswa semester akhir Universitas Ahmad Dahlan, jurusan Sastra Indonesia. Pemuda asli Sleman. Penulis masalah sosial di Daerah Istimewa Yogyakarta.

ArtikelTerkait

Menyesal Jadi Mahasiswa Jurusan Agribisnis, Jurusan Tanggung yang Nggak Jelas Prospek Kerjanya Mojok.co

Menyesal Jadi Mahasiswa Jurusan Agribisnis, Jurusan Tanggung yang Nggak Jelas Prospek Kerjanya

25 Januari 2024
Motor dan Helm Hilang Itu Hal Biasa di UNY, Fungsi Satpamnya Saja Juga Ikutan Hilang

Motor dan Helm Hilang Itu Hal Biasa di UNY, Fungsi Satpamnya Saja Juga Ikutan Hilang

9 Mei 2026
7 Dosa Mahasiswa Jurusan Akuntansi yang Sering Disembunyikan

7 Dosa Mahasiswa Jurusan Akuntansi yang Sering Disembunyikan

29 September 2025
Mahasiswa Terjebak Judi Online, Bukti Orang yang Mengecap Pendidikan Tinggi Nggak Melulu Punya Nalar Mojok.co

Mahasiswa Terjebak Judi Online, Bukti Orang yang Mengecap Pendidikan Tinggi Nggak Melulu Punya Nalar

16 Juli 2024
3 Penderitaan Mahasiswa Jurusan Psikologi yang Jarang Diungkapkan

3 Penderitaan Mahasiswa Jurusan Psikologi yang Jarang Diungkapkan

14 Mei 2024
Susah-susah Kuliah Jurusan Manajemen dan Administrasi Logistik Malah Diremehkan karena Dikira Cuma Bisa Antar Paket Mojok.co

Kuliah Jurusan Manajemen dan Administrasi Logistik Diremehkan karena Dikira Lulusannya Cuma Bisa Antar Paket

22 Agustus 2025
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Pak Ogah pekerjaan yang sia-sia dan nggak menjanjikan di Sumenep Madura Mojok.co

Pak Ogah pekerjaan yang sia-sia dan nggak menjanjikan di Sumenep Madura

20 Agustus 2026
Bulan Agustus kebanyakan agenda, pekerja jadi kewalahan bagi waktu antara kerja dan kegiatan agustusan Terminal

Bulan Agustus kebanyakan agenda, pekerja jadi kewalahan bagi waktu antara kerja dan kegiatan agustusan

15 Agustus 2026
Jelajah kuliner Pasar Gedhe Klaten: pengalaman menikmati segarnya dawet uyup, nikmatnya soto bening, hingga western food kaki lima Mojok.co

Jelajah kuliner Pasar Gedhe Klaten: pengalaman menikmati segarnya dawet uyup, nikmatnya soto bening, hingga western food kaki lima

18 Agustus 2026
Tinggal di desa itu sulit, salah pakai baju langsung dicap nakal (Unsplash)

Tinggal di desa itu sulit, salah pakai baju sedikit saja langsung dicap nakal

15 Agustus 2026
Kuliah S2 itu cuma lanjutan, kualitas asli seseorang justru terlihat saat kuliah S1 Mojok.co

Kuliah S2 itu cuma lanjutan, kualitas asli seseorang justru terlihat saat kuliah S1

18 Agustus 2026
Warmindo ruang pengaman sosial terakhir buat kamu yang miskin (Hammam Izzuddin/Mojok.co)

Warmindo akan selalu menjadi ruang pengaman sosial terakhir bagi kita yang dompetnya sedang sekarat

14 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.